
"Eh, Mas jangan begini di depan umum. Malu, Mas," bisik Khati dengan suara rendah karena sang suami memeluk pinggangnya di hadapan Max dan tamu lainnya, tapi Jun tak peduli dan makin mendekapnya erat.
"Ya sudahlah, aku pindah ke planet lain saja," kata Max sambil tertawa tanpa suara melihat kelakuan adiknya yang begitu menggandrungi istrinya. Ia meninggalkan keduanya.
Wanita itu berhasil melepaskan diri dari Jun tapi pria itu kemudian meraih lengannya.
"Kau mau ke mana, Sayang?"
"Aku tidak terbiasa pamer kemesraan di depan umum, Mas. Aku juga pernah menikah, tapi tak harus memperlihatkannya ke semua orang."
Jun menarik istrinya mendekat dengan sekali hentakan membuat Khati jatuh dalam pelukan sang suami. Ia berbisik di telinga sang istri. "Kau menikah denganku, Julia, jadi kau harus ikut peraturanku. Aku orang terkenal jadi walau kau bersembunyi di lubang manapun, orang akan mencari tahu. Demi menyelesaikan misi ini, mulai sekarang kau harus mengikuti perintahku, atau penyamaran ini akan sia-sia. Kita akan jatuh bersama-sama." Pria itu dengan tegas mengucapkan kemungkinan terburuknya.
Khati memandang ke arah sang suami dengan perasaan yang berkecamuk. Ia ingin marah, tapi tak bisa meluapkannya begitu saja karena ia kini dalam perlindungan sang suami. Minta tolong orang lain pun rasanya tak mungkin karena Jun adalah Hakim Agung. Hukum tertinggi ada di tangannya.
Lagipula, melaporkannya sama saja dengan memasukkan diri ini kembali ke penjara, dan hukumannya mungkin akan semakin berat. Ia sepertinya harus bersabar karena apa yang ditawarkan suaminya juga tidak buruk, mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membunuh istri mantan suaminya itu.
Mungkin ada petunjuk yang terlewatkan. Dengan begitu, ia bisa menyelamatkan Damar dari tuduhan yang dilontarkan Jun pada mantan suaminya itu. Ya, ia akan buktikan, Damar tak bersalah, walau untuk itu, ia harus menukar dengan kebebasannya.
Dari jauh seorang pria tengah memperhatikan keduanya di keramaian. Ia heran melihat hubungan mereka yang tampak aneh. Wanita itu seperti berada di bawah kendali sang pria yang terlihat posesif. Dimitri mengerut kening.
------------+++-----------
"Julia, sepertinya waktunya telah tiba."
"Apa?" Khati yang tengah mengaduk-aduk makanannya terkejut.
__ADS_1
"Kau tidak perlu diet berlebihan lagi, cukup jaga kondisi tubuhmu dengan berat badan yang sekarang ini. Kita akan pulang ke Jakarta."
"Kapan?" tanya sang istri yang masih syok. Berjuta pertanyaan mengenai tugasnya berseliweran di kepala.
"Secepatnya, karena kita sedang berkejaran dengan waktu. Kemasi saja barang-barangmu. Mungkin besok."
"Jadi ... penyelidikan itu gagal?" wanita itu masih belum percaya, dia akan benar-benar bekerja untuk melakukan penyamaran. Padahal ia masih berharap ada titik terang dari penyelidikan itu agar ia tidak maju dan meneruskan kehidupannya yang konyol dan penuh kepalsuan ini.
"Jangan khawatir, bersiap sajalah."
Benar saja. Esoknya, Khati pulang bersama sang suami. Selama di perjalanan wanita itu gelisah. Jun terus mendampingi, menggenggam tangannya dan memberi semangat. "Ingat, kebebasanmu sudah dekat," bisik pria itu ketika mereka duduk berdampingan di pesawat pribadi yang disewanya.
Ia sendiri sebenarnya enggan membawa sang istri kembali ke Jakarta karena takut dengan hasilnya nanti. Rasanya ia ingin waktu berhenti. Membiarkan jeda dan ketidaktahuan itu sampai akhir karena ia merasa hidupnya tenang bersama Khati. Walau wanita itu bukan yang diinginkannya tapi ia bisa belajar mencintainya. Ia hanya ingin hidup tenang, itu saja.
