
Jun memang mendatangi cinta pertamanya, Julia di penjara isolasi. Tubuhnya kini lebih kurus dari sebelumnya. Entah karena tidak nyaman atau stres yang dideritanya.
"Jun?" Wanita itu terkejut melihat kedatangan pria itu. Sudah lama sekali rasanya tidak ada yang mengunjunginya dan yang mengunjunginya hanya pria ini. Ia bahkan tidak tahu tanggal dan hari karena tak pernah berinteraksi dengan seorang pun.
Walaupun ragu, tapi kali ini pria itu tak sesentimentil dulu. Ia lebih bisa berpikir jernih dan bisa fokus melihat masalah. "Maaf, tapi kali ini aku datang sebagai hakim dan ingin menunaikan tugasku. Aku harap kita tidak mengungkit masalah lain selain yang aku tanyakan denganmu."
"Baiklah." Wanita itu mengangguk pelan. Sepertinya, Julia lebih bisa menerima dirinya yang sekarang. Ucapannya tidak lagi sekeras dan ketakutan seperti dulu. Namun bagaimana kalau ia mendengar pertanyaan hakim Jun yang sekarang ini?
Pria itu mengeluarkan ponselnya lalu merekam. "Apa benar kau membunuh Sofia?"
Wanita itu, yang duduk di ranjang, menunduk. Pria itu duduk di sisinya. Julia berusaha tersenyum. "Iya. Memang aku pembunuhnya."
Sempat hati goyah, tapi Jun memutuskan untuk meneruskan pertanyaannya. "Kenapa?"
Wanita itu memutar wajahnya ke arah pria itu dengan senyum terbaiknya. "Tentu saja ingin jadi satu-satunya. Aku datangi dia dan bilang baik-baik. Toh, wanita itu baru saja habis keguguran. Damar menjadikannya percobaan untuk membuktikan bahwa ia bisa punya anak. Berarti istri pertamanya memang ada masalah dengan rahimnya, tapi wanita ini, dia tidak mau bercerai dari Damar.
Dia marah dan coba mengusirku dengan pisau. Aku tentu saja ketakutan sampai suatu saat dia terpeleset. Saat itulah aku mengambil pisau dan menusuknya berkali-kali. Aku begitu ketakutan."
Air mata wanita itu mulai mengalir pelan walaupun ia berusaha tegar. "Damar pulang tepat pada saat aku bingung harus bagaimana. Tubuh istrinya sudah kaku. Ia pulang bersama pembantu rumah tangganya entah dari mana. Mereka berdualah yang membersihkan tempat itu, dan setelah itu, Damar menyuruhku pulang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu."
Wajah wanita itu terlihat sendu dan air matanya belum berhenti berderai. Ia menatap ke lantai penuh penyesalan. "Aku bukannya kuat. Tiap hari rasa bersalah itu datang padaku hingga aku sulit tidur. Damar selalu membesarkan hatiku bahwa apa yang aku lakukan itu adalah membela diri. Sejak aku tinggal di sini, tidurku nyenyak walau makanku masih susah."
"Apa kau tahu, kasusmu ini adalah kasus mantan istri Damar yang berarti hukumannya adalah hukuman mati."
"Iya."
"Sekarang, Damar sendiri yang melaporkanmu sebagai tersangka."
Wanita itu menghela napas berat. Dengan sedikit gemetar ia melanjutkan kata-katanya. "Akhirnya ia sadar, aku tak terampuni."
Pilu melihat wanita itu kini ikhlas menerima kenyataan hukumannya. Jun hampir mengeluarkan air mata melihat nasib wanita yang pernah dicintainya itu sekarang ini. Ia mengambil napas pelan. "Aku akan berusaha yang terbaik untuk dirimu. Oya, aku tidak tahu nomor telepon ayahmu. Bolehkah aku ...."
"Tolong jujur padaku. Apakah aku akan selamat?" Kini wanita itu menatap ke arah Jun. Air matanya tak lagi menetes di pipi tirusnya.
__ADS_1
Tenggorokan Jun serasa tercekat. Sejujurnya wanita ini takkan bisa lolos dari hukuman ini, karena itu .... "Maaf."
Wanita itu terlihat kecewa. Senyuman yang dibuatnya pun terasa hambar. "Kalau begitu. Secepatnya saja, agar ayahku tak melihat bagaimana aku mati."
Sungguh. Seandainya ini orang lain, Jun pasti kuat tapi kali ini ia tak bisa menahan tangisnya. Air mata mengalir tanpa diminta. "Julia, maafkan aku." Pria itu tertunduk. "Mungkin aku banyak salah padamu. Aku ...."
"Jun."
Pria itu mengangkat kepalanya.
Wanita itu tersenyum. "Terima kasih."
Jun benar-benar tak tega. Ia memeluk wanita itu dengan erat. Tubuhnya yang ringkih dan pasrah bisa ia rasakan. Wanita itu sudah ikhlas. Mungkin untuk terakhir kalinya ia bisa memeluk tubuh itu. Pelukan selamat tinggal yang menyakitkan.
