Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Sembunyi


__ADS_3

"Papa ...."


Pria itu melirik dengan ekor matanya ke arah belakang, di mana pembantu itu masih berdiri. Segera pembantu itu pamit dan pergi. Pria bertongkat itu masuk tanpa diminta dan menutup pintu dengan tendangan kaki belakangnya.


Jun terpaksa bergerak mundur, memandang ke arah pria yang seketika berwajah dingin itu. "He, Papa. Apa kabar?" Ia berusaha bersikap ramah tapi jawabannya adalah sebuah bogem mentah yang mendarat di rahang kirinya. Kemudian tendangan lutut pada perut dan berakhir dengan pukulan tongkat di punggung hakim itu ketika terjatuh ke lantai. Semua ia terima tanpa perlawanan. "Ah!"


"Kau tahu bagaimana perasaanku 'kan?" Pria paruh baya itu mendengus kesal.


Jun tak sanggup menjawab. Ia masih menahan sakit di rahang, perut dan punggungnya. Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa kau tak biarkan aku bertemu dengannya, he? Dia anakku satu-satunya!" Tak ayal sebutir air mata jatuh di wajahnya yang tak lagi muda itu. "Kenapa kau tega? Kenapa tak kau biarkan aku memeluknya sekali saja! Mungkin ia membutuhkan itu untuk terakhir kalinya."


"Aku menjalankan apa yang diminta Julia, Pa." Jun mengangkat wajahnya yang mulai memerah. Mengulang apa yang terjadi di saat-saat pertemuan terakhirnya dengan Julia sungguh menyakiti. Karena itu ia tidak berani datang pada saat eksekusi berlangsung. Ia hanya menghadiri pemakamannya yang dilakukan secara tertutup. "Dia tidak mau ayahnya melihat sisi dirinya yang kelam. Dia hanya ingin ayahnya mengingat sisi dirinya yang indah untuk dikenang."


"Kau jangan bohong!" Pria paruh baya itu kembali memukul punggung Jun dengan tongkatnya.


"Ah! Tidak, Pa. Aku tidak bohong. Itu permintaan terakhir Julia, dan aku terpaksa mengabulkannya!" Hakim itu coba berdiri. Dilihatnya pria itu berdiri mematung. Ayah Julia mencoba menahan air mata yang terlanjur deras. Jun mencoba memeluknya. "Maafkan aku, Pa. Aku tak bisa menjaganya."


Pria itu menangis dipelukan Jun. Ia menangis sejadi-jadinya. Hakim itu berusaha mendamaikannya.


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Julia, padahal aku bisa melihat dia juga mencintaimu. Apa mungkin dia jatuh cinta pada dua orang sekaligus? Tapi itu tak mungkin. Aku yakin, Julia sangat mencintaimu," ucap pria bertongkat itu.


Jun teringat pada Khati, karena yang dikatakan pria itu adalah Khati, bukan Julia. Lalu, kalau wanita itu benar mencintainya, kenapa ia pergi darinya? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Khati pergi darinya tanpa pesan? Adakah satu pun hal yang membuat dia marah hingga meninggalkan dirinya? Apa ada kata-kata dirinya yang salah?


"Ah ...!" Tiba-tiba pria yang dipeluk Jun kesakitan.


"Papa, kenapa?"


Pria itu menyentuh dadanya. "Sakit ...."


"Pa ...." Jangan-jangan dia kena serangan jantung! "Pa, ayo ikut aku ke rumah sakit." Jun segera memapahnya ke mobil. Tak butuh waktu lama, mobil sampai ke rumah sakit. Saat pemeriksaan, Jun menunggu di luar.

__ADS_1


Seorang wanita tengah memperhatikan pria di depannya. Ia melihat rahang pria itu sedikit memerah hingga sudut bibir. Wanita itu menghela napas. Kenapa kau jadi begini Mas?


Tiba-tiba pria itu menoleh ke arahnya. Wanita itu panik. Ia segera memutar wajahnya ke arah samping sambil melirik lewat sudut matanya, pria itu. Jun hanya melihat sebentar dan kemudian menoleh ke arah lain.


Wanita itu bernapas lega. Untung kau tak lagi mengenaliku, Mas. Sang wanita tersenyum. Ia merapikan jilbab dan cadarnya dan kemudian membuka tas yang ia sandang. Ada kotak makanan di sana. Wanita itu mengeluarkan kotak makanan itu dan memandanginya.


Tiba-tiba seorang suster lewat di hadapan. "Eh, Sus. Tolong."


Suster itu berhenti dan mereka bicara. Wanita itu memberikan kotak makanan dan selembar uang pada suster itu. Ia menunjuk Jun, membuat suster itu mengerti.


"Anna Anhar!"


"Ah, obatku sudah ada. Tolong ya, Sus," pinta wanita itu.


