Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Bioskop


__ADS_3

Entah bagaimana, keduanya mulai terlihat akrab. Sambil bercanda dan tertawa, mereka makan bersama. Namun sebuah kalimat yang keluar dari mulut pria itu, merubah segalanya. "Nanti malam, kita nonton ke bioskop, yuk!"


Senyum Khati berubah datar. Ia merasa sang suami mulai menggodanya lagi. Ia tak ingin status mereka yang tak jelas ini, semakin keruh. Ia hanyalah seorang wanita sewaan. Pikiran itu yang selalu wanita ini tanamkan pada dirinya. Jangan sampai saat berakhir nanti, sakit hatinya lebih parah dari sakit diselingkuhi suami pertamanya dulu.


Saat ini, ia hanya bisa menahan segala rasa yang mungkin akan merusak hidupnya ke depannya. Khati tidak ingin bergantung pada pria ini. Karena itu ia harus menjaga jarak dengan sang suami, mulai dari sekarang. "Aku malas keluar."


Pria itu menunduk, karena sedikit kecewa. Ia mengambil segelas jus dan meminumnya. "Terakhir aku nonton bioskop, itu saat aku SMA. Bersama teman-temanku. Sekarang mereka entah ke mana."


Sedikit iba, tapi Khati mencoba abai.


"Mungkin sedikit norak, tapi aku hanya ingin mencoba masuk dan menonton bioskop jaman sekarang yang katanya lebih bagus. Aneh, orang sepertiku, malah belum pernah masuk bioskop jaman sekarang," terang pria itu menertawakan dirinya.


Iba masih menggelayut. "Eh, tidak jauh beda kok dengan jamanmu dulu," sahutnya membesarkan hati sang suami. "Cuma bedanya, sekarang bisa pesan online."


"Benarkah? Bagaimana caranya?"


"Mana HPmu, sini aku beri tahu."


Jun memberikan ponselnya dan Khati membuka situs untuk memesan tiket.


"Begini ...."


Jun mendekat ke samping istrinya dan melihat langkah-langkah yang harus diambilnya. Ia begitu senang melihat semangat antusiasme sang istri ketika memberi tahu.


"Begitu," terang sang istri mengakhiri.


"Terus, kamu tidak ingin nonton?"


"Mmh?" Khati baru menyadari pria itu telah duduk dekat di sampingnya. Ketika ia berusaha bergeser menjauh, sang suami menahannya pergi.


"Kau mau ke mana? Aku sedang bertanya padamu. Apa kamu tidak mau nonton? Apa kamu tidak pernah terpikirkan ingin nonton tapi tak punya teman untuk pergi? Aku sangat ingin ke sana, Julia, tolong temani aku."

__ADS_1


Khati terlihat bingung. Alasan pria itu terdengar sangat masuk akal sedang ia sendiri tergiur ingin pergi tapi tak punya teman, persis seperti yang dipikirkan sang suami. Haruskah ia pergi dengan sang suami ke bioskop? Tapi apa ia tidak tambah besar kepala, nantinya?


"Ayolah, Julia. Aku akan berusaha jadi teman nonton yang baik untukmu. Kau mau nonton apa? Aku akan mengalah, ikut film yang kamu nonton saja. Bagaimana, kamu mau 'kan?" Pria itu terus membujuk dengan wajah memelas membuat sang wanita semakin ragu.


"Sebagai teman, pacar, suami? Terserah padamu saja."


Khati masih terlihat ragu.


Jun mencari akal dengan cara lain. "Begini, Sayang. Aku dan kamu sudah melewati begitu banyak waktu sebagai sesuatu yang membingungkan. Sekali ini saja, kita lepas semuanya dan kita memandang satu sama lain sebagai seorang partner. Sekarang kita sedang lelah bertugas. Aku, kamu, kita berdua ingin beristirahat. Bagaimana kalau hari ini kita menganggap sebagai sebuah liburan dengan nonton di bioskop? Gimana, mmh?" Ia meminta persetujuan sang istri dengan melihat manik hitam kedua bola mata indah itu.


Wanita itu menunduk.


"Ayolah, Julia. Aku juga bosan berada di rumah terus. Aku ingin jalan-jalan, tapi tak enak 'kan, meninggalkanmu sendirian di rumah."


Khati mengangkat kepalanya. Sepertinya bukan ide yang buruk. Lagipula ia juga ingin ke bioskop, karena bosan dengan rutinitas rumah dan hubungan yang membingungkan ini. Sekali-sekali, anggap saja ia teman!


