
Khati menutup pintu kamar dengan hati-hati. Sambil melangkah ke arah pintu keluar, ia menengok kanan kiri. Bergegas ia berjalan dengan meminimalisir suara sepatu sendalnya agar tak ketahuan.
"Khati!"
Wanita itu terpaksa berhenti karena ketahuan. Ia menghela napas pelan.
"Aku hanya memberitahumu saja, kau tak bisa keluar dari apartemen karena lift-nya membutuhkan kunci dari apartemen ini." Jun tersenyum lebar.
Khati merengut sebal. Ia terpaksa berbalik menatap pria itu yang berada di depan kamar. "Kalau begitu aku pinjam kuncinya. Aku ingin jalan-jalan sebentar," pintanya sedikit enggan pada sang suami.
"Untuk apa? Dengan wajah seperti itu? Apa kau ingin membuat orang ketakutan sepanjang jalan?" ledek pria itu dengan ringannya.
Wanita itu mulai kesal tapi apa yang dikatakan suaminya ada benarnya. "Tidak apa-apa, aku akan sembunyikan wajahku. Lagipula, ke mana kau sembunyikan semua jilbab-jilbabku?"
"Aku buang."
"Apa?" Khati syok. Teganya dia membuang semua jilbab-jilbabku ....
"Lagipula kau tak memerlukan jilbab-jilbab itu lagi karena identitasmu mulai sekarang sudah berubah. Kau bukan lagi Khati yang dulu. Namamu Julia, sekarang," ucap pria itu dengan tenang. Ia melipat tangannya di dada dan bersandar pada dinding di sampingnya.
Khati menatap pria itu dengan wajah nanar yang tersembunyi dibalik topeng perbannya. Teganya sang suami mengganti apa yang baik baginya saat ini. Jilbab-jilbab itu ....
"Oya, kamu tidak berusaha kabur 'kan? Karena tidak akan ada yang percaya ceritamu bila melihat keadaan wajahmu yang seperti ini." Jun menakut-nakuti.
Khati sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Tiba-tiba saja ia mendekat dan menyerang suaminya. Ia memukuli tubuh sang suami dengan kesal. "Teganya kamu dengan lancang mengambil barang-barangku, Mas! Teganya ... Kamu buang semua jilbab-jilbabku, kamu jahat! Aku pakai jilbab itu karena aku ingin menjadi wanita muslim yang taat, bukan menjadi wanita cantik seperti yang kau inginkan! Aku bukan bonekamu, Mas! Aku bukan bonekamu!" Dengan suara parau ia berteriak-teriak histeris memarahi pria itu.
__ADS_1
Jun terkejut melihat reaksi tak terduga Khati, tapi ia maklum. Ia membiarkan saja wanita itu meluapkan emosinya. Pria itu terpaksa melakukannya, demi kelancaran misi balas dendamnya. Untuk itu, Jun harus menghilangkan semua identitas Khati untuk sementara waktu. "Maaf Khati, tapi untuk sementara kau harus jadi Julia."
"Aku tidak mau!" Khati mulai menangis. Ia tak mengerti jalan pikiran Jun. Kenapa suaminya ingin sekali ia menjadi wanita cantik yang dipuja semua orang? Baginya, jilbab itu identitasnya. Ia tidak ingin hidup dengan tidak menutup aurat. Jika saja ia tahu suaminya lebih memilih wanita seperti itu, sejak awal ia akan menolaknya. Lebih baik mati terhormat daripada hidup berlumur dosa.
"Mmh, biar kutemani kau keluar," bujuk pria itu. Ia tak tega melihat sang istri kembali menangis.
"Tidak, aku tidak ingin keluar. Aku ingin di kamar saja!" Sekitar matanya terasa perih. Mood-nya kembali labil. Sang wanita melangkah ke kamar tapi Jun meraih lengannya.
"Khati. Biar aku temani kamu jalan-jalan ke luar."
"Tidak usah," jawab sang istri lemah tapi Jun tetap menariknya ke kamar sekedar mengambil kunci mobil dan apartemen.
Pria itu membawa istrinya keluar. Karena malas bicara, Khati hanya diam mengikuti suaminya walaupun ia enggan. Mereka naik mobil pria itu yang membawanya keliling kota.
