Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Anna


__ADS_3

"Kak, sudah lupakan, Mbak Julia. Makanya jadi manusia tuh bersyukur, Kak. Mbak Khati walau tidak cantik dan tidak sesuai keinginan Kakak, tapi dia baik lho sama kita, kenapa Kakak malah menjebloskan dia ke penjara? Kenapa sih kakak jahat gitu sama dia? Kakak lihat sendiri 'kan akhirnya kayak gimana? Wanita yang kakak bela malah bikin susah hidup Kakak sendiri."


Pria berkacamata itu menghela napas pelan. Ia tertunduk. Ia kini tak berani membantah adik lagi. Walau begitu, ia menyesali keputusannya yang terburu-buru melaporkan Julia pada polisi, dan berakhir dirinya juga ikut ditahan. Ia tak tahan melihat kemesraan Julia dengan suaminya. Terbakar cemburu, ia melaporkan kejahatan wanita itu.


Padahal bisa saja ia membujuk wanita itu untuk kembali padanya. Ia benar-benar tak bisa hidup tanpa wanita itu. Kini, wanita itu benar-benar tiada, dan malam-malamnya hanya terisi oleh penyesalan dan air mata.


"Untung, uang kuliah Dahlia terakhir belum Dahlia bayarkan, Kak. Jadi bisa untuk ongkos pulang ke Jakarta sama ayah-ibu. Kami akan tinggal lagi di Jakarta biar bisa nengokin Kakak terus."


Damar terharu. "Maafkan Kakak, Dahlia. Kartu ATM Kakak hilang. Kakak sudah minta sama Pak polisi untuk tanya ke Julia, tapi katanya Julia gak pegang kartu Kakak. Mungkin kartunya hilang di jalan."


"Aku sudah tanya ke bank-nya, Kak. Mau aku urusin lagi, tapi ternyata kartu kakak sudah kosong."


"Kok bisa?" tanya pria itu keheranan.


"Kayaknya sudah ada yang ambil saldonya, Kak."


"Pencuri, tapi ngak mungkin Julia ambil uang Kakak karena dia di penjara."


"Berarti bener Kak, kartunya jatuh dan ada orang pintar yang ambil uangnya semua."


"Iya." Seketika tubuh pria itu lemas. Itu kartu miliknya satu-satunya yang berisi uang gaji, uang sogokan dari beberapa klien dan uang korupsi dari perusahaan Khati yang tidak seorang pun tahu. Kini uang itu hilang entah ke mana. "Maafkan Kakak ya? Kakak gak bisa bantu kamu lagi."


"Tenang, Kak. Aku dan Ibu sudah buka toko kue, Kak. Lumayan lho hasilnya!" Dahlia yang ceria dan optimis, memberi semangat kakaknya bahwa mereka akan baik-baik saja tanpa bantuan kakaknya.


Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran pria itu. "Apa kau tak bisa minta pada Khati?"


"Mbak Khati? Mbak Khati sampai sekarang belum pulang ke rumahnya, Kakak. Pekerja di rumahnya saja sekarang digaji kantor, padahal Mbak Khati juga gak ke kantor. Hebat juga perusahaan Mbak Khati, ya Kak. Pemiliknya gak ada tapi perusahaannya jalan terus."


Damar terdiam. Ia bingung bagaimana membantu keluarganya, sementara Khati tidak ada. Dirinya pun sekarang di penjara.


"Sudah, Kak. Jangan dipikirkan. Dia 'kan sudah jadi mantan. Kita tidak bisa lagi minta tolong padanya. Kita harus bisa segalanya sendiri."


Sebenarnya di mana Khati?


--------+++--------

__ADS_1


Seorang wanita terbangun dari tidurnya di siang hari. Rambutnya yang panjang menyebar ke segala arah di atas ranjang dan hampir menutupi sebagian wajahnya. Ia menepikan rambut itu dan segera bangun mencari ponselnya di atas meja nakas. Ia memeriksanya. "Oh, sudah banyak yang pesan," ucapnya dengan wajah takjub.


Ia segera turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar. "Lita, Lita!"


Seorang wanita berjilbab yang sedang membuat minuman di dapur segera menoleh. "Apa?"


"Banyak yang pesan, Lit!"


"Alhamdulillah. Berkat kamu yang marketingnya jago, yang beli jadi banyak."


Wanita berambut panjang itu tersenyum lebar. Ia memeluk ponselnya dengan senang hati. Ia tidak menyangka memulai usaha baru dengan online ternyata berhasil. Sama seperti saat ia mengembangkan perusahaan milik orang tuanya dulu seorang diri. Bakat dari orang tua dalam berbisnis, mengalir dalam darahnya.


