Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Ada apa ini? Nyonya?"


Keduanya menoleh. Khati begitu lega karena bertemu Dimitri. Damar segera menarik tangannya dan memberi jarak pada wanita itu.


Khati bergerak mendekati pria Rusia itu. "Oh, tidak apa-apa. Dia hanya penggemar," ujarnya sambil tersenyum. Ia tidak mau ada masalah di pesta. Lagipula ia memang ditugaskan untuk mendekati Damar, tapi karena tiba-tiba, ia merasa belum siap. "Ayo!" Ia mengajaknya pergi.


Dimitri sedikit bingung karena ia jelas-jelas tengah melihat ada ketidakberesan di situ tapi wanita itu menyatakan sebaliknya. "Kau benar-benar tidak apa-apa, Nyonya?" tanyanya lagi memastikan.


"Oh, benar. Tidak apa-apa." Khati merasa lega Dimitri telah menolongnya di situasi tadi, kalau tidak pasti ada keributan di sana dan suasana jadi tidak menyenangkan. Apalagi ada banyak kenalan suaminya di sana. Kalau Damar ditangkap karena bikin onar di pesta, besar kemungkinan ia tidak bisa mendekati pria itu lagi untuk menggali informasi tentang pembunuhan istri pria itu.


Sungguh rumit tapi ia bersyukur Dimitri datang tepat waktu. Ia sempat melirik Damar yang memandanginya pergi dengan Dimitri. "Kau diundang juga ke pesta ini?" tanyanya pada pria Rusia itu.


"Oh, iya. Bosku kenal dengan pengusaha yang menikah itu. Orang tuanya pejabat daerah." Dimitri sebenarnya membujuk bosnya untuk datang ke Jakarta. Kebetulan bosnya itu juga punya usaha di Jakarta.


Sejak bertemu dengan Khati, ia sebenarnya suka pada wanita ini. Apalagi melihat hubungan Khati dan suaminya yang terlihat tidak wajar. Ia semakin penasaran pada wanita ini hingga mencoba mencarinya sampai ke Jakarta.


"Oh, begitu. Apa bosmu punya usaha juga di Jakarta?"


"Oh, iya benar. Apa kamu masih tertarik dengan usaha sampingan."


"Usaha sampingan?" Khati mengerut dahi.


Dimitri tertawa. "Karena pekerjaan utamamu 'kan ibu rumah tangga."


Khati ikut tertawa. Pria itu senang melihat wanita itu tertawa. Ia merasa sejuk melihat tawa renyah dari bibir tipis Khati.


Mereka kemudian mendatangi sebuah meja berukuran sedang sambil melihat-lihat makanan yang ada. Khati mengambil puding untuk dicoba, demikian pula dengan pria itu.


"Bosmu yang mana?" tanya sang wanita penasaran.


Dimitri menunjuk ke seorang pria berwajah Rusia yang sedang makan sendirian. Di banding Dimitri, wajah pria itu terlihat kaku dan angkuh.


Khati mengangguk-angguk melihatnya. "Yang di Jakarta bisnisnya apa saja?"


Dimitri melirik Khati dengan senyum tipisnya. "Apa kau tertarik untuk berbisnis? Atau, bagaimana kalau kau kerja padaku?"


"Oh, entahlah." Di tanya begitu, Khati malah kebingungan. "Aku belum tahu."

__ADS_1


"Kalau kau hanya sebagai ibu rumah tangga. Kamu bisa bekerja padaku, sebagai pemula. Lagipula, ini tak memakan banyak waktumu. Apa kau masih bekerja jadi model?" Ia menyuap potongan kue ke dalam mulutnya.


"Suamiku menyuruhku berhenti."


"Ah, sayang sekali. Padahal 'kan lebih baik punya karir dulu sebelum punya anak, iya 'kan? Atau mungkin suamimu ingin cepat-cepat punya anak?"


Khati gerah menghadapi pertanyaan itu. Dimitri bisa melihatnya.


"Eh, kami baru menikah. Masih belum merencanakan apa-apa," elak sang wanita.


"Apa kau ingin buru-buru punya anak? Tidak 'kan? Coba kerja padaku saja. Setiap saat kau bisa berhenti, dan itu tak masalah denganku. Perusahaan bosku banyak dan tidak ada yang bisa mengurus perusahaan yang di Jakarta. Kalau kamu sanggup, aku akan memberikan pekerjaan itu padamu."


