
Khati beranjak berdiri. Ia kemudian pindah ke sisi ranjang yang satunya. Jun meletakkan ponsel sang istri di meja nakas. "Kamu sudah mau tidur?"
"Mmh."
Pria itu mengambil pakaian dari lemari dan melangkah ke kamar mandi. Sekilas ia melihat Khati membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup tubuh dengan selimut.
Ketika ia keluar kamar mandi, wanita itu tengah berbaring miring dan menatap ke arah dinding. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Jun masuk ke dalam selimut yang tak lagi diberi batasan guling, tapi tetap saja, ia tak berani macam-macam. Ia menghormati perasaan Khati yang merasa dicurangi. Namun ia memutar tubuhnya menghadap punggung sang istri sambil memeluk guling.
Khati masih belum tidur. Apa yang dipikirkannya? Jun mengingat lagi percakapan Khati dengan Damar yang begitu akrab, betapa wanita ini begitu mengkhawatirkan mantan suaminya itu. Setelah ada aku dalam pernikahan ini, adakah aku juga dalam pikirannya? "Julia."
"Mmh."
"Kau belum tidur?"
"...."
"Apa ... bila ... Damar terbukti bukan pembunuhnya, apa kau akan kembali padanya?"
"... aku tidak tahu."
"Jika ... aku menceraikanmu, dan Damar memintamu kembali padanya. Apa kau akan kembali padanya?"
"Mungkin."
Jun menautkan alisnya. Kau tak boleh kembali padanya! Ia menggerakkan tangan ingin meraih lengan istrinya karena emosi, tapi sebelum sampai, ada suara hati yang mengurungkan niatnya.
Sabar Jun, sabar. Ada saatnya nanti, kau akan mempertahankan pernikahan ini. Biarkan Khati melakukan tugasnya sekarang. Biarkan dia punya sedikit kebebasan, agar dia tetap nyaman berada bersamamu. Suara hati pria itu, menasehati. Jangan sampai apa yang kamu lakukan malah membuat ia menjauh. "Malam, Julia."
"Malam, Mas."
Pria itu memandangi punggung istrinya hingga ia tertidur. Tak lama, Khati memutar tubuhnya dan kini melihat sang suami telah tertidur. Wanita itu tersenyum kecil.
Tentu saja aku takkan bisa kembali pada Damar, Mas. Selain rasa sakit akibat penghianatnya masih aku rasakan, aku sudah tak lagi mencintainya. Aku mencintaimu, Mas. Aku sudah jatuh cinta padamu. Kata Papa, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tanpa alasan melakukannya, seperti cintaku padamu. Tapi, aku meragukan cintamu. Apakah aku bisa percaya padamu?
Khati memandangi pria itu yang makin tampan saat ia tertidur. Tidak rewel, tidak jahil dan terlihat manis. Apa salah bila aku memberinya kesempatan sekali lagi?
--------+++--------
__ADS_1
Khati dan Jun kembali mengantar ayah Julia hingga ke pintu depan, setelah itu mereka kembali ke meja makan untuk meneruskan sarapan.
"Apa kamu akan pergi ke tempat senam lagi?" tanya Jun melirik istrinya.
"Seperti biasa." Khati menyuap nasinya.
"Padahal aku ingin makan siang denganmu."
"'Kan sudah sarapan pagi bersama," jawabnya sedikit bingung.
"Eh ...." Pria itu menatap istrinya sedikit lama.
"Apa?" tanya Khati bingung.
"Tidak." Kesal rasanya, sebagai seorang suami tak bisa melarang istrinya pergi dengan laki-laki lain. Betapa dongkolnya hati. Andai saja ia bisa menahan istrinya pergi.
Ia kembali ingat kata-kata istrinya semalam yang menggantung saat ditanya tentang Damar. Kalau sampai Khati kembali dengan Damar, itu juga sebagian adalah kesalahannya.
---------+++--------
Khati merapikan rambutnya dan bergerak keluar tempat senam tapi ia tak melihat pria itu menyambutnya. Di mana ia sekarang berada? Wanita itu sampai mengangkat kacamata hitamnya, memastikan tak ada Damar di tempat itu. Ia berpikir sebentar, lalu ia membuat panggilan telepon. "Halo?"
"Kau di mana?"
Pria itu tersenyum. Julia, apa kau memikirkanku? Apa masih ada aku di dalam ruang hatimu? "Aku di bar."
"Bar? Kau minum lagi?"
"...."
"Damar, bukankah tubuhmu tak kuat minum minuman beralkohol?"
"Mmh ... aku tak tahu."
