
"Oh, mmh ...." Wanita itu segera memisahkan diri dari sang suami. "Belum."
"Oh." Wajah pria itu sedikit lega. "Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?"
"Mmh?" Khati menatap sang suami dengan alis dinaikkan. "Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" Ia baru sadar, Jun begitu mudahnya menemukan dirinya di sana.
Jun tersenyum hangat. "'Kan sudah kubilang, kau ini sedang diikuti anak buahku. Jadi kalau aku ingin bertemu, mudah bagiku menemukanmu. Kalau ada apa-apa mereka juga akan menolongmu."
"Benarkah?" Khati mulai mengerakkan kedua bola matanya melihat sekitar.
"Tak perlu seperti itu, Sayang. Mereka melindungimu." Jun bangkit dari kursinya. "Ayo, kita pindah ke lantai atas. Di sana ada banyak restoran, kita bisa pilih."
Setelah membayar minuman, mereka naik ke lantai atas lewat eskalator. Di saat itulah, seseorang yang mengenal mereka berdua terkejut dan bersembunyi. Damar baru saja akan turun dan ia melihat Khati dan Jun naik, hingga ia mengurungkan niatnya untuk turun lewat eskalator. Ia melihat keduanya masuk ke sebuah restoran China. Pria berkacamata itu mengintip dari seberang restoran.
Julia, kenapa kau makin cantik saja setelah menikah dengannya? Apa kau bahagia? Kenapa kau tiba-tiba menikah, aku tak mengerti jalan pikiranmu. Bukankah kau sudah membuat janji untuk menikah denganku? Kenapa kau menikah dengan hakim itu, apa tawarannya lebih baik dariku? Damar mengepalkan kedua tangannya erat-erat karena geram. Ia mengencangkan rahangnya.
Kenapa kau bisa menikah dengan pria ini, apa selama ini kau menduakanku? Kembali ia mengencangkan geraham. Aku tidak terima. Aku tidak Terima, Julia. Kau harus kembali lagi padaku. Sudah banyak yang aku korbankan untukmu dan aku tidak terima kau tinggal seperti ini. Kau harus kembali padaku, Julia. Apapun yang terjadi! Pria itu kembali mengeratkan kepalan kedua tangannya dengan pandangan menusuk pada Julia dan Jun, yang baru saja masuk setelah mengantri di luar restoran.
Sementara itu di dalam, Khati dan Jun mendapat meja dan sedang melihat-lihat buku menu.
"Oya, Julia. Nanti malam ada pesta. Tolong temani aku lagi ya?"
Khati melirik suaminya dengan merengut. Pandangan matanya terlihat sebal. "Dengan pakaian seksi lagi," gumamnya tak ikhlas.
"Tak ada yang perlu kau lakukan. Hanya menemaniku. Itu 'kan tidak sulit," ujar pria itu dengan santainya.
"Apa harus?" Wanita itu membalik halaman menu dengan sedikit kasar.
"Orang pasti akan menanyakanmu, Julia. Orang-orang tahu kita baru menikah."
__ADS_1
"Bilang saja, aku tak enak badan."
Mata elang pria itu kini menatap sang istri. "Barang kali saja kamu bertemu dengan Damar."
Mendengar nama itu sebenarnya Khati ragu. Kalau hanya bertemu biasa saja, tak masalah, karena biasanya sudah seperti itu. Sebagai teman kerja dan ia tak ingin mengenal kehidupan Damar lebih jauh lagi karena sebenarnya ia masih terluka. Membatasi diri hanya sebagai teman kerja membuat ia bisa melindungi luka lamanya yang belum sembuh benar.
Namun kini ia diminta untuk dekat kembali dengan pria itu, amat sangat mengusiknya karena itu berarti ia harus membuka luka lamanya kembali. Baru beberapa bulan bercerai dengan Damar, membuat ia belum bisa berdamai dengan keadaan. Inilah yang ditakutkannya. Sekilas ia tegar di luar, tetapi sebenarnya ia masih rapuh di dalam. "Ya sudah," ucapnya pasrah.
Usai makan siang, Jun masih menemani istrinya mendaftar di kelas aerobik. Ini membuat Damar yang masih mengikuti mereka senang. Berarti Julia akan sering datang ke tempat itu.
Jun juga menemani sang istri belanja di supermarket hingga mengantarnya sampai ke mobil.
"Sudah, Mas. Mas kembali saja kerja. Ini sudah telat lho, Mas," sahut Khati dari dalam mobil.
