
Namun pria itu tengah mematung di depan Khati dengan menyentuh dagunya. Ia menatap ke arah pakaian istrinya dan tak mendengar protes sang isteri pada pakaian tersebut. Bahkan pria itu kemudian berjongkok dan tiba-tiba merobek jahitan samping di kedua sisi rok itu, hingga membuat Khati terkejut. Tak tanggung-tanggung, pria itu merobek rok itu hingga di atas lutut sang istri.
Khati histeris dibuatnya. "Mas Jun!" Wanita itu melihatnya dengan syok hingga mundur beberapa langkah. "Kenapa kamu robek rokku, Mas!" Ia hampir menangis.
"Sempurna," sahut pria itu sambil berdiri, tapi saat ia sudah tegak berdiri, istrinya menghujaninya dengan pukulan di dada hingga ia bergerak mundur.
"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat! Kamu ingin aku terlihat seperti wanita murahan!" serang Khati kesal.
Akhirnya Jun meraih pinggang kecil sang istri dan mengangkatnya ke atas. Khati ketakutan hingga berpegang pada bahu sang suami. Begitulah cara pria itu menghentikan pukulan istrinya.
"Mas, turunin. Aku takut, Mas."
Pria itu mengangkat kepalanya dan mendapati rambut istrinya yang tergerai panjang, kini mengurung wajah keduanya. Ia tersenyum melihat wajah istrinya yang ketakutan.
"Mas," pinta Khati.
"Kamu itu, nakal sekali. Kalau marah sering memukul. Apa kau ingin tidur denganku lagi, mmh, agar kita bisa menyamakan isi kepala?" goda pria itu sambil sedikit menyembunyikan tawa dibalik senyumnya. Entah kenapa setiap wanita itu marah, ia makin tertarik padanya.
Mulut wanita itu mengerucut walau wajahnya tersipu-sipu. Ia tidak menjawab, tapi sang suami segera menurunkannya.
"Sudah kubilang, ikuti aturanku. Julia itu model, jadi tidak aneh penampilannya seksi kalau di muka umum. Kamu harus mengikutinya agar orang tidak melihat aneh padamu."
Wanita itu masih mengerucutkan mulutnya.
"Apa kau tak lihat, pakaian yang dipakainya saat wawancara di tivi?"
Khati memainkan ujung rambutnya yang panjang. "'Kan bisa bikin versi baru, 'Julia setelah menikah, ingin jadi ibu rumah tangga yang baik. Dan kemudian ia memakai jilbabnya'," usul sang istri dengan sedikit bergumam.
Jun tersenyum. Ia mencubit pipi wanita itu dengan lembut. "Ok, akan aku pikirkan, tapi tidak sekarang. Ayo, rapikan dulu rambutmu itu. Aku akan menjemputmu setengah jam lagi." Saat pria itu keluar, ia masih melihat sang istri merengut bimbang, tapi ia tak mau banyak komentar.
__ADS_1
Sambil merapikan rambut dengan penggulung rambut, kalimat Jun masih terngiang-ngiang di telinga Khati. '... Apa kau ingin tidur denganku lagi, mmh, agar kita bisa menyamakan isi kepala?' Khati menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir ingatannya itu yang cukup menggoda. Khati, ingatlah. Dia menyakitimu, bukan membahagiakanmu. Namun tak ayal pipinya kembali memerah.
----------+++----------
Dengan bangga Jun masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan wartawan yang menunggunya sejak tadi sambil menggandeng sang istri. Ia tersenyum lebar menandakan ia bahagia.
Khati sedikit takut dengan begitu banyak kilatan cahaya dari kamera yang mengarah ke dirinya dan sang suami, tapi ia berusaha menampilkan wajah berani. Untung sekali belajar modelling membuat ia jadi tampil percaya diri. Ia berusaha memerankan Julia dengan sebaik-baiknya.
Wanita itu kemudian terbiasa kembali menatap kamera dan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Jun. Pria itu juga terlihat senang bisa memperkenalkan sang istri pada kalayak ramai. Mereka kemudian duduk pada kursi yang telah di sediakan.
Jun mengambil mike yang berada di atas meja di depannya dan mulai bicara. "Maaf, tapi kami ingin privasi sehingga dari sejak menikah hingga bulan madu, kami tidak berada di Indonesia."
Seorang wartawan pria langsung mengajukan pertanyaan padanya. "Jadi benar Anda sudah menikah, hakim Junimar?"
"Ya, benar. Kami sudah menikah, dan istriku, kalian semua sudah tahu. Dia Julia Stella Marina, foto model profesional yang sudah kalian tahu reputasinya."
