
Jun langsung berdiri dari duduknya. Ia mendatangi sang istri dan meraih tangannya sambil sedikit membungkuk. "Sayang, jangan khawatir. Aku akan membantumu. Ada tim yang akan menjagamu nanti. Aku rasa, kau sudah sangat mirip dengan Julia, hanya perlu menguruskan badan sedikit lagi."
Wanita itu cemberut mendengar komentar sang suami. Jun tertawa seraya mencubit dagu sang istri karena gemas. Namun kemudian pria itu menarik dagu wanita itu ke arahnya. Mereka kini saling menatap.
Perlahan pria itu memiringkan kepala dan mendekatkan wajah mereka berdua, tapi pada saat ia hendak mengecup bibir sang istri, Khati melengos ke samping.
Enak saja, dia mencari kesempatan di saat gelap lagi, gerutu wanita itu dalam hati.
Jun kecewa, tapi ia berusaha tak memperlihatkannya karena ia tahu ialah yang tengah mencari kesempatan. Pria itu kemudian kembali ke kursinya sambil berdehem sebentar.
----------+++--------
Makin hari, Khati semakin kurus saja dan mendekati tubuh idealnya. Ia bak bunga tengah mekar karena sedang cantik-cantiknya. Jun bahkan membelikan banyak koleksi baju untuk istri kesayangannya itu. "Julia, orang tuaku telah pulang dari perjalanannya. Kebetulan kakakku mengadakan pesta di rumah untuk para klien. Kita diundang datang sekaligus kau bisa berkenalan dengan mereka."
"Oh ... jadi aku harus pakai baju yang mana?" tanya wanita itu yang seketika terlihat panik.
Pria itu tersenyum melihat kepanikan sang istri yang terlihat menggemaskan. Rasanya ia ingin memeluknya saat itu juga. Namun ia harus menahan perasaan ini karena ia merasa, rasa nyaman bersama Khati inilah yang membuat ia goyah.
Ia berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa istrinya hanyalah seseorang yang perlu dibantu. Ia tidak ingin memanfaatkan wanita itu lebih jauh lagi karena ia juga punya perasaan. Ia tak mau menyakiti Khati.
Seperti wanita lain pada umumnya, Khati mengagumi dan menyukai dirinya karena ketampanan wajahnya. Kalau ia mengikat wanita itu hingga emosi, akan sangatlah berat buat sang wanita ketika ia ceraikan nanti.
Ia merasa hati dan pikirannya masih dengan Julia yang asli, karena itu tidak adil rasanya bila di saat rapuh ia bergantung pada sang istri. Sudah cukup meminta bantuannya untuk balas dendam ini, tapi tidak dengan hatinya. Wanita ini terlalu tulus untuk disakiti. "Nanti aku pilihkan untukmu, Sayang."
-----------+++---------
Mobil memasuki sebuah rumah mewah dengan bangunan modern 2 lantai. Di Singapura, harga tanah sangatlah mahal sehingga tidak sembarang orang punya rumah di sana. Jun ternyata punya orang tua seorang pengusaha kaya raya. Hanya pria itu sendiri yang memilih jalur berbeda yaitu hukum. Perusahaan kemudian diteruskan oleh kakaknya, Max.
__ADS_1
Jun membukakan pintu untuk Khati. Wanita itu turun dengan elegan tapi sedikit risih. Baju dengan potongan leher melewati bahu membuat ia tak nyaman. Ia berusaha menaikkan baju itu karena terlalu terbuka.
"Julia, jangan ditarik begitu. Bahumu sudah sangat cantik, Sayang."
"Malu, Mas, karena akan bertemu dengan mertua sementara bajuku terbuka begini."
Pria itu langsung meraih pinggang sang istri dan mendekatkan ke tubuhnya. Ia mengecup bahu putih mulus milik istrinya itu dengan lembut. "Bajumu sudah cukup sopan, Sayang. Kau harus berpakaian seksi karena pekerjaanmu adalah model. Orang tuaku harus tahu secantik apa dirimu hingga aku memilihmu."
Khati merengut. Wajah mereka yang berdekatan membuat wanita itu tak nyaman karena harus menatap wajah tampan sang suami. Ia tak ingin kembali terhanyut karena itu ia menunduk.
Pria itu mengangkat dagu istrinya. Ada deru napas dari pria itu yang memburu membuat detak jantung sang wanita berdebar kencang. Sebelum terjadi sesuatu, Khati memutar wajahnya ke samping dan mendorong lengan sang suami yang melingkar di pinggangnya. Ia ingin menyudahinya cepat. "Eh, nanti dilihat orang. Tidak enak."
