Bidadari Kecil Milik Pak Tentara

Bidadari Kecil Milik Pak Tentara
Terlambat


__ADS_3

" Nona sebentar lagi kita akan masuk ke pesawat." Ucap Nanny.


" Iya." Ucap Alenka.


" Kenapa Nona? " Tanya Nanny.


" Apa kita akan menginjakkan kaki kita disini lagi Nanny? " Tanya Alenka.


" Kalau Nona ingin kembali, Saya siap menemani Nona kembali." Jawab Nanny.


Alenka dan Nanny pun menarik kopernya untuk memasuki kedalam pesawat.


" Papah cepat lah keburu pesawatnya terbang." Ucap Niken.


" Ini sudah cepat sayang, dan kamu lihat ini jalanan ramai." Ucap Alvino.


" Masih lama nggak sih Bandaranya?" Tanya Niken.


" Dua kilometer lagi Niken." Jawab Alvino.


Saat terjebak dengan kendaraan yang pad at, lalu memasuki jalanan kawasan Bandara Niken melihat sebuah pesawat terbang.


" Pah.. jangan - jangan itu pesawat yang membawa Tante Alenka." Tunjuk Niken saat pesawat tersebut melintas diatas mobil yang mereka tumpaki.


Mobil pun terparkir di depan Bandara, Alvino dan Niken berlari mencari keberadaan Alenka namun tak di temukan. Dan saat melihat jadwal penerbangan Pesawat yang di tumpangi Alenka telah lepas landas.


" Kita terlambat sayang pesawatnya sudah lepas landas." Ucap Alvino.


Niken tertunduk dan berjalan ke arah kursi, lalu di ikut oleh Alvino dan duduk di samping Niken.


" Maaf kan Niken Pah, sudah membuat Papah sedih." Ucap Niken.


" Ini bukan salah kamu sayang, kenapa kamu selalu berpikir kamu yang salah." Ucap Alvino.


" Seandainya kalau dari kemarin - kemarin Niken nggak pernah bilang nggak mau punya mamah lagi, Papah sudah bersama Tante Alenka."


" Tapi Papah juga belum punya rasa sayang." Jawab Alvino.


" Tapi Papah kehilangan Tante Alenka."


" Kalau Allah mentakdirkan Tante Alenka jadi mamah nya Niken pasti Papah sama Tante Alenka akan di pertemukan kembali."


" Tapi kapan Pah? "


" Masih jadi misteri ilahi sayang, dah yuk kita pulang." Ucap Alvino berusaha tegar.


******


" Terlambat." Ucap Alvino.


" Terlambat apa nya Bang? " Tanya Raihan.


" Saya mengejar Alenka tapi dia sudah pergi." Jawab Alvino.

__ADS_1


" Ja - jadi kamu benar menyukai Alenka?" Tanya Vidi.


" Iya Bang, dan Niken juga sudah memberikan lampu hijau." Jawab Alvino.


" Tapi sayang, kita belum bisa di takdir kan bersama." Ucap Alvino kembali.


" Sabar, yang penting kamu sudah jujur mengakuinya walau terlambat." Ucap Vidi.


******


" Jadi gimana Ayah anak kita? " Ucap Ibu Husna.


" Bagaimana apanya bu?" Tanya Pak Abas.


" Alvino sama Lestari..!! " Jawab Ibu Husna.


" Sudah lah Bu, mau kita paksa dengan cara apa pun dia tidak akan mau."


" Lantas nanti Niken akan di asuh sama mereka bagaimana? "


" Mereka juga masih Keluarga Niken Kakek sama Nenek nya, bukan orang lain hanya beda siapa yang rawat. Tanggung jawab masih anak kita yang kasih makan Niken, terus masalah nya apa bu." Ucap Pak Abas kesal.


" Jadi Ayah rela anak kita nggak jadi sama Lestari turun ranjang? "


" Bu sebaiknya kita sebagai orang tua mengalah dan sadar, Ayah juga sadar bu cinta tidak harus di paksakan."


*****


" Makan yuk, kita makan satu piring. Kamu suka kan makan satu piring sama Papah." Ucap Alvino sambil menyerahkan sendok pada Niken.


" Sayang, kamu di bilang nggak salah." Ucap Alvino.


" Niken tetap merasakan bersalah sama Papah."


" Sssttt jangan bilang begitu lagi, bagaimana pun kebahagian Papah itu Niken. Ingat jangan bicara seperti itu lagi ok."


