
Keduanya makan dengan tertib dalam diam. Khati makan tanpa menoleh sedang sang suami meliriknya sesekali. Namun pria itulah yang lebih cepat menyerah karena tak betah didiami sang istri.
Jun berdehem sebentar. "Julia, sebentar lagi aku akan berangkat."
"Mmh."
"Aku akan keluar kota, Julia."
"Mmh." Khati hanya menekuni piringnya, dan tak sedikitpun mengangkat wajahnya.
Pria itu menghela napas panjang. "Kamu hati-hati ya? Aku sedang tidak ada di Jakarta," ucapnya dengan suara rendah.
Saat itulah, wanita itu mengalihkan pandangannya ke depan. Walaupun terkesan datar tapi ia sempat melirik wajah sang suami sebentar. Ia kemudian kembali menekuni piringnya.
Jun mengaku salah. "Maafkan aku semalam ya? A-aku takkan mengganggumu lagi."
Saat itu, entah kenapa, pedih terasa di hati Khati. Ia seperti takut pria itu menjauh. Diangkatnya lagi pandangan dan menatap sang suami yang berusaha menyelesaikan sarapannya. Saat pria itu berdiri, sang wanita meraih tangan Jun dan mencium punggung tangannya.
Pria itu memperhatikan istrinya dengan pandangan yang, entah. Ia mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. "Aku bukan ancaman bagimu, Julia. Percayalah."
Khati mengangkat kepalanya. Ia hanya diam dan mengantar sang suami sampai ke pintu depan. Wanita itu mematung menatap ke arah mobil yang ditumpangi sang suami, hingga keluar dari pagar tinggi rumah mereka.
---------+++---------
Alunan musik yang lembut itu akhirnya berhenti. Khati mengambil handuk kecil yang berada di sampingnya dan mengusap keringat yang muncul di sekitar dahi dan belakang leher. Ia mengambil botol minuman yang ia bawa dan meminumnya sedikit. Terasa segar bila meminum sehabis olahraga. "Ah ...."
Beberapa wanita muda dan gadis yang mulai beranjak dewasa membubarkan diri dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang kembali melanjutkan olahraganya di tempat fitnes, dan ada yang duduk-duduk mengobrol, tapi Khati memilih menjauh dari mereka dengan segera ke kamar ganti. Setelah itu ia keluar dari tempat senam itu.
"Halo." Seorang pria muda mendatanginya.
"Eh, halo," sahut Khati yang terkejut dengan kemunculan pria itu di hadapan.
__ADS_1
"Boleh kenalan, gak?"
Khati mengenali pria itu adalah salah satu orang yang datang untuk berolahraga raga di tempat fitnes itu. "Eh, enggak." Wanita itu menghindar dengan bergerak ke arah lain.
Namun pria itu tetap mengikutinya. "Aku tahu kamu model. Masa gak boleh kenalan?"
"Eh, maaf. Aku sedang buru-buru. Ditunggu suami di rumah." Dengan bergegas, ia pergi, tapi ternyata pria itu tak lagi mengganggunya. Ia bernapas lega. "Ha ...." Khati mengatur detak jantungnya yang sempat berpacu gara-gara bertemu pria tadi.
"Julia."
Kali ini ia kembali dikejutkan oleh seorang pria lain, tapi kali ini pria yang dikenalnya. "Mas Dam?"
"Eh, jangan memanggilku seperti itu. Itu panggilan mantan istriku padaku," pintanya dengan suara pelan.
Khati kembali panik. Ia tak tahu harus berbuat apa hingga melangkah mundur.
Pria itu segera mengangkat tangannya agar sang wanita tak salah sangka. "Eh, Julia. Jangan takut. Aku datang hanya ingin berdamai denganmu. Ok? A-aku hanya ingin berteman."
"Aku hanya ingin berteman, Julia. Beri aku kesempatan. A-aku takkan mengungkit-ungkit masalah yang lalu, ok?"
Wanita itu masih diam.
"Ok?" tanya pria itu memastikan. Pelan tapi pasti pria itu mendekat. "Eh, bagaimana kalau kita cari tempat makan? Kita makan bersama, bagaimana?" Ia menatap wajah Julia palsu itu yang masih penuh keraguan. "Ok?"
Damar membawa sang wanita ke sebuah restoran yang cukup mewah. Sebuah restoran Itali dan mereka memesan masakan di sana. Setelah itu, pria itu mulai mengajak ngobrol Khati.
