
Sebenarnya di rumah sakit, bukan tidak ada yang peduli padanya tapi rumah sakit tengah menerima korban kecelakaan yang berjumlah cukup banyak. Jadi, bukan wanita itu saja tapi banyak pasien yang terbengkalai. Padahal ia sudah merasakan perutnya mulas. Ia bingung apa harus melahirkan di sana atau di tempat lain.
Tiba-tiba mulas di perutnya mulai menghilang. Ia jadi ragu hingga menunggu sebentar. Sepertinya, sudah benar-benar menghilang karena itu ia berniat pulang. Apalagi dia sendirian. Lita sedang pulang kampung karena neneknya sakit sedang teman-teman kontrakannya yang lain sedang pergi bekerja.
Khati berusaha keluar lewat pintu depan tapi ada saja yang tiba-tiba masuk sehingga ia terdorong masuk ke dalam. Arus orang yang sedang keluar masuk banyak, sehingga ia sulit keluar. Terpaksa ia tinggal di dalam rumah sakit dan mencari tempat duduk. Di sana pun banyak korban yang terpaksa duduk demi menunggu bantuan.
Ada seorang anak kecil yang sepertinya terpisah dari keluarga dan duduk di antara para korban. Wajahnya ketakutan karena tidak mengenal siapa pun. Mata bocah itu berkaca-kaca dengan rambut yang berantakan. Dahinya berdarah tapi bocah itu berusaha tegar.
"Kenapa, Dek? Mamanya mana?"
Bocah itu menengadahkan kepalanya menatap ke arah Khati. "Mama ...."
Wanita itu menoleh ke sekeliling. Tidak ada tempat untuk bertanya karena semua petugas kesehatan sedang sibuk. Ia iba pada anak kecil itu. Untung saja, ada kursi yang kosong di samping anak kecil itu sehingga Khati bisa meletakkan tasnya. "Sebentar ya, Dek."
Wanita itu bergerak ke apotik yang kosong ditinggal pegawainya entah ke mana. Ia dengan mudahnya mengambil perban, obat dan yang lainnya pada sebuah baki, dan membawanya keluar. Khati kemudian kembali dan mengobati anak ini. "Sebentar ya, Dek. Gak sakit kok."
Bocah itu mengangguk. Khati membersihkan luka bocah itu dengan tisu basah, lalu diberi obat merah karena ternyata hanya luka ringan. Ia merapikan rambut bocah itu.
"Dek, Saya juga. Tangan Saya luka." Seorang ibu-ibu tua di samping anak kecil itu menyahut. Ia menunjukkan luka di punggung tangannya.
Khati kemudian membersihkan luka ibu itu dan memberinya perban. Ternyata yang lain juga minta tolong Khati untuk diobati. Sebagian besar yang duduk di kursi adalah mereka yang terluka ringan.
"Eh, iya." Khati terpaksa mendatangi mereka satu-satu dan mengobatinya. Padahal ia dalam kondisi hamil besar. Untung saja tubuhnya masih sigap membantu mereka yang terluka.
"Eh, ibu! Ya Allah ... Ibu jangan sembarangan
mengobati orang ya? Ibu 'kan bukan petugas rumah sakit. Ini obat-obatan, dapat dari mana lagi? Ibu mencuri ya?" Seorang suster menegur Khati dengan keras.
"Eh, Sus. Saya cuma bantu mereka, Sus, karena gak ada yang nolong. Ini nanti Saya bayar kok!" sanggah wanita hamil itu. Padahal ia hanya niat menolong tapi malah kena teguran pihak rumah sakit.
Seorang pria kurus berjas dokter, menoleh ke arah keributan. Ia segera mendatangi tempat itu. "Ada apa ini?" tanyanya membetulkan letak kaca matanya.
"Oh, dokter. Ini, dok, ada yang lancang mencuri obat dan mengobati pasien yang datang," lapor suster itu.
"Tidak, dok. Aku tidak mencuri obat. Aku niat mau bayar kok, tapi gak ada petugasnya. Padahal yang sakit banyak. Jadi aku ambil dulu baru bayar belakangan," sanggah Khati lagi pada dokter itu.
__ADS_1
Sang dokter melihat tubuh Khati yang sedang hamil besar. Keadaan wanita itu mengingatkannya pada seseorang. "Eh, Ibu. Anda ini ke sini untuk apa?" Ia tidak melihat Khati terluka.
"Eh, aku rencananya mau melahirkan, dok, tapi mulesnya hilang. Jadi tadi aku mau pulang."
Suster itu bertelak pinggang. "Lalu kenapa gak pulang?"
"Aku 'kan gak bisa keluar. Dari tadi orang-orang dari pintu depan, ramai masuk terus. Orang seperti Saya mana bisa dorong-dorongan di pintu, Sus," sahut wanita hamil itu.
