Boneka Cantik Milik Tuan Hakim

Boneka Cantik Milik Tuan Hakim
Belanja


__ADS_3

Seorang pria menyodori Khati ular di tangan, menyebabkan wanita itu ketakutan dan bersembunyi di belakang punggung sang suami. Ternyata pria itu menawarinya berfoto dengan binatang.


Jun tertawa. "Julia apa kamu mau berfoto dengan binatang?" Kali ini suaminya sendiri yang menawarinya. "Kita bisa foto berdua. Bagaimana?"


"Tapi aku tidak mau dengan binatang buas, Mas," protes Khati.


"Oh, ok. Rasanya kita bisa memilih binatangnya."


Wanita itu memilih burung untuk jadi teman di foto. Mereka berdiri bersebelahan dengan pundak luar diletakkan burung beo dan burung kakak tua beraneka warna. Pria itu mengarahkan gaya sedang sang suami meraih pinggang wanita itu agar merapat padanya.


"Coba kau berfoto terlihat seperti istri yang bahagia," bisik Jun. Pria itu tetap melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.


"Mmh?" Khati menatap ke arah kamera dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Ia mencoba tersenyum manis. Tentu saja ia tidak pura-pura bahagia, karena ia menikah dengan hakim Jun, pria pujaannya. Kalaupun ia hanya punya hari ini untuk bersamanya, ia akan menggenggamnya selama ia bisa. Dan bahagia itu terpancar dari wajahnya.


Sehabis pemotretan, Jun mengajaknya makan di restoran tak jauh dari situ sambil menunggu hasil foto itu jadi. Ia kembali memilih duduk di meja luar. Pria itu kembali memasang kacamata hitamnya setelah pemotretan. Khati meletakkan bungkusan berisi pakaiannya dan jaket Jun di samping.


Pria itu memesan makanan. "Kau bisa makan apa saja siang hari tapi kalau siang makannya terlalu banyak, malamnya tidak usah makan ya?" Jun mengangkat wajahnya dari buku menu.


"Mmh?"


"Bisa?"


"Nggak."


"Ya sudah." Sang pria tak mau meributkan. Melihat Khati yang sudah mulai mau menurutinya saja, ia sudah sangat beruntung. Ia kemudian memesan makanan. "Nanti kita akan belanja pakaian ya, karena kamu tidak bawa banyak baju ganti."


"Ok."


Jun menjentikkan jarinya. "Dan baju olahraga."


"Tolong, aku tidak terbiasa pakai baju ketat-ketat jadi pakai baju biasa saja yang longgar," pinta wanita itu.

__ADS_1


"Baiklah."


Seusai makan siang, mereka sempat sholat Zuhur di mesjid yang terletak di luar kebun binatang. Setelah itu mereka kembali berangkat. Ternyata Jun memang membawa Khati jalan-jalan. Bahkan mengajaknya naik kereta gantung dan mendatangi sebuah mal. Pria itu mengajaknya memasuki sebuah toko perhiasan.


"Kita mau apa, Mas, ke sini?" tanya sang istri yang melihat aneka perhiasan di etalase.


"'Kan aku belum membelikanmu mahar?"


"Lho, 250 ribu itu bukannya mahar?" tanya Khati terkejut mendengar penjelasan sang suami.


"Aku tidak mau ijab kabulku disebut 'hutang'."


Wanita itu tersenyum simpul. Setelah melihat dan mencoba beberapa, pria itu membelikan istrinya satu set perhiasan. Jun kemudian membawa Khati untuk belanja pakaian. Kali ini istrinya tak terlalu rewel dengan pakaian yang dipilihannya selama itu masih terlihat sopan. Pria itu bahkan membelikan beberapa sepatu untuk istrinya. Juga tas mahal.


"Kenapa sepatunya banyak yang tinggi haknya?"


"Karena Julia memang suka memakai sepatu hak tinggi."


Julia saat berdandan, sangat suka memakai barang mewah. Apalagi sangat mudah baginya mendapatkan barang-barang mewah itu karena banyak yang mensponsorinya. Sedikit banyaknya Khati kecewa tapi ia harus berbesar hati menghadapi kenyataan ini.


"Oh, ini tempat senamnya, sebaiknya aku daftarkan saja kamu sekarang, biar bisa senam besok," ucap pria itu saat melihat tempat senam yang diincarnya di mal itu. Ternyata saat itu tengah ada latihan dan ia meminta istrinya untuk langsung ikut. Pria itu kemudian menunggu di luar.


