Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Tragedi Mati Lampu


__ADS_3

Mereka bertabrakan di luar karena tak terlihat. Ternyata memang benar mati lampu. Tidak biasanya unit apartemen itu mati. Apa seluruh unit apartemen di sini?


"Julia, kau tak apa-apa?" Pria itu meraih tubuh sang istri yang menabraknya.


"Eh, tidak apa-apa."


Jun menarik dagu sang istri hingga wajahnya menengadah ke atas. Pelan-pelan ia bisa melihat wajah istrinya dalam gelap. Netra itu berkaca-kaca karena ketakutan, hingga matanya bercahaya. Kedua bola matanya terlihat indah. "Khati."


"Apa?"


"Kau takut gelap?"


"Eh, tidak, tapi kenapa gelap sekali tak ada cahaya."


Sang pria tersenyum tapi istrinya tidak bisa melihat wajahnya. "Jangan takut, Khati. Ada aku di sini."


"Namaku 'kan Julia."


"Iya, kau benar." Namun pria itu tak juga beranjak menatap wajah sang wanita. Ia bahkan menyentuh pipi istrinya dengan lembut.


Khati sedikit heran tapi ia biarkan saja pria itu natap wajahnya. Ia mematung seperti menunggu sesuatu. Irama jantungnya mulai berkejaran tapi kakinya tak juga ingin melangkah pergi.


Benar saja. Jun mendekatkan wajahnya pelan dan tiba-tiba mengecup bibir sang istri dengan lembut. Khati tentu saja terkejut.


Apalagi Jun yang kemudian salah tingkah ketika sadar apa yang dilakukannya hingga ia melepas sang wanita begitu saja. "Eh, aku ...."


Khati masih mematung karena syok. Aku ... hubungan ini ... aku harus bagaimana?


Pria itu kembali menatap istrinya. Kenapa ia harus merasa bersalah? Ia telah menikahi Khati secara sah, jadi wanita itu adalah istrinya. Apapun yang dilakukannya pada wanita itu, tidak ada masalah karena mereka memang suami istri.

__ADS_1


Ia kembali mendekati sang istri dan menyentuh lengannya. Wanita itu tak bergerak. Ia masih bisa melihat wajah Khati yang terlihat bingung. Apalagi dirinya yang masih bingung dengan keinginannya sendiri. Ia sebenarnya ingin apa?


Jun kembali mendekati wajah sang istri dan mengecup bibir itu sekali lagi. Wanita itu tentu saja makin kebingungan. Di satu sisi ia ingin mengingatkan pria itu, kalau mereka sepakat dirinya dinikahi hanya untuk menolong saja, tapi di sisi lain ia begitu mendambakan sentuhan pria itu.


Karena tak ada penolakan, Jun makin berani dengan memeluk sang istri dan memperdalam ciumannya. Bukan hanya pria itu, Khati pun juga terhanyut. Nafsu mulai mendatangi mereka. Tak puas dengan itu, pria itu menarik wanita itu ke kamarnya. Di sana ia makin intens menyentuh yang lainnya.


Khati tak bisa menampik keinginannya. Ia menyerahkan diri begitu saja pada tangan kokoh sang pria yang mulai masuk ke dalam pakaiannya. Kini pria itu menariknya ke ranjang. Segala sesuatu bergerak begitu saja tanpa kata-kata dan mengikuti insting mereka. Keduanya melakukannya dengan keinginan yang nyata. Setelah bergumul entah berapa lama, pria itu kemudian menghentikannya ketika kepuasan telah saling terpenuhi.


Sempat mereka saling memandang dan Khati mulai bisa melihat dalam gelap tapi sepertinya keduanya masih kebingungan. Apa yang telah mereka lakukan, mereka sendiri tidak tahu. Mungkin hanya melepas rasa penasaran. Pria itu membaringkan tubuhnya di samping Khati dan menarik sang istri dalam pelukan. Setelah mengangkat selimut lebih tinggi, keduanya tidur dengan berpelukan.


------------+++---------


Khati terbangun lebih dulu di pagi hari, dan menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Lampu menyala menandakan listrik telah kembali bekerja. Ia membelakangi tubuh sang suami dengan memikirkan apa yang telah mereka kerjakan.


Sementara itu, karena Khati menjauh, perlahan Jun bangun. Pria itu terkejut karena seranjang dengan sang istri. Pelan-pelan ingatannya kembali dan ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana pada wanita itu kini.


Tepat di saat itu, Khati membalikkan tubuhnya dan melihat sang suami telah terbangun. Cepat-cepat ia menaikkan selimutnya tinggi-tinggi karena menyadari dirinya belum berpakaian. "Mas."


