Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Kesalahan Yang Disengaja


__ADS_3

Tanpa sadar Khati meminum minuman beralkohol itu karena frustasi. Walaupun rasanya tidak enak tapi ia terus meminumnya. Air matanya mengalir pelan. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada Jun.


Kenapa tak ada satu pun pria yang mencintainya dengan tulus. Damar melihatnya karena ia mirip Julia dan Jun ... Kini Khati menyadari kenapa Hakim itu maju mundur menyukainya. Tentu saja karena ia mirip Julia. "Mas ... kau tidak mencintaiku, Mas."


"Aku mencintaimu," sahut Damar dari samping. Pria itu masih setengah sadar. "Kalau kau tak percaya, ayo ke kamarku di atas."


Khati menurut saja, dan keduanya jalan sempoyongan keluar bar.


---------+++----------


"Jadi kasus ini menurutku masih mentah. Melihat tempat kejadiannya, sepertinya ada sesuatu yang hilang. Jadi tolong ...."


Terdengar seseorang menerobos masuk ruang meeting dan semua menoleh ke arah pintu. Jun yang terganggu bicaranya ternyata didatangi orang itu yang tidak lain adalah asistennya sendiri.


"Pak, maaf." Todi membungkuk mendekati wajah atasannya.


"Ada apa, Todi?" Jun tahu, pasti ada yang penting hingga Todi memilih mendadak masuk dengan cara seperti itu.


Todi membisikkan sesuatu di telinga pria itu. Seketika bola mata hakim itu membulat sempurna. "Apa?" Ia segera beranjak berdiri. "Eh, meeting kali ini sampai di sini dulu. Kerjakan yang sudah bisa dikerjakan. Sisanya, tunggu aku kembali," ucapnya pada semua anak buahnya yang menghadiri meeting. Ia kemudian meninggalkan tempat itu dalam gegas.


---------+++-------


Khati masih menangis. Ia menangis tersedu-sedu dan kini Damarlah yang berusaha menenangkan. Keduanya duduk di tepi ranjang, dan pria itu mengusap air mata sang wanita yang terlanjur deras.


"Aku mencintaimu, Julia." Untuk kesekian kalinya pria itu berusaha meyakinkan Khati bahwa dirinya mencintai wanita itu.


"Tidak, kau tidak mencintaiku, Mas. Kau jahat ...." Wanita itu kembali terisak.


Damar mengecup bibir merah sang wanita, membuat wanita itu terkejut dan menghentikan tangisnya.


"Kau bohong padaku 'kan, Mas?" Masih ada isak yang tersisa dan wanita itu berusaha menghapus air matanya sendiri. Khati tengah mabuk. Ia menyangka pria itu Jun.


"Aku mencintaimu, Julia apa kau tak dengar kata-kataku?" Pria itu memiringkan wajahnya dan kembali mencium bibir merah itu dengan penuh perhatian. Ia bahkan makin bernafsu dengan memeluk mantan istrinya.


Wanita itu berusaha menolak, karena ia merasa asing dengan Damar. "Tu-tunggu dulu."


Namun Damar tak melepaskan. Ia mendorong wanita itu hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Pria itu menaikinya.

__ADS_1


Tepat saat itu, pintu kamar hotel itu didobrak. Jun masuk lebih dulu dibanding yang lainnya. Ia murka melihat Damar telah menaiki tubuh istrinya. Tanpa banyak bicara, ia langsung meninju wajah pria berkacamata itu hingga pria itu jatuh berguling ke samping. "Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyentuh tubuh istriku!"


Jun segera mendudukkan Khati. Wanita itu masih menangis.


"Kau tak apa-apa, Sayang?"


"Apa kau suamiku?" tanya istrinya kebingungan.


Seketika, Jun tahu istrinya tengah mabuk. Ada bau alkohol tercium dari mulutnya. "Iya, Sayang. Ini aku."


"Kau jangan bohong, aku bingung." Kembali Khati merengek.


"Tidak, Sayang. Ayo kita pulang," ucap pria itu lembut pada sang istri.


Jun melirik Damar yang berusaha duduk. Ingin sekali ia menghajar pria berkacamata itu, kalau saja ia tak ingat misi Khati yang belum selesai. Segera ia menggendong sang istri di kedua tangannya dan kemudian menatap ke arah Damar dengan pandangan menusuk. "Kalau saja aku bukan penegak hukum, aku sudah menghajarmu berkali-kali! Kamu beruntung kali ini, tapi tidak lain kali."


Hakim itu keluar sambil menggendong istrinya diikuti seorang bodyguard. Hanya pihak hotel yang kini berada bersama Damar.


Di dalam mobil Jun masih menggendong istrinya. Khati masih menatap ke arah sang suami dengan pandangan kebingungan. "Apa kau benar suamiku?" tanya wanita itu lagi ingin memastikan.


"Tapi kenapa kau tak mencintaiku? Kenapa kau tak mencintaiku, Mas." Wanita itu kembali terisak.