Sang wanita tidak mengganti pakaiannya. Ia tetap memakai pakaian kasual tadi untuk mengikuti senam di tempat itu dan setelah selesai ia menemui sang suami. "Aku ganti baju dengan yang tadi dibeli itu saja ya?"


"Up to you. Kalau kamu senang, aku juga senang."


Ternyata pria itu tidak mengekang kebebasannya selama masih di jalur yang pria itu inginkan, hingga Khati merasa lega tidak ada lagi masalah di antara mereka. Lagi pula ia senang sang suami menungguinya senam.


Berbeda dengan Damar yang menyuruhnya selalu bisa mandiri, kecuali saat mantan suaminya itu butuh uang. Khati mulai merasakan perbedaannya. Tapi apa tidak jangan-jangan, Mas Jun juga menungguiku karena ingin memastikan aku melakukan tugasku? Hah ... aku masih bingung di antara kedua pria ini, siapa yang harus aku percaya.


Keduanya kemudian pulang dengan mencoba naik kereta kabel lagi. Jun mengeluarkan ponselnya. "Aku ingin mengambil fotomu."

__ADS_1


"Eh, buat apa?" Khati tersipu-sipu.


"Oh, buat dokumentasi saja. Nanti aku mau lihat perkembanganmu, di tiap tahap. Jadi aku mulai sekarang akan mengambil fotomu sewaktu-waktu bila perlu."


"Eh, ya sudah," ucap wanita itu malu-malu.


----------+++----------


Khati tersenyum menatap selembar foto yang dipegangnya. Walaupun tubuhnya pegal-pegal karena berolahraga sore tadi, di tambah perjalanannya sejak pagi dengan sang suami, ia bersyukur hari itu terasa menyenangkan.


Sebenarnya kalau diingat-ingat pria itu tengah memberinya bulan madu dengan jalan-jalan di negri asing itu. Walaupun kaya, Khati belum pernah keluar negri karena disibukkan oleh pekerjaan yang setiap waktu tak ada habisnya. Saat ia punya waktu istirahat pun, ia habiskan dengan beristirahat di rumah.


Dan biasanya saat itu, Damar akan menawarinya jalan dan makan di restoran. Itu pun dengan uang Khati sendiri, karena mantan suaminya itu saat menikah dengannya adalah seorang pengangguran. Setiap ia menasehati untuk bekerja, pria itu selalu meminta modal untuk berbisnis yang ujung-ujungnya selalu gagal. Selalu.


Khati masih tersenyum saat ia meletakkan foto yang diambil di kebun binatang, ke dalam laci meja nakas. Ia menarik selimutnya sambil merapikan bantal. Lalu ia merebahkan diri di ranjang sambil mengenang kembali indahnya hari ini bersama sang suami.


Sementara di kamar Jun, pria itu sedang sibuk melihat laptopnya di atas ranjang. Bukan pekerjaan yang sedang dilihatnya tapi ia baru saja memasukkan foto istrinya ke dalam laptop dan ia sedang mengaguminya.


Adakah ia telah jatuh cinta lagi? Rasanya tak mungkin, karena sakit hatinya pada Julia masih ia rasakan. Dendamnya masih membara, tapi setiap kali melihat sang istri, hatinya merasa teduh. Ia senang mendengarkan wanita itu bicara, menangis, menjerit, dan bahkan marah padanya. Dengan pembawaan Khati yang lembut ia seperti terhipnotis ingin melihatnya setiap saat.


Apalagi melihat penampilan baru sang istri yang terlihat cantik setelah operasi. Ia baru sadar bahwa seseorang terlihat sempurna bukan dari fisik dan wajahnya tapi hatinya. Dari awal ia mengenalnya, wanita ini menarik karena cerdas. Susah membujuknya, tapi juga hatinya sangat lembut. Wanita itu gampang sekali menangis karena kesal.


Lalu berikutnya adalah mata. Awalnya ia tidak begitu memperhatikan mata Khati, tapi karena sering menangis ia jadi memperhatikannya. Mata itu sangat lembut hingga ia langsung bisa menandai istrinya ketika usai operasi. Menurutnya, mata itulah yang paling indah yang dimiliki wanita ini. Ia bahkan sering lupa diri setiap kali melihat mata itu dari dekat.


Tiba-tiba lampu padam. Jun terkejut. Ia segera menutup laptopnya dan melangkah keluar kamar. Hanya satu yang ada dipikirannya saat itu. Khati. Apa ia takut gelap?


"Aduh!"


__________________________________________


__ADS_1


__ADS_2