Tak lama sebuah mobil mencoba parkir di sebelah mobil Jun. Melihat itu, Khati segera bergerak ke arah pintu utama. Jun segera menyusul. Ia menggandeng tangan istrinya.
Pintu utama terbuka lebar. Keduanya melangkah masuk sambil melihat tamu-tamu undangan. Khati tidak kenal siapapun dan tidak tahu dengan siapa ia harus bertemu. Ia hanya mengikuti sang suami dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh pria itu.
"Jun, adikku!" teriak seseorang dari samping. Keduanya menoleh dan melihat kedatangan seorang pria bertubuh tinggi jangkung dengan postur tubuh yang mirip dengan Jun, juga dengan wajah yang tak kalah tampannya.
Max malah tertawa. "Si keras kepala ... akhirnya kau menikah lebih dulu. Kenapa kau tak habiskan waktu lajangmu dulu seperti aku? Menikmati hidup tanpa ikatan."
"Jadi casanova sepertimu? Enak saja! Aku tidak suka mempermainkan wanita sepertimu. Karena itu aku menikah!"
Khati syok mendengar percakapan kedua kakak adik itu yang sama-sama tampan, dan mereka mengaku tidak mempermainkan wanita? Hah! Keduanya sepertinya memang punya bakat menipu para wanita karena keduanya sama-sama tampan. Untung saja keduanya menyebutkan kejahatan mereka, jadi aku bisa setidaknya mengantisipasinya.
"Oh, siapa ini? Istrimu yang model itu ya? Cantik sekali rupanya. Bahkan lebih cantik dari fotonya." Max mengalihkan pandangan pada istri Jun dan menyodorkan tangan.
Khati menyambut tangan itu tapi dengan secepat kilat, pria itu menarik tangan sang wanita hingga Khati terjatuh dalam pelukannya. Jun segera memukul lengan Max dan menarik istrinya menjauh dari pria itu. "Hei, dia istriku! Jangan sembarangan."
__ADS_1
Khati tersipu-sipu sedang Max tertawa terbahak-bahak.
"Aku hanya bercanda. Kenapa sih serius sekali kalian?" Pria dengan wajah sedikit lebih dewasa dari Jun itu masih tertawa.
"Max, dia tamu kita. Sopanlah sedikit." Seorang pria paruh baya muncul bersama seorang wanita yang sepertinya sebaya dengannya. Mereka adalah orang tua Jun dan Max. "Selamat datang di keluarga kami ya?"
"Ayah, ibu," sahut Jun membuat netra Khati melihat sepasang suami-istri itu dengan sopan. Ia membawa istrinya ke hadapan kedua orang tuanya. "Ayah, ini Julia," sahutnya pada sang ayah.
Ayah Jun menyalami Khati. Begitu juga ibu Jun. Ibu Jun masih terlihat cantik walau ia sudah tak lagi muda, sedang ayah Jun mengecat rambutnya hitam seperti sang istri, hingga terlihat lebih muda dari usianya. Mereka mengajak keduanya duduk di sofa di ruang tamu.
Ruangan itu sangat luas. Tamu masih berdatangan saja, ruangan tak terasa sesak. Ada beraneka macam makanan dan minuman di atas meja. Banyak tamu asing datang ke rumah itu dan berbicara dengan berbagai bahasa. Mereka sepertinya teman-teman bisnis dan ada yang saling kenal.
Ibu Jun baru saja akan berdiri ketika Max menahannya.
"Minum 'kan, Bu. Sebentar." Max pergi mengambil sendiri minuman dan kemudian membawakannya untuk Jun dan Khati. Padahal ada pelayan yang berseliweran membawa baki berisi minuman dengan pakaian pelayan, tapi pria itu berinisiatif untuk membawakannya untuk adik dan iparnya. Ia meletakkan di atas meja di hadapan keduanya. "Aku pergi dulu ya?" Ia menoleh pada Khati dan tersenyum lebar. "Bye-bye, Sayang."
"Max!" seru Jun.
Max kembali tertawa. Khati sekilas melihat sang suami yang sedikit kesal melihat tingkah kakaknya tapi kemudian beralih pada kedua orang tuanya. Khati pun kini menatap kedua orang tua Jun.
Ibu Jun tersenyum. "Begitulah keluarga kami. Jun memang yang paling kecil sehingga sering digoda kakaknya, Max," ucapnya pada Khati.
Jun hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. Ibu adalah wanita yang sering mendamaikan mereka berdua ketika ia dan Max bertengkar.
"Ngomong-ngomong, kau masih bekerja sebagai foto model? Di agensi mana ya?"
Seketika Khati panik. Ia tak tahu bagaimana cara menjawabnya.
__ADS_1
__________________________________________