Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Kebenaran


__ADS_3

Beberapa teman kos Khati yang menguping, terkejut. Mereka ternyata mengintip di depan pintu kamar mereka masing-masing, dan saling pandang dengan teman yang lainnya dari samping.


"Iya," sahut Khati pelan. Ia membetulkan gendongannya pada Erlangga yang sibuk menarik-narik jilbab instannya.


"Jadi ... kau mengubah wajahmu juga?" Kedua netra pria itu masih membulat tak percaya.


"Iya, Mas. Jadi ini bukan wajah asliku."


Pria berkacamata itu melongo. Walau gemuknya sama karena baru melahirkan, wajah yang ada di foto itu lebih cantik dari yang sekarang ada di hadapannya. Kenapa wanita ini malah memilih wajah yang biasa-biasa saja, seakan ia tak ingin ditemukan?


Doni sempat mengikuti berita tentang wanita itu, yang berakhir sang wanita tak bersalah dan dibebaskan. Tersangka lain kemudian ditemukan dan menjalani hukuman mati itu.


Yang ia tahu, wanita yang berada di hadapannya ini, bukanlah wanita sembarangan. Ia adalah pemilik Geramus Enterprises, perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan, yang mulai membuka cabangnya di luar kota. "Lalu, kenapa kau malah merubah wajahmu jadi orang lain? Apa masalahmu?"


"Aku telah menikah lagi, tapi suamiku memikirkan wanita lain. Karena itu aku kecewa. Aku tak ingin ditemukan olehnya hingga aku mengoperasi wajahku seperti ini," ucap Khati dengan wajah sendu.


Diperhatikan lagi wajah wanita yang ada di hadapan pria itu dan yang di KTP. Ternyata keduanya mempunyai mata yang sama, mata yang sendu. Berarti Anna tak bohong. Ia memang Khadijah. "Aku juga tak berterus terang kepadamu. Aku sebenarnya adalah anak dari pemilik rumah sakit Sehati," terang Doni lirih.


Khati terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka pria yang terlihat lebih muda darinya itu pewaris rumah sakit tempat ia melahirkan. Dia pikir Doni adalah dokter biasa.


"Jadi kita sepadan 'kan? Sepertinya kita cocok."


Khati merengut. "Tapi aku takut kau takkan bisa melawan suamiku."


"Kalau dia menyia-nyiakanmu, sudah semestinya dia melepaskanmu. Kita bisa mengajukannya ke pengadilan agama."


"Tidak bisa." Khati menggelengkan kepalanya pelan. "Dia adalah hukum."


"Apa maksudmu? Tidak boleh ada yang melakukan kecurangan seperti itu! Anna, eh Khatijah. Aku sanggup membayar pengacara terkenal. Memangnya siapa dia? Polisikah?"


"Junimar Adyaksa."

__ADS_1


Seperti tersambar petir, Doni mendengarnya. "Ju-Ju-Junimar Adyaksa?"


Teman kos-kosan Khati pun terkejut. Pria itu sangat terkenal dan dikagumi. Benarkah hakim itu adalah suaminya?


"Tapi setahuku, hakim Jun menikah dengan foto model yang terkena hukuman mati itu bukan? Pria yang menghukum mati istrinya sendiri?"


"Iya, betul." Tapi dia tidak membunuh istrinya sendiri, batin wanita itu gundah. Ia tidak bisa menerangkan hal ini.


"Dia menikahimu juga?" Pria berkacamata itu hampir tak percaya. Ini lawan berat, tapi untuk mendapatkan wanita ini, ia rela. "Kalau dia sebijak yang dibicarakan orang di media sosial, seharusnya dia mau melepaskanmu, kalau dia tahu betapa kau tersiksa bersamanya."


Wanita itu tertunduk. Mendengar penuturan sang pria, Khati merasa sedih. Ia bahkan bingung kalau hakim itu dengan ikhlas melepaskannya. Seakan ia tak rela.


"Mungkin komunikasi kalian kurang bagus. Biar aku jembatani agar kalian bisa berpisah baik-baik." Doni melihat wanita itu masih bersedih. "Lihat, aku mencintaimu apa adanya. Apalagi yang kau ragukan tentang diriku?"


Khati mengangkat wajahnya. Entahlah. Ia merasa, dengan adanya Doni sejak awal, malah memperkeruh suasana hatinya yang tak jelas ke mana arahnya itu.


--------+++--------


Di sebuah ruang karaoke yang dibuat sedikit redup, ada sorotan lampu warna warni yang membuat pusing kepala. Jun diajak masuk ke ruang itu oleh pemiliknya.


"Oh, bisa, Pak diterangkan." Pria berambut sangat pendek itu menyuruh bawahannya membetulkan lampu. Seketika ruangan terang benderang.


"Lihat, Pak. Bisa untuk meeting juga tempatku," lanjut pria itu.