" Ok Papah. "


" Sekarang kita makan."


******


" Bu lebih baik batalkan saja niat menikah kan Lestari." Ucap Lestari.


" Ibu batalkan tapi Niken akan di asuh oleh kita." Ucap Ibu Fatma.


" Bang Alvino tidak akan mau bu."


" Kalau tidak mau ya menikah sama kamu." Ucap Ibu Fatma dengan nada tinggi."


" Lestari seperti tidak punya harga diri saja Bu." Ucap Lestari kesal lalu beranjak masuk kedalam kamar nya.


*****

__ADS_1


Tangan ini mulai menari di atas kertas putih, dengan tinta hitam yang memulai dengan menorehkan kata - kata indah.


Tak kusadari setiap perasaan apa yang sedang terjadi, dan sebuah keterlambatan yang kedua kalinya.


Cinta memang tak bisa di bohongi, seperti apa yang sedang Saya rasa kan saat ini. Namun... semuanya terlambat, Saya memang bodoh mengabaikan sebuah perasaan dan baru terasa saat ini.


Semoga Tuhan masih mengijinkan kita untuk bertemu kembali, mengijinkan Saya untuk mengutarakan hati ini, Saya mencintai kamu, Saya menyayangi kamu. Dimana pun kamu berada semoga Tuhan selalu ada bersama mu.


Alvino menutup Diary nya dan menaruh di dalam laci meja kerja nya. Sekilas bayangan Wulan dan Alena.


" Maaf kan Saya untuk dua Bidadari surga Abang, maaf kan kalau hati ini harus di bagi tiga. Tapi kalian akan selalu di simpan dalam hati ini."


******


" Nona akan masuk sendiri atau Saya temani?" Tanya Nanny.


" Saya masuk sendiri saja." Jawab Alenka.


" Baik lah Nona Saya tunggu di luar." Ucap Nanny.


Alenka pun masuk saat sudah meminta ijin untuk bertemu dengan Ayah dan Abang nya pada petugas lapas.


Setelah menunggu beberapa menit Pak Hadi dan Niko pun datang. Niko langsung memeluk tubuh adiknya yang selama 10 tahun tak bertemu.


" Hiks.. hiks... maaf kan Alenka Bang, maaf kan Alenka." Ucap Alenka sambil memeluk tubuh Niko.


" Abang maaf kan kamu Alenka, dan maafkan Abang juga." Ucap Niko.


Alenka melepaskan pelukan nya lalu menatap pak Hadi yang menatap ke arah nya.


" Ayah."


" Kemari nak peluk Ayah." Ucap Pak Hadi.


Alenka pun memeluk tubuh Pak Hadi, tangis Alenka pecah saat memeluk tubuh Ayah nya.


" Maaf kan Alenka Ayah hiks.. hiks.. maaf kan Alenka."


" Ayah dari dulu sudah maaf kan kamu sayang, maaf kan kalau Ayah keras pada kamu." Ucap Pak Hadi sambil melonggarkan pelukan nya.


" Terima kasih Ayah, sekarang Alenka meninggal kan semuanya Alenka tak lagi bekerja seperti itu."


Pak Hadi mengusap air mata putri nya, lalu mereka bertiga pun duduk saling berhadapan.


" Kamu jangan pergi lagi Nak, Alena telah pergi untuk selama nya. Ayah tidak mau kehilangan putri satu - satunya."


" Maaf kan Alenka Ayah, tapi Alenka harus pergi tapi Alenka janji Alenka suatu waktu akan berkunjung menjenguk Ayah dan Bang Niko di sini."


" Apa kamu sudah bertemu dengan suami Alena? " Tanya Niko.


" Sudah Bang Saya sudah bertemu dengan Bang Alvino dan Niken anak sambungnya." Jawab Alenka.


" Alenka, Alvino pria yang baik dia banyak berkorban. Kalau bisa kamu dekat sama dia, entah itu dekat dalam arti apa. Kita tidak boleh melupakan jasanya. Dan sayangi lah anak nya seperti Alena menyayangi dengan memberikan kedua ginjalnya." Ucap Niko.

__ADS_1


" Benar nak, Alvino pria yang baik. Kami berhutang budi sama dia. Kalau tidak ada dia Alena mungkin sudah berakhir di tangan mereka sejak lama." Ucap Pak Hadi.


" Tapi nyatanya Alena tetap pergi untuk selama - lama nya." Ucap Alenka.


__ADS_2