"Julia ...." Jun iba hingga hampir meneteskan air mata. Ia mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut dan mengecupnya. "Tidak, Sayang. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Kembali ia mengecup pucuk kepala sang istri dan mendekapnya erat. "Aku sangat mencintaimu, Sayang."


Mobil pun akhirnya sampai ke rumah. Jun kembali menggendong istrinya ke kamar. Di sana ia mendudukkan sang istri di tepi ranjang. Setelah menutup pintu ia mendatangi istrinya dan membantu mengeluarkan tas kecil yang tergantung menyilang di tubuh sang istri.


Ia ingin memeriksa rekaman. Sambil duduk di samping istrinya, ia membuka tas itu dan mencari ponsel Khati.


Wanita itu masih menatap suaminya di samping. Ia telah berhenti menangis. Khati, menyentuh dada bidang suaminya.


"Apa, Sayang." Tadinya Jun masih sibuk melihat ponsel sang istri dan ingin membukanya, tapi ketika jemari lentik itu menggerayangi dadanya, pria itu menoleh. Ia melihat Khati kini menatap ke arahnya. "Mmh?"


"Apa kau suamiku?" Pertanyaan itu kembali diulang wanita itu karena masih rancu.


"Iya, Sayang. Aku suamimu." Jun sendiri bingung harus melakukan apa. Pesona mata lembut itu membuatnya memiringkan wajah dan mencoba mengecup bibir tipis milik sang istri. Dilihatnya wajah itu tak bereaksi. Ia penasaran hingga mencoba menciumnya.


Wanita itu menerimanya tanpa perlawanan. Tak lama pria itu menyetopnya. Wajah sang wanita terlihat bingung.

__ADS_1


"Aku suami, Sayang."


"Mas ... Jun?" tanya sang wanita memastikan.


"Iya, aku Mas Junmu, Sayang." Jun bahkan sambil mencubit dagu Khati dengan gemas.


"A-apa kau mencintaiku?" Kedua bola mata istrinya mulai berkaca-kaca.


Sebenarnya dia mau apa? "Apa ... kau ingin aku membuktikannya?" tanya Jun sedikit bimbang. Ia sulit menelan ludahnya ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.


Wanita itu mengangguk. Air matanya berlinang. Jun pusing memikirkannya. Ini sebuah kesempatan untuk memiliki wanita ini, tapi kembali ia akan bermain curang. Ia memanfaatkan istrinya yang sedang mabuk.


Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran baik yang singgah. Bukankah Khati sendiri yang minta ia membuktikan cintanya? Ia akan membuktikan ia mencintai wanita ini dengan meninggalkan benih di rahimnya. Dengan begitu Khati takkan pernah pergi dari sisinya.


"Sebentar, Sayang." Pria itu meletakkan tas kecil Khati beserta ponselnya di atas meja nakas. Ia lalu mulai membuka kancing kemejanya.


----------+++---------


"Ah, Sayang ... Sakit! Ah!" Jun berteriak karena rambutnya dijambak sang istri. Ia memegangi tangan sang istri yang menjambak rambutnya sedang wanita itu masih menangis karena kesal.


"Kau jahat! Kau benar-benar jahat! Kau memanfaatkan aku, Mas!" Khati terus menjambak dan kemudian melepaskannya. Ia kembali menangis.


"Sayang, aku minta maaf." Pria itu coba mendekat. "Tapi kamu sendiri yang bilang kau menginginkanku. Karena itu aku melakukannya."


"Alasan! Kau bohong, pasti. Kau bohong!"


"Julia ...."


Khati mengambil bantal dan memukul suaminya dengan itu. Jun menghindar. Pria itu terpaksa turun dari ranjang dan buru-buru mengenakan pakaiannya yang tergeletak di lantai. Ia tak bisa memakai seluruhnya karena hujan bantal dan barang lain yang dilempar Khati ke arahnya. Terpaksa ia lari ke kamar mandi.


Selagi di kamar mandi, ia segera membersihkan diri. Ia menunggu kemarahan Khati reda dan ia akan keluar dan mengajaknya bicara. Seusai berpakaian, pria itu mengintip keluar. Ternyata Khati sudah berpakaian. Wanita itu telah kembali ke ranjang dan menangis di sana. "Ibu ... Ayah ... Kenapa tak kau bawa saja aku serta."


Pria itu tentu saja tak tega mendengarnya. Didekatinya sang istri pelan-pelan. "Julia." Sebuah guling kembali melayang ke arahnya.


________________________________________


Reader tersayang. Author minta tolong agar selalu memberi like pada bab yang sudah terbaca karena dari sanalah author dibayar. Karena peraturan untuk mendapatkan kontrak sangat sulit di pf ini sekarang dengan hanya mengandalkan like. Terima kasih atas bantuannya. Salam, ingflora💋

__ADS_1


__ADS_2