
Alvino mengusap photo saat dirinya ijab Kabul dengan Alena di samping nya, senyum terukir di wajahnya dengan mengusap photo tersebut.
" Jujur Saya tiba - tiba kangen sama kamu, pertemuan yang singkat, pernikahan yang singkat dan awal hubungan kita yang singkat. Semoga surga untuk mu Alena, terima kasih untuk semuanya."
Alvino mengambil figura tersebut dan mengecup tepat di photo wajah Alena. Entah kenapa tiba - tiba dada Alvino sangat begitu sesak dengan memeluk photo tersebut, Alvino merosot ke bawah dengan bersandar di meja rias.
Hiks.... hiks... hiks...
" Maaf kan Saya Alenka, hiks... hiks.. hiks.. maaf kan saya. "
Sebuah dekapan membuat Alvino semakin menangis, Alenka mengusap punggung Alvino tangisnya pecah hingga bergetar.
Hiks... hiks.. hiks...
" Maaf kan Abang Alenka, maaf kan Abang."
" Menangis lah Bang, Saya mengerti mungkin banyak kenangan Abang sama Alena. Saya mengerti dan Saya tak akan cemburu."
" Kamu harus tahu Alenka, Abang pergi bersama dia, dan Abang kembali bukan Sama dia. Di kamar ini ada kenangan dimana kamu belum memiliki rasa. Dimana awal semuanya terjadi."
" Alena sudah bahagia Bang , Saya juga sadar tidak akan memaksa Abang untuk melupakan Alena, Saya juga tidak memaksa untuk menjadikan Saya wanita satu - satunya."
" Nggak kamu akan jadi wanita satu - satu nya di hati. Dan kamu adalah pelabuhan cinta terakhir Abang. Wulan dan Alena akan Abang simpan di hati, tapi kamu adalah yang sekarang."
" Abang kalau mau istirahat boleh di kamar ini, Saya tidak akan marah."
" Maaf kan Abang."
" Tidak Bang, Abang tidak salah."
*******
" Mang Udin pembantu lain nya kemana? " Tanya Alvino.
" Maaf Pak, setelah mereka tahu kejadian itu mereka tidak Mau bekerja lagi disini apalagi Bapak di penjara." Jawab Mang Udin menyiap kan makanan untuk majikannya.
" Mang Udin, nanti Saya akan tinggal disini sampai hari pernikahan. Kalau bisa istri Mang Udin di ajak ya temani Saya." Ucap Alenka.
" Kamu nggak ikut kembali kesana? " Tanya Alvino.
" Nggak Bang, Saya akan disini sampai hari pernikahan kita nanti Saya ikut balik kesana." Jawab Alenka.
" Ya sudah besok kita bertemu sama Ayah dan Bang Niko lalu besok nya lagi kita ke rumah Abang."
" Ok Bang."
" Maaf Nona, Saya seperti melihat Nona Alena hidup kembali rasanya." Ucap Mang Udin.
" Mang sampai kapan pun Alena akan tetap berada di sekitar kita tapi di hati." Ucap Alenka.
*******
" Tante rumah sebesar ini asik ya? " Ucap Niken .
" Rumah besar kalau nggak bahagia buat apa Niken." Ucap Alenka.
" Memang Tante nggak bahagia? "
" Bahagia dong, di rumah ini kan sudah ada Papah Alvino sama Niken."
" Mamah. "
" Apa?? "
" Mamah." Ucap Niken.
__ADS_1
" Kamu panggil Mamah sayang? " Ucap Alenka.
" Iya kenapa? "
Alenka tersenyum lalu memeluk tubuh Alenka.
" Makasih sayang, dengan sebutan yang kamu sebut tadi."
******
" Kopi Bang."
" Makasih."
" Boleh Saya minta rokoknya Bang? "
" Kamu Mau merokok seperti Abang hah..!! " Ucap Alvino.
" Kenapa? "
" Niken datang, terus Abang nggak suka perempuan yang merokok."
" Alenka juga nggak suka lihat pria merokok."
" Abang sudah biasa."
' Saya juga sudah biasa."
" Iya Abang stop merokok, kamu juga ingat."
" Nah gitu dong kan adil." Ucap Alenka Sambil tersenyum.
*******
" Ini Lapas sayang." jawab Alenka.
" Lapas itu apa? " Tanya Niken.
