
Pria Rusia itu mendatanginya. Khati tentu saja terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai sini?" Pasalnya, tempat itu adalah area belanja untuk wanita.
"Itu." Pria itu menunjuk ke arah eskalator dalam area itu, kemudian ia menaikkan kantong belanjaannya. "Aku habis belanja dan lihat kamu dari eskalator, jadi aku mampir."
"Oh," jawab wanita itu singkat. Ia kemudian bingung. Ia ingat pesan sang suami agar tidak berdekatan dengan pria ini, tapi kini mereka bertemu tanpa sengaja.
"Kau sedang apa? Belanja juga? Kok sendirian?"
"Oh, tadi aku habis makan dengan suami, tapi dia langsung berangkat kerja jadi ...."
"Boleh kutemani?"
"Eh?" Bola mata wanita itu kembali membulat sempurna. "Ah, tidak usah. Ini pakaian wanita." Ia menggeleng cepat.
"Biar aku temani saja dari sini."
"Eh, tidak usah." Khati berusaha menolak tapi pria itu tetap memaksa.
"Kenapa? Apa karena suamimu? Apa suamimu jahat padamu?"
"Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Khati mengerut dahi.
"Eh, tidak. Aku hanya bertanya saja."
Khati menatap pria itu. Apa pria ini mengetahui sesuatu?
"Apa aku tidak boleh menemanimu? Aku hanya ingin bertanya tentang pekerjaan yang aku tawarkan padamu waktu itu."
"Aku harus tanya suamiku dulu."
"Berarti kau tertarik?" tampak senyum di wajah Dimitri.
"Aku tidak tahu. Mungkin ...."
"Julia!"
Keduanya menoleh. Khati terkejut melihat sang suami yang berlari-lari kecil ke arahnya. Pria itu langsung meraih sang istri dan berdiri di antara keduanya. Ia berdiri menghadap Dimitri. "Aku sudah peringatkan padamu, untuk jauhi istriku!" Jun memperingatkan dengan penuh emosi. Wajahnya tegang dengan tatapan menghujam.
Dengan santainya, Dimitri menjawab. "Lho, aku hanya menawarinya pekerjaan dan ...."
"Kau tak dengar kata-kataku? Jangan dekati istriku lagi. Mengerti!" bentak pria dengan wajah rupawan itu. Wajahnya seperti iblis yang baru lepas. Segera ia memalingkan wajah dan menarik istrinya pergi. "Julia ...."
"Mas, aku sedang belanja dan tak sengaja bertemu dengannya," terang Khati yang tak mau suaminya salah sangka padanya.
Sambil melangkah cepat pria itu memperhatikan wajah sang istri. Khati tak mungkin berbohong, ia hanya terlalu polos. Wanita itu tampak bingung dan terpaksa terburu-buru bergerak mengikuti langkah suaminya.
"Julia, pria itu berbahaya. Jangan pernah dekat dengannya. Aku sudah mengatakannya padamu, kenapa kau tak mengerti juga?" Jun memperingatkan. "Dia itu mafia."
"Apa?" Khati syok! Pria itu seorang mafia? Benarkah? Padahal ia terlihat ramah dan lebih baik dibanding Damar dan Jun. Kenapa ia selalu bertemu dengan pria yang menyebalkan? Kenapa nasibnya selalu sial?
__ADS_1
"Makanya, jangan pernah percaya dengan apa yang dikatakannya atau kamu akan berada dalam masalah besar!"
"Tapi pria itu terlihat baik." Khati masih tak percaya. Ia menoleh sekilas ke belakang tapi pria itu sudah tak berada di tempat itu lagi.
"Karena kau terlalu polos. Karena itu aku selalu mendampingimu." Pria berbrewok tipis itu menghentikan langkahnya, membuat sang istri ikut berhenti. "Dengar Julia, posisiku ini rawan penyogokan, karena itu kamu harus berhati-hati bicara dan mengenal orang, atau ini akan jadi bumerang untuk dirimu sendiri.
Percayalah, apa-apa yang aku lakukan untukmu itu untuk melindungimu, selain juga untuk melindungi diriku sendiri dan juga jabatanku. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu, kau mengerti 'kan maksudku?" Jun menyentuh bahu istrinya.
Khati mengangguk pelan. "Ya."
"Ok, sekarang ikut aku!" pria itu meraih tangan istrinya dan kembali melangkah ke depan. Kali ini ia melangkah lebih pelan.
"Kita ke mana?"
"Ada seorang penjabat yang ingin bertemu aku di sini. Karena itu aku kembali."
"Bagaimana caranya kau menemukanku?"
Pria itu menoleh pada sang istri dengan senyum menawannya. "Tadi aku coba telepon kamu, kenapa gak diangkat?"