Jun dengan senyum sumringahnya menoleh ke arah sang istri. "Kau ingin menceritakannya, Sayang?"
Khati menggeleng manja. Senyum ditampilkan dengan mata bercahaya, padahal ia tengah gugup setengah mati. Menampilkan wajah manis ini saja sudah sebuah usaha besar. Ia tak bisa bayangkan kalau harus berbicara.
"Em ... sepertinya ini akan jadi rahasia kami berdua," ucap pria itu pada para wartawan dengan masih tersenyum lebar. Ia bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri dengan meraih bahunya dan mengecup dahi wanita itu dengan penuh kasih sayang. Terlihat jelas pria itu sangat menyayangi sang istri dan bangga menikah dengannya.
Jun tahu, sang istri begitu gugup karena belum pernah menjadi perhatian publik selain ketika ia tertangkap dan masuk penjara. Ini sekaligus untuk membuat Khati menghilangkan rasa traumanya sejak kejadian buruk yang menimpanya itu. Ia ingin membangun rasa percaya diri wanita itu kembali dan bangkit dari keterpurukannya.
Jun menjauhkan mike dari sang istri. "Sayang. Kamu gugup?"
Walau tersenyum, Khati mengangguk.
Kembali pria itu mengecup kening sang istri. "Yuk, kita pulang."
__ADS_1
Sedikit terkejut dengan keputusan suaminya, tapi Khati ikut saja ketika sang suami menggandengnya bangkit dari tempat duduk. Mereka melangkah keluar.
Karuan saja wartawan yang tengah menunggu untuk pertanyaan berikutnya segera bangkit dan mengejarnya. Jun mendekap sang istri dari samping untuk melindunginya. Todi juga dengan beberapa petugas dan bodyguard melindungi keduanya. Jun diberondong pertanyaan sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Jadi apakah Julia masih akan tetap bekerja sebagai model?"
"Kapan tepatnya kalian menikah?"
"Ke negara mana kalian berbulan madu?"
"Eh, nanti saja, ya?" sahut pria itu dengan sopan sambil melangkah ke pintu. "Kami baru pulang dari luar negeri jadi masih lelah. Saat ini, aku hanya ingin mengabarkan tentang pernikahan kami. Di luar itu tolong tanyakan pada asistenku ya? Terima kasih." Ia kemudian membawa Julia hingga keluar hotel. Wartawan masih tetap memburu dengan berbagai pertanyaan. Untung saja diluar sana, mobil Jun datang bersama sopir menjemput mereka. Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil dan keluar dari area hotel itu.
Khati menoleh ke belakang. Dilihatnya wartawan masih mengejar hingga beberapa meter kemudian menyerah. Wanita itu kemudian memutar kepalanya ke arah sang suami.
"Kau tak apa-apa 'kan, Sayang?" tanya Jun lagi pada sang istri.
Khati menggeleng lemah sambil sedikit memberi senyuman. Pria itu mendekapnya. wanita itu sebenarnya tidak ingin bergantung pada Jun tapi ia bisa apa? Ia butuh sandaran mengingat tugas yang akan dilaluinya ke depan cukup berat. Lagipula, sang pria akan dengan senang hati melakukan itu untuknya. Walaupun mungkin, itu hanya sekedar pura-pura saja.
Junlah yang sebenarnya menikmati pelukan itu. Pelukan hangat yang akan semakin menguatkan langkahnya ke depan dengan memanfaatkan kerapuhan sang istri, sebab biasanya, Khati tak mau dipeluk seperti itu.
Saat memasuki gerbang rumahnya, saat itulah Khati berusaha memisahkan diri dari sang suami. Ia turun lebih dulu saat sampai di depan pintu utama.
----------+++---------
Berita tentang pernikahan Jun dan Julia tersebar dan menjadi topik pembicaraan di semua media sosial dan televisi. Berita ini pun sampai ke telinga Damar. Pria itu syok dan geram. Padahal terakhir bertemu Julia, mereka tengah memikirkan untuk menikah setelah eksekusi mati Khati. Mereka masih pacaran diam-diam sehingga tidak sampai terendus oleh media. Ia kemudian mencari cara untuk menghubungi Julia.
Jun sedang sarapan dengan Khati ketika mendengar ponselnya berbunyi. Ia terkejut melihat nama siapa yang tertera di ponsel itu. Ia segera mengangkatnya. "Halo, Paman?"
"Bukankah kau menikah dengan keponakanku, Khati? Kenapa kau mengumumkan menikah dengan orang lain? Katakan padaku ada apa ini sebenarnya?"
__ADS_1