
Khati memandang ke arah pria paruh baya itu. Ia iba pada pria itu, karena ia berhasil membohonginya. Apa yang terjadi bila ia ketahuan membohongi ayah Julia? Apa pria itu akan marah padanya? Ke mana sebenarnya, Khati yang asli? Kenapa suaminya tak mau mengatakan yang sebenarnya?
--------+++--------
Terdengar bel berbunyi. Khati membuka pintu kamarnya mengintip keluar. Saat itu di seberang kamar, pria paruh baya itu keluar dan memberi kode agar wanita itu menunggu. Ayah Julia itu sendiri yang membuka pintu yang diberi kunci pengaman. Ia mengintip keluar. Siapa lagi kalau bukan Jun, dan ia tidak terkejut.
"Bolehkah aku masuk, Pa?"
Pria paruh baya itu menutup pintu dan membuka kunci pengamannya. Ia mempersilakan Jun masuk. Hakim itu melihat istrinya mengintip di pintu kamar. Ayah Julia menggiring Jun ke sofa. Mereka duduk di sana.
"Aku harap aku akan mendengar berita baik." Pria paruh baya itu merapikan bajunya ketika duduk. Ia tak lagi bertongkat.
"Aku minta maaf kalau sejauh ini penyambutanku pada Papa kurang baik, tapi aku minta Papa mendengarkan permohonanku. Aku baru saja diangkat jadi hakim agung dan pekerjaanku luar biasa sibuk. Ditambah orang tuaku yang baru saja berangkat perjalanan bisnis, ini sama-sama sulit. Aku ingin mengatur waktu, tapi waktuku ditentukan pihak kantor, jadi aku tidak bisa seenaknya merubah jadwal yang sudah ada. Begitu pula kedua orang tuaku.
Sejauh ini aku berusaha melegalkannya dengan nikah siri agar itu sesuai adab yang berlaku dan dalam agama itu sudah sah. Mengenai pesta dan melegalkannya di depan umum pun aku tidak main-main. Bukankah aku sudah melegalkannya di depan umum dengan mengumumkannya secara luas?
Selanjutnya, keinginan Papa akan aku realisasikan, tapi beri aku waktu tiga bulan. Aku juga akan melakukan semampuku agar pesta itu bisa dilakukan sebelum tiga bulan. Tolong, Papa. Jangan pisahkan kami, kami tidak bisa. Apalagi kami sudah suami-istri di mata agama."
Pria paruh baya itu tersenyum miring dengan membuang pandangannya ke samping. Kemudian ia kembali menatap Jun dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu pikir aku akan terkesan dengan omongan barusan? Tidak! Aku sangat kecewa."
"Aku bekerja dengan pemerintah, Papa. Bukan perusahaan milik pribadi. Bukankah Papa ingin Julia menikah dengan orang yang punya jabatan penting? Bukan orang sembarangan yang gampang ditindas?"
"Kenapa kau tidak jadi pengusaha saja? Kau punya pilihan." Ternyata ayah Julia juga memeriksa siapa Jun sebelum bertemu.
"Papa, aku tak suka berbisnis."
"Hah! Kau selalu saja menghindar!" Ayah Julia kembali bersandar ke belakang sambil melipat tangannya di dada.
Beberapa saat mereka terdiam. Tidak ada penyelesaian dari keduanya membuat Khati melangkah maju ikut bicara. "Papa, bagaimana ...."
Pria paruh baya itu menoleh. "Julia! Kembali ke kamarmu!"
__ADS_1
Bentakkan itu menyurutkan langkah wanita itu untuk maju. Perlahan ia mundur dan kembali ke kamarnya, tapi ia tetap mengintip dari balik pintu.
"Papa ...."
"Apalagi?" Pria itu menoleh ke arah Jun dengan sisa bentakan.
Hakim itu mengiba. "Tolong mengerti kami. Kami sudah menikah. Kembalikan Julia padaku, Pa."
"Nanti setelah tiga bulan! Nah, sekarang kau bisa keluar!" usir ayah Julia dengan lantang.
Hakim itu menghela napas pelan. "Setidaknya, biarkan aku memeluk istriku. Boleh 'kan, Pa?" bujuk Jun yang mulai putus asa.
"Nanti setelah dilegalkan! Sudah! Kalau kau sudah selesai, silakan keluar! Kau masih ingat pintu keluarnya 'kan?" ledek pria paruh baya itu mengangkat alisnya.
Hakim itu dengan berat hati melangkah ke arah pintu. Masih sempat ia melihat Khati yang mengeluarkan kepalanya menatap ke arahnya. Tiga bulan, bukan waktu yang singkat tapi ayah Julia begitu keras kepala dan tak mau ditawar.
