
"Mmh, sekarang ini kita adalah patner kerja, jadi usahakan melakukan sesuatu yang bisa mendukung pekerjaan ini, ok?" Jun mulai menjalankan mobilnya.
"Mmh, iya." Khati menatap ke depan. Sekilas ia melirik pria itu dengan ekor matanya. Apa kamu tak punya perasaan lain terhadapku, Mas? Sedikit saja. Menolehlah ke arahku. Namun seberapa lama ia menunggu, pria itu tak kunjung meliriknya membuat sang wanita kecewa.
Sementara Jun melirik sang wanita dari cermin kecil di atas kepalanya. Sebenarnya Khati adalah wanita yang soleh. Sayang Julia tidak seperti Khati yang kadang sangat menyebalkan ketika ia mulai cengeng, tapi aku menikmatinya. Aneh rasanya tapi aku serasa ingin selalu melindunginya setiap kali ia sedang menangis. Heh, dasar perempuan! Jun tersenyum, walaupun datar.
Mobil kembali menepi ke sebuah restoran di pinggir jalan. Restoran itu terletak di daerah pertokoan yang penuh dengan restoran atau toko makanan sepanjang jalan.
"Eh, kita mau apa ke sini?" tanya Khati yang mulai kebingungan dan segera menenggelamkan kepalanya ke dalam hoodie milik Jun.
"Tentu saja mau makan. Kita akan makan malam di sini." Pria itu membuka dasbor yang berada di depan istrinya. Ia mengambil kacamata hitam dari laci dan memakainya. "Ayo, turun."
"Eh, tapi ...."
Jun memutar wajahnya ke arah sang istri. Ia merapikan tutup kepala Khati. "Ayo, jangan takut. Takkan ada yang mengenalmu." Pria itu keluar diikuti sang istri. Ia menunggui wanita itu yang berjalan di belakangnya. Akhirnya ia membersamai langkah Khati yang lebih pendek darinya itu.
Wanita itu tidak terlalu pendek, bahkan hampir setinggi Julia yang foto model itu, 160 senti. Julia untuk ukuran seorang foto model bahkan terlalu pendek, karena itu ia bukan model catwalk. Hanya Jun yang memang bertubuh tinggi, bahkan untuk ukuran pria.
Pria itu kemudian memilih meja di bagian luar. Selain tidak terekspos banyak orang, ia melindungi Khati dari orang yang ingin tahu. Mereka memesan makanan.
"Kau makan salad saja ya?" tawar Jun.
"Apa? Mana bisa kenyang?" protes sang wanita dengan menyipitkan matanya.
Pelayan melirik Khati yang menyembunyikan wajahnya di bawah penutup kepala membuat wanita itu makin dalam memasukkan kepalanya.
Jun tersenyum kecil. Berarti nafsu makan istrinya telah kembali. "Kau harus belajar diet mulai hari ini. Kurangi makan malam dan kalau bisa hanya makan buah dan sayur saja saat malam."
"Mana bisa," gumam Khati kesal. Ia juga dongkol diperhatikan pelayan laki-laki itu. Dengan sedikit menunduk, ia bicara. "Aku pasti kelaparan nanti malam," gerutunya.
"Mmh ... ini ada salad Thailand, ada potongan dada ayam di dalamnya."
__ADS_1
"Masih kurang," keluh Khati. Bibir bawahnya tergulung seketika.
"Ok, ditambah puding." Jun masih melihat menu.
Pelayan itu mencatat seraya melihat pasangan aneh ini. Satu orang dengan kepala ditutup hoodie dan satu lagi dengan kacamata hitamnya. Apakah mereka artis? Tapi aku belum pernah melihat artis mirip pria ini. Apa jangan-jangan yang ditutup kepalanya ini? Sang pelayan mengamati keduanya.
"Pelit sekali, aku hanya dikasih puding." Kembali wanita itu mengeluh. "Bukannya tadi aku disuruh makan banyak?"
"Itu karena kau belum sarapan."
Khati merengut.
"Lagi pula puding bagus untuk pencernaan."
"Mas Jun, tambahkan kentang goreng. Nanti pulang aku ganti. Ya?" bujuk Khati lagi sedikit merengek.
"Kau harus belajar disiplin, Julia. Mulai hari ini."
