
"Aku mau tidur," rengek wanita itu. Sepertinya ia sudah tidak ingin bertengkar. Tubuhnya yang sedang kurang sehat ditambah mata yang berat, memaksanya untuk mencari kenyamanan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku peluk kamu supaya hangat." Pria itu mendekap bahu dan pinggang istrinya dari belakang.
"Nanti kamu aneh-aneh, aku sedang mengantuk ini. Aku ingin tidur," pinta Khati hampir menangis. Ia benci saat harus memohon pada sang suami, tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Seandainya pria itu memaksanya melakukan sesuatu, ia yang tak berdaya, pasti tak sanggup menolaknya.
"Tidak, Sayang. Aku janji, aku tidak akan aneh-aneh. Aku juga ingin tidur karena aku harus ke kantor pagi-pagi sekali. Pekerjaanku banyak sekali besok di kantor," bujuk pria itu dengan suara lembut. Ia menaikkan selimutnya lebih tinggi hingga ke leher sang istri. Jun kembali mendekap istrinya.
Beberapa saat mereka terdiam dan Khati sepertinya tak lagi gelisah. Jun yang masih belum tidur memeriksa keadaan istrinya. "Julia ...."
"Mmh."
"Sudah lebih hangat?"
"Mmh."
Melihat tak ada lagi penolakan dari sang istri, Jun begitu senang dan kembali mengeratkan pelukan. Ia yang berupaya untuk memeluknya lama seperti ini, seperti mimpi yang jadi nyata. Walaupun karena Khati sedang tidak enak badan tapi ini membuat ia gembira luar biasa. Saking senangnya, ia bisa dengan cepat tertidur sambil memeluk istri tercintanya.
--------+++--------
Jun terbangun lebih cepat dari biasanya. Itu karena bau busuk yang lewat di depan hidungnya yang membuat ia mau muntah. Apa ini? Astaga ... Pria itu yang masih memeluk istrinya, menyembunyikan hidungnya di tengkuk sang istri. Wanita itu ternyata sudah bangun dan kaget.
"Mas, kamu kuat?" Ternyata sang istri sedang menutup hidungnya dengan selimut karena bau itu.
"Julia, aduh ...." Pria itu menempelkan wajahnya di leher belakang sang istri. Ia lebih baik mencium aroma tubuh sang istri dibanding bau ini.
Khati malah tertawa cekikikan. "Maaf ya, Mas. Kentutku bau. Bener kayaknya, Mas. Aku masuk angin."
"Iya, tapi 'kan kamu bisa pergi ke kamar mandi dulu. Aduh ...." Tetap saja bau itu menyeruak di antara bau tubuh sang istri dan ini membuat ia harus menahan napas.
Terdengar tawa renyah sang istri. "Habis kamu peluk aku tuh, seperti terkunci. Aku tidak bisa keluar dari tadi," terangnya masih dengan tawa yang tiada henti.
"Kamu 'kan bisa bangunkan aku, Khati." Jun mulai terbatuk membuat wanita itu terkekeh dibuatnya.
"Maaf, Mas," sesal sang istri yang kemudian memutar tubuhnya saat pria itu melonggarkan pelukan. Ia mendongak menatap pria itu dan kemudian menakup wajahnya. Ia bergerak naik dan mengecup kening sang suami. "Terima kasih kamu tahan bau kentut aku, Mas."
__ADS_1
Bau itu mulai menghilang. Tinggal wajah memelas Jun yang terlihat tak berdaya. "Di sini belum." Pria itu menunjuk mata kanan, menuntutnya. Khati mengecup mata itu saat terpejam.
"Di sini juga." Jun kemudian menunjuk mata kiri dan kembali sang istri mengecup mata itu. "Di sini juga." Pria itu kini menunjuk bibirnya.
"Tidak mau ah!" Wanita itu malah menghindar.
Jun yang merasa tanggung malah menyerangnya. Dalam sekejap pria itu sudah berada di atas tubuh Khati dan menahan tangan sang istri.
"Jun!"
"Di sini aku yang rugi, karena kau belum menyelesaikan tugasmu."
"Tugas apa? Kamu sudah gila ya?"
"Cium aku dulu." Pria itu kini mendekatkan wajah mereka dengan bibir yang maju ke depan.
Wanita itu memiringkan wajahnya ke samping. "Gak mau!"
"Harus mau dong, kamu 'kan istriku," jawab pria itu dengan senyum nakalnya.
