Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Dokter Doni


__ADS_3

"Eh, maaf." Pria itu sepertinya menyadari ketidaknyamanan Khati. "Aku hanya berusaha mengingatkan saja untuk jangan lupa mengisi data diri. Karena Ibu datang sendirian, jadi aku loloskan Ibu masuk."


"Eh, iya, dok."


"Eh, ya, sudah. Itu saja," ucap pria itu yang menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Ia kemudian pergi. "Aku bingung, harus bicara apa padanya," gumamnya sambil berlalu.


----------+++----------


"Pak." Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan itu.


Pria yang ada di ruangan adalah dokter kurus yang berkacamata itu. Ia mengalihkan pandangan dari laptop ke arah sang wanita. "Ada apa?"


"Wanita yang baru melahirkan itu, Pak. Dia masa tidak punya KTP?"


"Apa?"


"Iya, tapi ia memastikan mampu membayar uang kamar dan pengeluaran lainnya. Bagaimana nih, Pak?" Wanita itu ternyata sekretaris pria itu. Sekretaris itu bertanya pada sang pria karena ia mendapat kabar bahwa dokter itulah yang membiarkan wanita hamil itu melahirkan sebelum mengisi data diri. Padahal sudah prosedur bila ingin dirawat, calon pasien harus mengisi data diri terlebih dahulu.


"Mmh, coba Saya lihat datanya."


Wanita itu menyerahkan selembar kertas yang sudah diisi wanita itu.


"Memangnya alasannya apa?"


"Dia tinggal di kos-kosan dan belum memperbaharui KTP-nya."


"Tinggal di kos-kosan?" Kedua bola mata pria itu membola.


"Itulah, Pak. Apa tinggal di kos-kosan sanggup bayar kamar kelas satu?" Wanita itu setengah menyindir bosnya, karena pria ini sebenarnya adalah anak pemilik rumah sakit.


Pria itu berprofesi sebagai dokter di rumah sakit itu dan belum menggantikan ayahnya menjadi pemilik rumah sakit. Sekretarisnya menyindir keluguan sang pria, yang baru mengenal wanita hamil ini tapi sudah percaya saja dengannya. Akibatnya, ketika berusaha mengikuti prosedur, sang wanita hamil bermasalah karena ternyata tak punya data diri yang lengkap.


"Harusnya tak masalah selama dia bisa membayarnya, tapi biar aku tanya langsung." Pria itu pun bangkit dari tempat duduknya.


Ketika pria itu mengetuk pintu dan masuk ke kamar perawatan Khati, ia terkejut karena banyak orang yang tengah menengoknya. Ia lupa kalau saat itu jam besuk. "Oh, maaf," gumamnya.


Pengunjungnya saat itu adalah teman-teman Khati di rumah indekos yang semuanya adalah wanita.


"Oh, ada dokter datang."


Para wanita itu segera berdiri dan memberi jalan pada pria itu. Dokter yang datang sendirian jadi sedikit canggung menghadapi wanita yang begitu banyak, apalagi ada yang menggodanya. Seorang wanita berambut pendek menyenggol lengan Lita. "Aih, dokternya ganteng."

__ADS_1


Yang lain tersenyum mendengar komentar wanita itu, dan dokter itu semakin canggung. "Eh, aku tadi hanya ingin bertanya saja, tapi ternyata masih jam besuk rupanya."


"Tidak apa-apa, dok. Ada yang bisa dibantu?" tanya Lita, maju selangkah.


"Eh, ini mungkin kamu bisa bantu ya? Ibu Anna tidak punya KTP ya?"


Lita melirik Khati yang hanya diam membisu. "Eh, dia KTP-nya hilang dan kesulitan untuk bikin lagi, karena tidak mau bertemu lagi dengan suaminya."


Dokter itu terkejut mendengarnya. Apa dia punya masalah dengan suaminya? "Tapi kalau soal pembayaran bagaimana? Siapa yang bertanggung jawab?"


"Saya bisa, karena Saya berbisnis sama dia. Dia bikin Saya kaya dalam beberapa bulan ini. Apa pun untuk dia, Saya akan bantu."


"Lita ...," panggil Khati terharu.


"Aku percaya padamu, Anna. Biar, biaya kamu di rumah sakit, aku yang bayar."


Khati yang bersandar di kepala tempat tidur langsung terduduk. "Tidak, Lita. Aku punya uang."


"Tidak usah. Kamu tidak punya KTP, makanya pakai KTP aku saja sebagai penjamin, biar mudah." Lita berkeras.


