Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Menghilang


__ADS_3

"Khati, aku tidak berniat jahat. Aku hanya tidak punya cukup waktu untuk menerangkannya kemarin." Pria itu berusaha bicara dengan nada rendah. "Khati."


"Memang ada apa sampai terburu-buru begitu? Kau hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja 'kan? Begitu 'kan maksudnya? Tetap saja kau salah! Kau memaksaku!" teriak sang wanita masih tak terima.


"Iya, iya, aku salah. Aku minta maaf ya?" Pria itu kembali bicara pelan.


Khati tak lagi bisa memarahinya karena pria itu sudah meminta maaf. Ia mulai melunak. Apalagi melihat wajah tampan suaminya yang mulai memelas.


"Makan ya? A ...."


Dengan cemberut, wanita itu belum ingin membuka mulutnya.


"Khati." Akhirnya sang pria meletakkan sendok itu ke piring. "Kau tahu kenapa aku menyuruhmu operasi plastik jadi wanita itu?" Ia menyebut 'Julia' dengan 'wanita itu' karena enggan menyebut namanya.


Khati menggeleng.


"Dia itu selingkuhan mantan suamimu."


"Lalu kenapa? Itu 'kan bukan urusanku?"


Jun terkejut melihat reaksi istrinya yang tak peduli. "Apa kamu tidak curiga?"


"Curiga apa? 'Kan itu urusan rumah tangganya dengan almarhum istrinya. Tidak ada urusannya denganku. Lagipula aku juga pernah lihat mereka bersama, tapi Damar bilang itu teman bisnisnya." Namun tak ayal Khati kecewa. Sempat terpikir, apa Damar pernah selingkuh selain dengan almarhum ketika bersamanya.


Almarhum istri Damar, Sofia, adalah wanita yang dihamili pria itu ketika bersamanya. Alasan karena belum punya momongan selama 5 tahun sebagai penyebab utamanya. Padahal pernikahan mereka baik-baik saja dan keduanya sehat tanpa masalah berarti. Karena itulah Khati memilih mundur, agar Damar bisa menikahi wanita itu. Ia menolak dimadu. Awalnya pria itu tak ingin melepaskan Khati, tapi ketika ditawari mengelola perusahaan bersama, barulah ia melepas mantan istrinya itu.


"Curiga kenapa dia menuduhmu."


"'Kan sudah aku bilang, dia itu ditekan keluarga istrinya!" Khati bersikukuh membela mantan suaminya.

__ADS_1


"Kalau hukuman mati itu dijatuhkan padamu, itu berarti pembunuhnya akan hidup bebas di luar sana. Apa kamu tidak penasaran ingin tahu siapa pembunuhnya? Lagipula, bisa saja orang itu mencari mangsa lainnya di luar sana, iya 'kan?"


Khati menatap lekat pria itu. Ia tidak tahu rencana apa yang melekat di otak sang suami. "Jadi aku harus bagaimana? Bukankah Bapak sendiri petugas hukum, dan aku tidak. Mestinya Bapak yang bergerak. Iya 'kan? Kenapa aku harus dilibatkan?"


"Justru aku ini orang luar, Khati. Susah memeriksanya ke dalam. Karena kamu pernah dekat dengan Damar makanya aku meminta pertolonganmu."


Khati terlihat bingung. "Bagaimana caranya? Aku 'kan tersangka? Ah ... tapi aku takkan bisa." Ia menggelengkan kepalanya lemah.


"Tenang, Khati. Nanti aku bantu."


"Ah, aku tidak bisa, Pak." Sang wanita menggeleng dengan kuat.


"Apa kau yakin Damar tidak membunuh istrinya?" Sebelum Khati membantahnya, Jun melanjutkan. "Ini waktunya kau bisa membuktikan bahkan mantan suamimu itu tak terlibat. Kau harus punya buktinya 'kan?"


Khati kini memandang pria itu dengan cara berbeda. Pria ini tidak sepenuhnya buruk. Bukankah dia pria yang digadang-gadangkan menegakkan keadilan diberbagai media massa? Lagipula, pria ini adalah suami paling tampan yang pernah dinikahinya. Mengingat itu, Khati tersipu-sipu.


"Khati, ayo makan. Tugas kita masih banyak." Jun mengangkat kembali sendok itu dan diarahkan ke mulut istrinya. "Kau harus sehat. Ayo. Oya, jangan panggil namaku seperti itu, aku suamimu."


"Nah, begitu." Entahlah. Pernikahan ini juga membuat Jun bingung. Ia tidak seharusnya menikahi wanita ini dan ia juga tidak menyangka, tiba-tiba menikah dengan cara seperti ini. Ini semua di luar rencana, benar-benar di luar rencana, tapi setidaknya ... dendamnya terbalaskan.


