Bidadari Kecil Milik Pak Tentara

Bidadari Kecil Milik Pak Tentara
Sebuah Perhatian


__ADS_3

" Niken istirahat dulu disini apa yang di katakan Dokter harus nurut." Ucap Alenka.


" Niken capek di rumah terus, tiduran lagi. Kangen sekolah." Ucap Niken dengan mengerucutkan bibir nya.


Alvino dan Alenka tersenyum pada putri kecil mereka. Lalu Alvino mendekap tubuh Niken.


" Orang sakit memang nggak enak sayang, kata siapa enak sih."


" Bete Papah."


" Kita di rumah Kakek Nenek 3 hari an nanti langsung terbang." Ucap Alvino.


" Kenapa nggak besok? "


" Dokter bilang apa tadi, istirahat dulu jangan langsung perjalanan jauh."


" Terus Niken sampai 3 hari di atas tempat tidur terus begitu? "


" Ya nggak sayang, kamu bisa keluar kamar nonton tv ada duduk di teras depan rumah.".


" Sama bete."


******


" Abang sudah pesan tiket? " Tanya Alenka.


" Sudah, Abang pesan kelas 1 biar kalian nyaman semua." Jawab Alvino.


" Terima kasih."


Alvino memeluk tubuh Alenka, menciumi tengkuk lehernya. Sedang kan tangan nya sudah bermain di kedua benda favorite nya.


" Bang, ini di rumah Ayah sama Ibu loh."


" Terus kenapa? " Ucap Alvino yang semakin menjadi.


" Takut kedengaran."


" Tahan suara kamu sayang." Tangan Alvino yang sudah turun ke bawah mengangkat dress ke atas.


" Bang..!! " Ucap Alenka dengan suara terdengar manja.


" Kenapa sayang hem... enak? " Bisik Alvino dengan menggigit daun telinga Alenka.


" Saya udah nggak tahan."


Senyum Alvino mengembang, lantas menurunkan paksa dress nya hingga tinggal pakaian dalam.


Alvino mencium bibir Alenka dengan rakus, Alenka pun tak Mau kalah membalasnya. Hingga saling menggigit dan *******.


Di hempaskan di atas tempat tidur, dengan nakal Alenka sedikit menggoda. Alvino tersenyum nakal hingga semua pakaian nya terlepas tak tersisa begitu pun Alenka yang melucuti sendiri.


Alvino langsung menerkam, hingga kedua tangan Alenka menutup mulut nya agar tak bersuara.


Tangan nya pun sudah bertamasya kemana - mana, hingga Alenka bagai ulat yang mengeliat kesana kemari.


Hingga saat titik inti, senjata pun siap di arah kan, untuk menghindari teriakan Alvino mengalihkan nya dengan sebuah ciuman saat hentakan nya sangat keras.


Kedua nya pun saling menikmati, hingga sama - sama mencapai puncak langit ke tujuh.


" Ahhhhhh....!!! " Alvino mengeluarkan semua rasa surga dunia nya begitu pun juga Alenka. Hingga peluh kedua nya membasahi tubuh mereka, bahkan sprai yang basah akibat adu kekuatan.


" Sudah Bang, capek." Alenka menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Iya deh sekarang sekali saja, Abang paham kamu capek." Alvino memeluk tubuh Alenka yang memunggunginya.


Tangan Alvino mengusap perut Alenka yang masih rata, bahkan sekali - kali menarik pucuk mainannya yang menggantung.

__ADS_1


" Bang, katanya sudah apa masih kurang? " Tanya Alenka dengan nada sedikit kesal.


" Hanya kayak gini saja." Jawab Alvino.


" Hanya kayak gini, Saya merasakan di belakang bergerak - gerak Yank."


" Kalau sudah begini kan berarti On lagi sayang."


" Abang... apa nggak capek? "


" Nggak lah sayang, malah enak."


" Augh akh capek."


" Dosa loh tahu nolak begitu."


" Ya nggak begini juga Bang, Saya capek."


" Kamu cukup diam sayang, biar Abang yang main."


Jari Alvino yang sudah masuk ke celah bagian depan milik Alenka, hingga tak kuat menahan pertahanan Alenka pun runtuh.


Hingga permainan pun terjadi berkali - kali hingga waktu menjelang Shubuh.


****


" Yank bangun sudah Shubuh, mandi nanti tidur lagi." Ucap Alvino.


