Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Permintaan


__ADS_3

"Eh, sebenarnya kami nikah siri," ucap hakim itu pelan. Ia melirik Khati, yang terkejut mendengarnya.


Raut wajah ayah Julia seketika berubah dingin. "Kapan kau akan melegalkannya?"


Jun menggaruk-garuk dahinya. "Eh, a-aku masih sibuk dengan pekerjaanku saat ini, jadi soal ini masih taraf rencana." Tidak mungkin ia memperlihatkan buku nikah mereka karena di sana tertulis ia menikah dengan Khati bukan Julia.


Sorot mata pria itu kian tajam pada hakim itu. "Kau menikah dengan anakku! Jangan nomor duakan dia dibanding pekerjaanmu," ucapnya dengan nada sinis.


"Eh, bukan maksudku begitu, Pa, tapi aku sedang mencari waktu yang tepat saja," bujuk Jun dengan suara pelan.


"Lalu kapan?" cecar pria paruh baya itu.


"Eh ...."


"Aku ingin tanggal, bulan dan tempat! Aku ingin kepastian," potong ayah Julia dengan tegas. Ia tak mau ambil pusing dengan masalah Jun karena ia ingin kepastian status anaknya.


Hakim muda itu tertunduk. Ia kemudian mengangkat kepalanya sedikit dan menatap pria paruh baya yang sedang memandangi dirinya dengan serius. "Beri aku waktu 3 bulan lagi."


Pria berwajah tirus itu mendengus kesal sambil memutar wajahnya ke samping. Ia meletakkan sendoknya karena kehilangan selera makannya.


Jun buru-buru melanjutkan. "Eh, masalahnya orang tuaku keduanya seorang pebisnis. Mereka tinggal di Singapura. Mereka baru saja melakukan perjalanan bisnisnya. Eh, tapi Julia sudah bertemu mereka kok. Iya 'kan, Julia?"


"Eh, iya," sahut Khati cepat.


Ayah Julia melirik ke arah Khati.


"Dan lagi pula," sambung Jun. "Mereka tidak bisa tiba-tiba meng-cancel perjalanan ini karena ini sudah terjadwal. Papa 'kan orang bisnis, pasti tahu perjalanan bisnis itu seperti apa, iya 'kan?"


Pria paruh baya itu masih belum terkesan. Dengan wajah masam, ia malah melipat tangannya seperti menunggu tawaran berikutnya. Ia mengangkat alisnya satu karena ia masih ingin mendengarkan.


Pria yang sulit ditawar sepertinya, tapi ia butuh tawaran menarik. Lalu aku harus menawarkan apalagi? Hah ... Jun benar-benar pusing memikirkan hal ini. "Papa maunya bagaimana?" Ia terpaksa menanyakannya langsung dibanding menebak-nebak apa keinginan pria paruh baya yang rambutnya mulai memutih ini.


"Masa kamu tidak tahu? Kau seenaknya saja menikah dengan anakku tanpa aku dan pesta. Tentunya sebagai orang tua aku menginginkan pernikahan di atas kertas dan pesta pernikahan karena Julia bukan anak orang sembarangan!" Nada suaranya bergetar menandakan ia mulai habis kesabaran.


Jun kembali menggaruk-garuk dahinya. "O-ok, aku akan lakukan setelah tiga bulan." Ia sudah memperhitungkan dalam tiga bulan, kasus ini selesai, dan saat itu Julia sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini dengan ayahnya. Yang penting sekarang, ia dan Khati bisa terlepas dari orang ini.

__ADS_1


"Terlalu lama. Aku ingin secepatnya!" titah pria itu.


Jun melirik ayah Julia. Kenapa orang ini tak bisa diajak bicara sih? Hah ... sial! "Pa, aku 'kan sudah bilang, orang tuaku ...."


"Kalau anakku itu penting bagimu dan bagi orang tuamu, kalian 'kan akan mengusahakannya. Iya 'kan?" Kali ini tak ada tawar menawar lagi, pria itu langsung berdiri. "Ayo, Julie. Ikut Papa. Kita tinggal di hotel dulu."


Jun syok! Khati panik dan melirik Jun dengan wajah kebingungan.


"Ayo Julie." Pria paruh baya itu menarik lengan wanita itu mengajaknya berdiri.


"Pa, tunggu! Dia istriku. Dia sudah jadi istriku!" Jun tak tahu lagi harus bagaimana. Ia hampir kalap. Kenapa pria ini malah membawa Khati? Ah, sial! Benar-benar sial!


"Kalau kau menganggapnya penting, kau harus serius menjalankan permintaanku," ujar pria itu dengan angkuhnya. Ia mendorong Jun yang datang mendekat.


