Bidadari Kecil Milik Pak Tentara

Bidadari Kecil Milik Pak Tentara
Peduli


__ADS_3

" Makan yang banyak biar nanti cepat pulang dari rumah sakit terus langsung cus kembali kesana." Ucap Alenka sambil menyuapi bubur.


" Mamah kenapa sih Nenek Fatma nggak suka sama Mamah, padahal Mamah kan baik."Ucap Niken.


Alvino yang sedang duduk memainkan ponselnya mendadak berhenti. Dengan senyuman Alenka kembali menyuapi Niken.


" Nenek nggak marah sama Mamah, bahkan bukan nya nggak suka sama Mamah, malah saking sayang nya Nenek bilang seperti itu sama Mamah."


" Tapi kok kenapa marah - marah terus, padahal Mamah nggak nakal."


" Niken habis nya makan nya, jangan banyak bicara." Tegur Alvino.


" Baik Papah."


*****


Alenka selesai menidurkan Niken, setelah makan dan minum obat. Alenka lalu berjalan menuju sofa dimana Alvino duduk.


Alvino mengusap punggung Alenka saat sudah duduk berdampingan.


" Maaf kan kata - kata Nenek nya Niken."


" Sudah lah Bang jangan dibahas lagi, lagian dia bukan siapa - siapa Abang hanya mantan mertua."


" Justru itu Abang nggak enak nya, mantan mertua sudah di anggap sebagai orang tua sendiri."


" Semua orang tua pasti ada saja pemikiran seperti itu, rasa takut wajar karena bagaimana pun Niken cucu satu - satunya, Papah nya menikah lagi banyak yang terjadi hal yang seperti itu."


" Tapi kamu bukan wanita seperti itu Abang sangat yakin."


******


" Ibu sudah lah jangan seperti tadi, memalukan di rumah sakit marah - marah apalagi di depan Niken." Ucap Lestari.


" Eh Lestari wajar ibu kamu berkata seperti itu, orang itu jangan di lihat dari penampilan luarnya saja, Ibu jamin mereka itu tertipu dengan penampilan nya." Ucap Ibu Fatma.


" Kalau pun iya, sudah Ibu jangan banyak bicara biar jadi urusan mereka, yang penting Ibu fokus sama Niken."


" Kamu kenapa jadi salah kan Ibu malah membela mereka. Apa kamu tidak sakit hati ditolak beberapa kali? "


" Kalau masalah itu Lestari sudah menerima nya, karena bagaimana pun memang hati itu tak bisa di paksakan."


" Ibu juga sebenarnya capek sama kamu, entah bagaimana cara pikir kamu."


" Saya Bu yang capek, mengejar cinta yang tak pernah sampai. Bagaimana pun berusaha kalau hati tak bisa menyatu jadi harus bagaimana lagi Bu? "


*******


" Sudah sedikit membaik, demam nya sudah mulai turun dan bercak merah di kulit pun sudah sedikit menghilang." Ucap Dokter anak yang menangani Niken.


" Kapan bisa pulang? " Tanya Alvino.


" Kita lihat perkembangannya dulu." Jawab Dokter anak.


" Baik Dok terima kasih." Ucap Alvino.


" Papah apakah niken sudah boleh pulang? " Tanya Niken setelah Dokter pergi.


" Belum sayang, nanti kalau Niken sudah baik an pasti pulang." Ucap Alvino.


" Papah Niken bosan."


Alvino membelai lembut pipi Niken, dan menangkup kedua pipi nya.

__ADS_1


" Semua orang pasti kan bosan berlama - lama di rumah sakit, jadi sabar ya."


Pintu kamar pun terbuka terlihat Alenka membawa banyak makanan.


" Bawa apaan Mah? "Tanya Alvino melihat Alenka menaruh dua kantong kresek di atas meja.


" Mamah bawa makanan kayak snack, roti buah." Jawab Alenka.


" Niken mau apa sayang? " Tanya Alenka.


" Niken mau roti mah." Jawab Niken.


Alenka pun mengambil roti dan memberikan nya pada Niken yang pembungkus roti nya sudah di sobek.


" Abang Mau roti juga? " Tanya Alenka.


" Abang mau nya kamu." Jawab Alvino sambil berbisik.


" Abang.!!! " Ucap Alenka sambil mencubit pinggang Alvino.


Alvino hanya tersenyum sambil menahan sakit.


