Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Rekaman


__ADS_3

Mereka mulai makan. Khati memutar garpunya di atas piring. Perlahan-lahan pasta berbentuk mi itu ikut berputar. Setelah tersangkut beberapa, wanita itu kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


Damar belum melakukan apa-apa. Ia hanya terdiam menatap wanita itu yang makan dengan mulut tertutup. Betapa ia merindukannya. Bibir bergincu yang selalu tak pernah lepas dari ingatan. Tidur dengannya selalu membuatnya candu hingga tiba-tiba wanita itu menghilang tanpa pesan.


Beberapa bulan kemudian, Julia kembali sebagai Nyonya Junimar Adyaksa. Betapa ia syok dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lalu selama ini, malam-malam yang mereka habiskan bersama itu apa? Adakah ia hanya pelarian semata, sementara wanita ini sebenarnya sedang berhubungan dengan hakim itu? Lalu janji-janji itu, adakah ....


"Kok gak dimakan?" tanya Khati menatap piring Damar yang isinya masih belum disentuh.


"Oh, iya." Seketika pria itu sadar dan mulai mengambil garpunya. Sedikit agak kaku ia mulai memilin pastanya.


"Apa kau masih terbayang dengan malam pembunuhan itu?"


Seketika pria itu yang menunduk, menghela napas dan meletakkan garpunya. Wajahnya terlihat, entah. Ada sesuatu yang berkecamuk di kepala membuat ia tak ingin melanjutkan makannya.


Khati melihat perubahan ini. Ia berusaha bertindak hati-hati sebab pria itu tak pernah membicarakan tentang malam itu padanya, sama sekali. "Maaf, tapi aku prihatin melihatmu sakit seperti kemarin. Kau mulai mabuk-mabukan. Apa karena kamu masih sering terbayang kejadian waktu itu?"


Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas meja dan mendesah pelan. "Bukan. Aku mulai minum sejak kehilanganmu."


Saat itu juga, wanita itu meletakkan garpu di piring seperti sang pria. Ia segera meminum sedikit jusnya, guna mempercepat makanan masuk ke dalam perut. "Maaf," ucapnya cepat.


"Kau tak perlu ...." Pria itu tak tahu harus bicara apa. Ia terdiam sejenak. "Aku masih mencintaimu, Julia," ucapnya dengan suara berat. Ia harus menyampaikan ini agar wanita itu mengerti, sulit melalui hari tanpa dirinya. Betapa kebahagiaan itu terenggut seketika.


Khati berusaha menempatkan diri jadi Julia. Bagaimana Julia bisa masuk akal meninggalkan Damar. "Aku tidak ingin jadi bebanmu, Damar."


"Apa?!"


Kalimat ini mengagetkan Khati karena pria itu hampir membentaknya. Namun sedetik kemudian, pria itu berusaha menekan emosi dan suaranya.


"Aku ... aku sudah bilang aku yang akan bereskan semua. Aku yang akan menanggung semuanya. Kenapa kau tak juga sabar?" Terlihat sekali sebuah emosi yang dipendamnya sedemikian lama, akhirnya keluar sudah. Wajahnya tampak marah pada Khati tapi ia sekuat tenaga untuk tidak memuntahkan kekesalannya pada wanita itu. "Tapi kenapa kau pada akhirnya meninggalkanku?"


Pria itu mematung menatap makanannya. Perlahan ada air mata yang menetes jatuh ke atas makanan. Pria itu menangis dalam diam.


"Damar ...." Sang wanita segera meraih tiga lembar tisu yang berada di atas meja dan diberikan pada pria itu.


Alih-alih Damar mengambil tisu itu, ia malah meraih tangan Khati. Saat itu wanita itu tidak memikirkan yang lain selain rasa iba. Ia mendekati Damar ingin menghapus air matanya, tapi lagi-lagi pria itu meraih lengan sang wanita.

__ADS_1


Pria itu menatap Khati dengan bersimbah air mata. "Aku harus bagaimana tanpamu di sisiku, Julia? Aku harus bagaimana?" Air matanya tak juga berhenti. Ia menatap wanita itu dengan pandangan hampa. Ia kehilangan pegangan.


"Kau akan baik-baik saja tanpaku, Damar. Kau akan baik-baik saja." Tak terasa air mata Khati juga ikut luruh.


Tiba-tiba pria itu memeluknya.


"Damar ...." Tubuh wanita itu berubah tegang. Tentu saja, karena pria itu bukan lagi mahram-nya.


"Apa kau tak bisa kembali padaku, Julia? Apa aku harus membunuh hakim itu dulu agar kau mau kembali padaku?"