" Dimana tempat orang yang berbuat salah akan di hukum disini, dalam artian di hukum tidak boleh keluar bebas seperti kita." Ucap Alvino.
Lalu mereka bertiga pun masuk, dan menunggu Pak Hadi dan Niko keluar.
" Ayah." Alenka memeluk tubuh Pak Hadi dan di susul Niko yang baru datang.
" Ayah Bang Niko apa kabar?" Sapa Alvino.
" Alhamdulilah baik." Ucap Pak Hadi
" Alhamdulilah Alvino baik, apa kabar cantik." Ucap Niko sambil mengusap pucuk kepala Niken.
Pak Hadi tersenyum ke arah Niken yang mengingat kan pada Alena yang telah mendonorkan kedua ginjalnya.
" Kamu tumbuh sehat nak." Ucap Pak Hadi.
" Niken sekarang nggak sakit - sakitan lagi kakek." Ucap Niken pada Pak Hadi.
" Alhamdulilah." Ucap Pak Hadi.
Mereka pun lalu duduk sambil membawa berbagai macam makanan dan minuman.
" Ayah Abang kami kemari ada sesuatu keniatan ingin menuju langkah yang serius." Ucap Alvino.
" Apa itu? " Tanya Pak Hadi.
" Saya ingin meminang putri Ayah untuk menjadikan pelabuhan terakhir saya." Jawab Alvino.
__ADS_1
Pak Hadi dan Niko tersenyum dan menatap ke arah Alenka.
" Apa kamu siap menikah dengan suami saudara kembar kamu almarhumah Alena? " Tanya Pak Hadi.
" Saya sudah siap Ayah."Ucap Alenka.
" Sejak pertama bertemu Saya sudah jatuh cinta sama Bang Alvino, mungkin Saya berbeda dengan Alena yang hanya memberikan kebahagiaan yang singkat namun membekas tapi Saya insya Allah akan bisa membahagiakan Abang lebih dari Alena berikan."
Alvino tersenyum ke arah Alenka dengan memegang jemari Alenka.
" Kami akan melangsukan pernikahan di rumah Ayah, dimana kisah Saya dan Alena terulang dengan Alenka." Ucap Alvino.
" Ayah restui kalian." Ucap Pak Hadi.
" Semoga kalian bahagia." Ucap Niko.
" Terima kasih Alvino, kamu sudah menjaga kedua adik Saya." Ucap Niko Kembali.
" Sama - sama Bang." Ucap Alvino.
*****
" Bang kita jadi besok ke rumah Abang? " Tanya Alenka.
" Jadi dong, besok kita perjalanan jauh.' Jawab Alvino.
" Kita Naik apa? "
" Naik Bis."
" Nggak sabar Bang ingin sampai ke kampung Abang." Ucap Alenka sambil bergelayut di lengan Alvino.
*****
" Besok Alvino akan pulang.' Ucap Alvino melalui sambungan telepon nya.
" Sama Niken? " Tanya Ibu Husna dari seberang.
" Sama Alenka, Alvino ingin minta restu sama Ayah dan Ibu." Jawab Alvino.
' Jadi kamu setuju Niken di asuh sama mantan mertua kamu? "
" Saya akan tetap pertahankan Niken, dan Niken pun tidak mau ikut dengan mereka."
" Tapi mereka akan tetap bawa Niken."
" Saya akan bicara sama mereka Bu."
" Terserah kamu, bagaimana caranya Niken tetap dalam asuhan kamu."
Ibu Husna memutuskan panggilan nya secara sepihak dan Alvino lalu memasukan ponselnya di dalam saku.
" Papah."
" Niken, kamu dari tadi nak? "
" Niken nggak Mau ikut sama Nenek Fatma, Tante Lestari. Niken ingin tetap sama Papah." Ucap Niken dengan mata berkaca - kaca.
" Papah nggak akan melepaskan kamu sayang kamu akan tetap ikut sama Papah."
Niken pun memeluk tubuh Alvino, begitu pun juga Alvino dengan erat memeluk tubuh mungil putri kecilnya.
Dari jauh Alenka mendengar pembicaraan mereka, hubungan nya bersama Alvino berdampak pada Niken yang akan di pisahkan bersama Alvino.
" Saya akan pertahankan Niken sama Kamu Bang, bagaimana pun kalian harus tetap Bersama bidadari kecil kamu. Kekuatan hidup Abang adalah Niken."
__ADS_1