
Khati membuktikan janjinya. Ia rajin berolahraga dan masak di apartemen. Tak lupa ia memasakkan berbagai menu makanan untuk sang suami.
Jun yang sudah mandiri sejak kuliah, terbiasa makan di luar karena ia tak bisa masak. Sejak Khati masak di apartemen yang dimilikinya sejak kuliah, pria itu betah makan di rumah. Bukan hanya karena takut istrinya marah tapi ia suka masakan istrinya yang lebih Indonesia.
Di Singapura, sulit mencari masakan Indonesia karena masakan melayu pun tidak cocok di lidah pria itu. Ia lebih memilih masakan Eropa ketimbang asia karena masalah rasa.
Ternyata Khati juga punya selera yang sama dengannya sehingga ia sangat menikmati masakan istrinya setiap hari. Walau kadang sang istri hanya memasak sayur kangkung dan ayam goreng dengan sambal, itu sudah surga bagi Jun. Tidak heran ketika tubuh Khati bertambah kurus, pria itu malah bertambah gemuk.
"Sayang, kau masak apalagi?" tanya Jun yang mencium bau harum masakan dari dapur.
"Macaroni schotel."
"Aduh, Julia. Kau tak perlu iseng membuat itu di sore hari," keluh Jun. "Celanaku sebagian besar sudah mulai sempit ini ...." Pria itu memperlihatkan pinggang celana panjangnya yang sudah pas sekali di pinggang.
"Aku 'kan buat untuk diriku sendiri, aku tak menawarimu," ucap sang istri dengan ketus.
Buru-buru pria itu mendekati Khati sambil menggenggam tangannya. Ketika itu, ada pembantu yang sedang mencuci piring. Di saat-saat seperti itulah ia bisa bermesraan dengan sang istri, karena di saat berduaan, jangankan menyentuh, mendekatinya saja istrinya tak mau.
Jun memang sedang payah-payahnya menahan rasa. Sejak cinta satu malam yang dilakukannya itu, ia merasa dirinya tak bisa lepas dari Khati. Apalagi semakin hari, istrinya itu semakin cantik saja. Pria itu sendiri tak tahu bagaimana menjabarkan perasaannya.
Awalnya ia hanya mengira ia takut kalau wanita itu kembali ngambek dan tak mau menjalankan misi yang ada, tapi makin ke sini ia menyadari ada alasan lain yang membuatnya takut Khati berubah pikiran. Alasan ini masih diragukannya hingga saat ini. Adakah ia mulai tergila-gila pada wanita yang ditolongnya?
"Sayang, jangan begitu. Macaroni schotel itu pasti bertabur banyak keju di atasnya. Aku tak mau berat badanmu naik lagi minggu ini."
"Kamu tak perlu khawatirkan itu, Mas. Aku sudah belajar dari pelatih aerobikku tentang cara menghitung kalori jadi macaroni schotel ini tidak berat. Susu dan kejunya gak banyak," sahut Khati sambil melirik pembantunya yang tengah mencuri-curi pandang melihat kemesraan mereka.
"Kalau begitu, aku minta ya, untuk memastikan."
Sang wanita hanya melirik Jun. Walau pria itu seakan tidak suka ia masak lagi di sore hari, sang suami pasti makan apa saja yang dimasaknya tanpa terkecuali. Bahkan bila itu bukan makanan yang ditujukan untuknya! "Aku buat ini buat bekal aku senam, karena aku sedang malas makan siang di mal. Aku bisa simpan ini di lemari es."
"Masa kamu buat masakan, tak mau berbagi dengan suami sendiri, sih?"
__ADS_1
"Lho, tadi bilangnya jangan masak karena kamu gak mau nambah berat badan, tapi giliran masak, kamu malah minta bagiannya. Gimana sih? Aku tidak bertanggung jawab lho ya, kalau berat badanmu naik!" sahut Khati sengit dengan menggulung bibir bawahnya dan mata menyipit.
Mata sendunya makin hari makin indah saja. Saat marah, kesal atau terlihat ketus. Ya, sejak cinta satu malam dengan suaminya itu, sang istri tak pernah lagi mengumbar senyum ke hadapan Jun.
Namun tetap saja, ini malah makin membuat pria itu penasaran. Ia tak henti-hentinya mencari cara untuk bermesraan dengan wanita ini dan itu hanya bisa dilakukannya di depan umum. "Sayang, aku hanya ingin membantumu agar berat badanmu tidak naik."
