Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Menunggu


__ADS_3

"Apa urusannya denganmu? Dia istriku!" sahut Jun tak kalah tegas.


"Huh, pantas aku merasa aneh. Apa kau telah merampas pacarku dengan trik kotormu itu? Heh, hakim macam apa kamu? Bisa-bisanya berdiri di atas jabatan yang mulia itu. Kau tak lebih dari hakim sampah yang bisanya hanya bersumpah palsu!"


Jun hampir saja menghajar pria itu bila saja tangan sang istri tak menahannya. Khati menggeleng dan dalam genggaman tangan sang istri, amarah hakim itu reda.


Hakim itu bersyukur penyamaran Khati yang hampir ketahuan itu, terselamatkan. "Mau mendapatkan istriku?" ejeknya dengan mata menyipit pada pria berkacamata itu. "Dalam mimpi!" ledeknya tepat di depan wajah Damar. Ia menggandeng istrinya dengan bangga melewati pria berkacamata itu.


Damar sangat geram karena Khati membela suaminya. Ia sangat yakin wanita itu terpaksa menikah dengan hakim itu, hanya saja ia tak tahu alasannya. Ia bisa melihatnya karena wanita itu terlihat enggan mendekati suaminya sendiri.


Di dalam mobil Jun melingkarkan tangannya pada lengan sang istri karena senang. Berkat wanita itu ia bisa menahan emosi. Kasus pembunuhan ini belum terpecahkan, sehingga sebaiknya ia menghindari kasus baru lagi dengan Damar. Ini agar Damar leluasa bergerak dan Khati kembali bisa mendekatinya dan mengorek keterangan dari pria itu. "Terima kasih, Sayang. Untung kau bisa menghentikanku."


Wanita itu hanya tersenyum dengan wajah sedikit khawatir.


"Maaf tadi aku marah-marah padamu, tapi aku kaget kenapa ada Dimitri di sana. Ini mengganggu rencanaku," ucap hakim itu setengah berbisik. Ia tidak ingin sopirnya menguping pembicaraan mereka.


"Tapi aku sungguh-sungguh tidak berusaha mendekati Dimitri, Mas," terang Khati untuk kesekian kalinya.


"Mmh." Jun percaya karena istrinya wanita yang setia. Walaupun mereka hanya menikah untuk sebuah misi terselubung, tapi istrinya selalu menjaga diri dari pria lain.


Itulah bedanya Khati dengan Julia yang semakin membuatnya kagum. Walau bagi Damar wanita ini hanya setumpuk uang, tapi bagi Jun wanita ini adalah permata. Karena itu, ia berharap pernikahan ini bisa selamanya, apalagi ia mulai jatuh hati pada pemilik mata sendu ini.


Kenapa tadi ia begitu emosi. Ia sendiri juga tidak tahu. Apa ini yang dinamakan cemburu?


Jun memeluk erat lengan sang istri. Padahal Khati merasa tak nyaman, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus pura-pura di depan umum demi perannya sebagai istri seorang hakim.


---------+++-------


"Mas." Khati menyentuh Jun di depan kamar pria itu.


Sang pria memutar wajahnya ke arah sang istri. "Kenapa, kamu lapar? Tukar baju dulu ya? Aku juga lapar."


"Bukan itu, Mas."

__ADS_1


"Lalu?"


"Apa ... Mas tak bisa tangkap saja Damar dengan tuduhan berusaha membunuhku. Dengan begitu, Mas bisa menginterogasi dia nanti di penjara. Aku malas, Mas, bertemu lagi dengan Damar. Ingin rasanya aku memukulnya ...." Wanita itu mengayunkan tangannya, tapi ketika mengatakan itu, Khati berhenti bicara. Karena ia tahu, suaminya sudah sering merasakan pukulannya dan ia seketika malu dengan sikapnya itu.


"Aku mengerti perasaanmu, Sayang. Aku juga salah tadi, memanggil nama aslimu tapi yang kulihat, Damar melindungi pembunuhnya. Itu feeling-ku. Jadi susah untuk kita membujuknya memberitahu siapa yang pembunuh istrinya itu. Anak buahku sudah mencoba untuk menggertaknya dulu, tapi tak bisa. Damar bilang bahwa ia tak melihat siapa pun di ruangan itu kecuali kamu."


"Dia benar, Mas, karena dia minta aku datang ke rumahnya. Sebenarnya saat itu aku enggan datang karena aku tak ingin bertemu dengan istrinya, tapi Damar bilang ada yang ingin ia bicarakan dan istrinya sudah diberi tahu tentang kedatanganku. Karena itu aku datang. Aku yang lebih dulu datang ke rumahnya dan menemukan istrinya berlumuran darah."


