Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Kembali Muncul


__ADS_3

Terlihat seorang pria masuk ke kafe itu. Jun mengangkat tangannya. Ternyata supir mereka yang datang menyambangi.


"Tolong bawa belanjaan ini ke mobil ya?" sahut Jun pada sang supir.


"Baik, Pak."


"Mas, kenapa kita gak sekalian pulang?" tanya istrinya heran. Padahal sudah tidak ada lagi yang ingin dibeli.


"Mmh, kita jalan-jalan dulu di sini ya? Cuci mata." Jun sebenarnya ingin memancing Damar keluar dan memperlihatkan betapa mereka berdua saling menyayangi, tapi ia tak ingin mengatakannya pada sang istri agar wanita itu tak canggung. "Selama liburan beberapa hari, kamu mau mengerjakan apa? Masak, atau latihan senam di rumah?"


"Mmh ...." Khati berpikir sebentar. "Kamu 'kan sudah membelikanku mobil, Mas. Aku ingin belajar nyetir."


Jun terkejut. Ia baru sadar Khati tak bisa menyetir, padahal Julia yang asli pandai menyetir. "Oh, kalau begitu, kau harus belajar menyetir."


"Iya, Mas."


-----------+++---------


Selama cuti senam, Khati berolahraga di rumah. Ia juga sesekali masak, dan ikut kursus menyetir. Tidak butuh waktu lama untuk wanita itu belajar menyetir, dan ia sudah bisa membawa mobil hadiah dari sang suami keluar rumah. Sayang, ia masih belum boleh pergi dari rumah atau menyetir sendiri tanpa sepengetahuan Jun, tapi ia masih bisa menikmati kehidupannya di dalam rumah itu dengan bersantai.


Sesekali di dalam kamar, ia mencoba memakai jilbab instan yang disembunyikannya itu, sambil mematut diri di cermin. Betapa ia sangat rindu memakai benda itu di kepalanya. Kapankah hari itu akan datang?


---------+++----------


"Julia, malam ini ada pesta di rumah pejabat. Tolong temani aku, ya?" Jun pulang membawa kabar.


"Oh."


"Kenapa?"


"Aku boleh pakai baju muslim itu 'kan ya?" tanya Khati sedikit manja. Ia segan pergi ke pesta dengan menggunakan pakaian seksi lagi.


Pria itu mendekati sang istri, dan meraih pinggangnya dengan senyum tersungging di bibir. "Tentu saja, Sayang. Kau 'kan sudah menjadi seorang istri. Apalagi pejabat ini berasal dari keluarga muslim yang taat. Sangat dianjurkan sekali berpakaian sopan di sana."


Khati begitu senang. "Oh, ok. Aku pakai baju yang mana ya?" Wanita itu sudah sibuk dengan pikirannya hingga meninggalkan suaminya sendirian, lalu menaiki tangga.


Pria itu makin menautkan ujung bibirnya karena senang. "Oya, nanti kita berangkatnya habis Isya, ya!" teriaknya dari bawah tangga.


---------+++---------


Suasana pesta di rumah pejabat itu cukup meriah. Banyak tamu undangan yang datang dari kalangan pejabat dan pengusaha. Jun datang dengan memakai batik di dampingi sang istri, Khati dengan baju sari Indianya.

__ADS_1


Pria itu meraih tangan sang istri dan mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. "Mungkin Damar ada di sini. Kau sudah menghidupkan HPmu 'kan?" bisiknya.


Khati mengangguk. "Iya."


"Ikuti aku dulu, nanti kita berpisah."


Khati mengikuti Jun, dan mereka menemui pejabat yang mengadakan pesta. Keduanya bersalaman dengan suami istri itu dan mengobrol sebentar. Sekilas, Jun melihat Damar, hingga ia tersenyum senang.


Pria itu kemudian membawa Khati ke arah lain. "Sayang, aku sudah lihat dia tadi. Dia ada di pesta ini. Ok, aku akan mengobrol dengan yang lain, nanti kamu memisahkan diri ya?"


"Oh, iya." Lama tak bertemu membuat jantung wanita itu berdetak tak karuan. Sejujurnya ia tak ingin bertemu dengan Damar lagi setelah ia mendengar pengakuan jujur pria itu tentang dirinya, tapi ada tugas yang harus ia selesaikan yaitu menemukan siapa pembunuh Sofia. Padahal setiap ia membayangkan Damar, ia ingin sekali mengha jar pria itu sampai hatinya puas.


Jun menemukan seorang penjabat yang dikenalnya. Pejabat itu tentu saja senang bertemu lagi dengan hakim itu. Sekalian, Jun memperkenalkan sang istri dan mereka mengobrol bersama.


