
Jun menerima lemparan bantal yang menghampirinya. Ia harus menerima kemarahan ini agar istrinya puas. Ia tak bisa selamanya menghindari. Ini memang kesalahan yang memang sedari awal ia sengaja. Ia harus terima konsekuensinya. "Sayang, maafkan aku. Aku salah, tapi aku suamimu. Apa yang kita lakukan itu tidak dosa, terlepas dari perjanjian yang ada."
"Kau selalu mau menang sendiri! Kau merasa paling benar!" teriak sang istri dan kembali menangis. Namun kali ini ia tidak sehisteris tadi. Ia hanya diam di tempat tidur dengan posisi miring ke samping.
Jun mendatangi istrinya dan duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan wajah istrinya yang pucat dan rambut yang acak-acakan.
Wanita itu menatap ke arah dinding dengan pandangan hampa. "Kenapa tak kau biarkan saja aku mati di penjara, Mas, daripada menerima kenyataan pahit ini. Semua orang menginginkan aku cepat mati, kan?"
"Kata siapa?" Jun hampir berteriak. Ia meraih tubuh istrinya dan memeluknya. "Kau adalah istri yang paling sempurna yang pernah aku temui dalam hidupku."
Khati terharu. Ia kembali meneteskan air mata. Kenapa kata-kata ini keluar dari pria yang paling tidak aku percaya? Padahal pria yang paling aku percaya malah mengkhianatiku.
"Julia, percayalah. Kalau aku mengeluarkanmu dari sana, berarti aku yakin kau tak bersalah, tapi kau harus berjuang mencari kebenaran karena aku tidak bisa melakukan ini sendirian."
Wanita itu hanya diam. Ia tidak tahu lagi pada siapa ia harus percaya. Ia melepas diri dari sang suami lalu memunggunginya sambil menaikkan selimutnya tinggi-tinggi.
"Julia."
Wanita itu bergeming. Ada apa dengannya? Kenapa ia jadi tiba-tiba berubah? Seperti ada yang lain. Jun kemudian teringat rekaman kemarin yang belum sempat ia dengar, ketika melihat ponsel istrinya di atas meja.
Ia mengambil ponsel itu dan mendengarkannya di sebuah kursi dekat jendela. Betapa terkejutnya ia mendengar rekaman itu. Khati telah mendengar sendiri, mantan suaminya memang berniat memasukkan ia ke penjara dan mengambil perusahaannya, tapi bukan itu yang membuat pria itu terkejut.
Julia yang asli sepertinya tahu akan rencana ini. Ia syok! Ia bahkan hampir tidak percaya kalau saja ia tidak mendengar sendiri ucap Damar dalam rekaman itu. Ini di luar perkiraan. Wanita yang ia anggap seorang bidadari cantik dan manja, terlibat dalam kejahatan bersama selingkuhannya?
Jun menggigit punggung tangannya. Ia melirik Khati yang terbaring kehilangan semangat. Pantas saja, karena sang istri mendengar sendiri pria yang dipujanya selama ini, menusuknya dari belakang.
Jun menidurinya memang tidak di waktu yang tepat. Sekarang, wanita itu pasti sangat frustasi karena merasa seperti manusia yang tidak berguna. Pria itu kemudian mendatangi istrinya kembali.
"Julia," ucapnya pelan, tapi wanita itu tak menyahut. Ia merangkak ke atas ranjang untuk memastikan wanita itu tidak tidur.
Khati memang tidak tidur. Matanya terbuka tapi kembali pandangannya kosong. Jun menepikan rambut panjang sang istri yang hampir menutupi wajah, tapi wanita itu bergeming. Wanita itu hanya diam tak bersuara.
__ADS_1
"Julia." Pria itu menggenggam tangan istrinya yang berada di samping. Tak ada reaksi. Ia mencoba mengecup keningnya, tapi tak juga ada respon. Tentu saja Jun panik. Apa dia sudah hilang akal? Pria itu mengguncang-guncang bahu sang istri. "Sayang, jangan bikin aku panik!"
Khati menepis tangan suaminya ke samping dengan wajah dingin.
Ah, syukurlah dia tak apa-apa. "Maaf, kamu mau tidur ya? Maaf." Pria itu kemudian merapikan kembali selimut istrinya. Ia tentu saja khawatir setengah mati.
Setelah menepi, Jun kembali membuka ponsel istrinya dan mengirim rekaman itu ke ponselnya. Setelah itu ia menghela napas pelan.
