
Jun kembali menyentuh pergelangan tangan sang istri dan menatap wajahnya dengan sungguh-sungguh. "Mmh? Kita lari keliling komplek satu putaran, bagaimana? Lumayan lho, membakar kalori."
Khati akhirnya menurut. Keduanya melangkah ke lantai atas berganti pakaian dengan baju training dan kemudian keluar kamar. Jun memakai baju training berwarna abu-abu sedang Khati berwarna biru muda. Keduanya menuruni anak tangga, dan melangkah keluar.
Ketika mereka mulai meninggalkan pintu gerbang, ada dua orang pria yang mengikuti mereka dari belakang berbadan tinggi tegap. Kedua pria itu keluar dari arah rumahnya. Khati sering melihat kedua pria itu berseliweran di luar rumah dan ia pikir kedua orang itu adalah tukang kebun atau sopir. "Kenapa mereka mengikuti kita?" tanyanya setelah melihat ke belakang.
"Oh, mereka bodyguard."
Wanita itu masih memperhatikan keduanya.
"Bodyguard tak harus berbadan besar, Sayang. Karena itu mereka bisa menyamar."
"Pantas, susah dikenali kalau mereka bodyguard." Khati memutar kepalanya ke arah sang suami. "Jadi bodyguard yang menjagaku di luar, juga beda?"
"Tentu saja, Sayang. Mereka 'kan harus terus menerus menjagamu, karena itu mereka bergantian shift."
"Wah, banyak sekali."
"Itu karena pekerjaanku, Sayang. Aku harus melindungi keluargaku dari orang jahat, demi agar aku bisa tetap netral dalam bekerja. Pekerjaanku tidak boleh ada campur tangan orang ketiga dalam mengambil keputusan."
Pria itu mulai mengajak istrinya berlari-lari kecil. "Ayo! Siapa yang duluan sampai, bisa dapat potongan Macaroni Schotel paling besar." Pria itu langsung meninggalkan Khati.
Tentu saja wanita itu tak mau ketinggalan. Ia berlari-lari mengejar Jun. "Tunggu! Curang, gak pake aba-aba!"
Pria itu terkekeh, tapi ia selalu menunggu istrinya saat tertinggal di belakang. Kaki Jun yang panjang, dengan mudahnya melangkahi jalan dengan cepat, sedang wanita itu harus berlari sekuat tenaga untuk mengejarnya. Hingga satu putaran terlewat sudah. Mereka kembali dengan Jun sebagai pemenangnya.
Khati yang menguncir rambutnya buntut kuda ke belakang, wajahnya sudah basah oleh peluh. Ia mengusap keringat dengan handuk kecil yang memang sudah tergantung di lehernya.
Sedang Jun, ia tak membawa handuk, sehingga mendatangi istrinya. "Aku keringatan nih, tolong!" Pria itu menunjuk wajahnya yang sudah bercucuran keringat hingga kepala dan rambutnya basah.
"Lagi, kenapa gak bawa handuk sih?" Khati menarik handuknya di leher dan mengusap wajah sang suami sambil menepuk-nepuk agar keringatnya menyerap pada handuk.
"'Kan ada istri, kenapa harus pusing?" Pria itu tersenyum lebar. Ia menikmati semua usapan lembut dari sang istri di wajahnya.
__ADS_1
Khati merengut kesal, tapi ia juga menikmati memanjakan pria itu. Ia sampai-sampai harus berjinjit untuk mengeringkan rambut suaminya. Jun membantunya dengan sedikit membungkuk. Padahal mereka sudah berada di depan rumah tapi Khati masih sibuk mengeringkan kepala sang suami.
Beberapa pegawai di rumah itu memperhatikan kemesraan keduanya. Mereka iri pada keduanya yang walaupun tinggal di kamar terpisah tapi seperti saling mencari dan menjaga. Terutama hakim Jun yang matanya tak pernah lepas dari sang istri. Ia sering menanyakan keberadaan istrinya saat Khati tak ada.
Tak ada yang berani bertanya kenapa keduanya tinggal di kamar terpisah. Karena itu mereka melihat keduanya sebagai pasangan yang aneh. Jun dan Khati kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kalau kita mandi dulu sebelum sarapan?"
"Boleh." Angguk Khati.
Keduanya kemudian masuk ke kamar masing-masing. Tak butuh waktu lama, Jun keluar dan mendatangi meja makan. Di sana terhidang Macaroni Schotel yang baru matang. Khati kemudian datang menyusul setelah mengeringkan rambutnya. Ia mengambilkan bagian buat sang suami di sebuah piring dan menyodorinya botol sambal.
"Makasih, Sayang. mmh, sepertinya enak." Jun langsung meraih botol sambal dan menuangnya di pinggir piring.
