Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Sayang


__ADS_3

"Oh, maaf." Jun menyadari kesalahannya, hingga membiarkan wanita itu turun.


"Kau mau makan apa? Bubur?"


"Aku tidak separah itu, Julia. Aku ingin makan nasi."


"Aku buat nasi goreng di bawah. Mas mau?"


"Oh, aku mau sekali."


Wajah pria itu tampak lebih segar dari yang tadi hingga Khati bertanya lagi. "Apa kau tidak ingin ke kantor?"


"Mmh? Sekarang jam berapa? Ini, aku rasa sudah telat, Julia."


Khati langsung melipat tangannya di dada. "Memangnya kamu harus datang on time? Kamu 'kan pimpinan tertinggi di kantormu."


"Tapi bukan berarti aku bisa seenaknya datang ke kantor. Orang-orang di kantor tahu kok, bila aku tak datang on time, aku pasti cuti, kecuali kalau ada hal luar biasa yang mengharuskanku datang."


Khati melirik tubuh pria itu yang basah karena keringat. Lekuk tubuh atletis pria itu tercetak jelas pada pakaian piyama yang kuyup itu. Apalagi rambutnya yang klimis karena basah, membingkai wajah pria itu menjadi semakin tampan saja. Wanita itu sempat sulit menelan ludah melihat pemandangan indah itu. "Kamu cepat mandi. Badanmu mulai bau, Mas."


"Masa? Tapi aku suka baumu." Jun yang tersenyum genit berubah datar ketika melihat pandangan sang istri yang terlihat sedingin es. Wanita itu kemudian keluar.


Khati kembali ke kamar dan memeriksa ponselnya. Ada 11 panggilan telepon yang tidak sempat ia angkat. Ia sudah bisa memastikan siapa yang menelepon, karena koleksi nomor telepon yang ia punya hanya tiga orang. Ya, siapa lagi kalau bukan Damar. Ada sebuah pesan singkat dari pria itu yang kemudian ia buka.


'Julia, kau di mana? Apa kita bisa ketemu lagi makan siang?'


Khati langsung menjawab pesan itu. 'Maaf, hari ini aku tak bisa ke mana-mana. Suamiku sedang sakit.' Baru saja ia hendak meletakkan ponselnya, terdengar bunyi dering telepon dari benda pipih itu. Ia segera mengangkatnya. "Halo."


"Julia, 'kau tak apa-apa?"


Apa maksudnya ini? "'Kan tadi aku bilang, suamiku yang sedang sakit, bukan aku."


"Eh, iya."


"Ya, sudah." Baru ia akan menutupnya, pria di ujung sana kembali memanggilnya.


"Tunggu dulu, Julia!"


"Ada apa lagi?"


"Apa kita bisa bertemu nanti malam?"


Pria ini tak menyerah ya? Tapi apa Mas Jun mengizinkan? Tapi biar bagaimanapun aku malas bertemu dengannya, walaupun aku harus menggali informasi dari mulutnya. Ah, tidak. Aku tidak mau pergi malam-malam. "Mmh, aku tidak tahu, tapi sebaiknya tidak usah. Suamiku ada di rumah jadi tidak mungkin aku pergi. Dia pasti curiga."


Damar terdengar kecewa. "Oh ... mmh, ya gak papa. Mudah-mudahan suamimu besok sembuh ya?"


"Amin, terima kasih." Khati segera menutup teleponnya. Tidak mudah baginya berbagi rasa seperti ini, ia tetap merasa bersalah. Ia tak suka bermain api walau suaminya mengizinkan. Ia kemudian berganti pakaian.


Saat Khati kembali, sang suami terlihat sudah mandi dan berganti pakaian. Pria itu sudah kembali ke ranjang dan menantikan istrinya datang dengan wajah ceria.

__ADS_1


Khati datang membawa baki makanan untuk sang suami. Ia meletakkan di meja nakas dan mengambilkan makanan di piring untuk pria itu. "Ini."


"Suapin dong." Wajah manja sang pria terlihat kembali.


"Masa tidak bisa makan sendiri? Biasanya 'kan bisa?"


"Biasanya, tapi 'kan sekarang sedang sakit." Tiba-tiba saja pria itu bersin. "Haciuh!" Ia menutup hidungnya. "Ah, Khati. Tolong tisu ...."


Sang istri mengambilkan kotak tisu dari meja. Jun menghembuskan hidung mengeluarkan lendir yang tersisa dengan beberapa lembar kertas tisu dari kotak itu. "Mmh, Khati. Aku flu," keluhnya.


"Sudah, jangan cengeng. Ayo, makan. Nanti aku beri obat flu."


Jun benar-benar kesal. "Kenapa kau menyebutku cengeng? Aku 'kan suamimu, kau harus merawatku," pintanya tanpa malu-malu. Ia sudah tidak mau lagi menahan perasaan karena dirinya sedang sakit. Ia benar-benar ingin dimanja oleh sang istri.


