Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Pertengkaran


__ADS_3

"Apa kau sudah sarapan?" Khati melihat ada makanan buat pasien yang diletakkan di atas meja nakas.


Pria itu menggeleng lemah.


"Aku suapin ya?"


Damar memandangi wajah cantik pujaan hatinya itu, seperti ingin protes tapi ia tak berani bicara. Ia takut kehilangan.


Sang wanita menyentuh lengan pria itu. "Aku akan di sini kalau kamu mau makan," bujuknya.


Damar kemudian mengangguk. Khati lalu meraih wadah makanan yang berada di atas meja dan mulai menyuapi mantan suaminya itu.


----------+++---------


Wanita itu sedang merapikan selimut Damar ketika seorang gadis menerjang masuk ke dalam kamar perawatan itu. Ia terkejut karena mengenali gadis yang mulai beranjak dewasa itu. Namun untung, bukan Khati yang menyebut namanya.


"Dahlia?" sahut Damar kaget.


Gadis itu menatap ke arah Khati, ikut terkejut. "Siapa dia? Siapa dia, Kak? Pacar barumu lagi?" sindirnya dengan sinis. Gadis berambut sebahu itu menyorot tajam pada kakaknya.


Khati terkejut, tapi kemudian memaklumi. Gadis itu tak kenal siapa dirinya sekarang.


"Dahlia! Jaga mulutmu! Dia teman kakak dan sudah bersuami!" hardik Damar keras pada adiknya.


Gadis itu merengut, tapi terlihat merasa bersalah pada Khati, walau sedikit curiga. Tidak biasanya sang kakak begitu membela seorang wanita.


Wanita itu hanya bisa tersenyum manis pada Dahlia karena keberadaannya, keduanya jadi bertengkar. Dahlia adalah tipe gadis yang gampang ceplas-ceplos saat berbicara, sehingga sering bertengkar dengan kakaknya. Walau begitu, Damar sangat menyayanginya. Damarlah yang membiayai kuliah Dahlia di Jogja dan tempat tinggal untuk orang tua mereka di sana.


Khati tentu saja kenal dengan adik satu-satunya Damar ini, karena memang akrab dengannya. Namun tentu saja, ia tak bisa membongkar jati dirinya pada adik Damar itu, walaupun mereka dekat. Ia tak ingin mengambil resiko.


Gadis itu mendatangi ranjang Damar untuk melihat keadaan kakaknya.


"Bagaimana kau bisa datang ke sini? Siapa yang memberitahumu?" tanya Damar masih dalam keterkejutan.


"Aku," sahut Khati.

__ADS_1


Pria itu memutar kepalanya ke arah wanita cantik dengan rambut tergerai hingga pinggang itu. "Julia?"


"Eh, kamu bilang, orang tuamu pindah ke Jogja karena adik perempuanmu, jadi aku minta tolong orang hotel untuk menelepon orang tuamu."


"Julia ...." Damar terlihat kesal.


"Keluargamu harus tahu, kau sedang kesusahan. Sekarang kau tidak sendirian lagi 'kan?"


"Julia ...." Damar terlihat kecewa. Ia berharap Julia palsu itu menemaninya. Ia menyesal telah memberi tahu wanita itu kalau ia punya keluarga di luar kota.


Dahlia memperhatikan Khati dari ujung kaki hingga kepala. Wanita cantik itu, ia mengenalinya. "Mbak, model Julia itu ya?" tanyanya memastikan.


"Iya, dia teman Kakak. Sangat tidak sopan kamu bicara ketus pada teman Kakak. Suaminya hakim lho!" Damar menakut-nakuti.


Dahlia terdiam. Ia sedikit malu pada Khati.


"Aku pulang ya? Sekarang ada keluargamu yang menunggumu di sini."


"Eh, Julia." Pria berkacamata itu berusaha duduk dengan susah payah.


Sambil melirik adiknya yang duduk di samping dengan pandangan sebal, Damar menatap ke depan memandang Khati. "Eh, Julia. Kenapa kita tidak ngobrol dulu?" bujuknya.


"Oh, maaf. Aku ada urusan yang harus aku kerjakan." Sang wanita menyandang tas dengan tali rantai ke bahunya. "Cepat sembuh ya? Assalamualaikum." Khati memutar tubuhnya meninggalkan mereka.


"Waalaikumsalam." Damar melirik adiknya dengan kesal.


"Lagian sih, kakak. Coba kalo Kak Dam gak selingkuh dari Mbak Khati, 'kan gak begini jadinya," keluh Dahlia.


"Kamu itu ... uh mulutmu!" Pria itu gemas dengan sang adik. Ia takut Khati mendengarnya.


