Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Menginap


__ADS_3

Jun segera mengendus bau badannya karena ucapan pria paruh baya itu. Keringatnya memang tengah mengucur deras padahal ia membawa handuk kecil di leher. Segera ia berdiri dan mengusap wajahnya dengan handuk itu. "Ok, aku mandi dulu, Pa. Jangan pulang dulu ya? Aku hanya sebentar."


Ketika ia melangkah ke arah tangga, Khati bergegas mengejarnya dan meraih lengan pria itu. Ia berbisik di telinga Jun. "Mas, Papa mau menginap di sini. Bagaimana ini," ujar wanita itu sambil merengut.


"Oh, tidak apa-apa," sahut pria itu sedikit terkejut.


"Tidak apa-apa bagaimana? Apa dia akan membiarkan saja, saat dia lihat kita tidur terpisah?" Mulut Khati langsung merengut. Kedua bola matanya mendelik ke arah sang suami.


Seketika kedua bola mata Jun membulat sempurna. Ia kini tahu arah pembicaraan istrinya dan tersenyum senang. Bahkan terlihat nakal. "Ya, sudah. Tidur saja di kamarku. Beres 'kan?"


"Mas." Wanita itu memukul bahu sang suami, karena kesal.


Jun tak menghindar. "Sudahlah, dipikirkan nanti sajalah. Aku mau mandi," ucapnya enteng. Ia melangkah mendekati tangga. Saat ia menaikinya, sempat ia melirik pada Khati yang kembali ke meja makan. Sekamar dengannya? Wow, seru ini.


Semalam ia kesepian, tapi malam ini Khati akan meramaikan kamarnya. Betapa Tuhan maha mendengarkan doa-doa umat-Nya. Jun kembali ke kamar dengan bersiul-siul.


Tak lama kemudian, Jun kembali dan bergabung dengan keduanya. Ia mengobrol dengan ayah Julia yang berniat melanjutkan perjalanan bisnisnya. "Jadi Papa menginap di sini?"


"Kalau tidak keberatan, karena Papa sendiri sebenarnya sedang melakukan perjalanan bisnis. Karena tiba-tiba ke Jakarta, jadwalnya terpaksa dibuat ulang karena tertunda, dan Papa sedang menunggu kabar dari asisten Papa lagi."


"Oh, tidak apa-apa, Pa. Ini 'kan rumah menantu Papa juga. Anggaplah rumah sendiri, jadi seberapa lamanya pun, tidak masalah kalau Papa ingin menginap di sini." Jun melirik Khati yang dongkol. Wanita itu kesal hingga menendang kaki suaminya di bawah meja.


"Ah!"


"Ada apa?" tanya ayah Julia kebingungan. Ia melirik Khati yang merengut ke arah sang suami dan Jun yang menyipitkan matanya menahan sakit. Ia tidak tahu apa yang terjadi.


"Eh, tidak apa-apa. Kakiku sedikit kram," sahut Jun mencoba mencari alasan.


"Apa kamu punya asam urat?"


"Rasanya tidak."


"Lebih baik kau periksa. Bagaimana kalau iya?"


"Eh, iya. Nanti aku periksa." Hakim itu melirik istrinya yang masih merengut kesal. "Eh, apa Papa berniat tinggal di sini?"

__ADS_1


----------+++----------


Jun saking senangnya, mengajak ayah Julia main golf. Butuh 45 menit hingga sampai ke lapangan golf itu. Pria itu juga meminjamkan peralatan golf-nya aehingga mereka bisa bermain bersama.


Jun sedikit membungkuk dan mengayunkan tongkat golf-nya. Bola itu membumbung tinggi hingga melewati rimbunnya pepohonan. "Ah, salah lagi," gumamnya kesal. Padahal ia sengaja mengalah demi pria paruh baya itu.


Ayah Julia bukan tak tahu, karena ia sering dimenangkan juga bila sedang bermain golf dengan teman bisnisnya. Ia menganggap biasa, karena pastinya Jun hanya berusaha bersikap sopan. Hakim itu melakukannya hanya untuk berterima kasih padanya.


"Ah, hari yang sial bagiku. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar? Kita minum dulu di kafe depan." ajak Jun pada pria bertongkat itu.


"Ok."


Peralatan golf kemudian dirapikan seorang caddy. Jun mengajak istrinya yang sedang bersandar pada mobil golf untuk masuk ke dalam. Sementara ia mengendarai mobil, ayah Julia naik mobil golf lain yang dikendarai caddy cantik berpakaian mini itu.


