
" Nyaman nggak naik bis? " Tanya Alvino saat akan pergi ke kampung halaman Alvino dengan menggunakan Bis bersama Alenka dan Niken.
" Nyaman kok Bang." Jawab Alenka sambil mengusap kepala Niken yang sudah tertidur di kedua pada Alenka.
" Maaf ya.. Abang belum bisa belikan mobil baru, dulu pernah punya mobil Abang jual." Ucap Alvino.
" Sudah nggak apa - apa Bang, Saya juga di luar negeri suka menggunakan kendaraan umum."
" Makasih ya sudah mengerti."
" Sama - sama sayang."
Alenka menikmati perjalanan nya menaiki kendaraan umum, dengan melihat pemandangan indah yang dia lihat dari balik kaca mobil Bis.
" Kalau ngatuk tidur saja sini di bahu Abang."
Alenka menaruh kepalanya di bahu kiri Alvino , tangan Alvino menarik pinggang Alenka agar sedikit merapat di tubuh nya sedangkan Niken sudah tidur dengan posisi masih berbaring di kedua paha Alenka.
****
" Kita Naik apa bang? " Tanya Alenka.
" Naik angkot, itu angkotnya." Jawab Alvino sambil menujuk ke arah angkot.
" Papah nanti kalau sudah sampai Niken Mau Mau main ke rumah teman - teman ya." Ucap Niken.
" Iya sayang, kamu boleh main sepuasnya." Ucap Alvino.
Setelah menaiki Angkot selama 1 jam akhirnya sampai, Alenka menatap takjub kampung Alvino dengang Naik ke atas terlihat gunung yang menjulang tinggi.
" Kita naik ojeg. " Ucap Alvino.
Dengan menggunakan ojeg langganan sekaligus teman Alvino di kala ingin nongkrong dan minum kopi.
Saat sampai di tempat tinggal Alvino, Alenka diam Sejenak di depan gerbang.
" Hayu masuk." Ajak Alvino.
Sedangkan Niken sudah berlari masuk kedalam rumah nya, dan terlihat kakek Nenek nya tersenyum bahagia saat melihat cucu kesayangan nya datang.
" Assalamualaikum." Sapa Alvino.
" Walaikumsalam." Balas Ibu Husna dan Pak Abas.
__ADS_1
Alvino dan Alenka pun mencium punggung tangan mereka. Alvino menggandeng tangan Alenka dimana jantung Alenka berdegup sangat kencang.
" Kalian menginap kan? " Tanya Pak Abas.
" Menginap semalam Ayah." Jawab Alvino.
Sedangkan Niken sudah berlari keluar menemui teman - teman nya, terdengar suaranya tertawa bersama teman - teman di sekitar rumah nya.
" Ayah Ibu kedatangan Saya kemari ingin meminta restu sama Ayah dan Ibu. Alvino ingin meminang Alenka. Alvino sudah mendapatkan restu dari Ayah Alenka, kini tinggal restu dari Ayah dan Ibu."
Pak Abas dan Ibu Husna saling menatap dan diam tak menjawab apa yang di minta Alvino.
Sedangkan Alenka hanya diam dan menundukkan kepalanya, Alvino memegang tangan Alenka untuk tetap tenang.
" Alvino sebenarnya Ayah sama Ibu sudah tidak bisa lagi menghalangi ke ingin an kamu. Orang tua mana tidak ingin kebahagiaan anak satu - satunya, apa yang di lakukan Ayah dan Ibu terhadap kamu itu hanya ingin yang terbaik, namun kami sadar cinta tak bisa di paksa." Ucap Pak Hadi.
" Maaf kan Ibu nak, maaf kan Ayah juga. " Ucap Ibu Husna.
" Alvino tidak pernah marah atau benci sama Ayah dan Ibu, restu dari kalian di setiap langkah apa yang Saya lakukan adalah sebuah kelancaran dan di balik sebuah restu ada doa untuk kami." Ucap Alvino .
" Alenka terima kasih kamu sudah Mau menjadi pendamping Alvino." Ucap Ibu Husna.
" Saya yang harus berterima kasih sama Ayah dan Ibu yang sudah mengijinkan Saya menjadi bagian dari keluarga Bang Alvino." Ucap Alenka.