-----------+++----------


Tiba-tiba matanya terhenti saat melihat dua sejoli yang dikenalnya. Walau keduanya memakai kacamata hitam, ia mengenalnya dengan baik. Di depan sebuah bioskop, seorang wanita berambut panjang terurai tengah merapikan syal yang melingkar di leher sang pria. Ia melakukannya dengan penuh perhatian. Sang pria tentu saja terlihat senang.


Damar mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Julia, sejak kapan kau mengenal hakim ini? Kenapa aku tidak tahu? Apa yang ditawarkannya sehingga kau lebih memilih menikah dengannya, bukan aku? Apa karena pria itu lebih dulu melamarmu? Aku tak kalah kaya dengan pria itu, Julia. Apa kau tak lihat itu? Aku hanya minta kau bersabar sampai masalah Khati ini selesai dan kita bisa menikmati kekayaannya bersama. Saking kecewanya, Damar segera meninggalkan tempat itu.


Khati dan Jun sedang melihat-lihat gambar film yang ada di dinding ruang besar itu. Beberapa orang di tempat ramai ada yang melirik keberadaan mereka karena tahu mereka orang terkenal tapi Jun tak peduli sedang Khati, ia lebih sedikit hati-hati.


"O ya, bagaimana dengan Damar. Apa kamu bertemu dengannya lagi kemarin?" tanya pria itu melirik ke arah sang istri.


"Mmh? Iya, ada. Dia mengajakku makan siang bersama," ucap Khati sambil lalu. Ia berusaha fokus melihat gambar film karena ia tidak suka membahas masalah ini.


"Benarkah? Cepat sekali!" Mata pria itu membulat sempurna. "Apa saja yang kalian bicarakan? Oh, bagaimana kalian bisa bertemu?"


Khati memutar wajahnya ke arah sang suami. Ia malas memberi laporan tapi karena memang tugasnya, mau tak mau ia harus menceritakan semua yang ingin suaminya dengar. "Mmh, Damar sudah ada di dekat tempat senamku saat aku keluar dari sana. Lalu ia mengajakku makan. Tidak ada percakapan penting karena itu aku menghapus rekamannya."

__ADS_1


Pria itu langsung memutar tubuhnya ke arah sang istri. "Julia, lain kali jangan langsung menghapusnya. Serahkan padaku dulu biar aku dengar semuanya," pintanya mengingatkan.


"Mmh, ya."


"Pintu sembilan telah dibuka ...." Mendengar pengumuman itu keduanya bergerak ke arah pintu itu dan ikut mengantri masuk. Khati masih sempat merapikan syal yang dipakai di leher Jun. Pria itu sangat menyukai perhatian sang istri. Ia berpikir kalau wanita itu pasti masih menyukainya terlepas dengan sikap dan peraturan dari dirinya yang tidak disukai wanita itu. Ia berjanji dalam hati akan memperbaiki semua ini setelah masalah pembunuhan ini selesai.


"Nanti mungkin di dalam lebih dingin lho, udaranya," Khati memperingatkan.


"Iya, Sayang. 'Kan ada kamu," goda Jun pada istrinya.


Khati mengerucutkan mulutnya. "Apa sih ...."


Pria itu tersenyum lebar. Mereka kemudian masuk dengan mengikuti seorang pegawai bioskop dalam gelap, yang memberi tahu tempat duduk mereka dari karcis yang diberikan Khati. Mereka kemudian duduk berdampingan di bagian belakang agak ke sudut.


Jun sengaja membeli tiket yang sedikit jauh dari keramaian agar tidak menjadi perhatian publik. Pria itu kemudian mengeluarkan popcorn besar yang dibelinya dan diletakkan di pangkuan sang istri. Juga dua buah kola. Belum apa-apa Jun langsung meraih beberapa popcorn di tangan dan memakannya.


Khati memperhatikannya dengan heran. "Mas, apa kamu begitu lapar? Kenapa kita gak makan dulu tadi?"


"Entahlah. Pas sampai sini, udara dingin dan bikin aku lapar," ucap pria itu sambil mengunyah popcorn.


Khati tersenyum tipis yang tentu saja tak terlihat oleh Jun. Wanita itu lega, kelihatannya sang suami mulai sehat kembali. Ia membiarkan saja, sang suami menikmati popcorn itu karena ia juga ikut mencicipinya.


Tak lama, film diputar. Keduanya fokus menonton film itu sampai-sampai mereka tak sadar tangan mereka bertemu saat berusaha mengambil popcorn dalam wadah bulat itu. Saat itu, tangan sang pria malah meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut.


Khati tampak bingung. "Mas?"


"Eh, aku ... aku ...."


_________________________________________


__ADS_1



__ADS_2