Kata-kata sang istri menohok pria itu. Ia tak menyangka istrinya malah marah karena hal ini. Dengan sedikit syok, ia melepas wanita itu dan menepi. "Eh, a-aku cuma bercanda kok, Sayang. Aku tidak sungguh-sungguh." Jun mengutuk dirinya sendiri karena membuat sang istri kembali marah.
Padahal ia hanya tergoda kecupan minta maaf istrinya yang selalu saja membuatnya candu. Ia ingin lebih. Keserakahan membuatnya kembali bermasalah dengan Khati.
Wanita itu bangun dan memukuli Jun dengan kesal. Pria itu terpaksa menerima pukulan itu karena sang istri melakukannya sambil menangis. Ialah yang menyebabkan wanita itu menangis. Ia yang bodoh dan serakah ini.
Terdengar bunyi ketukan di pintu. Keduanya panik.
"Julia."
Suara ayah Julia membuat keduanya kebingungan. Jun yang melihat sang istri tengah kelabakan menghapus air matanya, berinisiatif membuka pintu. Itu pun sambil memastikan sang istri sudah menghapus sisa air matanya.
"Eh, Papa." Jun menyapa pria paruh baya itu di depan pintu dengan salah tingkah.
Ayah Julia mengintip ke dalam memastikan anaknya tidak apa-apa karena secara tidak sengaja, ia mendengar keributan saat ia lewat depan pintu kamar Jun. Ia mendengar suara tangis Julia. "Kau tidak apa-apa, Julia?"
__ADS_1
Khati segera datang menghampiri dengan sedikit tertunduk. Ia tidak ingin bekas air matanya terlihat kentara oleh pria paruh baya itu. "Aku tidak apa-apa, Papa."
"Tapi kenapa Papa dengar kamu menangis, tadi?" tanya pria bertongkat itu berterus terang. Ia khawatir Jun telah menyakiti anaknya.
"Oh, itu, Pa." Khati melirik pria itu. "Aku tadi kentut ..." Wajahnya memerah saat menerangkan ini.
Kenapa dia cerita soal ini sih? Belum selesai istrinya bicara, Jun tak bisa menahan tawa walau ia sudah menutup mulutnya hingga Khati dan ayah Julia menoleh. Seketika hakim itu menghentikan tawanya dengan pandangan serba salah.
Khati yang kesal menendang kaki suaminya.
"Aduh!" Jun kesakitan karena wanita itu menendang tepat di tulang keringnya. Ia melompat-lompat menahan rasa sakit sambil memegangi kakinya yang ditendang sang istri. "Sssh ...."
Melihat anaknya lebih galak pada sang suami, ayah Julia terlihat lega. Berarti anaknya bisa menjaga diri dan lebih dominan dari sang suami. Seketika itu juga, ia tak begitu ingin tahu lagi tentang masalah mereka. Ia pun menyudahi interogasi itu. "Eh, Papa pergi cepat ya? Setelah sarapan pagi, Papa berangkat." Pria itu pun meninggalkan keduanya. Khati menutup pintu.
"Khati, kau sudah memukuliku. Kenapa pula kau juga menendang kakiku?" Jun bersungut-sungut sambil menahan sakit pada kakinya.
Wanita itu melipat tangannya di dada sambil tersenyum penuh kemenangan. "Agar kakimu bicara pada tuannya, untuk tidak lagi mencari kesempatan saat aku sedang baik padanya. Apa kau mengerti?" ledeknya pada sang suami.
Jun masih meringis walau sudah meluruskan kakinya. Ia melihat saja sang istri masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu tanpa bisa berkomentar apa-apa.
--------+++--------
Khati dan Jun mengantar ayah Julia sampai ke pintu depan. Seorang penjaga rumah membawa koper pria paruh baya itu hingga ke dalam mobil Jun. Ayah Julia menatap ke arah keduanya. "Jaga anakku ya, Jun. Jangan sering-sering bertengkar."
"Eh, iya, Pa," sahut hakim itu sedikit salah tingkah.
Khati meraih punggung tangan pria paruh baya itu dan menciumnya.
Ayah Julia tersenyum pada wanita itu. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Mobil kemudian membawa pria itu keluar hingga hilang dari pandangan. Jun melirik istrinya yang ternyata masih marah padanya. Khati lebih dulu masuk rumah diikuti sang suami.
"Sayang, aku minta maaf," pinta Jun yang mengekor istrinya.
__ADS_1