Kali ini ia mengubah strateginya dengan mendekati lagi mantan pacarnya itu baik-baik. Ia tidak mau kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya. Wanita yang membuat ia jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidup.
Ya, ia belum pernah jatuh cinta. Khati adalah wanita yang mencintainya sejak kuliah dan Sofia adalah eksperimennya untuk mendapatkan anak. Sedang Julia, ia adalah sebenar-benarnya api cinta dalam hidupnya.
Ia baru mengenal cinta ketika bertemu dengan wanita ini di sebuah pesta. Cinta pada pandangan pertama dan wanita itu juga menyambutnya. Sesudahnya, semua mengalir apa adanya. Ia menyesal kenapa tidak mengenal wanita ini dari dulu sedang saat itu ia telah menikah dengan Sofia karena terlanjur hamil.
__ADS_1
Padahal mereka sudah sempat tidur bersama di hotel beberapa kali, tapi tiba-tiba saja Julia menghilang dan ketika kembali muncul, ia telah menikah dengan orang lain. Betapa kaget dirinya karena sebelumnya mereka telah berjanji untuk menikah, walaupun wanita itu hanya jadi istri keduanya saja hingga terjadi pembunuhan itu.
"Em, pernikahanmu bahagia?" Pertanyaan konyol ini sempat mengiris hatinya sendiri ketika bertanya.
"Em, ya," sahut Khati singkat. Ia tahu, pasti berat bagi Damar mengetahui mantan pacarnya menikah dengan orang lain, seperti yang dirasakan dirinya dulu waktu Damar mengaku padanya telah menghamili wanita lain. Pasti sangat pedih.
Mungkin inilah karma bagi pria itu. Entahlah, Khati sendiri masih bingung. Haruskah ia bersyukur atau iba akan nasib mantan suaminya ini.
Pria berkacamata itu masih menatap Khati dengan kekagumannya. Ada rindu yang tenggelam di sana. Ada keinginan yang tak teraih. "Kamu menghilang begitu lama. Apa ... sekalipun kamu pernah memikirkanku?"
Khati jadi salah tingkah. Ini pertanyaan yang jawabannya mungkin paling menyakitkan. "Bisakah kita bicarakan hal-hal yang lain saja?"
Pria itu kemudian sadar dan kembali berusaha mengingatkan dirinya sendiri yang setiap bertemu dengan wanita ini, secara emosi, tak bisa melepaskannya begitu saja. Ia memutar kepalanya ke arah lain. "Eh, iya. Maaf. Kepalaku masih penuh memori tentang kita dulu."
Khati mulai iba, tapi sedetik itu juga berubah untuk sadar diri akan posisinya sekarang ini. Ia tengah berada dalam misi untuk mencari tahu tentang malam pembunuhan itu agar pria itu juga selamat dari jeratan hukum. Karena itu ia berusaha tegar.
Sedikit egois mungkin bisa membuatnya menjalankan misi ini dengan baik. "Kita 'kan teman sekarang, sebaiknya jangan bahas hal-hal yang terlalu sensitif karena sekarang aku sudah menikah, Mas." Ya, dia sudah tidak sendiri. Keberadaan Jun sebagai suaminya menguatkannya melakukan misi itu.
"Eh, jangan panggil aku 'Mas'. Panggil namaku saja, sudah cukup. Kau 'kan lebih tua dariku. Aku takut suamimu marah kalau kamu memanggilku dengan sebutan itu." Sejujurnya Damar juga bingung. Julia yang sekarang wajahnya lebih muda dan cantik dari sebelumnya. Apa itu efek dari pernikahan yang bahagia?
"Eh, ya."
Minuman dan makanan kemudian datang. Damar mengangkat gelas dan kembali bicara. "Hari ini kita rayakan persahabatan kita dan pernikahanmu, bagaimana? Semoga kau bahagia."
"Eh, iya." Dengan enggan wanita itu ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang di udara.
Keduanya kemudian meminum sedikit sebelum makan. Khati berusaha tersenyum senang. Sejujurnya tidak nyaman berada bersama mantan suaminya itu. Di Kantor pun ia tak pernah berlama-lama berdua kecuali ketika sedang bersama staf yang lain. Sungguh suasana ini membuatnya kikuk.
_________________________________________
__ADS_1