
Alena demam tinggi, Alvino pun segera menyuntikkan obat melalui lengan nya. Alena terus meracau hingga keringat keluar dari kedua pelipisnya.
Dengan telaten semalaman Alvino menjaga Alena, mengusap dengan lap kedua pelipis Alena.
" Bang. " Ucap Alena pelan dengan Mata yang masih terpejam.
" Abang disini." Ucap Alvino sambil mengusap punggung tangan Alena.
Entah sadar atau tidak Alena memanggil nya namum tangan nya berbalik memegang tangan Rio.
" Wajah kamu cantik Alena, disaat seperti ini kamu sangat terlihat cantik natural. Kamu mempunyai hati yang cantik seperti orang nya." Ucap Alvino dalam hatinya.
***
Dengan tangan yang masih tergenggam Alena terbangun dan terlihat Alvino tidur sambil duduk bersandar di Sisi tempat tidur.
Tangan Alena terlihat masih menggenggam tangan Alvino, Alena dengan perlahan melepaskan tangan nya lalu mengusap wajah tampan suaminya.
Mulai meraba jemarinya dari alis, Mata, hidung hingga bibir. Tiba - tiba tangan Alvino memegang jari tangan Alena yang ada di wajah nya.
" Kamu sudah bangun? " Ucap Alvino dengan membuka matanya.
" Abang nggak tidur di atas sama Saya? " Tanya Alena.
" Nggak, Abang lebih enak tidur disini. Abang takut kena paha. kamu." Jawab Alvino sambil memegang kening Alena.
" Alhamdulilah demam kamu turun, semalam kamu sempat demam tinggi." Ucap Alvino.
" Abang kapan akan pergi memberikan Chip ini?"
" Segera."
" Abang jadi melepaskan Saya?"
Alvino diam dan menundukkan kepalanya sambil mengecek perban di paha Alena.
" Bang Saya memutuskan untuk tetap bertahan sama Abang, karena perjuangan Abang begitu sangat besar."
" Kalau kita mesti bertahan harus masing - masing kita lupakan masa lalu. Dan Saya seperti ini juga sudah menyakiti dan memisahkan dua orang saling mencintai." Ucap Alvino.
" Apakan Abang tidak memikirkan Niken yang kemarin menangisi Saya tidak boleh pergi?"
" Saya putus kan biar Niken urusan Saya itu masalah hati. Jadi Saya tidak ingin merasakan hati."
Alena mencium bibir Alvino sekilas, dan membuat Alvino tersontak kaget karena tiba - tiba Alena mencium bibir nya.
" Saya mencintai Abang."
Alvino diam tak menjawab dan tersenyum ke arah Alena.
__ADS_1
" Kamu yakin mencintai Saya, sedangkan kamu kemarin berkata ada hati yang menunggu bahkan lebih mencintai kamu."
" Entah rasa yang bagaimana, saat Saya pergi dengan Bang Vidi dan meninggalkan Niken ada rasa bersalah dan takut. Layaknya seseorang yang benar - benar mempunyai hubungan serius bermain di belakang. Dan saat Abang meminta Bang Vidi melindungi Saya, hati Saya marah. Mungkin Saya sudah jatuh cinta sama Abang." Ucap Alena.
" Saya tidak bisa membahagiakan kamu, apalagi Bang Vidi 5 tahun bersama, dia bahkan ingin mengambil kamu dari Saya setelah satu langkah ini selesai." Ucap Alvino
" Apa Abang yakin akan melepaskan Saya begitu saja, apa Abang belum bisa mencintai Saya? "
" Yakin kan lagi perasaan ini, dan Saya pun juga sama."
*******
" Papah kok yang kasih sarapan bukan Mamah?" Tanya Niken.
" Mamah sakit sayang." Jawab Alvino.
" Hah.. Mamah sakit? " Ucap Alena yang langsung memundurkan kursi nya dan pergi masuk kedalam kamar kedua orang tua nya.
" Mamah." Panggil Niken saat melihat paha Alena yang di balut perban.
" Mamah kenapa? " Tanya Niken.
" Mamah habis jatuh sayang, terus Paha Mamah kena paku." Jawab Alena bohong.
" Sakit ya Mah? " Tanya Niken kembali.
Alvino membawa nampan berisi segelas susu dan roti tawar panggang yang berbalut selai."