Ia tahu, kini istrinya tengah melewati masa-masa kritisnya menghadapi kenyataan dan ia baru saja menambah beban istrinya dengan tidur dengannya tadi. Ia merasa dirinya rendah. Ia telah memanfaatkan Khati selagi wanita itu butuh tempat bersandar. Jun memukul keningnya karena kesal.
Saat makan malam Jun coba kembali mendatangi kamarnya. "Julia." Ia tidak menemukan istrinya di kamar. "Julia."
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang ditutupi handuk, dan sudah berganti pakaian dengan menggunakan piyama. Jun terkejut. Secepat itu wanita itu pulih?
"Aku akan tidur di kamarku lagi," sahut wanita itu yang tak peduli dengan pandangan suaminya yang melongo melihat dirinya, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ju-julia?"
Wanita itu merapikan koper dan menguncinya. Ia kemudian menarik koper itu ke arah pintu. Jun tiba-tiba merebut koper itu dari tangan sang istri. "Biar aku yang bawakan."
"Julia, kamu akan makan malam ke bawah 'kan?"
"Aku gak selera." Khati sekarang terkesan tak acuh dan ia langsung melepas handuk di kepala. Wanita itu mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk.
"Apa kamu mau makan di kamar?"
"Tidak."
"Kau tak lapar?"
Wanita itu melirik Jun dengan sudut matanya. "Tidak."
__ADS_1
"Julia ...."
"Aku mau tidur."
Ini akan jadi hari yang berat buat Jun karena ia tidak tahu apakah Khati ngambek atau depresi karena dari wajahnya sama sekali tak terlihat.
"Julia."
Khati segera meninggalkannya dan mengambil hair dryer. Dengan sedikit kecewa, pria itu meninggalkan kamar itu. Namun tak lama. Jun datang kembali dengan membawa baki berisi makanan. Walau hatinya berusaha menyangkal kalau ini bukan salahnya, tapi ia tak bisa membiarkan sang istri kesusahan sendirian.
Apalagi ia menyadari, Khati tak punya siapa-siapa yang bisa menjadi punggung untuk bersandar. Ia berusaha membuang gengsinya untuk memastikan wanita itu benar dalam keadaan baik-baik saja. "Sayang, makan malam dulu ya? Aku sudah minta chef buatkan sandwich ayam kesukaanmu. Bagaimana?" Pria itu meletakkan baki itu di sebuah meja, dekat sofa.
Khati yang sedang menyisir rambutnya yang sudah kering, hanya menoleh sebentar dan kemudian sibuk menyisir rambut. Pria itu tak kehabisan akal. Ia membawa satu potong sandwich dan mendatangi istrinya. Ia langsung menyodori ke mulut sang istri. "Ayo, aaa ...." Pria itu mengajari dengan membuka mulut.
Mau tak mau wanita itu membuka mulut sehingga pria itu bisa menyuapinya. Jun senang, sang istri terlihat mulai mau lunak. Sambil melihat istrinya mengunyah, Jun mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Sayang, aku punya hadiah untukmu." Ia menggoyang-goyang sebuah kunci yang dikaitkan di sebuah gantungan kunci.
Wanita itu mengernyitkan dahi. Apa itu? Kunci mobil?
"Sayang, tadi aku baru saja membelikan mobil untukmu. Kamu mau lihat? Yuk, kita keluar," ucap Jun dengan senyum lebar.
Khati dengan cepat meraih kunci itu dan melemparnya ke lantai. Ia langsung mendatangi ranjang dan masuk ke dalam selimut.
Pria itu tentu saja terkejut. Ia tak menyangka reaksi istrinya akan seperti itu. Padahal ia berharap istrinya memaafkan dirinya dan kesedihan wanita itu berkurang, tapi apa yang terjadi? Istrinya malah membuang kunci mobil itu ke lantai.
"Julia? Kenapa kamu membuangnya? Apa kamu tak suka dengan mobil yang aku berikan? Aku beli mobil mewah, Sayang. Untukmu." Jun bingung, kenapa istrinya tidak suka dengan mobil yang baru dibelinya. Padahal Khati belum melihat mobil itu. "Apa kau ingin yang lain, Sayang? Katakan saja. Aku aku akan belikan," tanya pria itu yang langsung mendekati ranjang.
Wanita itu segera duduk dan menatap ke arah sang suami. Sebelum ia bicara, sang suami sudah langsung memotongnya. "Eh, tapi tidak surat cerai ya?"
Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran Khati. "Benar, boleh minta apapun?"
"Katakan saja."
__ADS_1
"Aku ingin ....."
"Ya?"