Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Kembali


__ADS_3

Pria itu tak bisa tidur. Ia sudah memutar tubuhnya ke segala arah tapi tetap saja ia tak dapat memejamkan matanya. Ia memikirkan Khati. Baru kali ini ia mengkhawatirkan seseorang lebih dari apapun.


Segala perasaan berkecamuk. Rindu, kesal, marah, dan juga khawatir. Ia belum pernah setidak berdaya ini.


Harusnya hari libur begini ia bisa bersantai bersama Khati, dan hal-hal yang bisa memisahkan mereka hanyalah saat ia pergi ke kantor. Setelah itu ia akan bergegas pulang ke rumah karena tahu ada yang menantinya. Bukankah sangat tragis bila esok rumah ini bukan lagi tempat ia kembali, karena sudah tidak ada lagi wanita yang bernama Khati di sini?


Jun memeluk erat guling di hadapan. Resahnya makin menjadi. Bagaimana ia bisa melalui hari tanpa ada wanita itu di sisinya? Hari ini saja ia sudah sedemikian rindu, bagaimana ia akan melalui tiga bulan ke depan tanpa melihat wanita itu sama sekali? Ini penyiksaan. Ini gila!


Pria itu segera terbangun dan duduk di atas ranjang. Ia harus memikirkan cara, bagaimana bisa bernegosiasi lagi dengan ayah Julia. Ia harus menemukan cara!


----------+++--------


Pagi itu Khati dan ayah Julia sarapan. Pria itu menyorot Khati yang makan omelet isi sayuran dengan lahapnya. "Kau suka wortel?" tanyanya sedikit tercengang karena Khati melahap semua potongan wortel yang berada di dalam omelet itu.


"Mmh, iya. 'Kan sayuran sehat?"


"Biasanya kau menepikan wortel sebelum makan," sahut pria itu memberi tahu.


"Eh?" Mata wanita itu membola. Ia terkejut. "A-aku ikut hipnotis," ucapnya menghindar.


"Hipnotis?" Alis pria itu bertaut.


Khati ingat cerita temannya yang ikut terapi hipnotis sehingga bisa menyukai sesuatu yang dibencinya. "Iya. Apa Papa tidak tahu ada terapi hipnotis? Jadi setelah diterapi ini, seseorang akan menyukai barang yang dibencinya."


"Kenapa kau tidak terapi bagaimana agar kau bisa membenci pria itu?"


Kedua bola mata sendu itu terlihat semakin terluka, tapi Khati tidak membantah pria itu. Ayah Julia masih tidak bisa menerima Jun, dan ia dalam posisi sulit. Wanita itu hanya meletakkan sendok dan menghabiskan jus jeruknya. "Eh, maaf, Pa. Aku sudah kenyang." Wanita itu segera berdiri dan melangkah ke kamarnya.


Ayah Julia seketika juga kehilangan selera makannya, melihat putri semata wayangnya tengah sedih seperti itu. Biasanya, Julia memilih menentang keras untuk memperjuangkan haknya, lalu mereka bertengkar tapi kali ini tidak. Ia memilih pergi.


Apa kini ia makin dewasa dalam berpikir hingga ia memilih tidak menentang orang tuanya? Melihat begitu pria itu malah makin bertambah khawatir. Jangan-jangan apa yang dilakukan dirinya kini, telah melukai hati sang putri tercintanya itu.

__ADS_1


-----------+++---------


"Ayo, Julia. Pilih pakaian yang kau suka." Pria itu membentangkan tangannya agar anaknya memilih pakaian yang diinginkan. Pasalnya Khati tidak membawa pakaian sama sekali hingga ia tidak bisa berganti pakaian.


Mereka mendatangi sebuah toko pakaian wanita di sebuah mal agar Khati dapat memilih pakaian yang ia mau. Wanita itu kemudian mencari pakaian yang disuka. Cukup lama pria paruh baya itu menunggu tapi wanita itu tak kunjung selesai. Ia kemudian mencarinya.


Tak butuh waktu lama, ayah Julia menemukan Khati tengah berdiri di depan sebuah cermin besar. Hampir saja ia berteriak memanggilnya, kalau saja pria itu tidak memperhatikan apa yang dilakukan Khati di sana.


Sang wanita tengah memandangi cermin tanpa berkedip dan bergerak sedikit pun. Saat didekati, matanya yang sendu menatap ke arah cermin tapi pandangannya kosong. Pikirannya seperti melayang entah ke mana.


"Julia."


Wanita muda itu terkejut dan mencari sumber suara. Ia terlihat panik saat mengetahui ayah Julia sudah ada di belakangnya.


