Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Jalan-Jalan


__ADS_3

"Apa?" Pria itu meraih lengan istrinya dengan wajah gusar. "Kau jangan macam-macam Julia!" Ia mendengus marah. "Kau bahkan belum mengerjakan apapun." Ia berusaha menekan nada suaranya, karena takut jadi perhatian umum.


Tempat itu pagi ini masih sepi. Belum ada banyak orang mengunjungi klinik itu, tapi pertengkaran mereka sempat tercium petugas apotik yang mulai memperhatikan mereka.


"Semakin lama bersamamu, aku semakin kehilangan jati diriku. Aku tidak mau itu." Khati tertunduk rapuh.


"Mrs. Julia Adiyaksa!"


Keduanya mendengar panggilan itu.


"Julia, kau tetap di sini. Jangan ke mana-mana. Kita belum selesai," ucap Jun penuh penekan. Netra pria itu terlihat resah. Pria itu bangkit mengambil obat di apotik.


Setelah selesai ia mengajak Khati ke mobil. Ia memasang kacamata hitamnya saat keluar. Keduanya masuk ke dalam mobil dan Jun membawa mobil itu keluar dari area klinik. Jun melihat istrinya yang hanya diam dan menatap ke luar jendela.


"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" bujuk pria itu dengan mengganti topik pembicaraan. Kalimat yang diucapkan Khati tadi membuat kepalanya pusing. Lebih baik membujuknya daripada memulai pertengkaran.


Wanita itu hanya diam terpaku menatap jendela. Perjalanan yang ditempuh cukup lama, melewati kemacetan hingga akhirnya sampai ke tempat tujuan. Khati bahkan tidak sadar ketika sampai tujuan. Ia terkejut ketika pria itu menyentuh bahunya. Ternyata ia telah melamun cukup lama.


"Julia."


"Mmh?" Sang wanita menoleh ke arah suaminya.


"Kenapa kupanggil-panggil kau tidak dengar? Apa kau lupa sekarang namamu Julia? Atau ... kamu sedang melamun?" Pria itu memperhatikan istrinya.


Khati menggeleng lemah.


"Kita sudah sampai." Jun masih iba melihat istrinya bersedih.


"Mmh?" Bola mata wanita itu kembali melirik ke arah jendela.


Mereka ternyata telah sampai di kebun binatang. Tiba-tiba Jun menarik penutup kepala Khati hingga membuat wanita itu terkejut dan menoleh. Ia menyentuh pipi istrinya. "Kamu cantik, kenapa harus disembunyikan."


"Eh, tidak." Wanita itu kembali menutup kepalanya dengan hoodie tapi Jun kembali menurunkannya.


Sang pria bahkan mendekatkan wajah mereka sambil menakup wajah istrinya dengan kedua tangan. Ia menarik dagu Khati ke atas sehingga wajah mereka saling bertemu. "Kamu memang cantik. Bahkan lebih cantik dari Julia yang asli." Beri tahu Jun.

__ADS_1


"Ah, tidak mungkin." Khati tersipu-sipu sambil memegangi tangan sang suami. Bermaksud ingin melepas tangan yang melekat di wajahnya tapi pria itu malah menggenggam wajah wanitanya dengan erat. Khati terpaksa menatap wajah sang suami yang tengah mempelajari setiap inci wajahnya dengan mata elang pria itu.


Ia malu tapi tak bisa menghindar. Kedua matanya membola. Melihat wajah tampan pria itu dari dekat membuat ia sulit bernapas dan jantungnya berdetak sangat kencang. Wanita itu kesulitan menelan ludahnya. Ya, Tuhan ... "A-apa yang ...."


"Buatan dokter itu sangat sempurna." Jun melepas genggamannya.


"Apa?"


Sang pria menurunkan kacamata hitam dari kepala dan memakainya. "Ayo, kita turun. Di sini kita bisa belajar jadi suami istri."


"Hah?"


Jun membuka pintu mobil dan turun. Sebenarnya ia hampir lupa daratan ketika melihat wajah istrinya itu dari dekat. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Ketika jantungnya mulai berdebar, ia cepat-cepat menghentikannya.


Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tapi sebaiknya tidak terjadi apa-apa karena hubungannya dengan Khati hanyalah sebatas teman kerja. Ya, sebatas teman kerja, tidak lebih. Ia tidak boleh melewati itu. Karena itu ia menghindar. Padahal pipinya wanita itu sudah bersemu merah muda.


"Julia." Jun melihat istrinya turun dari mobil dan mengejarnya.


Wanita itu kembali memasang penutup kepala.


"Aku gak mau!" rengut Khati. Ia kembali menutup kepalanya.