Khati menyelesaikan kunyahannya sambil melirik pria di sampingnya itu. "Tapi ...."


"Tak usah takut, nanti aku ajari. Bagaimana?" Pria itu menatap ke arah kedua manik mata indah sang wanita.


Wanita itu terlihat segan. Padahal pria itu tidak tahu bahwa Khati punya sebuah perusahaan yang dipimpinnya yang kini sedang mencoba membuka cabang di daerah, tapi proyek itu terbengkalai sejak ia tinggalkan karena kasus pembunuhan ini.


"Apa aku bisa?" tanya Khati malu-malu. Ia tak ingin gegabah karena itu perusahaan orang lain yang mungkin punya standar berbeda.


"Pasti bisa. Perusahaan ini sudah berjalan dengan standar yang sudah diatur rapi jadi kamu tinggal memimpinnya saja. Atau kamu ingin punya usaha sendiri?"


"Lho, usaha dari hal-hal yang berbau rumahan juga bisa lho, Julia. Kau tak ingin coba?"


"Masa?" Khati pura-pura tak tahu. Ia menyuap puding yang telah dipotongnya.


"Bisa kok. Bagaimana dengan restoran?"


Wanita itu tersenyum lebar. "Wah, aku tak sehebat itu memasak."


"'Kan tidak harus kamu yang memasak, Julia. Kau tertarik? Bagaimana kalau kau beri nomor teleponmu agar kita bisa mengobrol lagi di tempat lain?"


Kini Khati bingung harus menjawab apa, padahal ia hanya ingin mengobrol saja dengan pria itu hingga ia hanya memberi senyuman.


Bertepatan dengan itu, Jun yang sedang mencari Khati, menemukannya sedang tersenyum pada Dimitri. Ia mengerut kening dan mendatangi mereka berdua. "Julia!"


Keduanya menoleh.

__ADS_1


"Kau sedang apa, Sayang," sahut Jun ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Eh, tidak ada. Aku hanya mengobrol saja dengan Dimitri."


Mendengar sang istri menyebut nama lelaki itu, Jun langsung kesal. Mereka berkenalan? He! "Ayo, Sayang. Katanya ingin cepat pulang. Ayo, kita pulang."


"Oh, iya."


Jun membiarkan Khati lewat lebih dulu. Saat Dimitri mulai bicara, ia memotongnya. "Eh, maaf. Kami masih dalam suasana bulan madu." Ia melirik sinis pada Dimitri.


Pria Rusia itu hanya bisa diam dengan melihat Jun membawa istrinya.


Di mobil, Jun melirik Khati lewat sudut matanya. "Kau kelihatan akrab dengannya." Ia pura-pura acuh dengan merapikan lengan jas abu-abu tuanya.


"Aku 'kan kenal dia di rumah orang tuamu, Mas" terang Julia melirik sekilas sang suami.


"Benarkah?" Jun terkejut, pasalnya ia tidak melihat keberadaan Dimitri di pesta di rumah orang tuanya saat itu karena ramai. Namun kemudian ia berdehem sebentar. "Tapi aku minta kau tidak berkenalan dengan siapapun karena saat ini kamu masih 'bekerja'. Itu berbahaya, Julia. Kau mengerti 'kan maksudku?"


Ia bicara seperti itu agar sopirnya tidak curiga. Ia tidak membagi informasi tentang siapa istrinya pada semua orang, hingga ia juga merahasiakan Khati pada pegawai di rumahnya.


Khati hanya menunduk. "Iya."


"Fokus, Julia. Setelah ini, kau mau melakukan apapun, terserah."


Wanita itu melirik sang suami. "Soalnya tadi Dimitri menolongku. Aku tadi bertemu Damar."


"Apa?" Jawaban jujur istrinya mengejutkan Jun. Ia melirik ke kursi depan. "Ok, nanti kita bicara di rumah."


Sesampainya di rumah, Jun mengikuti Khati ke kamarnya. Ia menutup pintu. "Jadi bagaimana reaksinya?"


Sebenarnya Khati enggan membicarakan hal ini tapi ia harus mengatakannya karena ini memang tugasnya. "Aku bertemu dengannya ketika keluar dari toilet. Dia marah-marah."


Bagus! "Lalu, apa reaksimu?"


"Aku bingung, Mas. Dia 'kan menganggapku Julia. Aku jadi tidak enak berada di antara konflik mereka berdua." Wanita itu terlihat ragu.


_________________________________________

__ADS_1



__ADS_2