Khati pun mengambil bagiannya dan mulai makan. Baru beberapa menit mereka makan, seorang pembantu tergopoh-gopoh masuk dari pintu depan mendatangi keduanya.
"Eh, maaf, Pak. Ada tamu. Katanya bapaknya Ibu."
Julia sebenarnya berasal dari keluarga yang kaya, tapi kedua orang tuanya bercerai. Ibunya kemudian meninggal karena kecelakaan hingga ia tinggal dengan ayahnya. Sayang, sang ayah sangat sibuk bekerja dan sering keluar negeri, sehingga Julia sedari kecil terpaksa mandiri dengan tinggal di asrama sekolah.
Jun panik, karena hal ini terlewat dari perhitungannya. Ia memutar otak sambil menggaruk-garuk kepala. Khati pun terlihat bingung.
"Eh, Sayang. Bagaimana kalau kamu ke atas saja?" Pria itu menarik istrinya ke arah tangga. "Eh, tolong tunggu sebentar ya?" ucapnya pada pembantu tadi.
"Iya, Pak."
"Bagaimana ini?" bisik Khati pada suaminya.
"Ayo, cepat ikut aku ke atas," bisik pria itu pada sang istri. Keduanya berlari kecil di tangga dan masuk ke dalam kamar Jun. "Kau pura-pura sakit saja."
"Apa?"
Jun menarik sang istri ke ranjang dan menyuruhnya berbaring di sana. Ia mengangkat selimut ketika sang istri naik ke atas pembaringan. "Kalau kau pura-pura sakit, dia pasti tidak begitu memperhatikanmu. Jadi kau aman."
__ADS_1
Wajah Khati terlihat khawatir. Tentu saja, karena orang yang datang kali ini adalah orang yang sangat mengenal Julia, jadi ia tentu saja tak boleh membuat satu pun kesalahan. Padahal ia tak tahu bagaimana hubungan Julia dengan sang ayah dan itu sangat mengusiknya.
Jun segera keluar dan menuruni anak tangga. Ia kemudian menyambut sendiri pria itu di pintu depan. "Eh, pagi," sambutnya dengan sedikit gugup.
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang tak lagi muda, berdiri di depan pintu. Ia memegang tongkat besi berwarna hitam dengan kaki runcing, kini mengamati wajah hakim di hadapannya itu. "Kamu pasti hakim Jun, 'kan?"
"Assalamu'alaikum." Kepala Jun sedikit tertunduk. Ia teringat kata-kata istrinya untuk memberi salam.
"Assalamu'alaikum? Oh, ya. Waalaikumsalam," ucap pria paruh baya yang berpakaian jas lengkap itu. Ternyata pria itu mau menjawab salam Jun. Mungkin karena lama tinggal di Inggris, gaya pria Inggris yang sangat kaku itu tergambar jelas dari gaya bicaranya. Wajahnya yang tampan itu sangat mirip dengan Julia, sehingga sekali melihatnya, orang akan tahu dari mana asal kecantikan model terkenal itu. "Boleh aku masuk?"
"Oh, silakan." Jun membukakan pintu lebih lebar.
Pria itu kemudian masuk. "Aku ingin tahu kenapa kalian menikah tanpa aku, ayahnya."
Hakim itu mendekati ayah Julia dengan sedikit menunduk. "Maafkan kami. Pada saat itu aku terlanjur tidur dengan putrimu. Aku berusaha bertanggung jawab dengan langsung menikahinya." Ia pasrah bila pria itu akan marah besar padanya.
Pria paruh baya itu di luar dugaan, hanya memutar tubuhnya ke arah sang hakim yang masih menunduk dan memandanginya dengan cermat. "Mmh ... tapi kenapa Julia tak menghubungiku setelah kalian menikah, mmh? Bahkan sampai hari ini di mana kalian sudah 2 bulan menikah dan itu tanpa izin dariku."
Jun terdiam. Ia sendiri bingung, tak tahu bagaimana cara menjawabnya.
"Di mana dia sekarang?" tanya pria itu dengan wajah dingin.
"Eh, dia sedang sakit," ucap Jun pelan.
"Sakit? Sakit apa? Di rumah sakit?" Wajah pria paruh baya itu seketika berubah khawatir.
"O-oh, tidak. Dia hanya demam saja, jadi sekarang dia beristirahat di kamar," jawab Jun masih gugup. Ia tidak tahu ayah Julia orang seperti apa, sehingga ia berusaha bertingkah sopan sebaik mungkin pada pria itu.
"Tunjukkan padaku di mana!" ucap pria paruh baya itu cepat.
__________________________________________
__ADS_1