Suster itu mengangguk. Sang wanita kemudian mengambil obat di apotik. Tak lama suster itu datang pada Jun. "Pak, maaf. Biar Saya obati ya, memarnya."


"Oh, tidak usah." Pria itu menyentuh memar di rahangnya.


"Diobati saja, Pak. Saya bawa obatnya." Suster itu memperlihatkan sebuah tube kecil pada sang pria. "Oh ya, ini ada titip makanan untuk Bapak." Ia juga menyodorkan sebuah kotak makanan dari plastik.


"Perempuan yang duduk di situ tadi, Pak." Suster itu menunjuk ke arah kursi panjang di seberang Jun yang berjarak 5 meter.


Jun penasaran. Dibukanya kotak makanan yang diterimanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat isi kotak makanan itu. Ada sepotong besar macaroni schotel di dalam kotak itu. Khati? "Sus, di mana wanita itu?"


"Dia sudah pergi."


"Apa?" Bagaimana bisa ia tak melihatnya? "Eh, bagaimana rupanya?" Pria itu menyentuh lengan suster itu, penasaran.


"Aku tidak tahu karena dia pakai jilbab dan cadar."


"Apa?" Seketika pria itu berlari ke pintu keluar.

__ADS_1


Saat itu di luar, wanita itu baru saja membuka cadarnya dan ia memasukkan cadar itu ke dalam tas. Seseorang menyenggolnya di pintu keluar hingga ia terjatuh. "Ah!"


"Oh, maaf," sahut Jun. Ia membantu wanita itu berdiri. Sang wanita membeku ketika ditolong pria itu. Ia berusaha sedikit menunduk.


"Kau tidak apa-apa?"


Wanita itu menggeleng, ia hampir menahan napas. Pria itu kemudian meninggalkannya dan beralih melihat parkiran. Ia tak melihat siapa pun yang ia kenal di sana maupun wanita bercadar.


Wanita itu buru-buru pergi, karena detak jantungnya yang tak karuan. Ia bersyukur pria itu tak mengenali wajah barunya. Ya Allah. Tempat ini tidak aman. Sebaiknya ia pergi saja, jauh dari tempat ini.


Jun telah kembali ke tempat tunggunya dan duduk di sana. Dibukanya lagi kotak makanan itu. Khati. Padahal kau begitu dekat. Kenapa kau tak menyapaku?


Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. CCTV. Ya, CCTV. Disitu pasti ada wujud utuh istrinya. Segera ia mendatangi bagian personalia rumah sakit. Di sana ia meminta untuk melihat CCTV rumah sakit hari itu di bagian ia duduk tadi. Karena mereka mengenali hakim Jun, tanpa perlu memperkenalkan diri para sekuriti membolehkan ia melihat CCTV itu.


Jun terkejut. Wanita yang memakai cadar yang duduk bersebrangan dengannya adalah wanita yang ditabraknya diluar tadi. Ditilik dari pakaiannya yang sama, gamis panjang berwarna coklat. Padahal ia tak begitu melihat wajahnya dengan jelas. Astaga!


Kenapa saat ia bertemu langsung dengan istrinya, ia tetap tak mengenalinya. Berarti Khati telah melakukan operasi wajah. Hanya saja, wajahnya seperti apa ia tidak tahu. Ah, betapa bodoh dirinya karena sudah menyentuh istrinya tapi ia masih saja tak mengenalinya. Ah, bodohnya aku!


Jun kemudian meminta kopi dari rekaman itu. Rekaman itu ia kirim pada asistennya agar mulai hari itu mereka harus memata-matai tempat ini agar bisa bertemu lagi dengan sang istri.


Setelah itu, ia kembali ke ruang tunggu. Ia membuka kotak makan pemberian sang istri dan mulai memakannya. Khati, kenapa kau tak kembali padaku? Apa salahku, Sayang? Kembalilah padaku ... Jun hampir menangis. Ia sangat merindukan istrinya.


Pengintaian pun dilakukan tapi tak membuahkan hasil sampai ayah Julia kembali sembuh. Pria paruh baya itu kemudian melanjutkan perjalanan bisnisnya. Keluarga Jun juga datang menengok hakim itu dan memberinya semangat. Setelah itu mereka juga melanjutkan perjalanan bisnisnya. Kini hakim itu kembali sendiri. Ia tak tahu lagi bagaimana menemukan istrinya ini.


---------+++----------


Pria berkacamata itu akhirnya datang. Ia melihat adiknya Dahlia menunggu di sebuah meja. Polisi itu mengantar Damar ke sana. Damar terlihat lusuh. Lebih kurus dan berantakan.


"Pasti susah tidur lagi, ya 'kan?" sahut Dahlia mengomel.


Mata cekung pria itu hanya menatap adiknya dengan wajah hampa. Ia tak punya kekuatan untuk membantah, apa lagi menggoda adiknya.

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2