Sekarang ia harus bagaimana lagi mengakali ini semua? Setelah tiga bulan, bagaimana kalau hukuman Khati tetap berjalan karena penyelidikan itu tak kunjung menemukan pembunuhnya? Mereka akan mencari Khati, dan saat itu penyelidikan bisa saja mengarah padanya. Ia yang mengizinkan Khati keluar dan wanita itu menghilang. Apalagi kalau sampai Julia yang asli ditemukan dan diketahui ada dua Julia. Habislah dirinya karena telah berani membawa kabur tahanan keluar dari selnya.
Tiba-tiba Khati berlari mendatangi suaminya. Ia membawa jaket Jun dan memasangkannya di bahu pria itu. "Hati-hati ya?" ucapnya dengan raut sedih.
Jun melepas jaketnya. Ia malah memasangkan jaket itu ke bahu sang istri dan merapatkannya. Ia lalu mendekap istrinya erat. Khati meresapi pelukan itu karena akan berpisah. Berat rasanya berpisah dengan Jun tapi ia bisa apa? Ia hanya boneka yang tak punya suara.
Pemandangan itu tak lepas dari kedua netra ayah Julia. Ia bahkan sampai melihat hakim itu mengecup bibir istrinya. "Hei, sudah! Aku tak izinkan kalian lebih dari ini!" titahnya. Pria itu berdiri dan bertelak pinggang. "Julia, masuk!"
Khati menurut. Ia mundur lalu berlari ke kamar. Jun pun pamit. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
-----------+++---------
Pria paruh baya itu menatap ke arah jendela kamarnya. Terlihat gedung-gedung tinggi dengan lampu yang menerangi jalan sehingga suasana malam di kota Jakarta terlihat indah. Sejak bertemu Julia ia merasakan ada yang berbeda.
__ADS_1
Julia begitu penurut, berbanding terbalik dengan Julia yang dikenalnya. Anaknya itu sedikit pembangkang dan tomboy dalam berpakaian. Hanya waktu-waktu tertentu saja wanita itu suka berpakaian seksi.
Julia yang ini lebih feminim, sopan, dan bahkan saat berpakaian sedikit terbuka pun, kesannya seperti seorang wanita yang manis dibanding terlihat seksi. Ia juga penurut seakan pria itu bertemu dengan orang lain. Wajahnya juga lebih muda dari umurnya.
Sebenarnya Julia yang asli berumur 28 tahun sedang Khati baru 26 tahun. Jun sendiri sudah berusia 29 tahun, jadi tidaklah aneh bila Khati terlihat muda, karena ia memang lebih muda dari Julia.
Pria paruh baya itu memijit dahinya. Ia harus bagaimana, sekarang? Ia tengah melakukan perjalanan bisnis sebenarnya, tapi karena melihat berita anaknya yang menikah dengan hakim itu tanpa sepengetahuannya. Ia langsung terbang ke Jakarta. Haruskah ia bawa Julia serta dalam perjalanan bisnisnya kali ini?
Pria itu beranjak berdiri dan melangkah ke luar kamar. Ia mendatangi kamar anaknya. Tanpa mengetuk ia membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.
Khati telah tertidur. Didatangi ranjang itu dan menatap sang wanita yang tertidur dengan pulasnya. Ada jejak air mata mengering di pipi putih mulusnya itu.
Apa aku salah dengan memisahkan mereka? Julie tampak sangat mencintai suaminya. Mungkin perubahan ini semua berasal dari hakim itu. Jun berhasil membuat Julia jadi wanita yang lebih baik.
Pria itu tersenyum kecil. Dirapikannya selimut yang menutupi tubuh kecil wanita itu, tapi ternyata gerakan kecil itu membangunkan Khati. Wanita itu terkejut melihat wajah pria itu hingga terduduk seketika. "Eh, Pak, ada apa?"
Pria itu tertawa lepas. "Aku papamu, Julie. Apa kau lupa?"
Khati segera sadar. "Eh, maaf, Pa." Ia mengucek-ngucek matanya.
"Ayo, tidur. Sudah malam." Pria itu menyelimuti tubuh wanita itu yang kembali berbaring di ranjang. Ia menutupnya hingga bahu.
"Terima kasih, Pa."
Pria itu mengusap pucuk kepala Khati dengan lembut. "Tidurlah."
"Papa juga."
Pria itu tersenyum lebar. "Iya, iya. Setelah Papa lihat kamu tidur."
Walaupun tak nyaman sang wanita berusaha tidur cepat. Butuh waktu lama hingga ia merasa ranjang itu bergoyang ringan dan terdengar suara pintu yang dibuka-tutup dengan pelan. Ketika ia membuka matanya, pria itu telah keluar dari kamar itu.
__ADS_1