Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Tidur Bersama


__ADS_3

Bahkan Khati sampai menjatuhkan sepatu yang menggantung di sela jemari tangannya.


"Apa kamu gak ngerasain, anginnya kencang? Aku gak bawa jaket, Julia." Nasehat pria itu.


"Lepas, Mas!" Dengan kasar Khati berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami sehingga Jun terpaksa melepaskan.


"Julia ...."


Khati mendelik marah. Ia kembali ke restoran sambil meraih sepatunya yang tergeletak di pasir, dengan langkah sedikit menghentak. Keduanya kembali ke meja mereka yang berada di luar restoran. Khati mengenakan sepatunya yang sedikit berpasir.


"Apa mau kembali pulang?" tanya Jun karena melihat istrinya ngambek. Padahal mereka sudah selesai makan tapi Khati tak mau pulang.


"Aku mau di sini sebentar."


"Ya sudah."


Walaupun terlihat menikmati suasana pantai, tampak sekali mata sang istri mulai redup. Wanita itu mulai mengantuk tapi ia bertahan untuk tidak cepat-cepat pulang. Ia malas bertemu lagi dengan pria itu di ranjang.


Jun mengerti hingga ia membiarkan sang istri bertahan sekuatnya. Toh, pada akhirnya mereka akan pulang juga. Ini hanya masalah waktu saja.


Jam kemudian menunjukkan pukul 10 malam di mana Khati sudah sangat mengantuk. Akhirnya ia ikut suami yang memgajaknya pulang. Tak lama setelah mobil berjalan, wanita itu terlelap tidur di kursi depan. Jun melirik sang istri dengan senyum kecil.


Sesampainya di depan rumah. Pria itu tak langsung membangunkan Khati. Ia malah menggendongnya di kedua tangan dan membawanya masuk. Dilihatnya wajah cantik itu bersandar di dadanya dengan damai.


"Kalian dari mana saja, sudah ma—" Ayah Julia menghentikan ucapannya menyadari Khati yang tertidur dalam gendongan hakim itu.


Jun menganggukkan kepala dengan sopan pada pria paruh baya itu dan kemudian membawa sang istri menaiki tangga. Ia lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Sebelum sempat dibawa ke ranjang, Khati malah bangun.


"Kenapa aku kamu gendong? Turunkan aku, Mas!"


Jun menurut. Wanita itu hampir terjatuh karena kesadarannya belum penuh hingga pria itu kembali meraih tangan sang istri agar tegak berdiri.


"Tuh, kan. Sudah benar aku gendong kamu, tadi. Tiba-tiba berdiri, 'kan pusing jadinya," omel pria itu.


Wanita itu merengut. Jun membantu istrinya mencapai ranjang. Sang wanita merangkak naik dan memilih sisi yang diinginkannya. Ia berbaring di sana.

__ADS_1


Jun meraih handuk dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika keluar, ia melihat Khati tengah membersihkan wajah dari make up-nya di sebuah meja. Ia mengomel saat Jun keluar hanya berbalut handuk di pinggang. "Aduh, pakai baju yang sopan dong!"


"Lah, ini 'kan kamarku? Kamu juga istriku. Apa ada yang salah dengan semua itu?" tangkis Jun pada sang istri membuat Khati kembali merengut kesal.


"Kamu pintar memanfaatkan keadaan!"


"Keadaan apa?"


Khati makin gemas. Ia tahu pria itu hanya pura-pura saja. Untung saja ia telah selesai membersihkan wajahnya. Ia kembali ke ranjang.


"Hei, bersihkan dulu badanmu, Sayang. Masih penuh dengan pasir."


Khati memutar tubuh dengan mulut yang masih mengerucut. "Perhitungan!"


"Lho, apa kamu tidak gatal-gatal, bila ranjangmu penuh dengan pasir?"


Wanita itu mendatangi kopernya dengan rasa dongkol masih memenuhi kepala. Saat ia berjongkok di depan koper, ia melihat Jun membuka lemari. "Tukar bajunya di kamar mandi!" ingatnya.


"Iya!" Pria itu menarik pakaiannya. "Aduh, cerewet banget," gumamnya. Ia pun melangkah ke kamar mandi. Setelah keluar, ia bergantian dengan Khati dan langsung menuju ke ranjang.


Ia segera tidur, tapi tak lama. Ia terbangun saat Khati membuat benteng dari guling. Wanita itu mengambil gulingnya.


Khati malah kembali merebut guling itu dari tangan sang pria. "Tidak bisa, ini untuk batasan." Wanita itu meletakkan guling itu di antara mereka.


