
Tak lupa Khati memberi suster itu tip. Ia kemudian membawa sang bayi ke dalam kamar. Dari jauh, terlihat Jun penasaran dengan bayinya. Padahal bayi itu sudah mulai gelisah karena kehausan. Setelah diperlihatkan pada Jun, pria itu terpesona. "Siapa namanya tadi, Erlangga?"
Bayi itu melihat pada Jun, bingung, tapi ketika disentuh pria itu, sang bayi menangis. Wajahnya memerah karena saking kencangnya menangis.
"Oh, suaranya keras juga ternyata," pria itu tersenyum senang.
"Aku harus menyusuinya, Mas."
"Oh, di sini saja, Sayang." Pria itu memberi tempat di tepi ranjang tapi Khati memilih di sisi yang satunya.
"Aku di sini saja, biar tidak kelihatan orang masuk kalau aku sedang menyusui." Wanita itu duduk di tepi ranjang dan mulai menepikan jilbab segitiganya ke samping. Ia kemudian membuka resleting baju gamisnya di depan. Bayi itu terlihat antusias melihat sumber susunya. Ia menyedot dengan bersemangat.
Jun mencoba menyentuh rambut bayi yang lembut itu, hingga sang bayi melirik sang pria yang mengintip dari bahu ibunya. Jun tersenyum lebar, tapi hal itu berhasil membuat sang bayi berhenti menyusu.
"Mas, jangan diganggu, nanti dia susah mimiknya," bisik Khati kesal.
"Wajahnya mirip aku 'kan Khati? Hanya kulitnya seputih dirimu," sahut pria itu bangga.
"Ssst, jangan bicara lagi."
Bayi itu masih mencoba mendengarkan bila ada suara, tapi ketika hening cukup lama, sang bayi mulai menyusu lagi. Kini keduanya diam sambil memandangi makhluk kecil itu meminum susu sampai bayi itu tertidur. Pria itu begitu menikmati pemandangan indah ini.
Ia tak pernah menyangka sang istri telah hamil darinya. Apalagi tiba-tiba membawa seorang bayi ke hadapan. Seperti mimpi yang jadi nyata. Bahkan bayi itulah yang merekatkan kembali hubungan mereka berdua yang telah renggang.
"Sayang, jangan pergi lagi ya?"
Khati menoleh dan tersenyum kecil. Ia mengusap rambut bayi kecilnya yang tengah tertidur.
-----------+++---------
Khati terbangun sebentar saat merapikan selimutnya tapi ia terkejut ketika melihat sang suami belum tidur dan menatap ke arahnya. "Lho, Mas, belum tidur?"
"Mmh, aku tak percaya tiba-tiba kau sudah kembali padaku lagi. Bila ada yang memberatkanmu, katakan padaku. Jangan kau pendam sendiri."
__ADS_1
Khati menatap kedua bola mata sang suami dengan sungguh-sungguh. "Mmh, aku tetap boleh memakai jilbabku terus 'kan, Mas ya? Oya, berat badanku masih belum turun karena aku baru melahirkan jadi ...."
Pria itu meraih, satu tangan sang istri yang ada di hadapan. Ia menggenggamnya dengan kedua tangan. "Aku hanya ingin kau jadi dirimu sendiri sekarang, Khati. Pakailah jilbab kalau kau suka. Berhenti diet berlebihan agar kau tak sakit. Kau harus menyusui Elang 'kan?" Jun kini memanggil anaknya dengan panggilan 'Elang'.
"Tapi tubuhku jadi gemuk dan wajahku tidak cantik lagi."
"Sini, Sayang." Hakim itu mengangkat kedua tangannya. Khati bergeser hingga masuk dalam pelukan sang suami. Jun memeluknya dengan erat dari belakang sambil mengecup pucuk kepala sang istri.
"Dulu aku mengaturmu karena pekerjaan, tapi sekarang jadilah istriku. Operasi wajahmu kembali ke wajah asalmu agar kamu bisa kembali ke kehidupanmu yang dulu. Bertemu pamanmu, orang-orang di perusahaanmu hingga mereka menemukanmu. Kasihan, mereka mencarimu. Kalau kau ingin terus bekerja, tak masalah, tapi jangan lupa mengurus Elang ya, Sayang?"
"Kamu tak ingin aku operasi wajah jadi lebih cantik lagi dari ini?"
Jun tertawa lepas. "Apa kamu pikir aku mencintaimu karena wajahmu?"
Khati menoleh dan menengadah. "Jadi?"
"Aku pertama kali memperhatikanmu karena kamu cerdas." Jun kembali mengingat pertemuan pertama mereka di ruang interogasi. "Kedua, aku jatuh cinta pada matamu, karena kau sering menangis. Lucu ya? Tapi matamu sangat indah. Jadi bila kau berkeinginan merubah wajahmu ribuan kali sekalipun, aku tetap akan mencintaimu. Ada Khati di dalam dirimu dan ada dirimu di dalam matamu. Operasi wajah takkan bisa menggantikan rasa cintaku padamu."