Seperti instruksi sang suami, Khati memisahkan diri karena ingin mencari makanan. Saat itulah seseorang mendatanginya. "Julia."


Khati terkejut menatap sosok pria tinggi kurus di depannya. "Dimitri?"


"Apa kabarmu?"


"Eh, baik." Wanita itu sedikit enggan melayani. Bukan saja karena pria itu bukan targetnya tapi suaminya sudah memperingatkan untuk tidak mendekati pria ini.


"Kamu tampak cantik sekali hari ini."


"Aku dengar, kau tak lagi jadi model. Apa sekarang kau bekerja?" Pria itu ternyata juga sedang mencari makanan. Ia mengambil sepotong kue dan ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Oh, tidak. Aku sekarang jadi ibu rumah tangga saja."


"Mmh, Sayang sekali. Apa kau tidak ingin memikirkan tawaranku?"


Melihat pria itu terus berusaha mengobrol padanya, wanita itu berusaha menghindar. Sedikit sulit baginya karena pria itu sangat sopan. Padahal, tepat pada saat itu ada Damar yang melihat keberadaan mereka berdua.


"Eh, maaf. Aku mau ambil minum dulu," pamit Khati tapi Dimitri malah menyodorkan gelasnya.


"Ini ambil saja. Aku belum minum." Pria itu menyodorkan jus jeruk dalam gelas kecil.


"Oh, aku mau mengambil minum untuk suamiku juga." Khati beralasan.


Dimitri menghalangi dengan tubuhnya hingga wanita itu gagal melangkah ke depan. "Suamimu sedang sibuk mengobrol dengan koleganya. Biarkan saja. Kau telat sedikit juga tidak apa-apa."


Khati jadi serba salah. Kini ia harus bagaimana menghadapi pria ini? " Eh, maaf, tapi pasti suamiku tak suka ini. Dia 'kan sudah bilang padamu agar kamu tak mendekati aku. Aku tak ingin kalian bertengkar gara-gara aku."

__ADS_1


"Kalau menurutmu bagaimana?" Pria itu masih belum mau melepas Khati.


"Apa?"


"Apa kamu takut pada suamimu?"


Apa maksud pria ini, aku tak mengerti? "Dimitri, aku ...."


Tiba-tiba Jun muncul di antara keduanya dengan wajah kesal. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik istrinya pergi dari situ. Khati yang kaget hanya mengikuti ke mana sang suami membawanya.


Pria itu melihat sebuah ruangan terbuka yang terlihat kosong. Hakim itu membawa istrinya ke sana dan menutup pintu. Ia tak menyadari Damar mengikuti mereka.


"Julia, aku sudah bilang. Jangan dekati Dimitri!" ucap Jun keras pada istrinya.


"Aku tidak mendekatinya, dia mendekatiku. Aku sudah berusaha menghindar tapi ia dekati aku terus," terang Khati. Ia tak ingin sang suami salah sangka.


"Khati, umpan sudah di depan mata, fokuslah!"


Wanita itu hanya terdiam. Ia sudah berusaha tapi sang suami tak kunjung mengerti.


"Kalau dia mendekatimu lagi, jangan gubris. Ok?"


Wanita itu merengut. Saat itulah Damar membuka pintu dengan pelan. Ia melihat sang wanita merengut karena dimarahi sang suami.


"Khati, kau dengar kata-kataku?" Jun bertanya dengan tegas.


Khati? Kenapa ia memanggil Julia dengan 'Khati'? Dia 'kan Julia? Kening Damar berkerut.


"Sayang?" panggil hakim itu lagi.


"Iya," sahut Khati dengan kesal.


"Ayo ke sini." Hakim itu memanggilnya.


Karena masih kesal, wanita itu bergerak dengan enggan. Damar melihat keanehan ini. Sang hakim merentangkan tangan dan wanita itu bergerak ragu-ragu ke arah Jun.


"Kau harus mendengarkan perintahku, kalau tak ingin ada masalah," ujar hakim itu lagi.


"Masalah apa?" Tiba-tiba Damar membuka pintu.


"Apa?" Jun terkejut, demikian juga Khati. Keduanya tak menyangka Damar menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kamu itu punya berapa wanita sih? Kau juga pacaran dengan mantan istriku ya? Memanggil Julia dengan Khati, heh! Kalau kau tak bisa setia dengan istrimu, berikan saja ia padaku!" Dengan lantang Damar menabuh genderang perang pada Jun.


Jun dan Khati saling berpandangan.


__ADS_2