" Sarapan dulu." Ucap Alvino sambil meletakkan nampan di atas nakas.
" Terima kasih Bang." Ucap Alena.
" Papah, Mamah kan sedang sakit suapin dong. Seperti Papah suapin Niken kalau sedang sakit." Ucap Niken.
" Hah.. tapi kan Mamah sehat sayang yang sakit pahanya." Ucap Alvino.
" Papah, Mamah sedang sakit. Papah nggak sayang sama Mamah ya? " Ucap Niken kesal.
Alena hanya tersenyum dan menatap ke arah Alvino yang masih diam.
" Mamah bisa sendiri kok." Ucap Alena.
" Nggak biar Abang saja." Ucap Alvino sambil menatap Niken yang masih menatap tajam ke arah Alvino.
Alvino memberikan segelas susu hangat pada Alena lalu menyuapi roti tawar tersebut. Saat sedang menyuapi roti tawar pada Alena ada rasa getaran sendiri, namun Alvino segera menepis perasaan yang dia rasakan.
*****
" Alvino hari ini Saya tidak melihat Alena? " Tanya Vidi.
__ADS_1
" Ada Bang di rumah." Jawab Alvino.
" Saya hubungi dia sedang apa Ya? " Ucap Vidi sambil memegang ponselnya sedangkan Alvino menatap tak suka ke arah Vidi.
" Bang hargai Saya yang masih jadi suami nya." Ucap Alvino.
" Suami, nggak salah suami apaan yang nggak punya rasa. Pernikahan kalian hanya sebatas tugas nggak lebih." Ucap Vidi.
" Tapi hargai Saya Bang, Saya masih suaminya bagaimana pun juga."
" Ok Abang hargai kamu, dan katakan dia sedang apa sekarang? " Ucap Vidi.
" Dia sedang di kamarnya berbaring." Ucap Alvino.
" Kenapa dia? " Tanya Vidi.
" Habis Saya ambil Chip di pahanya." Jawab Vidi.
" Apa...!!! " Ucap Vidi kaget.
" Kamu berani melakukan tindakan itu pada Alena tanpa bilang sama Saya hah.. kalau terjadi apa - apa sama Alena saya tidak maaf kan kamu." Ucap Vidi marah.
" Ini permintaan Alena sendiri, dan Abang tahu di luar mereka terus mengejar Saya. Mereka bukan mengejar Alena tapi Saya, sebelum terlambat biar mereka tetap mengejar saya."
" Saya akan temui Alena." Ucap Vidi langsung pergi.
*****
" Kamu masih sakit?" Tanya Vidi sambil melihat salah satu Paha Alena yang terbalut perban.
" Masih sedikit sakit, tadi malam sempat demam tinggi tapi Bang Alvino langsung memberikan saya obat sekarang sudah mendingan." Jawab Alena.
" Syukur lah, Abang takut kamu infeksi."
" Bang Alvino kan bisa nggak sembarangan mengambil saja." Ucap Alena.
Saat itu Alvino berdiri di balik pintu kamarnya dan menatap pemandangan di depan matanya. Ada rasa sakit yang di rasa kan dirinya di saat melihat istri nya bersama pria lain.
" Begitu sangat bodoh Saya, membiarkan ini terjadi, sakit hati Saya melihat nya." Ucap Alvino dalam hatinya.
*****
" Cepat lah kasih Chip itu pada nya dan segara berakhir semuanya, agar Alena bisa cepat lepas dari kamu." Ucap Vidi.
" Saya hanya ingin bertanya, apakah Abang tidak peduli dengan perasaan Saya, apakah Abang tidak memikirkan nyawa Saya. Seandainya terjadi sesuatu dengan Saya, bagaimana nasib anak Saya. Dan apakah Abang tidak memiliki hati menyuruh Saya cepat melepaskan Alena, apakah Abang tidak memiliki pikiran apakah pantas meminta suami orang untuk cepat menceraikan istrinya." Ucap Alvino.
" Fakta kamu tidak mencintai nya begitu sebaliknya hanya sebatas pernikahan sah tapi hanya untuk melindungi seorang putri Jenderal."
" Saya memang melakukan nya karena perintah tapi Saya suami sah nya Bang secara hukum negara dan agama." Ucap Alvino
__ADS_1