----------+++--------
Khati mengintip keluar. Hari sudah larut malam dan ia sudah pastikan pria itu takkan keluar lagi dari kamarnya. Dengan pelan ia keluar kamar. Ia mendatangi dapur. Dilihatnya lemari es dekat tempat cuci piring. Dengan hati-hati ia melangkah ke sana.
Isi lemari es hanya ada bahan mentah saja. Tidak ada makanan siap saji tersimpan di sana. Dengan bergumam kesal akhirnya ia memutuskan untuk memasak saja. Diperiksanya bahan yang ada di sana. Ia baru saja memilah bahan makanan ketika seseorang membuka pintu lemari es itu lebih lebar lagi. Khati terkejut hingga menjatuhkan bahan-bahan yang diambilnya. "Mas Jun?"
"Julia, apa yang kau lakukan?"
Nama itu masih asing di telinga, tapi Khati tahu kalimat itu ditujukan padanya. Bahkan Jun yang memberi ide nama ini, nama itu masih saja membuat hati pria itu bergejolak.
"A-aku hanya ...." Wanita itu berdiri dan tak tahu harus bicara apa.
Jun segera berjongkok dan memasukkan kembali sayuran yang berjatuhan agar istrinya tak melihat betapa asingnya ia memanggil Khati dengan nama itu. "Aku sudah bilang padamu, Khati. Eh, Julia." Sempat ia menghela napas pelan sambil memejamkan mata. "Kau tak boleh makan malam kecuali buah dan sayuran."
__ADS_1
"Aku akan masak sayuran tadi."
Pria itu memutar kepalanya ke samping dan menatap istrinya. "Tapi kamu tak boleh makan nasi. Sudah. Kamu makan buah saja." Jun mengeluarkan dua buah apel dan diserahkan ke tangan sang istri.
Khati merengut.
----------+++----------
"Bagaimana? Cantik 'kan?" tanya dokter itu.
Khati yang melihat wajahnya pada cermin yang dipegangnya, terlihat biasa saja. Ia merasa asing dengan wajah itu, tapi ia berusaha tersenyum. Walaupun ia tampak lebih cantik dari sebelumnya, dirinya kecewa. Ia kini telah menjadi orang lain.
Sementara dilain pihak Jun mengaguminya. Ya, pria itu mengagumi karena Khati ternyata lebih cantik setelah operasi, bahkan dari Julia yang asli. Kecantikan Khati terletak pada matanya. Jun segera tahu kalau itu Khati karena matanya yang lembut, berbeda dengan Julia yang matanya sedikit menantang. Julia yang asli memang sedikit tomboi.
Justru mata yang lembut dipadu dengan kecantikan wajah Julia membuat Khati semakin cantik di mata hakim itu. Padahal tubuh wanita itu gemuk. Jun baru sadar bahwa cantik itu tidak selamanya harus kurus. Khati salah satu pengecualiannya. "Jadi bagaimana, dok?"
"Mmh, untuk sementara tidak apa-apa kecuali ada keluhan." Dokter itu beralih pada sang wanita. "Bagaimana? Ibu masih merasakan perih di wajah?"
Khati menyentuh wajahnya. "Sedikit."
"Ok, kalau begitu aku akan buatkan resep untuk salepnya ya?"
Selagi dokter itu menuliskan resep, Jun tak henti-hentinya memandangi sang istri. Hakim itu tak menyangka hasilnya malah lebih bagus dari aslinya. Setelah mendapatkan resep, keduanya segera menebusnya di apotik di klinik itu.
Di kursi panjang ruang tunggu, Khati mencoba membujuk suaminya. "Mas, bisa gak beli jilbab panjang untukku? Satu saja cukup. Nanti aku ganti deh. Aku gak punya uang dolar Singapura," ucapnya dengan tersenyum.
Dia pikir bisa menggoyahkan imanku? "Tidak, kau tak boleh menyentuh barang itu lagi. Kau sekarang adalah Julia, mengerti?" Jun mengatakannya dengan tegas walau melihat wajah merayu istrinya itu sangat menggoda.
"Pelit!" Khati melengoskan kepala menjauh. Kembali ia memasukkan kepalanya dalam penutup kepala jaket milik Jun.
"Hei, aku tidak pelit ya? Kau mau minta apa? Tas mahal, emas, berlian? Akan kubelikan asal tidak jilbab itu. Aku takkan pernah mengizinkan kamu memakainya!"
__ADS_1
Khati menoleh dengan mata mulai memerah. "Bagaimana kalau bercerai?"