"Tapi coba rapiin dulu tuh rambut. Masa berantakan gitu? Pasti habis tidur lagi tadi ya? Heran, kamu malas aja banyak yang beli apalagi rajin. Ayo sisir rambutmu dulu, Anna." Wanita bernama Lita menyambanginya.


"Ini Lit, daftarnya." Wanita berambut panjang ini memberikan ponselnya. Ia kembali ke kamar. Tak lama ia keluar dengan berjilbab instan yang sederhana.


"Mmh, kalau tiap hari begini, kita bisa kaya. Kamu itu ada bakat jadi pengusaha lho," sahut Lita pada Anna. "Juga sekalian buat biaya melahirkanmu nanti. Pasti ke-cover ini semua."


"Amin," imbuh Anna dengan bola mata bahagia.


Anna yang sebenarnya adalah Khati yang sudah mengoperasi wajahnya menjadi orang lain, mengaku kalau sedang hamil tapi suaminya tak bertanggung jawab. Karena itulah Khati diterima dengan tangan terbuka di sana tanpa ditanya asal usulnya. Khati tentu saja senang dengan usaha barunya karena ia tidak perlu lagi pergi ke luar rumah untuk bekerja. Cukup mengamati ponsel dan ia mendapat banyak uang.


--------+++---------


Beberapa bulan berlalu.


Jun melewati para karyawan wanita di pantry. Ia ingin membuat kopi sendiri. Tawa para karyawannya yang sedang berkumpul di meja membuat ia menoleh.


"Pak Jun, rujak, Pak," sahut salah satu dari mereka.


"Iya."


"Pak Jun mau bikin kopi?" salah seorang karyawan berdiri dan menghampiri pria itu. "Sini, Pak. Saya buatkan."


"Terima kasih." Jun terkenal ramah tapi juga tegas dalam soal pekerjaan. Jadi tidak ada karyawannya yang berani mengoda pria ini. Ia bisa galak tanpa ampun tapi juga bisa iba dan sangat baik pada karyawan. Sifatnya yang seperti dua sisi mata uang inilah yang membuat orang yang telah lama mengenalnya tak ingin terlalu dekat dengan pria ini. Mood-nya tidak mudah diprediksi. Kalau bukan karena wajahnya yang tampan, tak banyak orang yang menyukainya.

__ADS_1


"Pak Jun, bener gak mau rujak, Pak?" Karyawan yang lain kembali menawarinya berusaha sopan.


"Eh, tinggal yang asem juga," senggol karyawan yang lain pada wanita itu. Sang wanita hanya tersenyum lebar.


Entah kenapa, Jun tergiur melihat rujak itu. "Boleh aku coba satu?"


"Eh, tapi asem, Pak. Bapak memang suka rujak?"


Tangan pria itu meraih potongan mangga yang sedikit menguning. Ia mencolek kuah kacang dan memasukkan ke dalam mulut.


"Pak itu asem," cegah salah seorang karyawan tapi pria itu telah terlanjur mengunyahnya.


Di luar dugaan, Jun menyukainya. "Mmh, enak."


Padahal para karyawan sudah menyipitkan mata saat pria itu mengunyahnya.


"Masa?"


Mereka masih menyipitkan mata. "Bapak apalagi ngidam?"


Yang lain tertawa, mendengar ucapan salah satu dari mereka.


"Ya gak bisalah, Ka. Mau ngidamin siapa? 'Kan Pak Jun duda."


Jun mengerut dahi, melihat para wanita dengan mudahnya menggosipkan bosnya di depan mata mereka sendiri, sehingga Jun berdehem sebentar.


Para karyawan itu segera tertib karena tahu, bila pria itu sedang berdehem berarti ia sedang marah. Mereka semua tertunduk seketika. Jun yang kesal segera keluar dari ruangan.


"Bikin masalah sih lo," sahut karyawan yang sedang membuatkan kopi buat pria itu.


Di ruang kerjanya, Jun kembali duduk di kursi meja kerja. Pikirannya menerawang pada Khati. Ia pernah membaca artikel tentang kehamilan dan ia pernah juga membaca tentang ngidam ini. Ia membayangkan seandainya ia bisa mengendong anak dari sang istri, betapa bahagianya. Sayang, ia masih belum menemukan jejak istrinya sampai sekarang.


----------+++--------


Seorang wanita berjalan sendirian di koridor rumah sakit dengan perut besar. Ia juga membawa tas besar hingga menyulitkannya berjalan. Dengan berjalan pelan ia bersandar pada dinding rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2