Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Pemahaman


__ADS_3

Ternyata di toko itu hanya menjual baju-baju kaos dan celana katun dengan panjang tanggung, sedang baju terusan kebanyakan berukuran kecil. Jun melihat beberapa. "Coba kau pakai ini." Pria itu menyodorkan sebuah kaos tangan pendek dan celana panjang gantung.


"Ini terlalu pendek, Mas," protes Khati merengut manja.


"Tidak ada pilihan lain, Julia. Kau harus memakai ini. Lagipula ...." Pria itu mendekatkan mulutnya ke telinga sang istri. "Apa kau tidak merasa, bau badanmu mengganggu orang lain?"


"Masa?" Khati segera menyilang tangannya di depan dada dan mundur beberapa langkah. Ia mencoba mengendus-endus bau tubuhnya.


"Sebaiknya kau ganti baju dan ...." Pria itu melirik di antara rak-rak yang ada di sampingnya. Ia mengambil sebuah body mist, dan diserahkan pada sang istri. "Ini. Kau pakai di kamar ganti."


"Oh, iya, Mas." Khati mengambil semua barang pemberian suaminya dan bergegas pergi ke kamar ganti.


Jun tersenyum kecil melihat kepanikan sang istri. Tak lama wanita itu keluar dengan pakaian yang diberikan suaminya tadi. Terlihat Khati sedikit risih dengan pakaian yang terasa kependekan di tubuhnya itu. Ia jadi kurang percaya diri. Tubuhnya yang sintal terlihat jelas pada celana panjang 7/8 yang dikenakannya. Untung saja bajunya sedikit longgar.


Jun kemudian membayar pakaian dan body mist tadi, lalu mereka keluar. Sesekali Khati mengusap lengannya karena baju kaosnya berlengan pendek. Pria itu menyadarinya tapi ia membiarkan saja sang istri seperti itu karena Khati harus mulai terbiasa memakainya.


"Mas, pulang aja, yuk?" ajak sang istri karena tak nyaman dengan pakaian yang dipakainya.


"Sebentar lagi jam makan siang. Apa kita makan siang duluan?"


"Terserah saja, tapi aku ingin buru-buru pulang. Aku gak nyaman pakai baju seperti ini."


"Kau cantik kok pakai baju itu." Pria itu kembali memujinya agar wanita itu lebih percaya diri memakai pakaian seperti itu.

__ADS_1


Pipi wanita itu kemerahan. "Tapi, Mas. Aku tak terbiasa pakai pakaian pendek seperti ini."


"Ini masalah kebiasaan 'kan? Biasakan saja. Kau sudah tak bisa kembali seperti dulu. Kau adalah orang lain sekarang."


"Tapi kita tidak bisa menipu Allah, Mas. Aku tidak bisa menipunya. Sehebat-hebatnya kita menyembunyikan, Dia pasti tahu. Dia tahu, Mas. Aku adalah Khati dan kenyataan itu tidak bisa ditukar oleh siapapun. Dosaku tetap aku pikul walaupun aku telah berganti nama sekalipun. Sudah operasi. Dosaku tetap aku dapatkan," terang sang istri yang membuat Jun terkejut.


"Bukankah dosamu aku yang pikul? Kau 'kan telah menikah denganku. Bukankah begitu?"


Khati menatap pria itu dalam-dalam. "Masa suami istri bekerja sama dalam kejahatan? Kalau kau tahu kebaikan dan itu lebih baik, bukankah sebaiknya bekerja sama dalam kebaikan?"


Jun meraih tangan istrinya. "Percayalah Khati, ini hanya untuk sementara. Tuhan juga pasti tahu dan memaafkan kita, karena niat kita baik walaupun apa yang dikerjakan salah. Ini untuk kebaikan semua orang dan tentu saja kita tidak berusaha berlama-lama dengan keadaan ini, iya 'kan?"


Khati menghela napas pelan.


Bukankah sudah kukatakan padamu bawa aku datang menolongmu untuk terlepas dari jeratan hukuman mati ini, dan aku benar-benar ingin membuktikannya asal kau mau bekerja sama. Tolong Khati, tolong aku. Jangan membuat aku semakin sulit dengan posisiku sekarang ini. Apa kau tahu apa yang sedang aku korbankan? Jabatanku, dan kita berdua bisa masuk penjara."