"Kalau begitu, Ibu bisa keluar lewat pintu belakang." Dokter itu menunjukkan arahnya.
Khati kemudian beranjak berdiri dan mengambil tas besarnya. Saat itulah jalannya mulai lamban.
"Sini Saya bawakan." Dokter itu meraih tas Khati dan membawanya.
"Terima kasih, dok."
"Jangan lupa, bayar obatnya!" Suster itu mengingatkan.
"Iya," sahut Khati dongkol. Orang-orang di sana juga kesal dengan suster itu, karena mereka tak mendapat penanganan medis tapi ketika ada yang menolong mereka, malah dimarahi hanya karena Khati bukan petugas rumah sakit.
"Lain kali jangan begitu ya, Bu. Di sini ada petugas yang mengurusnya," ucap dokter itu dengan lembut pada Khati.
"Ibu, sendiri ke sini?"
"Iya, dok."
"Kenapa gak didampingi? Suami Ibu ke mana?"
Khati menoleh pada dokter itu. "Tidak bisa. Dia tidak bisa."
Dokter itu tidak mengerti dengan kata-kata wanita itu, tapi ia cukup iba.
"Ah ...." Khati merasa pergerakan di perutnya dan ia mulai mulas lagi.
"Kenapa? Sudah terasa?"
__ADS_1
Khati mengangguk.
"Ok, kita cari kamar." Mereka kemudian ke tempat pos suster untuk mencari tahu kamar yang kosong. Tak lama Khati naik brankar yang kosong karena rasa mulasnya sudah tak tertahankan. Ia dilarikan ke ruang operasi. Sementara pria itu menelepon dokter yang bersangkutan. Ternyata prosesnya cepat. Wanita itu dengan mudah melahirkan normal.
Khati melihat bayinya yang lahir dengan selamat tak kurang suatu apa pun. "Alhamdulillah." Ia meneteskan air mata karena melihat bayinya sehat. Bayi itu menangis ketika keluar dari tubuhnya.
"Bayinya laki-laki, Bu," sahut seorang suster memberi tahu.
Khati menangis bahagia. Beberapa saat kemudian, bayi itu dibersihkan dan diberikan pada ibu si bayi. Khati belajar menyusuinya. Mulut bayi itu mencari-cari sumber minumnya sementara Khati memperhatikan dengan senyum terukir di wajah. Bayi itu dibungkus kain yang sedikit longgar, dan wajahnya terlihat lucu. Matanya masih terpejam.
Tak lama ia bertemu sumber susunya dan langsung menyedot dengan kuat. Khati begitu bahagia hingga mengusap kepala bayi itu dengan lembut. "Jadi anak pintar Mama ya, Sayang."
Tak lama bayi itu tertidur. Khati tak percaya kini ia sudah menjadi ibu. Keinginannya yang sudah lama ia pendam bersama pasangannya dulu, Damar. Kini ia malah mendapatkannya ketika ia tidak punya pendamping. Sungguh, takdir Allah siapa yang akan mengetahuinya. Begitu mungkin keadilan ditegakkan. Bahwa kita sebagai manusia tidak selamanya mendapatkan apa yang kita inginkan. Mungkin takdir inilah yang terbaik untuknya.
"Sini, Bu, bayinya mau ditaruh di boks bayi," sahut seorang suster.
"Oh, iya."
Tepat saat itu, dokter berkacamata itu masuk. Ia melihat Khati menyerahkan bayi itu pada seorang suster.
"Apa tidak ada yang bisa mengadzankannya, Bu," tanya suster itu karena melihat Khati berjilbab.
Seketika wajah Khati bersedih. "Siapa ya, yang bisa?" gumamnya lirih.
"Eh, kalau aku bagaimana?" Dokter itu datang menyambangi.
Keduanya menoleh. Suster itu terlihat bingung. "Eh, Bapak ...."
"Kalau boleh ...." Pria itu ragu.
Wanita itu tersenyum senang. "Terima kasih."
Dokter itu mengambil bayi itu dan mulai mengadzankan di telinga sang bayi. Setelah selesai, ia memberikan bayi itu lagi pada sang suster. Suster itu tentu saja terlihat bingung dengan sikap dokter itu, tapi ia kemudian membawa bayi itu pergi.
Khati buru-buru merapikan pakaiannya dengan menarik jilbab instannya ke bawah. Ia melihat pria itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Eh, aku tidak terlalu lancang 'kan?" tanya dokter itu pada Khati.
"Eh, tidak, dok. Terima kasih." Sebenarnya wanita itu tidak nyaman dengan kehadiran dokter itu di sana karena dokter itu sepertinya bukan dokter kandungan dan pria itu juga datang tidak tepat waktu. Saat itu jilbabnya berantakan dan wajahnya lelah. Ia menarik selimutnya ke atas.