"Damar." Khati segera melepas diri dari pria berkacamata itu.


Kacamata pria itu kini telah berembun hingga sulit melihat kedua bola matanya.


"Damar, kau tidak ...." Wanita itu mengerut dahi.


"Aku terlalu pengecut untuk melakukan hal itu 'kan? Heh, mengenaskan. Benar-benar mengenaskan." Pria itu tertawa menyedihkan.


Khati lega, pria itu pasti bukan pembunuhnya. Lalu siapa sebenarnya yang membunuh Sofia? Apa ada orang lain lagi yang membunuh wanita itu dan apakah Damar tahu? "Damar, mengenai malam pembunuhan itu ...."


"Sudahlah jangan disebut-sebut lagi malam itu, aku sudah ikhlas. Aku sudah ikhlas!"


Khati membujuk pria itu makan. Walau untuk itu ia harus menyuapi pria itu, ia akan jalani. Ada beberapa pasang mata menatap ke arah mereka tapi wanita itu tak peduli. Biar bagaimana pun pria itu pernah mengisi hari-hari bahagianya, karena itu ia akan bantu Damar sebisanya.


--------+++---------


Saat mobil Khati memasuki pintu gerbang rumahnya, ia mendapati seseorang telah menunggunya di depan pintu. Wanita itu terkejut. Ketika mobil berhenti, ia segera turun. "Papa!"


"Maaf, Papa kembali. Pesawat Papa ditunda keberangkatannya, jadi Papa pulang saja."


"Lho, 'kan bisa ditunggu. Paling, hanya beberapa jam saja."


"Tidak. Sepertinya pesawat ada kerusakan, dan pesawat penggantinya penuh. Tidak ada konfirmasi apa-apa sampai beberapa jam kemudian, sehingga Papa minta asisten Papa untuk ganti pesawat, dan dia hanya bisa memberikan tiket pesawat untuk berangkat besok. Kamu gak keberatan Papa di sini untuk sehari lagi, 'kan?"


"Tentu saja tidak, Pa. Ini 'kan rumah Papa juga." Dalam hati, Khati mengeluh. Berarti ia harus tidur sekamar lagi dengan suaminya. Ia tak bisa membayangkan, masalah apalagi yang akan timbul nanti malam. Ia hanya berharap bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Keduanya kemudian masuk. Khati naik ke lantai atas untuk membawa barang belanjaannya ke kamar Jun. Di sana, ia mengeluarkan belanjaannya dari sebuah kantong kertas. sebuah jilbab instan berwarna peach. Ia kemudian membuka koper miliknya dan menyembunyikan jilbab itu di antara tumpukan baju. Setelah itu ia berganti pakaian.


-------+++---------


"Papa?" Jun terkejut ketika pulang dan mendapati Khati sedang mengobrol dengan ayah Julia. "Kau kembali?"


"Oh, pesawatnya bermasalah tapi Papa sudah ganti dengan pesawat besok," terang sang istri.


"Tidak masalah 'kan?" tanya pria itu pada Jun.


Hakim itu melirik senang pada sang istri. "Tentu saja. Aku malah senang Papa ada di sini. Anggap saja ini rumah sendiri, Papa. Kedatanganmu selalu kuanggap anugrah."


Khati langsung merengut. Dia pasti mau main akal-akalan lagi, huh!


----------+++---------


Jun mendengarkan rekaman dari ponsel itu dengan seksama. Khati menunggunya di samping pria itu di tepi ranjang. Tak lama pria itu menyudahi rekaman itu. "Ini rekaman penting. Biar aku kirim saja ke HP-ku." Ia menekan layar ponsel.


"Jadi benar 'kan, bukan Damar pembunuhnya?" ledek sang istri senang.


"Tidak jelas."


"Apa?" Wanita itu mengerut kening.


"Kita tidak boleh berprasangka. Harus orangnya sendiri mengatakan secara langsung, bukan praduga dari kalimat yang menggiring opini. Itu salah. Dia belum mengatakan apa-apa."


"Jadi, kita masih belum bisa mengetahui apa benar Damar membunuh istrinya, begitu?"


"Benar sekali, Sayang." Jun mencolek hidung istrinya.


"Jadi, tuduhanmu bahwa Damar adalah pembunuhnya itu juga tidak benar dong!"


"Belum tentu."


"Kenapa kau begitu yakin Damar membunuh istrinya sendiri sih, Mas?" tanya Khati sewot.

__ADS_1


"Karena dia sudah menipu banyak wanita, termasuk kamu salah satunya."


Wanita itu merengut kesal.


__ADS_2