"'Kan ada guling satu lagi, Khati," keluh pria berbrewok tipis yang terganggu tidurnya itu.


"Itu udah buat kaki." Wanita itu menunjuk ke arah bawah. Ternyata kedua guling itu untuk perbatasan sepanjang ranjang agar Jun tak melewati batas yang sudah dibuatnya.


"Khati, aku tak bisa tidur tanpa guling, Sayang." Jun meraih kembali gulingnya dalam pelukan.


Khati berusaha merebutnya tapi kali ini pria itu berusaha mempertahankan guling dalam pelukan. "Berikan gulingnya! Nanti kamu pasti sengaja macam-macam saat aku tidur," protes sang wanita yang masih berusaha menarik guling itu.


"Justru kalau tidak ada bantal ini, aku tak bisa tidur, Julia. Aku malah akan mengganggumu!"


Mereka masih merebut guling itu. Bahkan sang istri sudah menginjak tubuh Jun yang masih terbaring, agar bisa menarik kuat-kuat guling itu.

__ADS_1


"Julia, astaga ...." Pria itu terpaksa bangun. "Aku harus bangun pagi-pagi sekali ke kantor, Sayang."


Namun sang istri tetap memaksa merampas guling itu hingga ia berhasil mendapatkannya, tapi demi itu ia malah terhempas ke belakang dan jatuh dari ranjang. Jun mengejarnya dengan merangkak ke sisi yang satunya, tapi ia malah tertawa melihat istrinya yang jatuh di lantai.


"Apa?" sahut Khati dengan pipi mengembung, kesal. Rambut panjangnya terlihat sangat berantakan. "Kamu jahat!"


"Yang jahat siapa? Kamu mengambil semua guling-gulingku," imbuh Jun yang kembali tak dapat menahan tawa.


Khati terlihat ingin menangis membuat pria itu berusaha menghentikan tawanya. Malam itu akan makin panjang kalau ia membuat masalah dengan sang istri. Jun mengulurkan tangannya. "Sini, Sayang. Apa mau kugendong lagi?"


"Aku bisa bangun sendiri!" ujar sang istri yang kini ngambek karena ditertawakan. Ia berusaha bangkit dari lantai tanpa pertolongan sang suami.


Jun mengusap wajah dengan kasar sambil menghela napas. Ia serba salah. Kalau sudah seperti ini, membujuk atau tidak, wanita itu takkan berhenti ngambek. Ia akan mengulur waktu sebentar agar marahnya hilang dan saat itulah ia bisa membujuknya.


Pria itu kemudian turun dari ranjang dan pergi ke luar. Tak lama ia kembali dengan membawa guling satu lagi. Rupanya ia mengambil guling dari kamar Khati.


Wanita itu segera mengenalinya. Ia merebut guling yang baru diambil suaminya dan ditukar dengan guling Jun yang tadi direbutnya. "Kau tak boleh ambil yang ini. Ini punyaku!"


"Ya ampun, Sayang." Pria itu kembali menghela napas. "Apa bedanya sih?"


"Ini ada bauku di sini. Pasti kamu cium-cium!" Khati mengendus bau bantalnya.


Jun hanya bisa menggeleng-geleng lemah. "Lalu kenapa gak kamu ambil saja guling dari kamar kamu tadi?"


Wanita itu melirik suaminya dengan sorot mata tajam. Melihat sang istri masih tak bersahabat, pria itu memilih diam dan menarik guling miliknya untuk tidur. Namun ini pun tak bertahan lama. Ranjang itu kini sempit membuat Jun tak bebas bergerak.


Bayangkan saja. Sudahlah ia dibatasi tidur dengan sebuah guling, ia juga punya guling di tangan sehingga ruang geraknya untuk memutar tubuh sangat sempit. Entah bagaimana nasib sang istri yang berada di sebelah sana.


Namun Jun merasa, istrinya juga tengah gelisah tidur. Dirasakannya tempat tidur sedikit bergoyang karena tubuh wanita itu sering berbalik arah. Pria itu bisa melihatnya karena guling yang tak begitu tinggi. Apalagi, wanita itu sering menarik selimutnya ke atas.


Jun menggeser guling dari pandangan. Ia mengintip istrinya yang berselimut penuh hingga leher tapi tetap merasa tak nyaman. "Julia, kamu kenapa?"


"Dingin."


"Apa?" Pria itu segera menarik keluar selimut, guling yang membatasi mereka. "Kamu masuk angin mungkin." Tangannya bergerak meraih tubuh sang istri. "Sini, dekat aku sini."

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2