"Damar, berhentilah minum minuman laknat itu!" Khati mulai kesal.
Terdengar helaan napas panjang dari ujung sana.
"Damar, kau di mana? Biar aku ke sana!" ucap wanita itu gemas.
__ADS_1
Pria itu memberikan alamatnya.
"Hotel?"
"Iya."
"Ok, aku ke sana." Khati segera melangkah ke arah eskalator. Ia tak habis pikir. Lagi-lagi Damar terjerat dengan minuman beralkohol itu lagi. Apa ia tak kapok? Padahal dokter menyatakan bahwa Damar terkena efek racun dari alkohol itu sehingga ini bisa sangat berbahaya bagi nyawanya, tapi pria itu tak kunjung berhenti meminumnya.
"Pak, ke hotel Reiner," sahut Khati pada sopirnya saat masuk ke dalam mobil.
"Hotel? Baik, Bu."
Mobil pun meluncur ke hotel. Sebuah hotel bintang tiga yang berada di tengah kota. Setelah turun dari mobil, Khati segera mencari bar itu. Dari luar, karena bar sedikit terbuka, ia bisa melihat Damar yang duduk di sudut ruangan di mana bar itu masih sepi. Tentu saja, karena masih terlalu siang untuk didatangi. "Damar."
Pria itu telah melihat Khati yang tengah mendatanginya. Matanya sayu, dengan rambut sedikit berantakan.
Apa dia mabuk? Khati mencoba duduk di sampingnya. Ada dua buah minuman berwarna kebiruan di atas meja, membuat wanita itu mengerut dahi. "Kamu minum lagi?"
"Iya, semalam. Maaf, aku tidak datang ke tempat senammu tadi, karena aku baru bangun tidur."
"Oh, tidak apa-apa." Khati menggeleng pelan. Setelah apa yang sudah aku katakan padanya, ia tetap masih seperti ini ... Bagaimana aku bisa meninggalkannya, ya Tuhan .... "Damar, tidak bisakah kamu berpikir lurus ke depan? Di masa depanmu tidak ada aku. Jodohmu mungkin tengah menunggumu di luar sana."
"Aku tidak ingin yang lain, Julia, aku hanya ingin dirimu." Pria itu meraih tangan Khati. "Aku hanya mencintaimu."
Pelan wanita itu menarik tangannya. Ia harus membuat pria itu mengerti, ia sudah menikah. "Damar, sadarlah. Aku tidak bisa lagi kembali bersamamu."
Mata sayu itu terlihat kesal. Ia meraih minuman yang ada di meja dan meminumnya banyak-banyak. Ia bahkan menumpahkan sebagian ke bajunya.
"Damar ...."
Pria itu tak memedulikan panggilan Khati. Ia menegak habis minuman yang ada di tangan. Pria itu kemudian mengambil lagi minuman yang satu lagi tapi kali ini, Khati merebutnya. Wajah sang pria tampak kesal. "Kenapa kalau aku menghancurkan diriku sendiri, kau peduli? Kenapa? Bukankah dengan menikahi pria lain, kau memang berniat untuk menghancurkanku sejak awal!"
Wajah pria itu tampak kecewa. Memerah karena mulai mabuk. "Kalau kau memang peduli, kenapa kamu menikah dengan orang lain? Apa kau tak lihat semua jerih payahku padamu, Julia. Hah ... aku sudah melakukan semuanya untukmu." Ia mulai menangis. "Bahkan memasukkan Khati ke dalam penjara."
Wanita itu membulatkan matanya. Jadi selama ini ....
"Aku mencintaimu, Julia. Khati pun sebentar lagi juga akan menyusul istriku. Jadi tidak ada lagi yang akan menghalangi kita, karena aku sudah mengambil alih perusahaannya, tapi kenapa kau justru malah menikah dengan orang lain? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu." Air mata pria itu kembali mengalir, padahal matanya sudah sembab bekas ia menangis kemarin.
Khati syok! Pria itu menginginkan kematiannya? Juga wanita bernama Julia yang entah bersembunyi di mana. Karena kesal, wanita itu malah meminum minuman yang sedang berada di tangan. Rasanya sedikit aneh, tapi ia tak memedulikan rasa karena hatinya tengah terbakar amarah.
__ADS_1
Teganya pria ini. Selain mengkhianatinya juga menginginkan kematiannya? Bahkan Damar ingin mengambil semua harta kekayaannya. Apa menyakitinya saja tidak cukup? Pria ini benar-benar pembunuh berdarah dingin. Kenapa ia bisa menikah dengan monster ini dulu?