
"Eh, di lantai atas." Jun menunjuk pelan kamarnya pada pria itu. Ayah Julia bergegas menaiki tangga membuat Jun panik. Sang hakim segera mengekor pria bertongkat itu yang kini bergegas ke arah kamarnya!
Khati terkejut ketika kamar itu di terobosan masuk oleh seorang pria. Ia yang tengah berbaring, memiringkan tubuh karena sekilas ia tak mengenal pria itu. Sang pria mendatanginya. "Julia, kau baik-baik saja?"
Wanita itu berniat memejamkan mata, tapi rasanya tidak akan memecahkan masalah. Karena itu, ia tetap membuka matanya dan menoleh.
Seorang pria paruh baya berwajah rupawan mendekatinya. Sekilas wajah pria itu mirip dengan Julia.
Apa ini ayah Julia? Khati terpaksa mencoba duduk pelan-pelan walau bingung harus bicara apa.
Pria paruh baya itu langsung menyentuh kening wanita itu ketika bokongnya mendarat di tepi ranjang. Khati bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Pria Indonesia dengan wajah tirus dan bibir tipis dengan bola mata coklat tua. Ciri ini sama persis dengan wajah Julia sang foto model.
"Suhumu normal," sahut pria itu.
"Eh, sudah agak baikan," jawab Khati pelan.
Saat itu, Jun masuk ke dalam kamar. Cukup mengejutkan baginya, seorang pria bertongkat seperti ayah Julia berjalan cepat sampai ke kamarnya. Kini, ia sendiri bingung harus menyarankan apa pada istrinya karena ia sendiri tak kenal pria itu. Selama mengenal Julia, wanita itu tak pernah sekalipun pernah menceritakan tentang ayahnya sehingga ia buta, tak tahu saran apa yang baik bagi Khati saat ini.
"Memang kau sakit apa?"
Pertanyaan ayah Julia membuat wanita itu bingung menjawabnya. Khati sempat melirik pada Jun yang ternyata tak memberinya petunjuk. Wanita itu kesal karena harus menebak-nebak sendirian. "Eh, tadi pagi agak mual dan sempat muntah." Ia terpaksa berbohong agar terlihat meyakinkan.
"Muntah?"
Jarak wajah mereka tak terlalu jauh, jadi bila berbicara tak jelas akan langsung terlihat. Apalagi pria itu memperhatikan wajah Khati dengan seksama. Wanita itu benar-benar cemas. "Eh, iya," jawabnya pelan.
Pria paruh baya itu mengerut dahi menatap wajah wanita di depannya. Saat itu juga jantung Khati berdegup kencang. Apa yang sedang diperhatikan pria ini? Apa ia melihat sesuatu yang aneh dari diriku? Dia ayah Julia. Tidak aneh kalau ia tahu bedanya. Jantung wanita itu makin tak tenang, apalagi pria itu tiba-tiba menyentuh dagunya.
"Kamu terlihat gemuk ya? Papa terkejut melihatnya."
Jun datang membantu. "Eh, aku menyuruhnya berhenti bekerja."
Ayah Julia melirik ke arah hakim itu. "Tapi ini beda."
"Eh, itu tandanya kami bahagia," sahut Jun lagi sambil memaksakan diri tersenyum lebar.
"Tidak. Ini beda. Wajahnya beda. Apa kau tak lihat?"
__ADS_1
Khati hanya melirik keduanya yang berada di kanan kirinya, tak berani bicara. Sedang Jun, dia panik harus menjawab apa. Wajahnya pucat pasi.
"Anakku Julia, aku rasa dia hamil."
Apa?" Jun dan Khati berucap bersamaan. Keduanya saling tatap dan bertambah panik. Tentu saja, karena mereka pernah melewati satu malam bersama. Karena itu, tidak ada kata mustahil, tapi benarkah?
"Apa kamu tak periksa?" Pria bertongkat itu kembali bertanya pada Khati. Ia memutar kepalanya mengarah pada Jun. "Apa kau tidak pernah memperhatikannya?"
"Eh, Papa. Aku selalu memperhatikannya tapi dia belum pernah sakit begini." Untuk pertama kalinya, Jun memanggil ayah Julia 'Papa'.
"Mmh, kalau begitu. Kita bawa saja ke rumah sakit untuk diperiksa." Ayah Julia bangkit dari duduknya. "Berikan dia jaket. Mungkin dia kedinginan nanti di mobil."
Khati tentu saja panik. Ia melirik suaminya dengan mata melotot. Hakim itu malah berbicara tanpa suara, 'muntah?'