"Ah!" Hakim itu hampir terjatuh. Untung ia berpegang pada ujung meja.


Ayah Julia bergegas pergi dengan membawa Khati bersamanya. Jun ingin sekali mengejar, tapi ia tak bisa melakukannya. Selain karena ia orang terkenal, ia tidak mau masalah ini sampai jadi pemberitaan publik. Pria itu tak mau penyamaran Khati terbongkar. Untung sekali, kantin menjelang siang, masih sepi.


Jun langsung menelepon asistennya. "Todi, beri aku profil ayah Julia. Juga cari tahu tempatnya menginap di Jakarta, aku baru saja bertemu dengannya."


"Papa, tidak bisakah aku tinggal dengannya? Aku sudah jadi istrinya," bujuk wanita itu pada sang pria paruh baya.


"Tidak! Bisa-bisanya kamu merendahkan dirimu pada pria itu. Memang apa istimewanya dia bagimu, hah? Dia tidak menghargaimu! Setinggi-tingginya jabatannya, sekaya-kayanya dia di dunia ini, tapi kalau ia tidak menghargaimu, dia sama sekali tak berarti bagiku. Kau dengar itu?" ucap pria itu dengan tegas pada sang wanita.


Khati terharu mendengar kata-kata pria paruh baya itu padanya. Seumur hidup ia belum pernah mendengarkan nasehat orang tuanya tentang pernikahan karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia saat ia kuliah dulu.


Seingatnya, sang ayah juga dulu menentang dirinya menyukai Damar sebelum kecelakaan merengut nyawanya, tapi nyatanya apa yang dikatakan ayahnya benar. Jangan mencintai pria secara berlebihan sebelum tahu pria itu suka padanya atau tidak, karena dengan begitu ia harus rela disakiti berulang kali.


Pria itu mengingatkannya pada sang ayah, walau dia bukan siapa-siapa Khati, sebenarnya. Lalu ia harus bagaimana sekarang? Kembali hidupnya berada di tangan orang asing. Ia tidak tahu, apa ia bisa berpura-pura terus selama masih bersamanya.


Sebuah taksi berhenti. Ketika penumpangnya keluar, Khati dan ayah Julia masuk ke dalam taksi itu.


Sementara itu, Jun cemas. Ia masih termangu sendirian di kantin sambil memegangi ponselnya. Khati, bertahanlah. Aku akan datang menjemputmu.


---------+++----------

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Pria itu telah memesan president suite, ruangan paling besar di hotel itu sehingga mereka bisa mendapatkan ruangan dengan fasilitas terbaik di sana.


"Ada dua kamar di sini, Pak," sahut pelayan hotel.


"Eh, terima kasih." Ayah Julia memberi pelayan itu tip.


"Eh, barang-barang Bapak?"


"Ada di mobil sewaan yang akan datang ke sini. Tolong kirim ke kamar ini."


"Oh, iya, Pak. Baik." Pelayan itu kemudian mengundurkan diri.


"Oh, tunggu dulu."


Pelayan itu tak jadi keluar.


Ayah Julia melirik pada Khati. "Kamu tak jadi makan tadi, 'kan?"


"Ada, sedikit," sahut Julia.


Pria itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum. "Ini sudah menjelang siang. Apa tidak kita pesan saja makan siang?"


"Mmh, terserah Papa saja."


"Baiklah, Papa pesanan untukmu ya?" Pria itu kemudian mencari buku menu. Setengah jam kemudian, mereka makan bersama di meja makan.


"Julie, kenapa tidak cerita padaku kau sudah menikah?" Pria itu pelan-pelan mulai bertanya pada putrinya. Sikapnya sama sekali beda dengan saat bicara pada Jun. Pria itu bicara dengan lemah lembut dan akrab.


"Mmh ...." Wanita itu bingung harus menjawab apa. Ia tidak punya bayangan hubungan Julia dan ayahnya bagaimana, karena itu ia menimbang-nimbang untuk menjawabnya. Namun pada akhirnya, ia berusaha mengaitkan cerita yang dikarang Jun agar terlihat berkaitan. "Aku terlanjur sama Mas Jun, jadi ...."


"Kamu takut cerita pada Papa? Karena itukah kamu menghilang selama satu setengah bulan ini?" Ternyata pria itu telah mencarinya cukup lama. Mencoba menghubunginya lewat telepon, tapi tak diangkat. Malah telepon Julia mati selama ia menghilang.


Aduh ... Mas Jun ke mana sih? Aku harus jawab apa? Kalau aku salah dan ketahuan, bagaimana?


_________________________________________

__ADS_1



__ADS_2