Tentu saja wanita itu mendengar ucapan Dahlia yang membelanya. Ia tersenyum senang. Kemudian wajahnya berubah serius.


Ia bergegas ke lobi. Ada satu hal lagi yang harus ia ketahui dan ia hanya bisa tahu itu dari sang suami. Tak lama mobilnya datang dan ia segera masuk. "Pak, ke kantor suamiku, ya?"


"Apa?" Tentu saja supir itu terkejut. Kenapa istri pak hakim ingin ke kantor suaminya? Namun melihat wanita itu yang duduk dengan melipat tangan di dada dan menampakkan wajah serius, sepertinya ada masalah penting yang akan sang istri bicarakan pada suaminya. Belum pernah ada yang mengganggu bos galak itu, dan sopir itu tak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya.

__ADS_1


Sesampainya di depan kantor kejaksaan, wanita dengan blus lengan pendek berwarna putih dan celana panjang ungu berbahan lembut itu turun dari mobil. Ia segera mencari tahu ruang kantor sang suami. Khati menaiki lift dan berhenti di sebuah lantai. Ketika pintu lift terbuka, ia melihat Todi. Langsung saja ia mendatangi asisten suaminya itu.


"Eh, Ibu ...." Todi tentu saja terkejut melihat kedatangan Khati dari kejauhan. Ia ketar-ketir karena tidak semua orang tahu rahasia tentang wanita itu selain ia dan hakim Jun itu sendiri. Kalau wanita itu sampai datang ke sana berarti ia harus berhati-hati bicara. Ada apa ini sebenarnya?


Dengan percaya diri Khati berdiri di depan Todi dengan gaya bak seorang model. Kaki wanita itu makin terlihat jenjang dengan high heels yang dipakainya. Khati benar-benar terlihat seperti Julia.


Semua orang terkejut dengan kedatangan wanita itu di kantor dan menatap ke arahnya. Jarang-jarang bisa melihat model profesional dari dekat. Seakan melihat artis. Khati sepertinya tak peduli. "Todi, di mana Mas Jun?" Ia membuka kacamatanya dan menatap ke arah asisten sang suami.


Todi hanya menunjuk ke arah pintu yang ada di belakangnya tanpa bicara apa-apa. Ia masih syok! Kenapa wanita itu datang ke kantor itu, bukankah itu berbahaya?


Khati mendatangi ruangan itu dan mengetuk pintu. Tanpa izin, ia langsung masuk ke dalam ruangan.


Jun yang sedang memperhatikan berkas di tangan, terkejut dengan kedatangan istrinya ke kantor. "Julia?" Pria itu saking terkejutnya ia langsung berdiri. Ia bergegas menghampiri. "Ada apa ini?"


"Aku ingin tahu di mana Julia yang asli sekarang."


Jun panik. Ia segera mengunci pintu dan kembali mendatangi istrinya. "Khati," bisiknya. "jangan bicarakan ini di sini, ini rahasia." Pria itu meraih lengan sang istri.


Khati menghempasnya dengan kasar. "Mas, kasihan Mas Damar, Mas. Dia tidak tahu bahwa pacarnya itu pergi ke tempat lain. Dia menyangka, benar pacarnya telah menikah denganmu, Mas. Kita telah membohonginya. Aku tak tega melihat Mas Damar menderita seperti itu," ucapnya dengan suara pelan. Wajahnya tampak cemas.


Jun mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu bagaimana menenangkan istrinya yang tampak mengkhawatirkan mantan suaminya itu. Lagi-lagi, pria itu lagi yang dimenangkan istrinya. Apa dia tidak lihat perjuanganku?


Pria itu maju selangkah mendekati sang istri. Ia langsung melingkarkan kedua tangan di pinggang Khati. Tentu saja wanita itu terkejut. Pria itu tiba-tiba menatap kedua bola mata indah berwarna coklat tua milik sang istri. "Julia."


"Aku bukan ...."


Pria itu mendekatkan wajahnya. Ia langsung mengecup bibir tipis Khati, membuat wanita itu terperangah. "Sayang ...."


"Mas, aku lagi serius ini," sahutnya kesal dengan memukul bahu sang suami pelan, tapi dalam hati ia sedikit senang.


Pria itu semakin mengeratkan pelukan. "Aku sudah minta izin pada Julia yang asli, Sayang. Jadi kamu tak perlu khawatir," ucapnya sambil memperhatikan lagi kedua manik mata indah itu. Ia ingin istrinya percaya. Percaya akan kebohongannya.


__________________________________________


__ADS_1


__ADS_2