"Kenapa lama sekali kamu memilih pakaian?" Pria itu melipat tangan di dada. Khati saat itu sudah berganti pakaian tapi ia malah termenung di depan cermin.


"Eh, aku masih bingung memilih," ucap Khati menghindar.


"Eh?" Wanita itu masih kebingungan.


"Apa yang kau suka dari hakim Jun?"


Ditanya begitu, gerak mata wanita itu terlihat panik. Itu pertanyaan tiba-tiba yang membuatnya bingung. Ia tidak memikirkannya. Dulu ia menyukai pria itu karena tampan, tapi sekarang .... "A-aku tidak tahu, Papa."


"Masa tidak tahu? Kamu 'kan yang menikah dengannya. Apa karena dia tampan?"


Khati menggeleng.


"Lalu?"


Wanita itu berusaha menyelami pikirannya tapi tetap saja ia tak tahu jawabannya.

__ADS_1


-----------+++-----------


Jun bangun kesiangan. Ia berusaha memaksa tubuhnya untuk bangun, walau ia masih begitu ngantuk. Tadi malam ia begadang sampai subuh demi agar bisa menemukan cara untuk menyelesaikan masalah Khati yang disandera ayah Julia, tapi ia masih belum menemukan cara apapun. Akhirnya ia tertidur setelah sholat subuh.


Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing, tapi ia paksakan diri bangun dan melangkah ke lemari pakaian. Diambilnya baju training baru untuk ia olahraga pagi menjelang siang itu. Kenapa ia tiba-tiba mau olahraga jogging? Selain untuk membersihkan pikiran, ia kembali kangen Khati. Apa yang dilakukannya hari ini?


Jun turun setelah berganti pakaian. Ia kemudian hanya meminum seteguk jus dari sebuah gelas yang berada di atas meja makan. Ia lalu pergi jogging.


Sudah dua putaran ia melewati komplek rumahnya tapi ia tak ingin berhenti. Napasnya sudah kepayahan dan sering berhenti tapi ia belum menyerah. Ia ingin terus berlari sampai ....


Terdengar suara dering telepon. Pria itu mengambilnya dari kantong celana. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang menelepon. Tertera nama istrinya di sana, padahal setahunya, telepon sang istri tertinggal di rumah.


Mungkinkah Khati sendiri yang meneleponnya? Ia berharap begitu. Segera pria itu mengangkat telepon itu. "Halo ..." ucapnya dengan bibir bergetar. Mungkin ia terlalu berharap banyak tapi itulah yang diinginkannya.


"Mas, kamu di mana?"


Itu benar suara Khati! Khati .... Pria itu segera memutar balik arah menuju rumah. Karuan saja, bodyguard-nya ikut-ikutan berganti haluan mengejar bosnya. Jun berlari sekencang-kencangnya agar ia bisa cepat sampai ke rumah.


Di depan rumah, pria itu melihat mobil mewah lainnya. Pastinya ayah Julialah yang menyewa mobil itu. Ia tak peduli dan menerobos masuk.


Dilihatnya sang wanita impiannya kini sedang duduk dan bercengkrama dengan ayah Julia di meja makan. Jun tak bisa menghentikan rasa senangnya hingga ia datang dan langsung memeluk sang istri.


"Eh, Mas." Khati sedikit malu.


"Aku kangen sekali padamu." Pria itu mengecup kening sang istri berkali-kali. Wanita itu sampai merasa jengah hingga berpaling ke samping.


Terdengar suara deheman berat seorang pria yang menyadarkan hakim itu. Segera Jun melepas pelukannya pada Khati. "Eh, maaf. Mmh, apa kalian baru datang?"


"Kami menunggu 15 menit yang lalu." Pria paruh baya itu memeriksa jam tangan mewahnya yang melingkar di lengan kanan.


"Ah, maaf." Jun kemudian duduk di samping ayah Julia. "Maaf aku tidak tahu Papa akan mengembalikan Julia, jadi penyambutannya seperti ini. Maaf, sekali. Eh, apa Papa sudah sarapan? Eh, pasti sudah ya? Aku belum. Atau temani aku sarapan, Pa. Aku baru bangun dan berolahraga. Maklum bangun kesiangan. Oya, Papa mau minum apa?" Hakim itu tak berhenti mengoceh saking senangnya, hingga ia lupa untuk membiarkan lawan bicaranya ikut bicara. Padahal ayah Julia sedang menikmati kopinya.

__ADS_1


"Ah, pantas. Bau badanmu ...."


__ADS_2