Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Sudah Lama


__ADS_3

Khati kembali ke meja makan seolah tak mendengar. Ia meneruskan lagi sarapannya.


"Sayang. Aku benar-benar minta maaf," ucap Jun pelan saat duduk di samping istrinya.


Wanita itu tak bereaksi. Ia mengunyah nasi yang baru disuapnya dengan pandangan datar.


"Sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Tak pernah terpikirkan olehku, aku meremehkan posisimu. Tidak pernah. Kau sama pentingnya dengan hatiku."


Sang wanita hanya melirik pria itu dari sudut matanya, tapi ia belum ingin berucap sepatah kata pun.


"Julia, maafkan aku. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan ini?"


Wanita itu mulai menoleh. "Aku bukan orang penting seperti dirimu. Aku hanya seorang tahanan yang tak pantas dikenang. Mungkin umurku tak selama itu."


"Julia, kau jangan berkata begitu." Pria itu langsung meraih tangan istrinya. Ia ingin memberi semangat sang istri, bahwa kebenaran pasti akan terungkap dan dia pasti akan dibebaskan. "Aku mengikutsertakan kamu pada misi ini agar kamu merasa ikut memperjuangkan nasibmu. Kamu bisa dan kamu pasti bisa." Ia menggenggam erat tangan istrinya.


Khati hanya memperhatikan pria itu menggenggam tangannya. Sejujurnya, ia makin hari makin bingung pada posisinya. Apa ia harus menganggap pria ini teman, tapi mereka menikah. Apa ia harus menganggap pria ini suami, tapi yang dilakukan hanya untuk menutupi masalah lainnya. Tidak ada cinta, tapi semakin hari hatinya semakin terseret arus yang tak ia tahu ke mana arahnya.


Wanita itu menarik tangannya dari genggaman Jun. "Sebaiknya kamu bersiap-siap, Mas. Katanya mau ke kantor pagi?"


Jun sedikit kecewa ketika Khati menarik tangannya. Ia merasa belum sepenuhnya menghibur sang istri yang sedang bersedih. "Apa nanti aku belikan es krim, Sayang?" Pria itu memberi senyum terbaiknya.


Sang wanita itu hanya tersenyum sebentar. "Aku bisa beli sendiri, Mas. 'Kan aku mau ke tempat senam."


"Katakan kau mau apa, nanti aku belikan sepulang kantor." Pria itu kembali fokus dengan sarapannya yang sedikit lagi selesai.


"Surat cerai mungkin," ucap sang istri, asal.


Jun sempat kaget. "Julia ... jangan kau ungkit-ungkit lagi masalah itu," pintanya setengah kesal.


Wanita itu melirik sang suami dengan tersenyum lebar, mengejeknya. "He he he, aku cuma bercanda."

__ADS_1


Jun bisa merasakan, sang istri masih marah padanya. "Julia ...."


Dengan wajah dingin, Khati merapikan jalinan dasi suaminya. "Ayo, cepatlah kau berangkat. Nanti kau terlambat. Lagi pula, hari ini aku harus bertemu Damar lagi 'kan?"


Pria itu masih memandangi sang istri dengan berbagai pertanyaan di kepala. Sebenarnya ia tak ingin Khati menemui mantan suaminya itu, tapi bila ia egois Khati tak mungkin selamat. Tinggal selangkah lagi, dan setelah itu ia ingin berdamai dengan Khati. Ia tahu, Khati pun pasti sama dengan dirinya, seakan berada di dalam ketidakpastian hubung yang membuat mereka berdua bingung melangkah bersama. Jun yakin, Khati juga mencintai dirinya. "Apa kamu mau ikut aku ke kantor?"


"Apa?" Kedua mata indah milik istrinya itu membola. "Oh, aku rasa tidak perlu. Aku bukan orang yang suka memata-matai suami."


"Bukan begitu. Aku akan mengantarmu ke Mall nanti, saat waktunya senam."


Wanita itu menggeleng acuh. "Tak perlu, Mas. Aku bukan anak kecil lagi."


"Soalnya nanti aku akan kembali lagi untuk makan siang bersamamu di Mall."


Kenapa dia harus bolak-balik ke Mall sih? "Bukannya aku harus bertemu dengan Damar, Mas?" Dahi wanita itu berkerut.


"Eh, mungkin kau malas bertemu Damar, Sayang." Pria itu mengusap mulut dengan serbet makan dan meminum tehnya.