Sang wanita hanya menatap ke arah jendela mobil melihat suasana kota Singapura di waktu malam. Ibu kota yang indah dengan lampu-lampu jalan dan gedung-gedung pencakar langit yang megah. Kemudian suasana berganti ketika melewati gedung-gedung tua yang penuh dengan sejarah. Selama itu Khati hanya diam.
"Khati ini berbahaya!" teriak pria itu.
Sang wanita seperti tak peduli. Ia terus memukuli tangan Jun yang sedang menggenggam erat tangannya yang satu lagi. "Kau jahat, Mas, kau jahat!" Rupanya selama itu kemarahannya belum juga reda.
Sang pria terpaksa menangkap tangan istrinya yang satu lagi hingga wanita itu tak lagi bisa memukulinya. "Khati, apa aku pernah memukulmu? Tidak 'kan?" teriaknya.
"Apa aku harus mencuri barangmu dan membuangnya, agar kamu mengerti apa yang kurasakan!" teriak wanita itu tak kalah hebat.
"Khati, aku takkan memukul wanita. Takkan pernah. Kalau segala sesuatu bisa diselesaikan dengan bicara, kenapa tidak kita bicara?"
__ADS_1
"Setelah aku kehilangan semua barang pentingku, termasuk identitasku, apa bicara masih berguna?" Kembali kedua bola mata wanita itu berkaca-kaca. "Kau selalu memaksakan kehendakmu, apa bicara denganmu masih berguna?" tanyanya sekali lagi dengan penuh penekan. Ia sangat kecewa.
Jun kehilangan kata-kata. Memang segala sesuatu harus izin dari pemiliknya karena istrinya bukanlah seorang kriminal. Bahkan
seorang kriminal pun punya hak untuk menolak apapun yang tidak diinginkannya.
Namun sakit hati yang membuatnya ingin balas dendam masih bertahta di hati pria itu. Ia menepis semua kesalahan yang dibuatnya pada sang istri demi tercapainya aksi balas dendam ini. Ia berdalih pada diri sendiri bahwa ini bukan hanya semata untuk dirinya sendiri tapi juga untuk Khati. Ia yakin Damar membunuh istrinya dan ia ingin wanita itu bisa membuka matanya lebar-lebar akan kejahatan sang mantan suami.
"Aku bukan Julia ... tapi aku juga bukan Khati. Lalu aku ini siapa?" Air mata wanita itu mulai jatuh kembali.
Jun berusaha menghapusnya tapi Khati kesakitan.
"Ah!"
Pria itu akhirnya tak berani menyentuh wajah istrinya. "Maaf a ... mmh, maafkan aku."
Khati menghapus air matanya sendiri dengan hati-hati. Ia menunduk. "Damar bahkan tidak pernah membuatku menangis," gumamnya.
Kalimat ini malah membuat Jun kesal. "Apa katamu? Bukankah kalian telah bercerai? Apa itu tidak membuatmu menangis?"
Khati mengangkat kepalanya dan menyadari hal itu. Air matanya kembali mengalir. "Dan ternyata semua laki-laki sama saja. Semuanya jahat!" Ia mulai terisak.
Kini Jun bingung menghadapi istrinya yang sedang menangis. Ia bukan orang jahat, tentu saja, yang akan menyakiti istrinya. Ia bukan Damar yang jahat itu!
Reflek Jun menarik tubuh Khati ke dalam dekapan. Wanita itu kembali terisak, tapi sebentar kemudian ia mulai tenang dalam pelukan hangat suaminya. Pria itu mulai mengerti sifat istrinya yang gampang menangis bila dikalahkan keadaan. Hanya pelukan itu yang bisa ia berikan untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Sekarang kita kembali ke rencana awal. Bukankah kita sudah sepakat kau akan membantuku mencari tahu tentang pembunuhan ini?" ucapnya dengan lembut. "Segera kita selesaikan masalah ini agar aku dan kamu bisa kembali ke kehidupan kita sebelumnya. Kau kembali bekerja dengan menggunakan hijabmu dan aku kembali menjadi Jun yang dulu. Bagaimana?"
Entah kenapa Khati enggan menjawab 'iya'. Ia segera menjauh dari tubuh sang pria karena takut terlena. Sempat ia berpikir, kenapa Tuhan tidak mempertemukan dirinya dengan Jun lebih dulu, sebelum bertemu dengan segala kerumitan ini. Mungkin suaminya bisa menerimanya apa adanya tanpa harus dipusingkan dengan masalah pembunuhan ini.