Kini Khati iba pada pria itu yang mungkin secara terpaksa menjadi suaminya karena ingin menolongnya. Begitu banyak yang telah dikorbankannya. Waktu dan jabatan. Padahal mereka tidak saling kenal. Pria itu benar-benar tulus menolongnya dengan mengorbankan dirinya sendiri, karena itu ia tak bisa egois. "Apa benar aku tidak apa-apa, sementara ini memakai pakaian seperti ini tanpa hijab? Itu tidak dosa?"


"Untuk tujuan baik dan hanya sementara, pasti boleh. Ini dalam keadaan genting. Bukankah pernah di jaman nabi, di mana penduduk muslim masih sedikit, mereka masuk Islam dan beribadah secara sembunyi-sembunyi? Di mulut, mereka tidak mengakui agama Islam agar selamat," terang hakim itu lagi.


Khati masih bingung mendengar penjelasan sang suami. Hanya saja, keterangannya masuk akal. "Apa kasus pembunuhan ini bisa disamakan dengan itu?"


"Tentu saja, Sayang. Aku tidak berbohong padamu, Julia." Pria itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan dengan lembut. "Percayalah padaku karena aku mempertaruhkan seluruh karierku pada kasus ini." Jun mendekapnya erat untuk menenangkan istrinya.

__ADS_1


Khati lega, pria ini juga luas ilmu agamanya sehingga ia bisa bersandar untuk sementara waktu pada sang suami. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu.


"Karena itu kamu harus semangat. Ngurusin badan, dan belajar banyak hal lainya, agar kita cepat bisa menangkap pembunuhnya. Kita tidak punya banyak waktu karena aku menunda pengadilanmu di Jakarta sementara, tapi kalau penyelidikan tidak membuahkan hasil, kamu terpaksa harus membantu penyelidikan ini dengan menjadi Julia."


Khati mengangkat kepala. "Jadi, aku tidak harus jadi, Julia?"


"Penyelidikan sejauh ini masih belum menghasilkan apa-apa. Karena itu aku minta kamu bertahan. Sementara aku menyiapkan kamu jadi Julia, aku akan terus memantau keadaan di Jakarta."


"Apa ada kemungkinan aku tidak perlu jadi Julia?"


"Karena aku tidak yakin, makanya aku mempersiapkan kamu. Sudah, percaya saja padaku, kamu pasti bisa."


"Tapi rasanya tidak mungkin aku jadi Julia," gumam Khati lirih. Ia meragukan kemampuannya. "Julia itu foto model profesional. Mana mungkin aku bisa menyamainya."


"Khati." Sang pria melepas pelukan agar mereka bisa saling berhadapan saat bicara. "Aku akan membantumu. Mau jadi foto model? Aku akan panggilkan gurunya khusus untuk itu. Ingin cepat kurus? Aku akan masukkan kamu ke grup senam aerobik. Apa lagi? Katakan saja, agar kita bisa segera kembali ke Jakarta dalam keadaan kamu siap jadi Julia, apa kau mengerti?"


Wanita itu mengangguk.


"Jadi jangan ngambek-ngambek lagi, karena waktu berjalan terus dan aku tidak bisa menyembunyikanmu selamanya di sini. Selain aku berusaha menyelamatkanmu, kamu juga harus berusaha menyelamatkan dirimu sendiri. Jangan takut, aku punya tim yang akan mengawalmu di Jakarta nanti, jadi kamu tidak sendirian. Mereka juga akan menolongmu bila sesuatu terjadi padamu."


Khati menatap kedua manik mata hitam jernih milik penolongnya itu. Selain tampan dan telah menjadi suaminya, pria itu tengah berusaha mati-matian menjadi dewa penolongnya. Entah bagaimana caranya ia akan berterima kasih kepada pria itu nantinya, bila semua ini telah selesai.


Hanya sayang saja kalau mereka tak berjodoh. Sayang saja, kalau harus bercerai. Apa ia sudah punya calon istri yang ingin dinikahinya? Kasihan sekali kalau begitu. Ada dirinya di antara mereka. Mereka harus bertahan demi dirinya. Khati bertekad akan berusaha menjadi yang terbaik agar tidak mengecewakan Jun. Ia berjanji dalam hati. "Ok, aku akan coba," jawabnya mantap.

__ADS_1


Pria tampan itu tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala Khati dengan lembut. "Ayo kita makan siang."


__ADS_2