Khati tampak bahagia. Kakinya yang menggantung digerak-gerakkannya karena senang. Suami tampannya tengah menyuapinya makan. "Sudah, aku bisa makan sendiri, Mas." Ia menarik piring dari pangkuan Jun karena malu.


"Harus habis ya?"


"Habis kok. Aku 'kan sudah lapar."


"Ya sudah, aku percaya padamu." Jun beranjak berdiri. "Oya, besok kita ke dokter untuk melepas perbannya."


---------+++---------

__ADS_1


Khati mengintip dibalik pintu. Sang suami ada di ruang tengah unit apartemen itu sedang menatap laptopnya dengan tekun. Seorang wanita datang membawa baki berisi secangkir teh dan meletakkannya di meja dekat pria itu duduk. Ditilik dari pakaiannya, wanita itu sepertinya adalah seorang pembantu.


Khati kembali menutup pintu dan menghela napas. Ia bosan berada di kamar tapi ia juga malas bertemu Jun karena ia tidak sepenuhnya percaya dengan sang suami. Ia ingin jalan-jalan keluar sebentar, tapi bagaimana caranya? Wanita itu menghempas bokongnya pada pinggir ranjang karena kesal. Terpaksa ia harus menunggu pria itu masuk ke kamarnya.


---------+++----------


Damar pusing dibuatnya. Sudah berapa kali ia menelepon Julia tapi tak diangkat. Bahkan teleponnya dimatikan. Ada apa dengannya? Di mana kamu Julia? Kenapa ponselmu kau matikan? Pria itu menggigit ujung jarinya.


Tiba-tiba telepon kantor di ruangan itu berdering. Itu pasti telepon untuknya yang telah dialihkan sang sekretaris, karena itu ia langsung mengangkatnya. "Halo?"


Ia kembali mendengarkan berita yang mengejutkan untuk kedua kalinya. "Apa?" Setelah mendengarkan penjelasan panjang, ia menutup telepon itu.


Sungguh mengejutkan. Dari pengacara Khati untuk urusan bisnis diketahui, bahwa wanita itu dipindah ke penjara isolasi. Penjara isolasi adalah penjara yang tertutup dan khusus untuk kasus-kasus tertentu, tapi penjara ini tidak menerima pengunjung hingga pengacara itu tak bisa menemui mantan istrinya itu. Ditambah lagi pengadilan ditunda karena menunggu penyelidikan selesai.


Damar mengeratkan kepalan tangannya di atas meja karena geram. Ia padahal sudah bersusah-payah meyakinkan hakim untuk mempercepat pengadilan, karena tidak ditemukannya bukti ada orang lain yang bisa dicurigai sebagai pembunuh. Kalau penyelidikan dilanjutkan berarti pembunuhnya kemungkinan bisa ditemukan. Damar gelisah. Ia kembali menggigit buku jarinya.


-----------+++----------


Khati mengintip kembali keluar kamar sehabis sholat Maghrib. Ah, kosong! Ia kemudian menutup pintu dan kembali memeriksa tas besarnya. Tidak ada? Hah? Ke mana semua jilbabku? Ia teringat suaminya. Mas Jun! Pekiknya dalam hati.


Wanita itu kesal bukan main. Sang suami telah mengambil semua jilbabnya bahkan tidak menyisakan satu pun. Ia mengeratkan kepalan tangannya karena geram. Bisa-bisanya dia mengatur hidupku lagi ... Wanita itu masih mencari-cari, kain yang mungkin bisa ia gunakan untuk jilbab tapi tak ada yang mungkin.


Ah! Ia menemukan jaket hoodie yang dipinjamkan Jun padanya. Jaket itu berpenutup kepala jadi ia bisa menyembunyikan rambutnya dan ... Khati baru sadar wajahnya kini dililit perban. Ini juga harus ditutupi, jadi dengan jilbab juga sebenarnya tidak cukup. Kalau dengan penutup kepala ini, mungkin.


Ia mencari cermin untuk melihat penampilan barunya dan menemukannya di balik pintu lemari. Betapa terkejut ia melihat ke arah cermin, hingga ia mundur beberapa langkah.


"Astaghfirullah alazim." Wajahnya begitu menyeramkan karena dipenuhi dengan lilitan perban. Seperti melihat mumi hidup yang berdiri di depan cermin. Hampir saja jantungnya mau copot. Padahal Khati sedang melihat wajahnya sendiri. Ia mengurut dada.


Pelan-pelan ia mulai terbiasa dengan pemandangan di depan cermin. Wanita itu menarik dalam-dalam wajahnya ke dalam penutup kepala itu. Untung saja penutup kepala itu cukup besar hingga bisa menenggelamkan kepalanya cukup dalam, tetapi tetap saja, ia lebih baik sedikit menunduk agar wajahnya tak kelihatan.

__ADS_1


Namun kenapa Hakim Jun melihat dirinya biasa saja ya?


__ADS_2