
Niken duduk berhadapan dengan kakek Nenek nya, Alvino, Alenka , Ibu Fatma dan Lestari. Dimana semua orang dewasa kini sedang menatap nya.
" Niken ada apa di suruh kesini, Niken kan sedang main sama teman - teman di depan." Ucap Niken.
" Sayang, Papah Mau tanya sama Niken. Kalau Niken ikut sama Nenek Fatma dan Tante Lestari bagaimana Mau nggak? " Tanya Alvino.
Niken menggelengkan kepalanya dan membuat Alvino tersenyum.
" Niken kan sudah bilang, Niken nggak Mau ikut sama Nenek Fatma dan Tante Lestari. " Ucap Niken yang langsung duduk di pangkuan Alvino.
" Ibu dengar sendiri kan apa yang tadi Niken bilang." Ucap Alvino.
" Niken, apa kamu mau di saat Papah kamu satgas kamu sama Mamah tiri kamu, mending Mamah Tiri kamu belum punya anak sama Papah kamu, kalau sudah punya anak kamu nggak di perhatikan. Ibu tiri itu jahat Niken." Ucap Ibu Fatma.
" Fatma kamu jangan memanasi keadaan, apa kamu nggak menghargai Alenka yang sekarang ada di depan kamu." Ucap Ibu Husna.
" Husna, asal kamu tahu di saat Niken sakit siapa yang rawat anak Saya dan Saya. Sedang kan Papah nya hanya uang yang selalu di kirim." Ucap Ibu Fatma.
" Bu untuk itu Saya minta maaf, tapi Ibu tahu saat itu Saya dinas nya jauh, walau Saya jauh Saya selalu memikirkan Niken, dan di saat libur Saya bekerja cari tambahan. Apakah selama Niken sakit, Ayah Ibu semuanya disini kena beban tidak kan, tidak kena beban Saya minta bantuan uang kalian. Mana yang nggak bertanggung jawab. Bila Ibu berkata seperti itu karena tak ikhlas Saya menikah sama Alenka tidak apa - apa Bu, tapi sekali lagi Saya minta maaf kalau Saya ini tidak bisa mencintai Lestari dari awal perjodohan Saya mencoba mencintai Lestari Saya tidak bisa. Maaf kan Saya maaf." Ucap Alvino.
" Nenek jangan paksa Niken, pokoknya Niken nggak mau . Niken hanya ingin sama Papah." Niken memeluk erat tubuh Alvino , lalu Alvino pun memeluk erat tubuh Niken dengan mencium pucuk kepalanya.
" Maaf Bu, Saya memang akan menjadi calon Ibu sambungnya tapi pemikiran Ibu salah tentang Saya, dan nggak mungkin Saya tega melakukan itu sama anak yang sekarang hidup sehat dengan kedua ginjal saudara kembar Saya. Kalau Saya tega menyakiti nya berarti Saya juga menyakiti Alena. Terserah Ibu Mau mengatakan Saya bagaimana tapi demi Allah Saya menyayangi Niken seperti Saya menyayangi Bang Alvino."
******
Lestari duduk di depan kolam ikan lele milik keluarga Alvino, Alenka pun duduk di samping nya setelah obrolan panas mengenai hak asuh Niken.
" Maaf kan Saya kalau kamu hari ini merasakan kecewa." Ucap Alenka.
" Kenapa minta maaf, kamu nggak salah." Ucap Lestari.
" Kalau nanti kemari lagi, Niken masih boleh kok kamu bawa kemana saja. Hanya Saya saat melihat bagaimana anak sekecilnya berkata sama Papah nya dan menjawab nya seperti tadi. Hati Saya sangat ingin menangis, apakah tega memaksa anak sekecil itu untuk berpisah. Bagaimana pun harta satu - satunya yang dimiliki Bang Alvino hanya Niken seperti hal nya cinta nya dia apakah dia mau bersama kamu tetap saja dia memilih saya." Ucap Alenka.