"Hah, ya sudah." Wanita itu mengalah. Ia menyuapi sang suami makan.


Jun menunjukkan wajah memelas karena sakit. Ia menerima semua suapan sang istri dengan hati riang. Pria itu melipat kaki dan memeluknya sambil menyandarkan tubuh ke sana. Ia memiringkan kepala ke arah Khati.


"Eh, jangan duduk begitu! Nanti makanan tidak masuk dengan benar dalam perutmu, Mas. Coba, duduk yang benar. Sandarkan punggungmu ke belakang!" Kenapa dia jadi seperti anak-anak sih! Segalanya perlu diatur, omel sang istri dalam hati. Sepertinya hampir semua pria seperti ini kalau sakit. Seperti anak kecil!


Sepertinya pria itu menikmati setiap omelan istrinya. Ia tersenyum dan tak banyak bicara. Khati merapikan selimut sang suami ketika selesai makan dan minum obat. Pria itu berbaring dengan kepala ditinggikan dengan tambahan bantal, agar hidungnya tak tersumbat.


"Kamu tidak ke mana-mana 'kan, Sayang?" tanya pria itu lagi.


"Tidak."


"Soalnya aku ingin makan siang bersamamu."


---------+++--------


"Apa?"


"Masa kamu gak tau piknik, sih? Aku ingin piknik di taman belakang. Di sana ada pohon besar. Aku ingin piknik di bawah pohon itu."


"Ta-tapi aku belum menyiapkan makanannya," sahut Khati panik.


Pria itu tersenyum lebar. "Ah, Julia. Itu soal gampang. Serahkan saja pada juru masakku. Aku ingin membaca buku di bawah pohon itu. Temani ya?" Jun mengambil sebuah buku tebal dari rak buku di kamarnya dan melangkah ke pintu.


Keduanya menuruni tangga dan melangkah ke halaman belakang. Jun menemui salah satu pembantunya untuk menyiapkan karpet untuk piknik sedang Khati meminta juru masak menyiapkan sandwich, beberapa buah-buahan dan minuman dari perasaan buah segar.


Tak lama, para pembantu sibuk menyiapkan piknik yang diinginkan Jun di bawah pohon itu. Beruntung pohon itu daunnya lebat sehingga panas matahari yang sangat terik, tak sampai terasa ke tempat piknik yang dipilih sang pria.


Jun langsung duduk ketika karpet digelar hingga Khati pun menyusul. Ia meminta sang istri untuk duduk bersandar pada pohon.


"Kenapa?"


"Duduk saja dulu."


Khati menurut. Tiba-tiba pria itu merebahkan kepala di pangkuan sang istri membuat wanita itu terkejut.

__ADS_1


"Mas?"


"Tolong baca bukuku." Pria itu menyodorkan buku yang dibawanya sejak tadi.


Sang wanita meraih buku itu dan membukanya. "Bahasa Inggris?"


"Kamu bisa bahasa Inggris 'kan?"


"Eh, mengerti tapi tak begitu pintar bicara."


"Tolong bacakan untukku."


"Eh?" Khati mengangkat buku guna melihat wajah pria itu di pangkuan. "Kenapa harus aku? Ini 'kan bukumu. Aku tidak mengerti tentang hukum."


"Tidak apa-apa. Aku kali ini ingin mendengarkan, bukan membaca."


"Tapi bahasa Inggrisku tidak begitu bagus."


"Tidak apa-apa, nanti aku betuli."


"Tapi ...."


"Baca saja Julia. Jangan takut."


Sang istri menatap suaminya dalam keadaan bingung.


"Apa aku tidak bisa memohon padamu? Sebagai seorang teman?"


Khati melirik pada para pembantu yang mulai datang membawa piring-piring kecil, gelas, teko kaca berisi jus, keranjang berisi makanan.


"Seorang pacar?"


"Apa?"


Para pembantu itu meletakkan barang-barang itu di atas karpet dekat keduanya.


"Sebagai seorang suami?"


"Ok. Ya sudah." Wanita itu menyerah.


Jun tersenyum penuh kemenangan. Pria itu mulai mendengarkan istrinya membaca buku untuknya. Ia terkadang membetulkan cara baca sang istri bila salah.


Awalnya, agak sulit untuk Khati membaca buku berbahasa Inggris itu. Apalagi banyak istilah yang ia tidak mengerti, tapi lama-lama ia mulai lancar membacanya. Jun sambil mendengarkan, ia terkadang duduk dan mengambil makanan. Atau bergeser makan anggur di samping Khati. Lama-lama ia menggoda wanita itu dengan menyuapinya sepotong sandwich.


"Mmh!" Khati terpaksa mengunyah dulu sebelum protes. Ia mau tak mau meletakkan buku yang dibacanya. "Mas, aku 'kan lagi baca!"


Pria itu tertawa senang. "Makan, yuk!"


________________________________________

__ADS_1




__ADS_2