Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Bujukan Istri Cantik


__ADS_3

"Oh, ini hanya pengalihan isu, Paman. Tak perlu dipedulikan itu. Kalau aku mengumumkan pernikahanku dengan Khati, ini akan mempersulit Khati ke depannya. Percayalah, Paman. Aku hanya menikahi Khati, bukan orang lain."


Suara barito pria di ujung sana terdengar ragu. "Mmh."


"Yang penting, untuk sementara waktu Paman rahasiakan dulu pernikahan kami sampai Khati bebas dari jeratan hukum mati ini, Paman. Aku tak berbohong padamu, Paman."


Tak ada suara keluar dari ujung sana membuat Jun terpaksa menyerahkan ponselnya pada sang istri. "Khati, tolong kau bicara dengan pamanmu agar ia percaya."


Khati mengambil ponsel itu. "Halo. Paman."


"Khati, apa kau baik-baik saja? Kau benar bersamanya?" tanya pria di ujung sana dengan nada khawatir.


"Iya, Paman. Aku baik-baik saja. Paman jangan khawatir seperti itu."


Terdengar suara seorang wanita di ponsel itu dan Khati segera mengenalinya. "Khati, Nak. Kau baik-baik saja?" Rupanya istri sang paman mengambil alih telepon.


"Iya, Bibi," sahut Khati terharu. Keluarganya di ujung sana tengah mengkhawatirkannya. Jun hanya mendengarkan tapi ia ikut senang.


"Boleh Bibi video call?"


Saat itu, Khati terkejut. Ia melirik Jun. "Video call?"


Saat itu juga pria tampan itu meraih ponselnya. "Eh, maaf, Bibi tapi Khati sedang di tempat tersembunyi, jadi belum boleh di ketahui publik. Jadi maaf, tidak bisa video call."


"Tapi ini sepupunya, di sini banyak yang ingin menyapanya," desak bibi Khati.


Jun tentu saja bingung. "Eh, bisa Saya bicara dengan Paman dulu?"


Wanita itu memberikan ponselnya pada sang suami karena kemudian suara paman Khati terdengar. "Ya?"


"Paman, tolong jangan bocorkan ini pada siapapun. Karena dari istri Paman dan anak-anak Paman, berita ini bisa tersebar keluar, sedang kami masih dalam penyelidikan. Kalau berita tentang keluarnya Khati dari penjara tersebar, bisa tamat karirku, Paman. Ditambah, penyelidikan tentang pembunuhan itu akan dihentikan. Ini akan berakibat, hukuman Khati akan dipercepat," ucap pria itu sesopan mungkin, tapi ia hampir gila menerangkannya.


"Oh, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Maaf." Pria itu terdiam sebentar. "Sebenarnya, aku hanya berbicara dengan istriku masalah ini tapi kemudian anakku Ryan, mengetahuinya. Maaf.


Kalau begitu aku akan bicara dengan mereka agar tutup mulut dan jangan sampai ada orang lain lagi yang tahu berita ini. Maaf. Aku titipkan Khati padamu. Tolong bantu dia. Maafkan aku yang telah lancang jadi membuatmu tidak di posisi nyaman saat ini. Tolong bantu Khati, aku mohon. Dia tidak punya seorang pun untuk mengadu karena itu aku khawatir padanya," pinta Paman Khati penuh sesal. Ia tidak menyangka, yang awalnya mengira pria itu membohonginya, ternyata tengah membantu keponakannya itu sembunyi.

__ADS_1


"Eh, mmh." Jun menghela napas dalam dengan memejamkan mata sebentar. "Percayalah padaku. Aku memang di posisi tidak nyaman, karena itu aku mohon ... Jangan telepon dan cari Khati dulu sampai aku bisa menyelamatkannya." Pria itu melirik Khati yang cemas.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik. Aku percaya padamu. Aku akan menunggu telepon darimu. Maafkan aku." Baskoro begitu menyesal telah salah sangka dengan pria itu bahkan apa yang ia sendiri lakukan, nyaris membuat rencana penyelamatan sang keponakan gagal.


Jun menutup teleponnya dengan wajah kesal. Wajahnya terlihat geram dengan mengepal satu lagi tangannya yang tak memegang ponsel.


"Apa katanya?"


Ternyata Khati tak tahu apa yang terjadi. Ia menatap bingung pada sang suami. "Apa Pamanku ada salah bicara?"


Mata elang pria itu hanya menatap Khati tapi tak berani memarahi wanita itu. Baru kali ini ia dibuat kesal oleh seseorang tapi tak berani melampiaskannya. Terutama pada Khati, yang menjadi penyebab utamanya. Ia beranjak berdiri. "Maaf, aku jadi tak selera makan." Ia meninggalkan sang istri dan melangkah ke arah tangga. Pria itu kembali ke kamar.