"Sampai jannah, sehidup sesurga."
"Amin." Pria itu melirik sang istri dan kembali mengecup keningnya.
--------+++---------
Khati kemudian menjalani operasi wajah kembali, setelah Jun bisa mengurus bayi Elang, karena sesudah itu bayi Elang tak mau digendong olehnya karena wajahnya telah berubah. Butuh waktu untuk Elang mau digendong lagi oleh ibunya. Keluarga Jun juga kemudian datang menyambangi dan Jun berterus-terang tentang Khati. Kedua orang tua Jun dan juga kakaknya, Max senang dengan kelahiran Erlangga. Mereka menyambut bayi itu dengan penuh suka cita.
Keberadaan keluarga Jun juga untuk mendamaikan antara Jun dengan orang-orang Dimitri, termasuk bos Dimitri yang dikenal baik oleh ayah Jun. Hanya saja, Dimitri masih dalam keadaan koma sehingga ayah Jun mengambil alih biaya perawatan pria Rusia itu selama di rumah sakit. Setelah itu, keluarga Jun meneruskan perjalanan bisnisnya.
Tujuh bulan Dimitri koma hingga akhirnya terbangun. Ia kemudian meneruskan pengobatan untuk bisa berjalan. Jun memantau perkembangannya. "Bagaimana latihannya hari ini?" sapanya di suatu sore.
Dimitri tengah beristirahat di taman belakang rumah sakit. Ia duduk di kursi roda menikmati sore sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang walau tak banyak. "Ah, lumayan. Aku mulai bisa berjalan."
"Alhamdulillah. Kau sudah makan?"
__ADS_1
"Belum."
"Bagaimana kalau kita makan malam di kantin? Kebetulan ada istriku juga bersama bayi kami."
"Oh, kalau tidak keberatan."
"Tidak masalah. Ayo!" Jun mendorong kursi roda pria Rusia itu menuju kantin. Sesampainya di sana, ia menelepon istrinya sementara mereka memesan makanan. Keduanya datang ketika Jun dan Dimitri sedang makan.
"Ah, ini kenalkan, istriku Khati," sahut Jun pada Dimitri.
Dimitri terkejut. Nama itu ... Bukankah sebelum kecelakaan dia bertanya padaku tentang orang yang bernama Khati? Jadi, Khati ini istrinya yang sekarang? Tapi anak mereka sudah sebesar itu, berarti sudah lama mereka menikah. Aku baru tujuh bulan koma dan anak ini pasti sudah lahir, tapi kenapa Jun bertanya soal wanita ini padaku waktu itu? Apa wanita ini sempat menghilang? Kapan mereka menikah sebab setahuku istri pertamanya Julia baru dihukum mati. Apa bisa secepat itu dia menikah?
Khati yang sedang menggendong anaknya, menganggukkan kepalanya pada Dimitri. Jun mengambil Erlangga dari tangan sang istri. "Sayang, kamu beli makan malammu dulu, biar Elang sama aku saja."
Khati pun membeli makanan. Hakim itu memamerkan anaknya yang sudah bisa duduk dipangku pada pria Rusia itu. "Elang, salam pada Om Dimitri."
Namun karena belum mengerti, batita itu hanya melihat Dimitri dan langsung berdiri memeluk leher Jun. Hakim itu tertawa. Elang masih mengintip ke arah Dimitri tapi memeluk erat leher sang ayah. "Kamu kenapa takut, Elang?"
"Sudah berapa bulan umurnya?" tanya Dimitri penasaran.
"Baru sembilan bulan."
Sembilan bulan? Dimitri mengangkat alisnya. Tak lama Khati datang dengan makan malamnya. Mereka duduk bersama.
"Mau kugendong?" tanya wanita itu.
"Biar aku saja. Kamu saja dulu yang makan," sahut Jun yang menikmati menjaga Elang yang tak bisa diam, duduk dan berdiri dipangkuannya. "Istriku berbisnis. Dia pemilik Geramus Enterprise, perusahaan besar yang berbasis makanan itu," terang Jun pada Dimitri.
"Mmh ...." Pria Rusia itu mengangguk-angguk sambil melirik pada Khati yang sedang makan. Wanita berjilbab ungu itu tersenyum ramah pada pria itu. Namun Dimitri menangkap sorot mata yang tak asing dari kedua mata Khati. Ia terperangah.
Dia ... Juliakah? Atau bukan kedua-duanya? Siapa wanita ini sebenarnya? Siapa sebenarnya yang telah dilenyapkan hakim Jun? Mmh ... pada saatnya nanti aku akan cari tahu.
T A M A T
__ADS_1