" Jujur Saya mencintai Bang Alvino sejak dulu. Mba Wulan bisa menjadi istri nya itu karena Bang Alvino sering main ke Saya, tapi memang kedekatan kami hanya sebatas teman biasa." Ucap Lestari.
__ADS_1
" Semoga kamu bisa dapat yang lebih dari Bang Alvino."
" Semoga saja. "
******
Alenka menidurkan Niken, dimana terlihat Niken memeluk erat tubuh Alenka. Kedua nya bagai Ibu dan anak.
" Seperti nya kamu tidak salah memilih." Ucap Pak Abas saat melihat Alvino mengintip kamar Niken. Dengan perlahan Alvino menutup kamar putri nya.
" Alvino mencintai nya Ayah, Alvino tidak ingin kehilangan untuk kedua kali nya. Saya yakin Alenka adalah wanita baik dan pelabuhan terakhir Alvino."
" Maaf kan Ayah ya nak, kalau dulu Ayah pernah tak suka sama Alena. Maaf kan."
" Sudah lah Ayah, Alena tidak pernah merasa kecewa atau bagaimana. Dia pun tidak pernah membahas semua yang pernah terjadi, dia mencintai Saya dan Niken sangat tulus. Walau cinta kamu sesaat dan kini hadir kembaran Alena, dia pun tak jauh beda sama Alena, Alenka sangat sayang sama Niken."
******
" Nanti Ayah Ibu acaranya di rumah Alenka, dan Alenka nggak ikut kembali sama Saya, dia tetap tinggal di kotanya sampai hari H. Tinggal menyiapkan berkas pengajuan nikah mungkin sering bolak balik." Ucap Alvino.
" Saya ingin tinggal di sana beberapa waktu lama sudah tinggalin rumah." Ucap Alenka.
" Insya Allah Ya Bu." Ucap Alenka.
" Jadi kapan kamu berangkat? " Tanya Pak Abas.
" Lusa saya sama Niken berangkat." Jawab Alvino.
" Cucu Nenek kakek pasti kangen sayang, sampai bertemu di pernikahan Papah kamu sayang." Ucap Ibu Husna mencium kedua pipi Niken. Begitu juga Pak Abas yang mencium juga kedua pipi Niken.
******
" Ibu kenapa masih nggak rela saja ya? " Ucap Ibu Fatma.
" Karena Ibu terlalu sayang sama Bang Alvino dan nggak rela dia menikah dengan orang lain." Ucap Lestari.
__ADS_1
" Bagaimana nggak rela, jarang - jarang ada pria seperti dia. Kamu mendapatkan calon suami belum tentu seperti dia."
" Insya Allah Bu, semoga lebih dari dari bang Alvino. Ibu doakan Lestari cepat dapat jodoh."
" Ibu selalu berdoa untuk kamu, nggak pernah putus doa Ibu untuk kamu." Ucap Ibu Fatma.
*****
" Jadi kangen nih sayang." Ucap Alvino sambil memeluk tubuh Alenka.
" Maaf Bang, Alenka ingin disini dulu sebelum nanti meninggal kan rumah ini."
Alvino mengecup kening Alenka lalu turun ke bibir.
" Jangan nakal." Ucap Alvino sambil menyentil hidung mancung Alenka.
" Nakal sama siapa sih? Nakal nya sama Abang saja."
" Nanti Nanny langsung terbang kemari atau kemana? " Tanya Alvino.
" Terbang kesini, nanti barang - barang di sana urusin ya Bang paket in saja." Jawab Alenka.
" Ok, nanti Abang beresin semuanya. Dan kamu siapkan berkas untuk pernikahan kita."
" Siap sayang."Ucap Alenka.
" Bang." Ucap Alenka kembali.
" Apa? "
" Nanti konsepnya pesta kebun ya, ingin pernikahan di out door kita manfaatkan halaman belakang rumah."
" Di atur saja, untuk masalah WO Saya serahkan sama kamu."
" Ok sayang, jadi nggak sabar ingin segera sah."
__ADS_1
" Sama Abang juga nggak sabar sayang."
Alvino dan Alenka kembali berpelukan , senyum bahagia terpancar terlihat di kedua nya.