"Bagaimana kalau aku hamil?"


Pria itu langsung memiringkan tubuhnya ke arah Khati. "Apa? Bukannya kau tak bisa hamil?"


"A-pa? Mandul maksudmu? Kata siapa?" Seketika dahi Khati mengernyit dongkol.


"Bukankah kau bercerai dengan suamimu karena itu?" Ternyata Jun juga memeriksa latar belakang istrinya.


"Kami bercerai karena suamiku menghamili wanita lain. Ia tidak sabar, tapi aku sehat kok. Kami memang belum dikaruniai anak."


Seketika Jun panik dan terduduk di atas ranjang. "Kau tak boleh hamil!" tegasnya.

__ADS_1


Saat itu juga, Khati memandang pria itu dengan pandangan yang ... entah. Dadanya ikut bergemuruh hingga tangannya melayang kencang pada pipi sang pria. Ada air mata yang tertahan di kedua bola mata beningnya itu.


Pria itu terdiam sejenak. Pipinya terasa panas. "Maaf, Khati kau ...."


Belum selesai Jun bicara, sang wanita dengan serta merta menarik selimut menutupi tubuhnya yang belum berpakaian. Khati memunguti pakaiannya di lantai dan pergi dari kamar itu dengan membanting pintu. Ia teramat kecewa untuk bisa menjabarkan perasaannya saat itu.


Jun masih kebingungan di atas ranjang. Tidak dipedulikannya lagi tubuh yang tanpa pakaian atau selimut itu karena saat ini ia sangat kesal. Kesal dengan dirinya sendiri.


Bagaimana kalau nanti Khati hamil? Tentu itu akan memperumit keadaan. Mereka sejatinya akan bercerai setelah masalah pembunuhan itu selesai tapi kalau ada anak, ia tidak bisa melakukan itu. Ah, bodohnya aku ... kenapa aku tadi tidak pakai pengaman? Ah! Ia meninju kasur dengan geram.


Disentuhnya lagi bekas tamparan sang istri yang masih terasa hangat di pipi dan ia begitu menyesal. Seharusnya ia menjaga Khati bukan menggodanya. Tentu saja wanita itu tunduk karena tergoda wajah tampannya, tapi apa yang dilakukannya saat itu benar-benar salah. Bisa-bisanya ia sengaja menggoda Khati di saat lampu mati.


Entah setan mana lagi yang telah lewat dan membujuknya hingga ia bisa senekat itu pada sang istri. Ia tak boleh melakukan itu. Ini sudah di luar rencana, sudah keluar jalur. Setidaknya sudah 2 kesalahan telah ia lakukan, menggoda Khati dan menyalahi janji. Entah ke mana lagi ia akan menghadapkan wajah ini bila bertemu lagi dengan sang istri. Ia sudah melakukannya tapi tak berani bertanggung jawab.


---------+++--------


Jun keluar kamar. Didapatinya sang istri tengah sarapan sendirian di meja makan. Pria itu dengan takut-takut bergerak pelan ke arah sana. Pembantunya yang tengah mencuci piring segera menyingkir ketika Jun memberikan kode untuk meninggalkan tempat itu.


Pria itu menarik kursi tepat di samping istrinya yang tidak mau memandangnya sedari tadi. Ia berdehem sebentar. "Eh, Julia ...."


"Aku yang memasak sarapan pagi ini jadi kalau tak suka, buang saja," ucap sang istri dengan wajah datar.


Wajah pria itu langsung tertuju pada makanan di atas piring. Ada sosis, telur orak-arik dan roti bakar. "Oh, aku suka ini," ucapnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Ia segera mengambil garpu dan mencicipinya.


"Mulai sekarang aku masak. Aku kesulitan mencari makanan yang cocok untuk diet, dan aku butuh banyak kegiatan," ujarnya tanpa ekspresi.


"Oh, nanti aku bantu berbelanja. Oya, mungkin kamu bisa masuk kelas modelling."


Khati melirik pria itu dari sudut matanya, membuat sang pria harus bersusah payah menelan makanan karena sorot mata angker sang istri. Wanita itu kemudian beranjak berdiri. "Aku mau istirahat di kamar, jangan ganggu aku sampai waktunya tiba," imbuhnya seraya berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


"Oh, iya, Julia. Nanti aku bangunkan. Jangan takut." Senyumnya sempat hilang ketika wanita itu meliriknya sekilas dengan wajah dingin dan kemudian pergi. Sarapannya kini sunyi karena hanya ditemani dengan rasa bersalah yang tak kunjung pergi.


__ADS_2