-------+++--------
Jun baru saja keluar dari penjara, menuju mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia melihat nama Khati di ponsel itu. Baru saja ia mengangkatnya, ada suara laki-laki di ujung sana langsung memanggil namanya. "Pak Jun?"
Hakim itu mengerutkan dahi. "Iya. Kenapa Anda memegang HP istri Saya?"
"Oh, begitu."
"Tapi di mana istri Anda, karena kami mencarinya ke rumah katanya dia baru keluar."
"Apa?" Kenapa dia bilang Khati baru keluar? Khati 'kan sekarang sedang operasi? "Eh, istriku sekarang ada di penjara isolasi, jadi jangan sebarkan berita macam-macam di media." Jun memperingatkan. "Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa periksa sendiri ke sini. Aku sekarang menuju ke tempat lain jadi jangan ganggu aku dengan hal yang aneh-aneh lagi." Jun menutup teleponnya tapi kata-kata polisi itu mengusik hatinya.
Ia segera menelepon klinik kecantikan itu. "Halo?"
"Oh, ini Pak Junkah?" sahut suara di ujung sana.
"Iya. Bagaimana operasi istriku itu? Apa semuanya berjalan lancar?"
Terdiam sebentar, dokter itu akhirnya menjawab. "Maaf, Pak. Istri Anda pulang sebelum operasi."
__ADS_1
"Apa?" Jun tak percaya mendengar ucapan dokter itu. "Dia pulang?"
"Iya, Pak. Dia pulang. Dia tak ingin dioperasi."
"Kenapa tidak dicegah?" ucap hakim itu sedikit marah.
"Ya, kami tidak bisa memaksa orang untuk operasi, Pak. Istri Bapak bahkan meminta kembali uangnya."
Pria itu bingung. Di saat genting begini, kenapa Khati malah pergi? Ia tak mengerti jalan pikiran istrinya ini, padahal sangat berbahaya bagi Khati untuk berkeliaran sendirian di luar sana. Ia kemudian menelepon asistennya. "Todi, kau tahu alamat paman Khati yang di luar kota? Tolong cari tahu, apa istriku pergi ke sana. Pastikan ini dilakukan secara rahasia. Gara-gara kamu, istriku kabur, Todi. Kau harus bertanggung jawab. Kalau benar istriku ada di sana, aku akan menjemputnya."
"Maaf. Baik, Pak."
Jun benar-benar frustasi. Kalau ada yang melihat Khati dengan wajah Julia bagaimana? Sedang sekarang saja, di luar sana sudah ribut para wartawan mencari dirinya terkait kasus pembunuhan ini. Bayangkan saja. Istri seorang hakim agung, membunuh. Tanpa melakukan hal buruk sekalipun ia terancam dimutasi.
Ini benar-benar berat. Mau tak mau ia harus mempercepat eksekusi mati Julia demi keselamatan Khati. Dirinya dimutasi tak masalah, tapi bila sesuatu terjadi pada Khati, ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri. Karena ia sudah mengorbankan Julia, ia harus menyelamatkan Khati. Khati, kau di mana? Jun menjambak rambutnya sendiri karena kesal. "Eh!"
---------+++--------
Khati tak ditemukan. Ia bak ditelan bumi. Jun makin frustasi. Begitu banyak badai yang harus ia hadapi sendirian.
Julia akhirnya dieksekusi mati. Ini karena Damar mengubah pernyataan bahwa wanita itulah yang membunuh istri keduanya. Di media sosial berita ini menjadi gosip yang laris. Spekulasi bahwa Julia berselingkuh dengan Damar sebelum menikah dengan hakim Jun, menjadi berita hangat.
Ada pula yang menggosipkan pernikahan dengan hakim Jun sebagai cara lepas dari hukuman mati, tapi akhirnya Jun sendiri yang menyetujui hukuman mati itu. Karena itu, ia dianggap orang baik yang dimanfaat sehingga banyak yang bersimpati padanya.
Jun terpaksa mempercepat hukuman mati itu demi Khati, pesan terakhir Julia dan ayah Julia. Kalau sampai ayah Julia bertemu dengan anaknya terlebih dahulu, penyamaran Khati bisa terbongkar. Karena Julia tidak pernah menikah dengannya.
Eksekusi dilaksanakan. Julia ditembak di sebuah lapangan tertutup, oleh regu tembak. Setelah itu jenazahnya dikubur di sebuah pemakaman umum.
----------+++--------
Pintu diketuk.
"Ya?"
__ADS_1
"Pak, ada tamu. Ayah ibu Julia," sahut pembantu rumah tangganya.
Jun terkejut. Ia tidak tahu reaksi apa yang pria bertongkat itu akan lakukan. Ia membuka pintu. Tepat di depannya berdiri ayah Julia dengan wajah angker.