Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Melepas Penyamaran


__ADS_3

Biar bagaimana pun wanita itu pernah mengisi hati-hari indahnya. Tak terpikirkan olehnya kini ia bisa melihat hal-hal baik dari kenangannya bersama Julia. Kenapa baru sekarang ia bisa memikirkan hal-hal baik ini, ketika mengetahui dialah tersangka hukuman mati yang dicarinya selama ini. Kenapa baru sekarang? Apa karena ia berharap ada pengampunan untuk mantan pacarnya ini?


Kedua bola mata Jun berkaca-kaca. Rasanya dendamnya yang dulu pada sang mantan kekasih sudah menguap entah ke mana, berganti dengan rasa iba dan penyesalan yang tak berkesudahan.


Seharusnya dulu dia segera melamar Julia tapi ia terus saja menundanya. Apalagi karena ia punya jabatan baru sebagai hakim agung, tapi kenapa pada Khati, wanita asing ini ia malah buru-buru menikahinya? Kadang sebuah takdir, tak bisa dibeli.


Seketika ia menyadari kehadiran sang istri. Cepat-cepat ia membersihkan air mata dengan mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya.


"Mas, kenapa melindungi wanita itu sih? Jelas-jelas dialah yang seharusnya mendapat hukuman mati. Damar bahkan menakut-nakutiku akan mengaku pada polisi bila aku tak mau ikut bersamanya. Untung saja dia tidak tahu siapa aku," ucap Khati kesal.


Sang asisten melihat bosnya masih terpaku di tempat. Terlihat sekali Jun terguncang. Ia menyentuh bahu wanita itu. Saat Khati menoleh, pria itu menggeleng.


"Kenapa?" Khati mengerut dahi.


"Julia itu mantan pacar Pak Jun."


"Apa?" Kini Khati syok!


"Sekarang dia di penjara."


"Todi!" bentak Jun. "Jangan sok ikut campur urusan orang, mengerti?" ucapnya dengan nada marah.


Todi tampak ketakutan. "I-iya, Pak."


Jun segera menggandeng istrinya. "Mana kunci mobilnya?" tanyanya dengan wajah angker pada sang asisten.


Pria muda itu memberikan kunci yang segera dirampas Jun. Hakim itu membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Ia langsung menyalakan mesin mobil, dan membawa mobil itu keluar dari situ.


Pria itu mendengar semua yang dikatakan istrinya tadi. Sekarang ia cemas karena Khati masih berwajah Julia. "Khati, kini kau tak perlu berpura-pura lagi jadi Julia. Sekarang juga, kamu harus operasi wajah kembali ke wajahmu yang dahulu."


"Iya, Mas," jawab Khati lemah. Ia melirik ke arah suaminya. "Ma-maafkan aku tadi menjelek-jelekkan Julia. Aku tidak bermaksud ...."

__ADS_1


"Bisa tidak, kita tidak membicarakan dia!" bentak Jun yang kemudian disesalinya. Khati tersentak kaget. Pria itu sempat memejamkan mata karena marah pada diri sendiri sebab memarahi sang istri. "Maaf Khati, aku sedang fokus. Tolong jangan bicarakan dia lagi, ok?" ucapnya pelan.


Khati terdiam. Ia memutar wajahnya ke arah jendela. Betapa sakit hatinya mengetahui, wajahnya yang sekarang ini dia miliki, adalah wajah mantan kekasih sang suami. Betapa ingin saat itu juga ia mencakar wajahnya hingga berdarah-darah. Betapa ia benci wajahnya, pria itu ubah menjadi wajah mantan kekasihnya.


Ia hanya bayang-bayang rindu wanita yang tak terlupakan. Selamanya tak terlupakan, dan dia hanyalah perantara agar rindu itu tergapai. Jun tak pernah mencintainya. Pantas saja pria itu ingin tidur dengannya karena ia sangat mirip Julia dan karena itu juga sang suami tidak ingin punya anak darinya karena ia bukan Julia. Julia, Julia dan Julia. Terjawab sudah teka teki ini. "Jadi, kita bisa bercerai?"


Dada pria itu terasa sesak. Ia sedang memikirkan dua nyawa wanita yang sangat penting dalam hidupnya. "Khati, hentikan," ucapnya lemah. "Aku sekarang sedang berkonsentrasi di sini."


Masalahnya, Jun takut kalah cepat dari Damar. Kalau Damar memberi tahu kepada polisi bahwa Julialah pembunuhnya, polisi malah akan mengejar sang istri dan menahannya. Jun tidak mau itu terjadi. Selain karena sang istri bukan Julia, kasus bertukar wajah ini akan ketahuan dan ia juga bisa masuk penjara karena bertindak di luar prosedur.


