
"Jadi, benar ini sudah sepengetahuan Julia?" tanya wanita itu pada sang suami. Manik mata lembut itu mencari kebenaran di kedua mata elang milik suaminya.
Pria itu kembali mengecup bibir sang istri tapi kali ini ia mendapat penolakan. Istrinya memalingkan wajahnya ke samping.
"Mas, jangan gitu ah! Aku sedang bicara, tolong fokus."
"Aku juga sedang bicara, tapi aku takut kamu buat keributan di sini," ujar pria itu dengan wajah serius. Kemudian ia mengganti raut wajahnya dengan tersenyum lebar. Ia mencubit dagu runcing milik sang istri dengan gemas. "Lebih asyik bermesraan, bagaimana?" Goda pria itu sambil mengeratkan pelukan.
Khati mendorong suaminya menjauh. "Mas, bicaranya jadi tidak fokus."
"Kenapa sih kamu takut padaku? Aku 'kan suamimu. Semua orang di gedung ini tahu," bujuk Jun. Ia sebenarnya senang didatangi istrinya mendadak seperti itu. Namun apakah Khati menyukainya hingga menanyakan hal ini sampai harus mendatangi kantornya, atau ia memang benar-benar peduli pada Damar?
"Apa aku harus meneriaki orang-orang agar mereka tahu kita kawin kontrak?" ancam wanita itu sambil melipat tangannya di dada. Ia gemas suaminya tak kunjung serius bicara, tapi malah menggodanya.
Ucapan Khati mengunci pergerakan Jun berikutnya. Pria itu menghela napas pelan. Diperhatikannya lagi wanita yang kini berada di hadapan. Mereka telah menikah, tapi masih saja ia harus khawatir, sang wanita tak lagi mendukungnya. Apalagi, ia sendiri yang memaksa sang istri untuk berhubungan lagi dengan mantan suaminya.
Sebenarnya ini salah siapa? Jun pusing memikirkan bagaimana ia juga mulai cemburu bila Khati berdekatan dengan Damar, karena itu ia menyerahkan pengawasan seluruhnya pada Todi. "Sayang, apa kau masih mencintai mantan suamimu?" tanyanya terus terang. "Kau harus bisa membedakan mana yang pekerjaan dan mana hal pribadi. Kamu harus ...." Kalimatnya terhenti saat ia menatap wajah sang istri.
"Apa? Aku tidak ingin kembali padanya, kok." Dahi Khati mengerut dengan mulut mengerucut seketika.
Pria itu tersenyum lega.
"Hanya kasihan saja," ucap Khati pelan sambil menunduk.
Wajah pria itu berubah sebal. Ia masih saja pusing bila wanita itu memberi jawaban mengambang padanya. Seketika ia mengambil jasnya yang ia gantung di sandaran kursi dan meraih tangan sang istri untuk mengikutinya. Ia membuka kunci pintu.
"Kita mau ke mana?" tanya wanita itu kebingungan.
"Kita keluar saja. Kita cari tempat untuk bicara."
"Ke mana?"
"Kita pikirkan sambil jalan." Pria itu kemudian menggandeng istrinya yang mengikuti sepanjang jalan. Semua orang memperhatikan mereka di kantor itu.
Bahkan di sepanjang jalan menuju lift pada setiap orang yang memberi hormat pada keduanya. Mereka menatap kagum pada pasangan yang hampir terlihat sempurna di mata orang-orang yang memandangi. Yang satu cantik, yang satu tampan dan keduanya adalah orang terkenal.
Sampai di dalam lift pun Jun tak mau melepas genggaman tangannya pada Khati. Ia membiarkan orang-orang menatap iri dan luar biasa karena ia berani menampilkan kemesraan itu di depan banyak orang.
__ADS_1
Khati sebenarnya sedikit malu-malu dengan sikap Jun di depan umum karena pada dasarnya ia tak terbiasa melakukan ini di depan banyak orang. Bahkan mantan suaminya tak pernah melakukan hal itu bila jalan berdua dengannya.
Ada sedikit rasa senang, tapi ia berusaha untuk profesional menjalankan misinya sebagai Julia, seorang model yang memang harus tampil seksi di muka umum. Ia menepis rasa malu demi sebuah peran yang memuakkan untuknya itu.
Kadang, ia merasa kehilangan jati dirinya sebagai Khati dan merasa sebagai pendosa hebat. Namun ia tak punya pilihan. Pria ini telah menyudutkannya ke jurang penghancuran diri lebih dalam lagi. Ia sering rancu, siapa sebenarnya dirinya kini.
Lift akhirnya sampai di perparkiran. Jun menarik sang istri ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ. Ia membantu istrinya naik ke mobil, kemudian ia berjalan memutar untuk masuk di pintu yang satunya.