" Kami merestui hubungan kalian." Jawab Pak Abas.
" Alhamdulilah, terima kasih Ayah Ibu." Ucap Alvino bahagia.
" Terima Ayah Ibu." Ucap Alenka.
******
" Bagaimana senang nggak di saat kedua orang tua kita menyetujui kita menikah? " Ucap Alvino.
" Pasti senang lah Bang, kita tinggal mempersiapkan semuanya." Ucap Alenka.
Alvino meraih tangan Alenka, dan mencium punggung tangan nya.
" Nanti kita ke makam Wulan, kamu Mau kan sayang? " Tanya Alvino.
" Mau Bang." Jawab Alenka.
" Akh... akhirnya. " Alvino tersenyum pada Alenka, dan Alenka menyandarkan kepalanya di pundak Alvino.
__ADS_1
" Bang, nggak apa - apa kan nanti menikah di rumah Saya? " Tanya Alenka.
" Nggak apa - apa sayang." Jawab Alvino.
*****
Lestari dan Ibu Fatma duduk berhadapan dengan Alvino dan Alenka, tatapan tak suka Ibu Fatma terlihat jelas pada Alenka.
" Ayah masih di luar kota? " Tanya Alvino memulai percakapan.
" Ayah sedang di luar pulau, pulangnya 3 bulan sekali." Jawab Lestari.
" Bu, Lestari kami kemari hanya ingin mengatakan kalau kami akan segera menikah. Bagaimana juga keluarga ini bagian dari Saya." Ucap Alvino.
" Jadi masih ingat sama keluarga nya Wulan, Ibu kira sudah lupa." Ucap Ibu Fatma.
" Bagaimana juga disini kakek sama Nenek nya Niken, dimana Mamah nya Niken lagi dan di besar kan disini."
" Sesuai apa yang katakan Niken ikut kami." Ucap Ibu Husna.
" Maaf Bu kalau itu Saya tidak akan pernah melepaskan Niken. Karena Niken berkata pada Saya dia tidak ingin ikut sama Ibu." Ucap Alvino.
" Alah pasti ini akal - akal an kamu saja yang ingin mempertahankan Niken. Nggak mungkin Niken tidak Mau, pasti dia mau" Ucap Ibu Husna.
" Bu maaf, apakah seorang Ayah tega berbohong demi anak nya, apakah seorang Ayah yang di pisahkan dari anak nya akan tenang dimana anak nya tidak Mau. Niken akan terus kehilangan, apakah Ibu tega mendengar rengekan nya? " Ucap Alenka.
" Kamu mengerti apa hah... kamu belum punya anak."Ucap Ibu Husna.
" Saya memang belum punya anak, tapi Saya merasakan bagaimana ikatan batin antara seorang anak dan seorang Ayah. Saat itu Saya melihat bagaimana cara Niken meminta untuk tidak di pisahkan walau Ibu itu Nenek nya." Ucap Alenka.
" Saya akan tanya sendiri pada nya." Ucap Ibu Fatma.
*****
Alvino duduk bersama Alenka di sebuah makam, dimana makam Wulan istri nya.
" Assalamualaikum Wulan, maaf Abang baru berkunjung kemari, tapi doa Abang tidak akan pernah putus setiap hari. Wulan Abang kemari tidak sendiri, Abang membawa calon istri Abang dia sangat sayang sama Niken. Dia wanita hebat dia menerima apa adanya.Terima kasih untuk cinta yang kamu berikan pada Abang hingga akhir hayat kamu, dan terima kasih telah melahirkan putri cantik yang lucu. Abang akan tetap menjaga dan menyayangi dia, karena dia adalah sumber kekuatan Abang, harta berharga milik Abang yang tak ternilai. Sampai berjumpa lagi di keabadian, selamanya kamu akan selalu Abang tempat kan di hati."
Alenka mengusap punggung Alvino, terlihat sedikit ada air mata di sudut kelopak matanya.
" Apakah mba Wulan cinta pertama Abang? " Tanya Alenka.
" Dia cinta pertama Abang, dia wanita pertama yang mengisi hati Abang. Dia wanita yang sabar tidak pernah marah tidak pernah mengeluh walau sakit hingga saat dia benar - benar tak berdaya di situ Abang tahu selama ini dia menyimpannya sendiri. "
__ADS_1