"Kamu tidak tertarik pada caddy itu? Pakaiannya mini lho!" ledek Khati pada suaminya. Ia heran pria ini sama sekali tak melirik caddy itu dari tadi, padahal itu paket lengkap kesukaan suaminya, cantik dan seksi.


Pria itu malah tertawa. "Kenapa? Kau cemburu padanya?"


Khati langsung merengut. "Aku tidak cemburu, siapa bilang? Aku hanya bertanya karena itu 'kan kesukaanmu. Cantik dan seksi."


"Lalu kamu suka sama wanita seperti apa?"


"Seperti istriku."


Pipi Khati merona merah. "Itu definisi yang tidak jelas!" protesnya.


"Lho, ini susah dijabarkan. Kalau kamu yang berpakaian seperti itu, aku pasti nafsu."


"Ih, otak mesum!" Wanita itu membuang wajahnya ke samping karena pipinya makin bersemu memerah.


Jun makin terkekeh. "Lho, gak papa 'kan? 'Kan kamu istriku?"


"Lalu kamu di luaran pasti seperti itu ya? Menggoda wanita?"


"Lho, Julia. Kenapa sih? Kamu cemburu ya? Kenapa pembicaraan sampai ke situ sih?"

__ADS_1


Khati terdiam. Ia sendiri juga bingung kenapa ia meributkan hal ini. Bukankah kesetiaan pria itu tak penting baginya, karena pernikahan mereka hanya kawin kontrak.


Mobil terbuka itu akhirnya sampai ke halaman kafe. Mereka duduk sebentar di sana sambil mengobrol dan melepas lelah. Langit berubah kemerahan tanda senja sudah datang.


"Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam di pantai?" ajak Jun pada ayah Julia. Ia kelihatan berniat menjamu pria paruh baya itu dengan sebaik-baiknya.


"Mmh, terserah saja," sahut pria itu dengan santai. Ia menyeruput teh hangatnya sambil memghirup wangi teh melati itu dalam-dalam.


Jun tersenyum puas. Ia melirik Khati yang juga tak protes.


---------+++--------


Mereka sudah berkumpul di ruang tengah. Khati memakai baju lengan pendek berwarna abu-abu dan rok panjang berwarna putih dengan bahan tipis yang transparan di luarnya, sehingga rok itu terlihat sedikit mengembang. Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lekuk lehernya yang indah. Sejak di kamar, Jun sudah terpesona dengan dandanan istrinya yang cukup berbeda kali ini, dan ia makin jatuh cinta.


Pria itu sendiri memakai baju batik, membuat tubuh tegapnya makin mempesona. Ia terlihat makin gagah dan tampan saja. Khati bahkan sangat takut berdekatan dengannya, karena ia tidak ingin pria itu mendengar detak jantungnya berdebar kencang setiap pria itu tak sengaja lewat di sampingnya.


Ayah Julia juga mengenakan batik dengan warna yang sedikit gelap. Tiba-tiba terdengar bunyi telepon berdering. Ternyata teleponnyalah yang tengah berbunyi saat itu. "Halo?"


Pria itu berbicara sebentar, kemudian menutup teleponnya. "Eh, maaf, aku tak bisa pergi. Ternyata asistenku sudah membuat jadwal penerbangan untuk besok, dengan pemberangkatan paling pagi. Aku malam ini akan beristirahat saja. Ada laporan yang mesti aku periksa dan aku masih menunggu laporan itu dari asistenku. Kalian pergi saja. Tak apa-apa 'kan kalau aku tak ikut bersama kalian?"


"Oh, Sayang sekali." Walau dalam hatinya Jun bersorak, karena ia bisa pergi berdua saja dengan sang istri. Ia melirik Khati yang tengah berada di sampingnya. "Kamu bagaimana, Sayang? Jadi makan di pantainya? "


"Mmh ...."


"Atau kita di kamar saja berdua?" Pria itu tersenyum genit.


Wanita itu seketika merengut. "Kita pergi saja, kalau begitu!" ucapnya kesal sambil meninggalkan sang suami. Jun dengan senang mengikuti istrinya dari belakang.


-------------+++-----------


Khati senang bermain pasir. Ia memainkan pasir yang lunak yang terkena siraman air laut dengan kakinya. Jun berlari-lari mendatangi istrinya. "Angin mulai dingin, Sayang. Ayo kita ke dalam."


Khati menepis tangan pria itu yang meraih lengannya. "Nanti saja."


Tiba-tiba Jun merengkuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Mas!"


__ADS_2