"Mas, nanti kerja gimana?"
Jun yang baru naik ke dalam mobil menatap istrinya, sambil menghela napas. "Harusnya kau memikirkan ini sebelum datang ke kantorku."
Khati menunduk. "Maaf."
Jun menutup pintu dan kembali memutar tubuhnya menghadap sang istri. Ia sepertinya harus mengulang semuanya. "Khati, aku 'kan sudah bilang dari awal, fokuslah pada pekerjaanmu. Abaikan perasaanmu. Kalau kau terus-terusan memikirkan masa lalu dan rasa ibamu, masalah ini takkan pernah selesai-selesai. Kau mengerti?"
Pria itu kembali menatap sang istri yang masih terlihat bingung. Ia tak tega hingga menarik tubuh wanita itu ke dalam peluk. "Sini, Sayang."
Khati menurut saja. Ia masih bingung pada dua lelaki ini. Siapa di antara mereka yang harus ia percaya. Hanya dekapan lembut suaminya yang mampu meneduhkan hatinya yang sedang lelah.
Ya Tuhan, aku harus percaya pada siapa? Keduanya sama-sama menyakitkan untuk dimiliki, tapi keduanya juga ingin dirinya menyakiti mereka satu sama lain. Ini membingungkannya karena sulit untuknya menyakiti orang lain. Ia tak tega. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah, mengikuti perintah sang suami. Karena ia telah terikat pernikahan dengan Jun.
"Mmh?"
Jun tersenyum di kulum. "Apa kau lupa, sebentar lagi 'kan waktunya jam makan siang."
----------+++----------
"Ok. Aku pulang dulu ya, Sayang. Nanti sopir akan datang ke sini menunggumu. Aku sudah forward nomor HP-nya, jadi nanti dia tinggal menjemputmu." Jun mengangkat kepalanya menatap sang istri seraya memasukkan ponselnya ke kantong jasnya. "Kau mau jalan-jalan dulu di mal ini?"
"Iya. Aku mau beli beberapa pakaian lagi. Pakaianku ada beberapa yang mulai terlalu ketat dipakai. Aku tidak suka."
"Oya? Coba kamu pakai malam-malam biar aku lihat," ujar pria itu tersenyum lebar.
"Ih!" Khati merengut kesal.
Jun tertawa lepas. "Tapi memang aku lihat kamu sedikit gemuk kok, sekarang."
__ADS_1
"Kamu juga," sahut wanita itu cepat.
Pria itu menyentuh dagunya. "Mungkin tanda pernikahan yang bahagia."
Khati masih merengut walau dalam hatinya senang. "Apa ... aku harus menguruskan badanku lagi?"
"Ah, tidak usah. Aku 'kan bisa bilang karena kau telah jadi ibu rumah tangga. Kau tak perlu harus kurus, tapi jangan gemuk lagi lebih dari ini ya? Bahaya. Nanti ada yang curiga kau hamil."
Khati kembali mengerucutkan mulutnya.
"Eh, tapi ...." pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Iya?" Khati penasaran dengan kalimat menggantung suaminya.
"Bagaimana kalau ... kita teruskan pernikahan ini?"
"Apa?" Sang wanita mengerut dahi.
Jun yang melihat reaksi Khati, segera meralatnya. "Eh, tidak apa-apa. Aku cuma bercanda."
Khati semakin dongkol mendengarnya. Apa maksudnya itu? Bikin hati panas saja. Ada sesal yang tertahan. Kenapa dia ....
"Ok." Pria itu bangkit dari duduknya diikuti sang istri. Khati mengikuti suaminya sampai ke tempat pembayaran. Setelah membayar makanan, keduanya keluar. Jun meraih lengan sang istri dan mengecup keningnya sebelum berpisah.
"Assalamu'alaikum dong," protes Khati.
"Assalamu'alaikum, Cantik," imbuh suaminya dengan senyum lebar. Pria itu yang banyak tidak mengerti tentang kehidupan yang dekat dengan agama, lambat laun belajar dari sang istri. Ia mengagumi Khati juga karena wanita itu taat beragama.
"Waalaikumsalam." Wanita itu meraih tangan sang suami, dan mengecup punggung tangan pria itu.
Mereka berpisah. Khati kemudian melihat-lihat pakaian yang diinginkannya. Ia sempat melirik ke daerah pakaian muslim. Ia ingin sekali membeli satu saja jilbab untuk dirinya sendiri. Satu saja ... ia rindu memakainya.
"Julia!"
Khati memutar kepalanya mencari sumber suara. Kedua matanya membola. "Dimitri?"
__________________________________________
__ADS_1