******


Alvino membenarkan selimut yang menutupi tubuh Niken, Dan menyelimuti Alenka yang tertidur pulas di sofa.


Alvino tersenyum sambil memandangi wajah Alenka, dengan mengusap lembut salah satu pipi nya.


" Terima kasih sayang, terima kasih kamu hadir di tengah - tengah kami. Kamu wanita hebat yang telah meruntuhkan benteng pertahanan hingga membuat hati Abang porak poranda sehingga kamu lah yang Abang pilih sebagai pelabuhan terakhir Abang." Ucap Alvino dalam hati nya.


******


" Bang Saya pulang dulu ya sambil bawa cucian baju yang kotor." Ucap Alenka.


" Saya pulang ke rumah Mas, cuci baju sendiri saja."


" Yakin? "


" Memangnya kenapa? "


" Kamu nyuci baju? "


" Mas, Saya juga bisa cuci baju di mesin cuci gini - gini Saya bisa kerja kan urusan rumah."


Alvino tersenyum pada Alenka yang melihat istri nya mengerucutkan bibir nya.


" Percaya deh kirain nggak bisa kerja kan urusan rumah, tadi nya mau suruh pembantu."


" No pembantu ya, bisa kerja kan sendiri."


" Abang pesan kan taksi." Alvino segera membuka ponselnya yang memesan lewat Aplikasi.


" Sudah nih tinggal tunggu." Ucap Alvino setelah selesai memesan taksi.


" Sudah Abang bayar kan? " Tanya Alenka.


" Sudah sayang tenang saja." Jawab Alvino.


" Thank you honey." Ucap Alenka sambil mencium bibir Alvino.


Alenka pun pergi dan Niken pun bangun dari tidur nya.


" Mamah mana Pah? " Tanya Niken dengan suara seraknya.

__ADS_1


" Mamah pulang dulu sayang." Jawab Alvino.


Alvino pun lantas mengecek kondisi Niken dan terlihat sudah semakin membaik.


" Demam nya sudah benar - benar turun sayang, bintik merah nya juga sudah hilang."


" Niken mau pulang."


" Nanti Papah bilang dulu sama Dokter sudah boleh pulang atau belum."


Pintu kamar pun terbuka terlihat Lestari datang dengan membawa rantang.


" Assalamualaikum." Sapa Lestari.


" Walaikumsalam." Balas Alvino dan Niken.


Niken pun bersalaman pada Lestari, dan menaruh langsung rantang di atas meja.


" Sendirian? " Tanya Alvino.


" Iya Bang, Saya Sengaja ingin kasih sarapan pagi buat kalian." Jawab Lestari.


" Terima kasih nggak usah repot - repot tadi Alenka sudah beli kan Roti." Ucap Alvino.


" Kan Roti belum makan nasi, Saya masak banyak." Ucap Lestari.


" Terima kasih ya." Ucap Alvino.


" Kemana Bang Alenka? "


" Pulang dulu ke rumah mau cuci baju."


" Lama dong kembali nya."


" Sekalian siapin makan siang buat disini."


" Bilang saja Bang nggak usah masak Saya bawa banyak."


" Terima kasih Lestari, biarkan saja dia bawa juga."


" Tante makan." Ucap Niken.


" Oh iya sayang, tante bawa sayur ayam nih buat kamu. Tante suapin ya? "


Niken pun menganggukkan kepalanya lalu Alenka menyuapi Niken. Sedangkan Alvino lebih memilih duduk di sofa sambil melihat acara tv.


" Enak nggak? " Tanya Lestari.


" Enak Tante." Jawab Niken.


" Niken kangen nggak masakan Tante? "


" Kangen Tante, masakan Tante itu enak."


" Ya udah nanti Tante masakin Niken selama Niken masih disini."


" Tante sedih nggak sih Niken ikut sama Papah? "


Alvino mendengar kan setiap ucapan mereka berdua walau matanya fokus terhadap layar televisi.


" Tante pasti kangen lah sayang, apalagi sekarang kamu sudah memiliki Mamah baru, Tante takut kamu sudah nggak sayang lagi sama Tante, dan Tante takut kamu semakin menjauh dari Tante." Ucap Lestari dengan mata yang berkaca - kaca.


" Niken nggak akan melupakan Tante, walau Niken jauh Tante akan selalu Niken ingat dan rindu kan. "

__ADS_1


__ADS_2