"Yang anehnya, pembantu yang mengurus rumah itu, tak ada di rumah saat itu. Waktu ditanya penyidik, pembantu itu telah pulang kampung dan ia tak tahu di mana kampung halaman pembantunya itu. TKP pun bersih, Julia. Malah sangat bersih untuk seseorang yang bergumul hidup dan mati."


Khati memiringkan kepalanya. "Tapi, tidak adakah seseorang yang bisa menggantikan posisiku?" Ia sudah malas meneruskan misi itu.


"Justru kamulah yang bisa membujuk Damar. Kamu dekat dengannya dan juga berada di tempat kejadian setelah pembunuhan itu. Walaupun mungkin ia tidak mengatakannya secara gamblang, tapi kamu bisa mengira-ngira keterangannya, mana yang benar mana yang salah.


Pria ini sangat pintar menutup rapat siapa pembunuhnya, Julia. Karena itu, kamu harus bisa membuat ia melakukan kesalahan tanpa disengaja. Aku juga berusaha membuat ia frustasi agar ia menyerah, tapi sulit. Mulutnya terkunci, Julia.


Karena itu, aku mengoperasi wajahmu menjadi seperti sekarang ini agar ia dengan mudahnya mengatakan siapa pembunuh itu, sebenarnya. Ia pasti akan mengatakan pada orang terdekat, siapa sebenarnya pembunuh istrinya itu."


"Aku yakin kau cukup cerdas untuk bisa membujuk Damar mengatakan siapa pembunuhnya. Apalagi, Julia adalah wanita yang diinginkannya. Percayalah, ia pasti akan bicara padamu."


Jun masih melihat keraguan di kedua bola mata wanita itu, tapi ia yakin, Khati mampu membuat Damar bicara.


"Bagaimana dengan Julia yang asli? Apa dia bisa bantu?"


Seketika pria itu berubah fokus. "Eh, aku lapar nih. Yuk makan!" Jun langsung masuk ke dalam kamarnya. Kembali wanita itu menghela napas panjang.


------------+++-----------


Hari sudah larut malam, tapi netra wanita itu masih belum ingin tidur. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan Jun. Kenapa Damar ingin melindungi pembunuhnya? 'Kan bila dia mengatakan siapa pembunuhnya, dia juga selamat dari penjara? Apa tidak bodoh, menyembunyikan seorang pembunuh?


Saat aku mati, pembunuhnya berkeliaran di luar sana. Bukan tidak mungkin, suatu saat pembunuhnya datang karena butuh uang dan menakut-nakuti Damar untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Hei, itu terdengar seperti drama di TV! Khati senyum-senyum sendiri.


Tapi benar, keuntungan apa yang dia dapatkan dengan melindungi penjahat itu? Seketika Khati terduduk ketika menyimpulkan arti dari kalimatnya sendiri. Damar tidak sewa orang untuk membunuh istrinya, 'kan? Kalau benar begitu, berarti Mas Jun benar. Damar adalah pembunuhnya!

__ADS_1


-----------+++----------


Khati menuruni tangga. Dilihatnya sang suami sedang sarapan di meja makan dengan santai.


"Sayang, kenapa kamu bangun telat? Apa kamu kurang sehat?"


"Tidak. Hanya aku sedang berpikiran semalaman."


Jun tampak kecewa. Apa usahaku tidak berhasil waktu itu ya? Ini sudah lebih dari dua minggu dan Khati belum menunjukkan tanda-tanda hamil. Ah, sial!


"Mas, kamu dengar gak sama yang aku bicarakan?" Ternyata wanita itu sudah bicara berulang kali, tapi pria itu tidak dengarkan.


"Hah, apa?"


"Sepertinya Mas benar. Damar ada kemungkinan bekerja sama dengan pembunuhnya," sahut Khati yang menarik kursi terdekat dan duduk.


"Bagaimana kamu tahu?" Jun terkejut.


"Bisa saja 'kan dia menyewa pembunuh bayaran?"


"Ah, itu namanya dugaan."


"Tapi hanya itu yang masuk akal, Mas."


"Kalau dugaan itu bisa banyak, Julia, tapi kebenaran hanya satu. Yang kita cari adalah kebenaran."


Khati terdiam sebentar. "Jadi kapan aku harus bertemu dengan Damar lagi?"


Pria itu tersenyum. Ia senang wanitanya kembali bersemangat. "Tunggu tanggal mainnya ya?"


"Mmh, aku ingin cepat menyudahi masalah ini dan kembali bekerja. Aku belum lihat bagaimana suasana kantorku sekarang dan anak buahku pasti butuh bimbingan. Melihat aku tiada dan Damar yang seperti itu pasti kantor sangat kacau sekarang."


Jun yang diajak bicara malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa Khati tidak hamil? Bagaimana caranya aku bisa tidur lagi dengannya?

__ADS_1


__ADS_2