"Ck!" Jun menggandeng tangan istrinya. "Ayo, di sini kita pura-pura jadi suami istri."


Bukannya kita memang suami istri? Kalimat Jun makin membingungkan Khati.


"Aku ingin tahu, seberapa pintar kamu bisa berpura-pura." Sang pria membawanya mengantri di pintu masuk kebun binatang. Sambil mengantri, sesekali Jun menggoda istrinya. Ia memutar wajahnya ke arah wanita itu sambil tersenyum. "Sayang." Ia mengeratkan genggaman tangannya.


Apa dia pura-pura? Ih, menyebalkan. Ini terlalu berlebihan. khati melihat aneh padanya. Padahal Jun menatap wajah istrinya dengan penuh kekaguman. Pria itu dengan isengnya kembali membuka tutup kepala sang istri membuat Khati kesal dan memukul pelan tangan pria itu. Ia kembali menaikkan penutup kepalanya lebih dalam.


"Duh, galak," ledek Jun masih dengan senyuman. Ia tiba-tiba saja meraih tubuh istrinya dan memeluk bahu sang istri dari belakang. Ia mendekapnya mesra.


"Mas!" Khati yang terkejut, makin kesal.


"Apa, Sayang?"

__ADS_1


Sang wanita memutar kepalanya ke samping di mana wajah pria itu berada. "Jangan begini, aku malu," gerutunya dengan suara setengah berbisik.


"Malu kenapa? Lihat semua orang yang punya pasangan, mereka melakukannya. Tidak masalah."


Khati melihat ke sekeliling. Karena mereka berada dalam antrian yang berbentuk ular-ularan, ia bisa melihat ada beberapa pasangan yang tidak malu bermesraan di depan umum.


Ada wanita yang sedang memeluk leher prianya sambil mengobrol. Bahkan ada yang berciuman. Orang-orang disekelilingnya tidak peduli karena itu adalah pemandangan yang biasa di sana. "Tapi Mas, aku tidak nyaman melihatnya apalagi melakukannya di depan umum. Aku tidak mau begitu ah! Tidak sopan," protesnya dengan volume suara yang dikecilkan membuat pria itu tersenyum kecil.


"Jadi kalau berduaan, mau?"


"Heh?"


Jun gemas karena berhasil mengerjai istrinya. "Ok." Pria itu melepas pelukan, tapi memutar tubuh wanita itu ke arahnya. Ia mengecup kening sang istri.


Khati tentu saja terkejut. Pria itu menarik tangan istrinya maju karena antrian itu bergerak ke depan. Sang wanita menatap ke arah suaminya di samping dengan masih melongo. Ia masih belum mengerti posisi dirinya di mata pria itu.


Jun dalam hati bangga pada Khati, wanita cerdas yang walaupun dunia berubah seperti apa, ia tak gampang terpengaruh. Wanita dengan pemikiran sendiri yang dipegangnya teguh, apapun yang terjadi. Sayang, mereka bertemu tidak pada situasi yang tepat. Andai saja Tuhan mempertemukan ia dengan Khati terlebih dahulu, kisah mereka mungkin tidak seperti sekarang ini. Rumit.


Setelah melewati antrian, mereka melihat-lihat binatang yang ada. Mengunjungi kandang singa, burung, memberi makan jerapah. Pelan-pelan Khati mulai lupa akan kemarahannya pada Jun. Mereka malah terlihat tambah akrab. Pria itu masih sesekali iseng menarik penutup kepala istrinya, membuat Khati meneriakinya kesal. Lalu pria itu tertawa.


Tak sengaja, Khati melihat seorang wanita berjilbab bersama pasangannya. Ia entah kenapa, merasa kehilangan.


Tiba-tiba saja sang suami ada di hadapannya. "Apa kau tidak kepanasan di udara panas begini? Ayo lepas jaketnya."


"Tidak mau!" Sang wanita menghindar, tapi Jun berhasil meraih pinggangnya.


"Khati, ini jaketku. Berikan padaku!" pinta suaminya dengan tegas.


"Mas ...."


"Ayo ...!" Pria itu menyodorkan tangannya.


Mau tak mau Khati melepas jaket itu. Terlihatlah wajahnya dengan jelas dengan rambutnya yang panjang terurai.


"Nah, begitu." Jun merapikan rambut istrinya. Ia menatap ke arah pakaian sang istri yang nampak tertutup dan panjang. Lagipula pakaian itu nampak basah di bagian ketiaknya. "Tuh, 'kan, bajumu jadi basah begitu. Ayo, kita belanja saja di toko suvenir."

__ADS_1


__ADS_2