"Iya, setelah kamu berangkat. Jangan lupa, nanti malam ya?" Pria itu menutup pintu mobil. Ia kemudian menyaksikan mobil itu bergerak keluar dari area mal menuju pintu gerbang.
--------+++---------
Tak lama mobil itu sampai ke tempat tujuan. Kali ini pria itu memakai supir sehingga ia langsung turun di pintu depan gedung dengan membukakan pintu untuk sang istri. Wanita itu menjejakkan high heels-nya di lantai sambil menerima uluran tangan sang suami. Jun menariknya keluar dan menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam gedung.
Mereka menunggu dalam antrian untuk masuk dengan mengisi buku tamu lalu kemudian masuk ke dalam ruang pesta. Ruangan yang cukup luas itu sudah mulai terisi oleh para tamu. Mereka kebanyakan orang-orang dengan kedudukan penting karena pesta itu adalah pesta pernikahan seorang anak pejabat.
Jun langsung membawa Khati ke pelaminan agar bisa bersalaman dengan pejabat itu dan anaknya yang menjadi pengantin. Sempat mereka berfoto bersama, setelah itu ia mengajak sang istri bertemu dengan beberapa orang yang mengenalnya di sana.
Tentu saja ia mengenal banyak orang di pesta itu, karena para pejabat harus mengenal Jun untuk memuluskan banyak usaha mereka. Hukum hampir meliputi semua lini usaha hingga sebentar saja, pria itu sudah didatangi banyak orang yang ingin menyapanya.
Diam-diam Khati memisahkan diri. Ia lebih baik melihat makanan daripada menemani sang suami yang sedang membahas tentang bisnis beberapa orang yang mendatanginya. Sebenarnya pria itu tak rela sang istri pergi jauh darinya, tapi ia berharap Khati bertemu Damar.
Wanita itu sebenarnya mengenal beberapa pengusaha di sana yang kebetulan kenalan bisnisnya dulu tapi ia tak mungkin menyapa mereka dengan wajah barunya karena mereka tak kenal dengan wajah Khati yang sekarang.
__ADS_1
Ia sempat mencoba mencicipi beberapa potong kue dan setelah itu ia mencari toilet untuk merapikan make up-nya. Ketika keluar, seseorang menarik tangannya hingga ia terkejut. Lebih terkejut lagi, melihat siapa yang menarik tangannya. "Mas Dam?"
Pria berkacamata itu mengerut kening. "Aneh? Kenapa kau memanggil namaku seperti itu? Biasanya kau memanggilku 'Sayang'."
Khati membulatkan matanya karena panik. Aduh, salah bicara lagi .... "Eh, a-aku ...."
"Kenapa kau menikah dengan hakim itu, Julia? Siapa dia sebenarnya?" Pandangan tajam pria itu seperti ingin menguliti tubuhnya. Ia bicara pelan tapi nada suaranya seperti sedang meredam amarah hingga kedua matanya terlihat amat mengerikan.
"Hah?" Apa maksudnya ini?
Pria itu kembali meraih lengan wanita itu dan menggenggamnya erat. "Julia, apa kamu berselingkuh dengan orang lain ketika bersamaku?" Ia mendekatkan wajahnya pada Khati untuk mengetahui kebenaran di antara kedua bola mata wanita itu. Pandangannya menelisik ke setiap sudut wajah sang wanita.
Khati justru mengerut kening. Apa? 'Berselingkuh dengan orang lain ketika bersamaku?' Hei, itu kalimatku, harusnya aku yang tanyakan itu padamu, teriaknya dalam hati. Karena kesal, ia mendorong Damar menjauh.
Damar tak mau kalah. Ia kembali menarik sang wanita yang hendak kabur dari tempat itu sehingga kembali ke posisi semula.
"Ah!"
Kini pria itu mengurungnya dengan satu tangan menahan ke dinding.
"Mas, aku sudah menikah jadi tolong lepaskan aku," pinta Khati. Ia sebenarnya ketakutan. Takut ketahuan, takut karena ia sekarang istri orang dan takut melihat Damar yang sekarang.
Ia belum pernah melihat mantan suaminya marah sebelumnya. Pria itu selama menikah dengannya selalu menjadi pria yang manis, dan tak pernah berkata kasar. Kenapa pria ini berubah seperti ini ketika ia jadi Julia? Apa ia sering begitu terhadap Julia yang asli? Inikah sifat asli Damar? Ia benar-benar tak mengenalnya.
"Tidak, kau berhutang penjelasan padaku, Julia!"
__________________________________________
__ADS_1