Tak lama ia duduk di kursi sofa, seseorang mengetuk pintu. Pintu dibuka tanpa permisi dan seorang wanita cantik yang wajahnya kembali muda ketika tubuhnya kurus itu, muncul dari balik pintu. "Sayang ... kamu 'kan baru mau makan," ucapnya dengan sedikit kaku dengan membawa baki makanan. Ia merasa bersalah karena suaminya terlihat kesal pagi-pagi karena di telepon oleh pamannya.


Jun sempat terkejut. Ia sebenarnya ingin tersenyum senang karena sang istri ternyata berusaha membujuknya, tapi senyum itu berusaha ia sembunyikan. Ia ingin tahu seberapa jauh wanita itu akan membujuknya. "Eh, untuk apa ... eh, kamu ke sini."


Khati menutup pintu. Ia membawa baki itu ke pangkuan Jun sambil membungkuk. "Makan ya suamiku, kamu 'kan belum sarapan," ucapnya manja. Bibirnya yang tipis saat bicara berdekatan begitu menggoda.


"Kalau gak selera bagaimana?" ucap pria itu yang memperlihatkan wajah dingin sambil melirik sang istri.


Entah kenapa godaan itu membuat Jun bernafsu. Saat ia hendak menggerakkan tangannya, ia menyenggol baki di pangkuan. Segera ia meletakkan baki itu ke meja pendek di depannya. Ia lalu meraih tangan sang istri, membuat Khati terkejut. "Bagaimana kalau aku mengunyah bibirmu dulu agar aku nafsu makan?"


Khati tentu saja menggodanya agar pria itu kembali semangat, bukan untuk yang lain sehingga ia terkejut dengan efek yang telah ia timbulkan. "Ih, mesum!" Wanita itu melepas diri dari tangan sang pria, tapi Jun tak menyerah. Pria itu berdiri dan mendorong sang istri ke dinding kamar dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangan.


"Kamu mau apa?" tanya Khati makin terkejut dengan tindakan sang suami mengurungnya.


"Kau datang ingin membujukku makan 'kan?" Senyum liciknya terlihat.


"Iya," sahut sang wanita masih dengan wajah heran.


"Mood-ku sudah hilang saat berbicara dengan pamanmu tadi," terang pria itu.


"Maaf," sesal Khati.


"Kalau kau ingin aku sarapan, kau harus meluluskan dulu satu permintaanku."

__ADS_1


"Apa?" tanya Khati tanpa ragu.


Pria itu mendekatkan wajahnya. "Aku ingin menciummu."


"Apa ... kenapa itu lagi sih," gerutu wanita itu.


"Aku ini laki-laki, Khati. Hanya itu yang bisa mengembalikan mood-ku."


Sang istri merengut, tapi Jun malah melepasnya. "Ya, sudah. Aku tidak memaksa. Kalau kau tak mau silahkan keluar."


Khati terdiam sejenak. Tiba-tiba ia maju dan menarik kerah baju sang suami dan mengecup bibir pria itu dengan cepat. "Sudah."


"Belum." Pria itu meraih pinggang sang istri dan mulai menciumnya.


Khati pasrah. Ia membiarkan sang suami bermain dengan bibirnya sebentar hingga tangan jahil pria itu ingin meraih yang lain. Saat itulah ia mendorong suaminya menjauh. "Sudah ...," ucapnya sambil terengah-engah karena hampir kehabisan napas. Ia berlari ke pintu dan keluar dari sana.


"Hah!" Kenapa makin hari istrinya makin menggemaskan saja. Ia menatap ke bawah karena celananya terasa ketat. Namun seperti yang pria itu ucapkan tadi, ia semangat menyelesaikan sarapannya.


--------+++-------


"Julia!" kepala pria itu muncul di balik pintu. Ia melihat sang istri tengah merapikan pakaiannya di lemari. Ia menyodorkan sebuah kartu hitam. "Ini untukmu."


Wanita cantik itu mendatangi sang suami sambil menepikan rambutnya. Ia mengambil kartu itu.


"Oh, ya. Kau boleh keluar sekarang. Aku ke kantor. Pergilah shopping atau apapun tapi jangan lupa kacamata hitamnya. Sebaiknya kamu pergi ke mal saja agar bisa memancing Damar keluar."


"Lalu?" Khati mengerut dahi.


"Pergilah jalan-jalan dengannya."


"Apa? Kau menyuruhku berselingkuh?"


"Iya."


Khati terperangah.

__ADS_1


__ADS_2