Jun terpaksa menurut dengan mengambil jaketnya untuk dikenakan sang istri. Ayah Julia yang memakaikan. Ia memasang jaket itu di kedua bahu Khati. "Ayo, kita berangkat."
Jun mengikuti pria itu yang membawa istrinya keluar dan menuruni tangga. Ia memutar otak, tapi tak menemukan cara pemecahannya, hingga terpaksa ia mengikuti terus keduanya. "Pakai mobil Saya saja, Pa," sahut Jun memberitahu.
Di luar ada mobil Rolls-Royce sewaan menunggu. Namun ayah Julia sepertinya tak masalah bila harus naik mobil hakim itu. Mobil Jun kemudian datang tapi pria bertongkat itu langsung mengambil alih kursi belakang dengan memasukkan Khati dan dirinya di sana. Jun terpaksa duduk di depan.
Selama di perjalanan, hakim itu cemas dengan Khati yang duduk dengan ayah Julia. Sesekali ia mengintip lewat cermin kecil di atasnya, apa yang terjadi di belakang.
"Kau mirip ibumu. Terlihat keibuan ketika hamil dirimu," sahut ayah Julia pada wanita itu.
Kepala Jun pusing mendengar kalimat itu. Benarkah Khati hamil? Kalau benar, ia makin ragu untuk meneruskan misi ini karena takut Khati keguguran. Eh? Apa? Eh ... sebuah bayi ya? Apa bayi itu mirip diriku? Namun kemudian pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir semua pemikiran aneh itu. Khati belum saatnya untuk hamil. Dia tak boleh hamil!
Mobil memasuki halaman sebuah rumah sakit. Setelah turun, mereka segera mendatangi bagian poli ibu dan anak. Di sana, hanya Jun dan Khati yang diperbolehkan masuk.
"Bagaimana ini?" bisik sang wanita pada suaminya.
"Ya kita periksa saja."
Khati memukul lengan pria itu karena kesal. Ia hampir menangis. Seorang suster menuntun Khati ke brankar sedang Jun menemui dokternya.
"Oh, hakim Jun?" Dokter wanita itu mengenalinya.
"Eh, iya." Pria itu menyadari, dokter itu mengenalnya karena ia orang terkenal.
__ADS_1
"Baru berapa bulan menikah ya?"
"Baru dua bulan, dok."
"Ok, Saya periksa dulu." Dokter wanita yang berperawakan gemuk itu mendatangi brankar dan memeriksa istri Jun. Tak lama ia keluar dengan membuka lagi gorden yang tertutup itu. Ia kembali duduk. "Jangan berkecil hati ya? Sepertinya kalian masih belum beruntung, tapi usaha saja karena kelihatannya kandungan ibunya normal."
"Oh, begitu?" Pria itu lega.
"Tapi kesempatan itu masih ada. Kalian 'kan masih muda. Nikmati saja masa-masa kalian yang masih berdua ini dengan baik sampai waktunya tiba. Sekarang aku buat resep vitamin dulu ya?"
"Ok, terima kasih, dok."
Keduanya kemudian pamit. Ada rasa aneh menjalar pada diri Jun. Ia menggandeng tangan istrinya. Khati tentu saja lega.
Di luar, ayah Julia menunggu. "Bagaimana?"
"Eh, maaf. Belum, Papa," sahut Jun pada pria paruh baya itu.
Terlihat raut kecewa pada pria itu. "Ya sudah. Ayo kita pulang."
"Eh, bagaimana kalau kita sarapan dulu? Papa baru datang 'kan? Apa baru turun dari pesawat?" Tentu saja itu karena hakim itu menyadari, ia belum selesai sarapan karena diganggu pria itu dan kini ia kelaparan. Untung saja, ayah Julia setuju. Mereka kemudian makan di kantin rumah sakit.
"Julie, makan yang banyak ya? Biar cepat sembuh," sahut ayah Julia.
"Iya, Papa."
Pria itu masih memandangi Khati yang duduk di sampingnya. "Padahal aku begitu yakin kau hamil. Kau berbeda dari biasanya, Julie."
Jun melirik istrinya dengan perasaan waswas.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian?" Sang pria paruh baya kini menatap ke arah hakim muda itu.
"Apa? Ah, kami baik-baik saja."
"Bukan. Apa kalian menikah secara legal? Bisa aku lihat surat nikahnya?"
Jun kembali pusing dengan permintaan pria ini. Kini ia harus menjawab apa? Kenapa pria ini datang di waktu yang tidak tepat?
__ADS_1
__________________________________________