Cukup lama keduanya terdiam sampai mobil itu memasuki gerbang klinik kecantikan yang dulu mengoperasi Khati. Mereka kembali menemui dokter yang sama.


"Dok, kembalikan wajah istriku kembali seperti semula," sahut Jun pada dokter itu.


"Oh, ibunya sekarang sudah kurus ya?" Pria itu memperhatikan Khati. Apalagi wanita itu kini tampak lebih cantik. "Tapi mungkin akan tampak berbeda dari yang dulu karena sekarang ibunya kurus."


"Tidak apa-apa, lakukan saja, dok." Pria itu mengiyakan. "Akan aku bayar berapa pun biayanya, tapi lakukan dengan segera."


"Apa aku bisa minta foto wajah lamanya?"


"Kirimkan saja padaku," sahut dokter itu lagi. Setelah itu, "ok. Kita akan segera melakukan operasi."


"Mmh, aku pergi sebentar. Nanti aku akan jemput istriku kembali."


"Kalau begitu, Bapak bisa menyelesaikan pembayaran di depan."


"Ok."


Jun kemudian membawa istrinya ke brankar. "Sayang, kamu di sini dulu ya? Bisa 'kan sendiri? Aku pasti akan menjemputmu. Percayalah. Aku hanya ada urusan sebentar. Ingat, jangan ke mana-mana sebelum aku jemput."


Khati mengangguk. Sebelum suaminya pergi, ia meraih lengan pria itu. "Selamatkan, Julia."

__ADS_1


Jun terharu. Ia hanya bisa mengusap pucuk kepala istrinya. Tentu saja ia tak bisa menyelamatkan kedua-duanya. Salah satu harus ia lepas pergi.


Pria itu pun pergi. Sedih dirasa saat ia menyuruh suaminya menyelamatkan wanita cinta pertamanya ketika diri sendiri berharap ingin ditolong dan ingin dicintai. Serasa harapan itu pergi seiring pria itu melangkah keluar. Jun bahkan tak menoleh dan ragu untuk pergi.


Sudah jelas dirinya berbanding jauh dari wanita ini. Dia bukan apa-apanya. Mengatakan pada Jun bahwa ia hamil hanya akan membuat pria itu mati langkah dan semakin tenggelam dalam rasa bersalah. Sebaiknya ia pergi sebelum pria itu salah melangkah. Khati seketika turun dari brankar.


"Lho, Bu. Mau ke mana?" tanya dokter itu heran karena wanita itu melangkah keluar.


"Tidak jadi, dok."


"Apa? Tapi suami Ibu tadi minta Ibu untuk operasi."


"Batalkan saja."


"Ta-tapi ...." Dokter itu bingung harus bagaimana.


"Kembalikan saja uangnya." Khati menyodorkan tangannya pada dokter itu.


"Eh?" Pria berkacamata itu makin bingung. "Suami Ibu sedang membayar di depan lho, Bu."


"Dia itu sedang mendatangi selingkuhannya, apa dokter tidak mengerti?" hardik wanita itu berbohong.


Dokter itu tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung dan menatap wanita itu.


"Cepat berikan, dok, agar aku bisa memergokinya," pinta Khati lagi. Ternyata latihannya selama menjadi Julia membuatnya semakin pintar berpura-pura. Bahkan dokter itu menyerahkan uang operasinya sebagian. "Apa dokter punya kacamata hitam?"


Khati keluar klinik itu setelah suaminya pergi. Ia bahkan sempat pulang ke kediaman Jun. Pembantunya terkejut melihat Khati pulang dengan taksi. "Nyonya sendirian?"


"Iya." Khati bergegas ke lantai atas. Ia mengambil tas kain dan mengisinya dengan beberapa pakaian dan juga jilbab yang dulu dibelinya. Ia kemudian kembali keluar.


Sopir Jun kemudian mengantar Khati ke mal seperti biasa. Cuma kali ini, Khati memakai jilbab instannya. Ia turun di depan mal dan mobil itu pergi ke tempat parkir di basemen. Dengan merapikan kacamata hitamnya ia mengantri taksi. Tak ada yang mengenalinya karena penampilannya yang berbeda. Tak lama ia mendapatkan taksinya. "Dermaga, Pak."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Di dalam mobil, Khati menghela napas. Mas, jangan cari aku, aku takkan kembali. Aku takkan mengganggumu lagi. Semoga kau bisa menyelamatkan cinta dalam hidupmu itu. Biarkan aku hidup bersama anak ini, dan kenangan kita berdua. Ia mengelus perutnya yang masih rata.


__ADS_2