"Oh, maaf, Mas. Mungkin HP-ku low bat." Wanita itu mencoba menyentuh tas kecilnya.
"Jadi aku tanya bodyguard yang sedang mengawasimu di sini."
Seketika Khati mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Pandangan wanita itu kembali ke arah sang suami. "Tapi aku gak pernah lihat mereka, Mas."
Terdengar dering telepon dan pria itu mengangkatnya. Ia kemudian mendengarkan sebentar lalu menutup telepon. Ternyata pejabat itu meminta Jun untuk mendatangi sebuah restoran di lantai atas.
Keduanya mendatangi restoran mewah itu dan bertemu seorang pejabat di sana. Pejabat itu datang bersama asistennya. Melihat Jun yang datang dengan istrinya, pria itu jadi tak leluasa bicara. Namun ia tetap meminta bantuan Jun dengan cara halus sambil menawarinya makan.
"Eh, tidak usah. Aku baru saja makan siang di sini bersama istriku." Namun Jun melirik istrinya yang sedang sibuk melihat buku menu.
Pejabat itu pun melirik Khati. "Ah, Ibu mungkin ingin sesuatu?"
Wanita itu melirik suaminya. Jun menghela napas pelan.
"Eh, pesan saja, Bu. Tidak apa-apa," bujuk pejabat itu.
Khati kembali melirik Jun.
"Pilih saja, Sayang. Kau mau apa?" sahut hakim itu dengan wajah datar.
Pejabat itu tahu, keduanya adalah pengantin baru. "Wah, senang rasanya, bisa bertemu dengan kalian berdua. Pasti sedang hangat-hangatnya ya?" Ia tersenyum lebar.
Jun pun tersenyum dan melirik ke arah sang istri yang masih bimbang. "Ayo, kamu mau apa? Pilih saja, tidak masalah."
Khati sedikit ragu apa permintaannya akan jadi masalah, tapi kemudian ia coba sebutkan. "Apa aku boleh minta Banana Split?"
__ADS_1
"Oh, es krim itu. Gak papa, Bu. Silakan saja. Saya senang Ibu pesan itu. Memang cuaca akhir-akhir ini sedikit panas. Iya 'kan Pak Jun?" sahut sang pejabat bicara pada hakim itu.
"Ah, iya, benar." Jun kembali melirik istrinya. "Sudah, itu saja, Sayang?"
Khati mengangguk.
"Ah, biar asisten Saya saja yang pesan," imbuh pria itu yang kemudian memberi buku menu itu pada sang asisten.
Selagi Jun berbicara dengan pejabat itu, Khati menikmati es krimnya. Sesekali suaminya memperhatikan sang istri yang tidak peduli sekitar ketika menikmati es krim itu. Ia baru tahu, sang istri begitu menyukai es krim.
Pejabat itu juga memperhatikannya. "Ibu apa mau tambah lagi?"
"Eh, tidak. Sudah cukup," ucap Khati malu-malu.
Tak lama pembicaraan selesai. Jun dan istrinya pamit. Pria itu menggandeng istrinya ke tempat mereka bertemu tadi. "Kamu jadi beli pakaian?"
"Belum."
"Aku temani ya?"
"Tapi kerjaanmu bagaimana?"
"Kalau jam segini ke kantor macet. Kalau sampai pun sudah dekat-dekat jam pulang. Lebih baik menunggu kamu belanja. Iya 'kan, Sayang?"
Khati tersipu-sipu, senang. Namun di lain pihak ia sedih karena tak bisa membeli jilbab itu sekarang karena suaminya pasti tak setuju. Walaupun begitu, ia masih bisa membelinya lain hari karena memang hampir tiap hari ia ke mal itu.
----------+++----------
"Kau masak apa, Sayang?" Jun yang mencari sang istri, menemukannya di dapur.
"Macaroni Schotel," sahut Khati yang baru saja memasukkan makaroni itu ke dalam panggangan dan menutup oven. Ia mencuci tangan lalu mengeringkannya pada lap handuk yang digantung dekat tempat cuci piring.
"Aduh, makaroni lagi," gumam pria itu. "Jangan sering-sering ya? Nanti berat badanmu tambah naik."
Seketika Khati menggembungkan pipinya karena ngambek.
"Bukan begitu, Sayang ...."
Wanita itu segera melepas celemeknya dan meninggalkan dapur.
"Sayang ...." Jun meraih tangan sang istri tapi Khati menepisnya kasar. Namun pria itu tak kehabisan akal. "Sayang, kita olahraga, yuk!" bujuk pria itu. "Joging pagi. Biar sehat."
Sang wanita masih tetap ngambek.
"Nanti pulangnya, bisa nambah makan Macaroni Schotel-nya."
__________________________________________
__ADS_1