"Ya sudah, terserah saja," ucap Khati sambil merengut. Ia bukan tak tahu pria itu mulai tertarik padanya, tapi ia berusaha menjaga jarak agar hatinya tak ikut terombang-ambing bersama lelaki itu. Ia kadang bingung bagaimana harus bersikap pada sang suami.
Saat ia memberikan seluruh perhatiannya, ternyata pria itu hanya memberikan separuh dari hatinya. Ia takut kecewa. Cinta satu malam itu saja sudah sangat banyak menguras emosinya. Ia tidak ingin dipermainkan lagi untuk kedua kalinya.
Jun meraih lengan sang istri dan mengecup pelipisnya. Lalu ia memeluk lengan yang mulai langsing itu agar ia bisa bersanding di samping wanita itu. Keduanya sedang menunggui macaroni schotel yang sedang di panggang di oven.
Khati melirik sebentar sang suami yang berada di sampingnya. Seandainya ini bukan pura-pura, betapa bahagianya diri ini. Namun itu hanyalah khayalan semata.
Sedang Jun tengah menikmatinya. Ia sudah tak bisa lagi membedakan mana perasaan yang nyata dan mana yang tidak. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang nyaman bersama Khati. Padahal ia juga ikut terkurung di dalam unit apartemen itu, tapi ia merasa hidupnya tenang bersama sang istri. Sebagian tugas kantor ia alihkan lewat laptopnya.
Setelah panggangan matang, Khati mengangkatnya dari oven. Ia memotong bagian untuk sang suami dan diletakkan di atas meja bersama saos sambal. Jun tak sabar ingin mencicipinya.
"Ah, Julia! Buatkan aku jus!" teriak Jun.
Wanita itu terpaksa menghentikan langkah dan memutar tubuhnya ke arah sang suami dengan wajah sebal. "'Kan ada jus di lemari es."
"Eh, tidak ah! Aku mau jus yang sering kamu buat itu."
"Itu 'kan jus aku. Jus untuk diet," sahut wanita itu tercengang.
"'Kan aku juga mulai gemuk?" tangkis sang pria.
Khati tak tahu harus berkata apa karena kesal, sedang Jun tersenyum lebar.
"'Kan mengurus suami itu ibadah," lanjut pria itu lagi sambil mengambil sendok.
__ADS_1
"Iya, iya, maaf." Khati kemudian memotong beberapa macam buah dan memasukkannya ke dalam blender bersama sedikit gula cair.
Netra Jun terlihat berbinar melihat wanita itu kembali ada di sana. "Temani aku makan ya, Sayang?"
Sang istri tak menyahut, tapi ia melakukan apa yang diminta Jun. Ia menunggui suaminya makan sambil sama-sama menikmati jus itu. Hari-hari Jun dilewatinya dengan bahagia, layaknya pengantin baru. Hidupnya berlimpah senyum dan canda tawa.
---------+++---------
Khati mendatangi kafe itu sambil netranya mencari sang pria, tapi ia tak menemukannya.
"Julia, kau sendirian?" Seorang pria datang di belakangnya membuat wanita itu menoleh.
"Felix? Aku mencari suamiku," keluhnya.
"Telepon saja," sahut pria tinggi kurus dengan otot yang besar itu. Ia menyandang tas ransel di punggungnya.
Khati baru menyadari ia tak punya ponsel. "HP aku tinggal di apartemen," ujarnya berbohong.
"Ya, susah deh. Yuk, temani aku makan. Aku lapar nih!"
"Eh, mungkin dia pergi sebentar." Wanita itu tetap bertahan di tempat.
"Sudah tinggalkan saja. Paling dia pergi sama cewek lain," ucap pria muda itu sambil tertawa.
Pria Indonesia yang telah menjadi warga negara Singapura itu menarik tangan Khati agar masuk ke dalam kafe yang letaknya tak jauh dari tempat senam mereka. Sebenarnya Felix sudah lama memperhatikan Khati tapi ia tidak punya banyak kesempatan bicara dengannya karena wanita itu memang sedikit bicara.
"Tapi ...." Wanita itu sedikit gelisah. Ia tak terbiasa digandeng pria bukan mahramnya tapi karena pakaiannya kasual, pastinya Felix tidak mengerti itu.
Pria itu memilih meja dan mengajak Khati duduk dengannya. Namun kemudian, Jun keluar dari toilet pria dan melihat Khati bersama pria lain. Bukan main panas kepalanya melihat hal itu. Didatanginya meja keduanya dengan amarah yang meledak. "Hei, kenapa kau duduk dengan istriku!"
___________________________________________
__ADS_1