" Sebentar lagi Bang masih ngantuk." Ucap Alenka yang setia masih memejamkan matanya.


" Maaf kan Abang ya, tapi bangun dulu mandi nanti habis Sholat Shubuh tidur lagi."


" Nggak enak kalau begitu sama Ayah dan Ibu kalau tidur lagi. "


" Nggak akan gimana - gimana meraka mengerti kok, sekarang bangun mandi nanti tidur lagi. "


****


Dengan rambut yang di tutup handuk, Alenka dengan malu melewati Ibu mertuanya yang sedang di dapur memasak.


Ibu Husna tersenyum pada Alenka yang menunduk malu.


" Biasa saja Alenka, Ibu juga dulu begitu." Ucap Ibu Husna.


" Eh.. iya bu." Ucap Alenka tersipu malu.


" Ingat loh nggak boleh nolak suami, kalau nolak dosa. Apalagi kalian kan pengantin baru."


" Iya bu." Ucap Alenka langsung berjalan masuk ke dalam Kamar nya.


" Kenapa muka kamu merah Yank? " Tanya Alvino melihat wajah Alenka memerah.


" Ahhh.. ini gara - gara Abang." Jawab Alenka kesal.


" Kenapa sih? " Ucap Alvino.


" Malu sama Ibu, kita ketahuan habis begituan."


" Oh.. itu santai lah, Ibu juga paham."


" Tapi malu Bang."


" Namanya juga tinggal sama orang tua, tapi meraka paham kok."


" Saya nggak Mau lagi - lagi beginian disni malu Bang."


" Ssst... nanti juga bakalan biasa saja."

__ADS_1


" Akh... pokoknya malu Bang."


******


" Sekarang minum Obat nya." Ucap Alenka pada Niken.


" Obat nya sudah di minum? " Tanya Alvino datang menghampiri Alenka dan Niken.


" Sudah Bang ini sedang di minum." Jawab Alenka.


" Papah, Niken boleh main ke teman - teman Niken disini, Niken ingin perpisahan karena besok kan kita kembali." Ucap Niken.


" Boleh, tapi jangan capek ya.. ingat jangan lari - lari an." Ucap Alvino.


" Ok Papah." Ucap Niken langsung beranjak dari tempat tidur.


" Kamu Mau kemana? " Tanya Alenka pada Niken.


" Main mah." Jawab Niken.


" Nanti baru saja makan terus minum obat. Tunggu sorean mainnya." Ucap Alenka.


" Tapi mah..!! "


" Eits... nggak boleh membantah."


" Iya nurut."


Alvino tersenyum gemas melihat tingkah putri kecilnya.


" Sudah jangan marah, yang Mamah kamu katakan memang benar." Ucap Alvino.


*****


Alenka memperhatikan Niken yang sedang bermain di depan rumah nya. Alenka pun tak tinggal diam bila Niken terjatuh bahkan setiap gerak saat main membuat Alenka selalu mewanti - wanti Niken.


" Lihat apa sih? " Tanya Alvino sambil memegang cangkir kopi nya.


" Lihat Niken yang sedang main, takut kenapa - napa soalnya lihat main nya membuat Saya was - was. " Jawab Niken.


" Jangan berlebihan, tenang saja lagian kan Niken sudah besar."


" Bukan begitu Bang, Niken kan baru sembuh takut sakit lagi." Ucap Alenka panik.


" Nggak akan sayang, percaya deh sama Abang."


" Mamah... Papah... " Teriak Niken sambil berlari.


" Ya ampun sayang lihat ih keringat kamu banyak banget." Ucap Alenka sambil mengusap keringat yang ada di kening Niken.


" Haus." Ucap Niken.


Alvino pun mengambil minum untuk Niken lalu memberikan nya pada Niken. Alvino hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Niken meneguk nya sampai habis.


" Main lagi ya? " Ucap Niken.


" Nggak akh sudah capek, ingat baru sembuh." Ucap Alenka.


" Papah, itu sama Mamah nggak boleh." Rengek Niken.


" Benar kata Mamah istirahat dulu Sana nanti main lagi." Ucap Alvino.


" Iya." Ucap Niken sambil berjalan masuk.


" Maaf ya Bang kalau Saya keras sama Niken, Saya nggak mau Niken kenapa - napa."


" Iya sayang nggak apa - apa, tujuan kamu baik kok."

__ADS_1


__ADS_2