Ya, belakangan Jun mulai hampir menyerah tentang balas dendam ini dan ingin menghabiskan waktu bersama sang istri saja. Bersama wanita ini, ia merasa telah kembali menjadi dirinya yang dulu saat belum mengenal Julia, bahkan lebih bahagia. Walaupun Khati bukan cinta pertamanya, tapi ia ingin memberikan seluruh hidupnya untuk wanita ini.
Setelah sampai di Jakarta, keduanya bergegas ke rumah Jun. Khati dan Jun memakai kacamata hitam agar berita kepulangan mereka tak bocor. Di sana telah menanti asisten Jun, Todi.
Todi terkejut melihat wajah Khati ketika wanita itu melepas kacamatanya. "Julia?" Pria itu melongo.
"Bukan. Dia Khati, istriku," sahut hakim itu.
Khati sedikit tak nyaman diperhatikan asisten suaminya seperti itu.
"Persis sekali, Pak." Todi masih mengagumi perubahan Khati yang telah menjadi orang lain dan lebih cantik. "Tapi dia lebih cantik dari Julia ...."
__ADS_1
"Todi, jangan bicara yang tidak perlu!" bentak Jun memotong kalimat asistennya itu. Ia tidak ingin Khati tahu, ia mengenal Julia. Kalau istrinya tahu ini, mungkin wanita itu takkan mau menolong Jun. "Panggil dia Julia mulai sekarang."
"Eh, baik, Pak." Todi yang merasa bersalah, mulai fokus.
"Bagaimana? Kau sudah membuat konferensi persnya?"
"Sudah. Nanti malam, Pak. "
"Bagus. Semakin cepat semakin baik." Hakim itu menoleh ke arah sang istri. "Eh, Julia. Kau bisa istirahat dulu di kamarmu." Jun kemudian meninggalkan Khati dan bersama Todi pindah ke ruang kerjanya di samping. sedang Khati, ia kemudian naik ke lantai dua mengikuti pelayan yang membawakan kopernya.
Tak beberapa lama, pria itu menyusul istrinya ke kamar. Ia mengetuk pintu dan Khati membukanya. Jun menyodorkan sebuah ponsel pada sang istri. "Ini untukmu, aku belikan HP baru. Di dalamnya sudah aku masukkan nomorku dan nomor Todi, asistenku tadi. Juga beberapa video tentang Julia. Kau bisa meniru caranya berbicara dan berjalan. Nanti malam, kau ikut aku ke Konferensi Pers."
"Tapi ... a-aku tidak bisa secepat itu mempelajarinya," sahut Khati yang tiba-tiba gugup mendengar harus ikut sang suami Konferensi Pers.
Jun tersenyum kecil. "Jangan takut. Kau hanya perlu berada di sampingku saja. Kalau kau tak mau bicara, kau bisa diam saja dan menolak untuk bicara," ujar pria itu dengan santainya.
Khati masih gugup, tapi ia tak bisa mundur. Keadaan tengah memaksanya. Dengan tekat kuat, ia dengan tekun mempelajari video tentang Julia agar bisa melakukan perannya sebaik mungkin.
Video yang ia dapatkan adalah video potongan wawancara model itu dengan beberapa wartawan di dalam dan luar negri. Juga ada video saat wanita itu sedang melakukan pemotretan, dan lain-lain yang di dapat di media sosial. Khati mencoba menirunya sambil bercermin saat berjalan atau berbicara. Tanpa terasa, waktu itu pun tiba.
---------+++--------
Khati merenggut kesal. Ia sudah dandan yang cantik tapi pakaian yang dipilih suaminya itu ia tak suka. Dress hitam berbentuk tube, walaupun panjang ke bawah tapi bahunya terbuka tanpa lengan.
Dari sejak dibeli ia tak suka pakaian itu karena terlampau seksi. Suaminya memaksa Khati memakai pakaian itu untuk Konferensi. Wanita itu menyilang tangannya di dada karena malu lekuk bahu dan lehernya terlihat jelas. Ia menggerai rambut panjangnya agar terlihat samar. "Mas, aku malu pakai pakaian seperti ini. Ini terlalu mengekspos bentuk tubuhku, Mas."
__ADS_1
_________________________________________