"Lita, aku hutang ya?" Khati merasa tak enak hati pada wanita ini karena wanita itu sudah menampungnya, memberi pekerjaan, kini membayari biaya bersalinnya.


"Ini rejeki anakmu, Anna. Terima saja."


Yang lain tertawa. Bahkan dokter itu tersenyum. Ia tak salah percaya pada wanita yang baru melahirkan ini karena teman-temannya yang merupakan orang lain saja percaya padanya, walaupun identitas wanita ini sebenarnya misterius.


"Sini, dok, Saya isi," sahut Lita. Ia mengenyampingkan jilbab segitiganya yang menjuntai ke depan. Setelah mengisi, ia menyelipkan KTP-nya bersama lembaran kertas tadi. "Ini, dok. Dokter siapa namanya?"


"Doni."


"Oh, dokter Doni."


Para wanita yang lain saling berbisik di belakang.


"Nanti KTP-nya Saya ambil lagi atau gimana?"


"Nanti ada petugas yang akan mengembalikannya kemari." Dokter itu pun pamit.


----------+++--------


Lampu dinyalakan. Pria itu masuk ke kamar dengan sedikit menghela napas. Pekerjaan sebagai dokter memang tak ada habisnya. Setiap ia pulang, ia pasti kelelahan.

__ADS_1


Namun kali ini ia pulang dengan sedikit beban pikiran. Tentu ini sulit untuk disebut kesusahan tapi ini hanya sebuah ketertarikan. Ya, sejak bertemu Khati, wajah wanita itu selalu berputar-putar di kepalanya.


Ini semua berawal dari sosok Khati yang hamil besar tapi berusaha menolong pasien kecelakaan di sekitarnya. Kenangan itu kembali datang. Sosok istrinya dulu, Sonya, adalah seorang perawat di rumah sakit itu. Ia sangat mengabdi pada pekerjaannya hingga saat sedang hamil muda, ia masih bekerja.


Sudah beberapa kali pria itu melarangnya tapi wanita itu tetap ingin bekerja hingga suatu saat ia terjatuh waktu menolong seorang pasien karena kelelahan. Bayi dan istrinya tak tertolong hingga keduanya pergi. Saat bertemu Khati, kenangan itu menguar kembali, dan kini ia melihat wanita itu dengan cara berbeda.


Apa aku sedang jatuh cinta? Ah, tak mungkin. Sonya adalah wanita satu-satunya dalam hidupku. Pria itu memiringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun, bayangan wajah Khati yang manis, berlarian di pelupuk mata dan tak mau pergi.


--------+++--------


"Eh, apa ini, dok?" Khati menoleh.


"Parcel buah."


"Iya, Saya tahu, tapi kenapa Saya dapat parcel buah? Rasanya tidak umum."


"Eh, hanya bilang maaf saja, karena aku meragukanmu kemarin."


"Apa? Tapi rasanya tak perlu."


"Harus banyak makan buah. Baik untuk kesehatan."


"Tapi, dok ...."


"Semoga cepat sembuh." Dokter Doni kemudian pamit dan keluar dari kamar perawatan. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Makin hari, aku makin tak masuk akal.


----------+++-----------


"Di kasih parcel sama dokter Doni, waw," ledek Lita pada Khati.


"Eh, jangan-jangan dia naksir kamu lho!" ujar anak kos yang lain.


"Persis!"


"Aduh, jangan berisik dong. Erlangga jadi gak bisa mimik," keluh Khati karena anaknya mulai rewel menyusui.


"Ya, sudah. Yuk, kita keluar," ajak Lita pada yang lain. Akhirnya, para wanita itu keluar.


Tinggal Khati dan bayinya di dalam kamar. "Ayo, Sayang. Mimik lagi."


Bayi itu seperti mengerti dan kemudian mencari sumber susunya. Padahal tadi ia hampir menangis karena berisik. Bayi itu ternyata bukan bayi yang mudah cengeng. Saat ingin menyusu, ia hanya merengek saja.

__ADS_1


Khati mengusap rambut bayi itu yang belum tumbuh rata. Sebentar kemudian sang bayi mulai berkeringat, padahal mereka sedang di ruang ber-AC. Wanita itu meniup-niup tengkuk bayi itu agar cepat kering. Sebentar kemudian bayi itu tertidur. Khati meletakkan sang bayi ke sebuah boks bayi di samping ranjang.


Ia sendiri melepas jilbabnya, dan tidur terlentang di atas ranjang. Senang rasanya kembali ke rumah itu. Ia bisa bekerja sambil mengurus bayi.


__ADS_2