Baru kali ini sang istri berbicara sedikit profesional. Mungkin semakin hari ia semakin menyelami pekerjaannya dengan baik. Jun terpaksa pergi ke kantor sendirian.


---------+++---------


Khati menyalakan ponselnya, lalu memindahkan ke mode rekaman. Ia kemudian menutup tasnya dan melangkah keluar tempat senam. Ia sudah memperkirakan, pria itu akan mengincarnya lagi.


"Julia."


Seperti dugaan. Pria itu datang dengan senyum terbaiknya, dan dirinya juga harus mulai dengan sandiwara lama yang masih terus ia dengungkan. Terkejut melihat kedatangan pria itu tiba-tiba di tempat senam. "Kau tidak kerja, Dam?"


Pria itu mengusap kepalanya. "Eh, aku baru sembuh dan masih cuti makanya mencarimu dari kemarin. Kau ke mana saja kemarin, aku cari?"


"Mmh? Tentu saja dengan suamiku. Kemarin 'kan hari libur, suamiku ada di rumah. Jadi tentu saja aku menemaninya."

__ADS_1


"Oh." Ada raut kecewa setiap kali Khati bicara tentang suaminya, tapi ia harus tegaskan itu dari awal agar pria itu bisa mencari wanita lain selain Julia. Ia juga berharap mantan suaminya itu bahagia setelah dua kali menikah dan gagal.


"Papaku juga datang dari Inggris, jadi kami punya acara keluarga untuk kenal satu sama lainnya."


Pria itu terlihat tak nyaman. Ia berdehem sebentar. "Oh, untung saja aku tidak menelepon ya, jadi tidak mengganggu acara keluargamu."


Khati sebenarnya tak tega. Terlihat sekali pria itu hampir menangis. Tiba-tiba tangan Damar menggandeng tangan wanita itu. "Yuk, kita makan. Kamu pasti capek habis olahraga."


"Eh, Damar ...."


Pria itu seperti tak peduli dan terus menarik Khati mendatangi eskalator. Keduanya naik ke atas sambil terus berpegangan.


"Damar." Khati berusaha menarik tangannya, tapi pria itu tak lepaskan.


"Kita 'kan teman. Temani aku sembuh dengan makan makanan yang sehat," ucap pria berkacamata itu berusaha tersenyum. Julia adalah pengobat hatinya. Tentu saja ia takkan biarkan wanita itu pergi begitu saja.


Untung saja Khati memakai kacamata hitam. Kalau tidak, mungkin saja keberadaan mereka berdua yang saling bergandengan tangan akan menjadi gosip baru yang viral. Khati berusaha untuk tidak jadi perhatian umum dengan sedikit menunduk.


Mereka mendatangi sebuah restoran yang biasa mereka datangi bersama. Itu adalah restoran Itali yang mewah kesukaan Julia. Damar juga mendatangi tempat favoritnya, di sudut dekat jendela yang pemandangannya mengarah ke dalam Mall.


"Kamu mau makan pasta apa sekarang, Julia?" Damar membuka buku menu.


"Lho, bukannya kamu tadi yang mau makan?" sahut Khati dengan senyum ramahnya.


"Eh, biasanya dipancing dulu. Aku suka kalau lihat kamu makan, jadi nanti baru pesan makanannya."


"Mmh, bagaimana kalau aku pesankan yang sama untukmu juga?" Wanita itu sedikit memberi kerlingan pada pria berkacamata itu.


"Oh, ya sudah." Damar memandangi Julia berusaha mengartikan kerlingannya tadi.


Padahal saat itu juga, Khati benci dirinya sendiri. Ia merasa jauh dari Tuhan, dengan menggoda lagi mantan suami, membuka jilbab dan hijabnya, dan belakangan ia merasa dirinya begitu murahan dengan pakaian yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya. Ia rindu dirinya yang dulu tapi ia lebih rindu untuk kembali dekat dengan Tuhannya.

__ADS_1


Ya Allah, ampuni dosaku, ya Allah. Yang tidak bisa kembali menjadi diriku yang dulu. Yang tidak bisa patuh pada perintahmu. Apakah aku dapat kembali lagi seperti yang dulu, ya Allah. Yang selalu istiqomah di jalanMu, yang selalu kau terangi dengan cahayaMu. Ya Allah, tunjukilah hambaMu ini jalan untuk kembali.


__ADS_2