Jun melihat sekeliling sambil mencoba duduk di sofa panjang. "Tapi aku mendengar hal-hal yang buruk di sini. Walaupun hanya desas-desus tapi aku berharap itu tidak benar. Aku memberitahumu, sebelum sesuatu terjadi di sini." Hakim itu memperingatkan. Ia kenal pejabat pemerintah ini yang tiba-tiba punya bisnis karaoke dan bar, dan ada isu tidak menyenangkan sejak tempat itu berdiri.


Seorang pelayan wanita berpakaian rok mini yang seksi, membawakan minuman ke dalam ruangan itu. Hakim itu melihatnya dengan pandangan yang entah.


"Kalau kau suka dengannya ...."


"Jangan main-main!" hardik hakim itu.

__ADS_1


Sang pria malah tertawa. "Pak Jun, kenapa kamu serius sekali? Jangan terlalu tegang, ayo minum."


Hakim itu melihat minumannya yang terlihat aneh. "Ini tidak ada alkoholnya 'kan?" Ia menunjuk minuman berwarna-warni seperti pelangi itu.


"Oh, ini semacam jus."


Jun mencobanya. Ia menyedot sedikit lewat sedotan. Ada rasa soda dan rasa lain yang ia tak begitu mengenalnya. Rasanya sedikit pahit. "Apa ini?" Ia mencoba lagi. Tiba-tiba kepalanya mulai pusing. "Ah, kau menipuku ya!" ujarnya dengan nada marah. Ia segera bangkit.


Pejabat itu terlihat panik. "Ah, tidak apa-apa. Biar kami tukar minumannya."


"Tidak!" Jun menepis gelas itu hingga jatuh dan pecah di lantai. Ia merasakan kepalanya pusing dan tidak bisa berdiri tegak. Sempat ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi pusingnya tak mau pergi hingga ia segera melangkah ke pintu. Ia tak ingin terjebak.


Pejabat muda itu mengejarnya. "Eh, Pak Jun!"


Hakim itu tak menggubrisnya. Ia terus keluar hingga ke parkiran sampai tak sengaja bertemu dengan orang yang ia kenal. Ya, ia bertemu dengan Dimitri.


Tiba-tiba saja Jun ingat istrinya, Khati. Dengan cepat ia merenggut kerah kemeja pria itu dengan kasar. "Di mana kau sembunyikan Khati, hah? Di mana dia!" bentaknya dengan tubuh sempoyongan. Wajah yang sinis diarahkan pada pria berambut berombak itu.


"Hakim Jun, kau bicara apa? Siapa itu Khati?"


"Jangan pura-pura bohong padaku!" sarkas Jun yang masih belum sadar dengan apa yang diucapkannya itu.


Sang pejabat pemilik karaoke mencampurkan soda, alkohol dan obat tidur ke dalam minuman jus itu. Ia berniat membuat Jun tidur dengan salah satu karyawannya tapi sang hakim terlanjur kabur dari tempat itu.


Melihat Jun yang sedang berselisih dengan Dimitri, pejabat pemilik karaoke itu pun tak berani mendekat hingga ia kembali masuk ke dalam gedung. Ia tahu siapa Dimitri, karena itu ia tak ingin bersinggungan dengan pria itu yang juga kebetulan adalah pelanggan barunya.


Dimitri yang kesal, mendorong Jun dengan mudah hingga jatuh ke aspal. Ia kemudian tersenyum miring melihat Jun yang mabuk dan jatuh di perparkiran. Pria Rusia itu lalu pergi dengan anak buahnya meninggalkan Jun sendirian.


Hakim itu mencoba bangkit, walau dengan pandangan mata yang tak sepenuhnya waspada. Ia tidak bisa melihat lurus ke depan. Sialnya lagi, hari itu supirnya cuti hingga ia menyetir sendiri.


Jun kemudian mencari mobilnya dan masuk ke dalam. Ia mencoba menyetir walau dengan pandangan yang tak sempurna. Sempat ia melihat Dimitri yang sedang menunggu mobil datang menjemputnya dekat sebuah pohon besar. Namun ia malah menabraknya.

__ADS_1


Tabrakan itu tidak terlalu kencang tapi membuat bemper mobilnya rusak parah. Dimitri terjepit di antara pohon dan bemper dengan luka parah hingga pingsan, sedang Jun kehilangan kesadarannya untuk sesaat.


Ketika ia terbangun, ada beberapa orang mendekati mobilnya dan mereka adalah orang-orang Dimitri. Mereka menarik keluar Jun dan dengan bahasa Rusia, mereka mencaci maki dan menendang pria itu. Jun yang mabuk dan setengah mengantuk, menjadi bulan-bulanan anak buah Dimitri sampai orang-orang datang melerai perkelahian yang tak berimbang itu. Saat anak buah Dimitri berhenti memukuli hakim itu, pria itu telah pingsan.


__ADS_2